Mau atau Siap?

17Sudah hampir dua minggu ini kerjaanku tak pasti kemana juntrungannya. Menunggu kelayakan dari para dosen agung. Semakin diperparah karena ku tak boleh menanyakan kapan kiranya mereka akan menyelesaikan revisi skripsiku sebelum dua minggu. Ya ya ya, ini yang namanya birokrasi. Enak sih, jadi banyak waktu introspeksi diri dan semakin tahu plus sadar ‘apalah aku ini’. Salahku juga sih, menunda-nunda waktu kelayakan karena tak mampu melawan hawa nafsu malas dalam diri. Ya ya ya, semua memang salahku, mahasiswa memang selalu salah dan dosen selalu benar. Banyaknya waktu luang memberiku banyak waktu untuk berpikir tentang masa depan dan jujur aku takut. Takut nggak bisa bareng kamu (hahaha, abaikan). Nah begini, ketika menjadi mahasiswa tingkat akhir yang nyaris kelebihan semester, ada beberapa pilihan yang harus dipilih dan ditentukan, mau tidak mau. Apa saja? Pilihannya adalah menikah, bekerja, atau melanjutkan studi. Semuanya akan dilalui tapi tidak tahu pilihan mana yang akan didahulukan. Kalau aku pribadi sih? Jujur…. Cukup Allah dan aku saja yang tahu, hahaha.

            Pilihan yang pertama (red: menikah) menjadi trending topic paling nge-hits seantero jagad raya. Lihat saja ketika ngumpul sama temen-temen SMA terutama yang laki-laki pas lebaran kemaren. Sumpah, yang mereka omongin dari awal sampe akhir, dari alif sampe ya’, semuanya tentang menikah. Sungguh terlalu. Aku yang dengerin sampe mual mual, tapi kok mereka nggak ya? beda gender kali ya. Baru tahu ternyata anak laki-laki lebih ekstrem ngomongnya kalau tentang menikah dan pasangan hidup. Hanya bisa geleng-geleng kepala aja. Beda beda sih pandangan mereka, ada yang menanggapi super santai tapi ada juga yang menanggapi begitu seriusnya. Sesekali mereka meminta pendapat dari kami, kubu para perempuan. Dari kesemua percakapan yang mereka cakapkan aku bisa menarik kesimpulan jika mereka semua sudah berada pada tahap ‘mau’ menikah tapi belum sampai pada tahapan ‘siap’. Lah, apa bedanya ‘mau’ sama ‘siap’? Jelas sekali perbedaannya, dan ini juga baru aku tahu dari seorang teman beberapa hari yang lalu. Berhubung aku baik nih, aku mau ceritain perbedaannya sama kamu, iya kamu, hahaha :-D.

            Aku punya teman….teman sepermainan (hahaha, abaikan). Temanku ini punya keistimewaan. Istimewa? Iya, karena dia bisa membuat orang yang ada di dekatnya merasa nyaman berlama-lama berbicara banyak hal padanya. Termasuk aku. Beberapa hari yang lalu kita ngomongin banyak hal, hingga sampailah pada topic paling nge-hits seantero jagad raya, pernikahan, menikah, dan pasangan hidup. Temanku ini beberapa bulan yang lalu mendapatkan keluarga baru, seorang kakak ipar yang telah menikahi kakak perempuannya. Proses menuju pernikahannya inilah yang menjadi bahasan kita dan secara tidak langsung telah memberikan banyak pembelajaran bagiku.

            Katanya, sehari sebelum pernikahan kakak perempuannya, temanku ini menangis. Lah, kok malah dia yang nangis? Kan kakaknya yang mau nikah. Gini nih, usut punya usut ternyata calon suami kakaknya ini sama sekali belum dikenal baik oleh temanku maupun oleh kakaknya. Kakak temanku ini mempercayakan semua proses pada ‘murobbinya (red: guru)’. Ketika dia telah merasa ‘siap’ menikah, dia mengutarakan kesiapannya pada sang guru. Seketika itu datanglah beberapa proposal padanya, proposal yang berisi biodata calon pendamping hidupnya. Sholat istikhoro pun segera dilakukan, dan jatuhlah pilihan pada seorang nama di proposal itu. Taaruf serta merta dilaksanakan dan Alhamdulillah langsung ditemukan kesepakatan, sehingga pernikahan bisa segera dilaksanakan. Sungguh, cara inilah yang dibenarkan, proses yang meminimalkan campur tangan setan di dalamnya.

            Jikalau begitu, kenapa temanku masih menangis? Karena dia merasa tidak rela menyerahkan kakaknya pada seseorang yang sama sekali belum dikenal secara mendalam oleh kakaknya apalagi oleh dirinya. Banyak kekhawatiran yang dia rasakan akan kehidupan kakaknya ke depannya. Tatkala dia menyampaikan itu semua pada kakaknya yang keesokan harinya akan menikah. Kakaknya pun menjawab, bahwa dia melaksanakan pernikahan karena telah merasa ‘siap’ bukan sebatas ‘mau’. Ketika seseorang telah merasa ‘siap’ maka sebelumnya dia telah melakukan proses belajar yang sangat panjang, membaca banyak buku, belajar banyak dari pengalaman orang lain, banyak memperbaiki diri, meningkatkan kapasitas diri, dan masih banyak lagi. Ketika telah melewati tahapan inilah, rasa ‘siap’ akan muncul. Akan tetapi, jika kita masih berada pada tahapan ‘mau’ maka yang akan kita persiapkan bukan ‘isi’ tapi ‘covernya’ saja. Kakak temanku ini bilang, banyak teman-teman akhwatnya yang mulai merubah penampilannya. Awalnya kerudungnya panjang, kemudian mulai agak diperpendek. Dulu, kerudungnya biasa saja, sekarang sudah mulai bermodel ala hijabers. Intinya mulai merubah penampilan dengan tujuan menarik lawan jenis. Tak ada yang salah sih, tapi hendaknya jangan hanya covernya saja yang diperbaiki dan dipoles sana sini. Sebaiknya isinya pun juga harus begitu.

            Mendengar penuturannya, ‘mak-jleb’ banget rasanya. Merasa ditampar kanan kiri dan mulai berbisik pada hati, kayaknya aku hanya berada pada batasan ‘mau’ (iya, mau sama kamu, hahaha, abaikan). Malu tau, malu. Mau atau siap itu adalah sebuah tahapan. Tak apalah sekarang aku berada pada tahapan ‘mau’ karena itu artinya aku masih normal sebagai seorang manusia. Berada pada tahapan ‘mau’ bukan berarti aku harus merubah penampilan kan? Karena sungguh, aku masih jauh dari tahapan ‘siap’. Semoga akan segera naik tingkat menapaki tahapan ‘siap’. Tak hanya aku, tapi kamu juga. Iya kamu, hahaha :-D.         

Advertisements

4 thoughts on “Mau atau Siap?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s