Ketika Ku Tahu Dia Suka Dia

danbo-reachoutPernah nggak sih kalian pengen tahu siapa yang disukai temen kalian? Entah ini sebuah sindrom atau kelainan, percaya atau tidak, aku suka kepengen tahu siapa yang disukai sama temen-temenku, atau orang-orang yang ada di sekitarku. Biasanya yang ku lakukan adalah mengumpulkan mozaik-mozaik, lantas menyusunnya menjadi sebuah puzzle yang nantinya akan jadi bukti kongkret kalau temeku yang itu ternyata suka sama temenku yang itu. Nggak tau ya, seneng aja gitu kalau aku bisa tahu siapa yang suka sama siapa. Lantas, apa yang aku lakukan dengan semua bukti yang telah ku kumpulkan? Ya… nggak ada. Namanya juga kepengen tau doang. Ya sebatas pengen tau. Kalau udah tau ya udah, tak ada tindak lanjut yag ku lakukan. Ya ngapain juga menindak lanjuti. Ya kali aku harus menyatukan dua insan yang saling suka tapi tak menyatu karena keduanya sama-sama malu untuk mengungkapkan perasaan mereka. Ya nggak lah, ntar aku kecipratan dosanya. Iya kalau langsung nikah, kalau pacaran? Bisa berabe.

            Kebiasaan ini sepertinya muncul ketika aku duduk di bangku SMA. Pas SMP mah belum mikirin hal kayak ginian. Pas waktu SMA aku kan pendiem banget tuh, kayaknya berat banget yang mau ngomong. Ya daripada nggak ada kerjaan mendingan ngumpulin mozaik siapa yang suka siapa. Lantas yang ku dapatkan? banyak teman sekelasku yang ternyata saling suka. Maklum, kesempatan untuk suka sama anak kelas lain minim. Gimana nggak minim, kita di SMA itu tiga tahun nggak dipisah-pisah. Temennya itu lagi itu lagi. Jadi, diem-diem dulu tuh aku udah tahu siapa yang suka sama siapa walaupun mereka sama sekali tak bercerita padaku. Lantas, siapa yang ku suka? Ada deh :P.

Continue reading

Imajinasiku Buat Si Mbak

Analisa-Usaha-Es-Teh-PociPagi ini semestakung (sepertinya semesta mendukung) diriku untuk menuliskan sebuah cerita yang kemarin sempat ku bicarakan dengan bak Dila (saudara kembarku). Aku lagi bener-bener PW (posisi wenak) pagi ini. Duduk di sebuah kursi taman yang disediakan oleh sebuah minimarket di dekat kampus. Ditemani segelas es teh susu dengan lambaian angin di pagi yang begitu cerah. Tak tahu kenapa hari ini begitu sangat menyenangkan bagiku. Padahal tak ada yang spesial dari keseharianku hari ini, masi sama dengan hari-hari sebelumnya. Bangun pagi-pagi, berangkat ke kandang untuk memberi pakan tikus peliharaanku, jam 9 pagi baru selesai. Jalan dari kandang FKH (fakultas kedokteran hewan) menuju tempat dudukku sekarang. Duduk di sini tak ku rencanakan sebelumnya. Baru terlintas setelah ku beli segelas es teh susu dari si Mbak itu. Si Mbak yang kemarin membangunkan imajinasi liarku. Ya… aku akan berbagi imajinasi liarku denganmu, imajinasi yang muncul karena drama korea dan FTV yang sering ku tonton, hahaha :D.

            Aku tak tahu siapa nama si Mbak penjual teh poci itu, yang ku tahu pasti si Mbak ini bukan wanita sembarangan. Kenapa begitu? Ya karena satu dan banyak hal. Si Mbak ini mirip karakter di drama-drama korea yang sering aku tonton. Sosok wanita yang lincah, pekerja keras, imut, dan ramah. Ciri wanita yang banyak disukai tokoh laki-laki di drama korea yang biasanya berasal dari keluarga kaya dan biasanya agak sombong. Baiklah aku akan mulai bercerita tentang imajinasi liarku tentang si Mbak. —kemudian cerita ini terpotong karena rasa sakit yang tiba-tiba datang—. Pengalamanku sih kalau lagi nulis itu sebaiknya jangan dipotong-potong karena sensasinya bakalan beda. Nih buktinya, tulisanku selanjutnya bakalan agak aneh, sedikit garing, dan taulah. Hanya sebatas pengen ngepost tulisan doang sih.

