Bisa Bisanya

4937894925_873c9ed90d_zSekarang lagi di balai, balai penelitian pusat studi biofarmaka. Lokasinya di taman kencana, Bogor. Lah? Siapa yang nanya? Nggak sih, cuma mau ngasih tau aja. Mau pulang nggak bisa, soalnya lagi ujan. Nggak bawa payung dan bawa laptop, dua benda yang seharusnya dibawa dan tidak dibawa tatkala turun hujan. Pilihannya? Ya nggak ada lagi selain nungguin ujan deres reda. Kapan? Menekesempre alias mana kutahu. Jadinya nulis gini nih. Bagi yang mau ke tempat ini, tempat ini bisa dijangkau dari kosanku dalam waktu kurang labih 30 menit pake motor dan bisa 1 jam lebih pake angkot. Naik angkotnya dua kali. Pertama naik yang nama angkotnya ‘kampus dalam’ dan ‘03’. Angkot di Bogor itu bejibun jumlahnya, jadi jangan khawatir kehabisan. Malah yang perlu dikhawatirkan, takutnya kota ini bakalan over dosis sama yang namanya angkot. Angkotnya terus nambah sedangkan pelebaran jalannya ga nambah-nambah. Ya, jadinya gini, macet dimana-mana. Sebelas dua belas lah sama Jekardah. Bisa dibayangin, males banget kan naik angkot. Apalagi ngalamin beberapa hal tadi. Kalau inget kejadian yang tadi itu aku cuma bisa bilang, hadeuh… bisa bisanya.

            Awalnya sih nggak ada yang aneh, semuanya berjalan sebagaimana seharusnya. Naik angkot kampus dalam menuju pusat angkot yang kedua, angkot ‘03’. Ku perhatikan sekilas, lantas ku jatuhkan pilihan pada angkot ‘03’ sambil melambaikan tangan pada si abang sopir angkot. Angkotnya berada di seberang jalan, ku putuskan untuk tetap berdiri di tempatku karena males nyeberang, lebih tepatnya takut nyeberang. Pas mau naik angkot kepalaku beradu dengan pintu angkot, uuuuh… rasanya sakit bukan kepalang. Mau teriak lebbai malu sama penumpang yang lain. Ku putuskan untuk menahannya. Hari ini adalah hari pertama ku keluar untuk melihat kondisi Bogor pasca lebaran. Adakah perbedaan? Oh… banyak. Pasar yang dulu lagi direnovasi itu sudah selesai dibangun dan lebih teratur daripada sebelumnya, ada supermarket ‘Giant’ yang makin deket dari kampus, stasiun kereta api yang tak semacet dulu, dan suasana hatiku yang sedang indah (hahaha). Ketika tengah asyik memperhatikan sekitar, tiba-tiba ada tawuran persis di depan angkotku. Bisa ku lihat dengan jelas ada satu orang yang membawa senjata ‘seperti pedang’ sambil terus mengejar gerombolan anak-anak sekolahan yang kabur luntang lantung di tengah padatnya lalu lintas. Aku kaget bukan kepalang sambil memegang kedua telinga dengan tanganku. Kalau ku ingat tawuran itu, kembali ku berkata, hadeuh… bisa bisanya.

            Abang angkot pun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba si abang angkot belok kanan, padahal seharusnya belok kiri. Aku pun menghibur diri, mungkin si abangnya mau muter dulu. Kan balai yang akan ku tuju bisa juga belok kanan walaupun agak jauh sih. Angkot pun terus melaju hingga ke tempat yang tak ku kenal. Setelah ku perhatikan no. angkotnya ternyata salah saudara-saudara. Angkot yang ku tumpangi ‘02’ bukan ‘03’. Alhasil aku pun langsung turun dan langsung panik. Nelpon ke temen yang ngerti jalan sambil terus berjalan, kemudian menyeberang jalan. Nyeberang jalan mungkin hal sepele bagi yang lain, tapi tidak bagiku apalagi dengan jalan yang selebar itu dan seramai itu. Setelah ku kumpulkan keberanian, bisa juga ku menyerang jalan. Usut punya usut ternyata aku salah jalan dan aku harus nyebrang ke tempat yang tadi. Padahal kan keberanianku udah digunain buat nyeberang tadi. Alhasil aku nggak maju-maju. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang baik hati menyeberangkan jalan. Aku pun berterimakasih pada si ibu baik hati itu. Aku malu sih, soalnya kan kalau di cerita-cerita itu kan biasanya anak muda kayak aku ini yang nyeberangin jalan ibu ibu. Lah ini, malah aku yang diseberangin. Hedeuh… bisa bisanya. Setelah perjuangan panjang dengan tenaga lebih dan ongkos angkot yang lebih juga, sampailah aku di balai tercinta. Tak apalah semuanya serba lebih hari ini, tenaga lebih, ongkos angkot lebih, tapi yang ku dapetin juga lebih, pengalaman lebih dan keberanian yang lebih. Kalau inget kejadian-kejadian tadi, kepala benjol, tawuran, salah angkot, dan nyeberang jalan tadi, kembali ku bicara pada diri sendiri, hedeuh… bisa bisanya.

Advertisements

3 thoughts on “Bisa Bisanya

  1. Oh, ternyata ente salah satu saksi mata tawuran pelajar di Bogor toh..
    Haha, lucu banget.. Ane jadi ingat temen ane yang gak bisa (baca: susah) nyebrang kalau masih ada kendaraan yang lewat.. Padahal kalau di kota setiap detiknya ada kendaraan yang melaju, beda dengan di desa yang kendaraannya memang jarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s