Konsisten Itu

danbo024Telah genap satu tahun sudah ku tak pulang kampung dan telah genap empat tahun pula ku dirantau. Sudahkah lulus? Belum, sedikit lagi, sebentar lagi, tak usahlah buru-buru, lagipula memang tak ada yang memburu tapi kalau boleh jujur ada yang ku buru dan ku tuju. Apa? Siapa? Jangankan kau, aku pun tak tahu. Lah… sudah, sudahi saja omongan yang tak menentu. Cerita seriusnya begini. Aku kagum pada seseorang karena suatu hal. Jika kau punya hal itu, maka kau akan masuk dalam list orang-orang yang ku kagumi. Karena jika sesuatu itu ada pada dirimu, siapa pun kamu, darimana pun kamu, seperti apa pun kamu, maka mau kamu nggak mau, aku akan tetap mengagumimu. Toh, itu hak asasiku untuk menaruh rasa kagum ini padamu, padanya, atau pada siapa pun di muka bumi. Aku kagum padanya, lebih tepatnya pada beliau yang telah lama, lama sekali menekuni bidang itu. Ya, beliau konsisten. Kamu konsisten? Berarti aku juga kagum padamu.

Bidang yang beliau tekuni adalah bidang yang katanya merupakan 9 dari 10 pintu rezeki. Tak heran, karena bidang ini adalah mata pencaharian beliau. Beliau seorang pedagang. Pedagang yang memperdagangkan barang yang mungkin menurut orang lain untungnya tak seberapa. Tapi, sepertinya cukup bagi beliau. Buktinya, beliau tetap konsisten pada bidang ini dari dulu hingga kini. Beliau yang tak ku tahu siapa namanya, berjualan es tung tung. Es tung tung? Namanya agak aneh sih, aku pun tak tahu apa nama es ini di daerah lain. Analisisku sih, pemberian nama es tung tung ini karena bunyi alat yang beliau pukul tiap berjualan es ini berbunyi ‘tung tung’. Es ini jadi es favoritku semenjak aku tahu yang namanya es. Tak ayal, tiap kali beliau melewati rumahku, tiap itu pula aku akan membeli es yang beliau jual. Aku tahu beliau bukan asli daerahku, mungkin daerah seberang, seberang pulau. Logat yang khas membuatku dengan mudah tahu kalau beliau orang pendatang. Usia yang terus beranjak, membuatku tahu banyak bermacam-macam es. Tapi, tetap saja membeli es beliau seperti sudah menjadi candu. Tiap lewat, pasti beli, konsisten. Namun, usiaku yang terus bertambah membuatku tahu bahwa aku punya rasa malu. Mulai malu membeli es dagangan beliau karena rasanya itu hanya jajanan untuk anak kecil. Konsistensiku mulai goyah, ditambah dengan berbagai kesibukan yang ada, maka ‘blas’ aku sama sekali telah lupa, jangankan membeli, ingat saja tidak.

Ketika studiku mengharuskanku untuk merantau, pulang kampung adalah hal yang paling memukau. Kemarin, ya liburan kemarin, aku kembali berpapasan dengan beliau. Beliau penjual es tung tung yang kini tak lagi muda. Berpapasan di sebuah tikungan. Aku di atas motor dan beliau di atas sepeda yang dengan begitu konsisten menemani beliau berjualan es tung tung. Sama konsistennya dengan beliau yang entah telah berapa juta km mengayuhnya. Telah lebih dari 22 tahun konsisten berjualan produk yang sama (es tung tung) dan dengan alat transportasi yang sama (sepeda). Beliau sama sekali tak berubah mengikuti perkembangan jaman yang terus berkembang. Pake motor kan lebih enak gitu ya, atau mungkin jualannya divariasikan. Itu pendapatku, selaku orang yang tak konsisten. Pernah suatu ketika ku bertanya pada mbakku tentang beliau yang berjualan es tung tung dengan memakai sepeda dari dulu hingga sekarang. Mbakku menjawab, seharusnya aku meniru beliau yang apa adanya dan konsisten. Mbakku bilang, mungkin saja beliau di kampung halamannya mempunyai motor atau bahkan mobil, tapi itu semua tak menjadikan beliau berubah dan tetap rendah hati dengan tetap konsisten menggunakan sepeda untuk berjualan. Kekonsitenan beliau sungguh tak ada tandingan. Ingin sekali bertanya pada beliau, bagaimana caranya bersabar dan tetap konsisten pada satu bidang. Kamu tahu caranya? Kasih tahu aku ya, hahaha. 😀

Advertisements

9 thoughts on “Konsisten Itu

  1. Hmm.. Benar-benar penggemar es sejati.. Apa jangan-jangan ente juga suka gadoin es batu?? Adik ane yang pertama suka gadoin es batu soalnya..
    Salah satu “konsisten” yang terlarang adalah “konsisten tidak lulus-lulus”, heu heu..

    • lah… iya bener, aku emg suka gadoin es batu hahaha
      wah… klo konsisten ga lulus lulus jangan dong, karena lulus itu bkn buat kita tapi buat orang tua kita. mari sama2 mendoakan agar diberi kemudahan untuk lulus, amiiin
      iya, Alhamdulillah mbk Dila udah lulus kemarin, lumayan jadi penyemangat buat lulus juga

      • iya juga sih, tapi ya nggak tau kenapa kalo bagiku, lulus itu sebagai bukti kalau aku sayang mereka. beban kalau kita nggak bisa memanfaatkannya sih, cmiiw

        iya, mbak Dila itu saudara kembar aku, tapi aku manggil mbak atas perintah orang tua hahaha

      • Ya, semoga kelulusan yang sedikit tertunda bukan tanda kita tak sayang orang tua.. (kudu fokus lagi, dosen PS udah nyariin (marah2) td siang.. :P)

        Jadi sebenarnya yang “kakak” siapa nih? Hoho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s