Continue reading

S2

hat tossing ceremony at graduationTak apalah ku tulis ini sekarang, siapa tahu bisa jadi motivasi untukku yang nyatanya sekarang memang sangat butuh motivasi. S2? Sudah ku kubur dalam-dalam impian itu. Sejak ibuku memintaku untuk tak lagi memikirkannya. Ya, ku ikuti saja perkataan beliau, karena gini-gini nih aku adalah anak yang tak bisa untuk tak patuh pada orang tua, apalagi ibu. Ibuku memang tak berpendidikan tinggi, sangat rendah bahkan jika dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. Kok? Bukannya mereka dilahirkan dari orang tua yang sama? Mereka memang lahir dari orang tua yang sama tapi dengan kesempatan yang berbeda. Masalah IQ? Tentu bukan. Jiakalau memang diberi kesempatan, aku yakin ibuku adalah wanita dengan IQ di atas rata-rata. Kesempatan? Ya, kesempatanlah yang membedakan ibuku dengan saudara-saudaranya yang lain dari segi jenjang pendiddikan.

            Kakekku yang tak lain adalah bapak ibuku adalah seorang petani yang tegas dan pekerja keras. Beliau dan istrinya adalah orang tua yang rela banting tulang untuk menghidupi keuarganya dan berkorban demi pendidikan anak-anaknya. Semuanya disekolahkan hingga jenjang pendidikan tertinggi yang bisa anak mereka raih. Tapi, ini hanya berlaku hanya bagi anak beliau yang laki-laki. Ibuku tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Beliau masih menganut prinsip orang dulu, perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, nanti juga bakalan ada yang nanggung (suami). Nah, karena prinsip inilah kesempatan ibuku untuk menikmati jenjang pendidikan setinggi-tingginya pupus sudah. Tiga saudara ibuku yang laki-laki punya kesempatan itu dan sekarang mereka telah menjadi seorang polisi, petinggi sebuah Bank, dan seorang guru.

Continue reading

Multitasking

scheduling_vs_multitaskingSudah berhari-hari ku merasa telah menelantarkan blog ini. Tidak… tidak… bukan hitungan hari, hitungannya telah menjadi bulan. Terlantarnya blog ini tak lain dan tak bukan karena pikiranku telah tersita hanya untuk memikirkanmu. Memikirkanmu yang telah 4 tahun yang lalu telah ku khawatirkan.  Sungguh, telah ku khawatirkan dirimu sejak 4 tahun yang lalu. Sejak pertama kali ku injakkan kaki di kampus ini. Awalnya ku abaikan saja, tapi sejak jarak kita semakin dekat ku semakin tercekat, ternyata kehadiranmu telah begitu mengikat, dan sedikir demi sedikit ku mulai terpikat.

                Ku pikir aku adalah wanita kebanyakan yang katanya multitasking. Multitasking artinya many in one, bisa ngerjain banyak hal dalam satu waktu. Tapi sepertinya aku agak melenceng dari kategori ini. Buktinya kalo lagi mikirin kamu aku ga bisa mikirin yang lain, #eaaa. Tapi ini beneran, beneran ga bisa multitasking kalo hubungannya sama kamu. Kenapa ya? Aku juga tak tahu kenapa.

                Banyak hal yang telah ku telantarkan hanya gara-gara kamu. Mulai dari blog ini sampai urusan rumah tangga kosan ku telantarkan, seperti piket kosan dan nagih uang air/listrik. Semuanya ku abaikan, hanya fokus padamu. Tapi  masalah kita tak kunjung selesai. Sampe-sampe mau nyelesain tulisan ini saja kayaknya setengah mati ku lakukan karena tetap saja yang ada di pikiranku hanyalah dirimu. Sepertinya memang harus segera ku selesaikan hubungan kita ini agar aku bisa segera bebas dan pikiran ini tak lagi terikat hanya memikirkanmu. Kamu… iya kamu. Ya apa lagi kalau bukan penelitian, penelitian untuk menyusun buku sakral yang harus ku selesaikan dengan bermacam pengorbanan yang tak terbantahkan, skripsi.

                Berilah hamba kemudahan ya Allah, kemudahan baik dalam penulisan, penyampaian, hingga kemudahan untuk terlepas dari rasa malas ini yang sepertinya semakin erat mencengkeram hamba. Amiiin. Seriusan lo, yang lama dari penyusunan skripsi itu sebenernya bukan skripsinya, tapi terlepas dari jeratan rasa malas untuk melaksanakan dan menyusun skripsi itu. Kalau ga males sih, seminggu pun jadi kalau nyusun mah (dengan catatan penelitiannya udah selesai loh ya) :D.