Pancake Durian

 Resep-Pancake-Durian           Sore itu begitu penuh perjuangan, untungnya aku tak sendirian. Kala itu aku bersama saudara kembarku mengendarai motor rental. Sebenerya agak trauma juga sih pake motor rental gara-gara kejadian kemarin. Kejadian yang sungguh di luar dugaan. Udah diduga sih, tapi nggak pernah nyangka kejadiannya bakalan menimpaku, lebih tepatnya menimpa kami, aku dan teman-temanku. Kejadian apa sih? Kejadian kemalingan motor bro. Serem kan? Masih mahasiswa udah kehilangan motor, padahal pengahasilan aja belum punya, motor pinjeman lagi. Nah kejadian kehilangan motor ini akan aku bahas ntar, dia punya topik bahasan sendiri. Bahasan yang akan membuatmu menangis parah dan membuatku menangis darah. Hingga detik tulisan ini dibuat, aku belum berani menceritakan kejadian ini pada kedua orang tuaku. Ntar aja ceritanya kalo uang buat ganti motornya udah kekumpul. Eh, buat kamu yang kebetulan baca postingan ini dan kenal sama orang tuaku, plisss… jangan bilang dulu ya ke mereka. Soalnya sebagai anak yang sudah beranjak dewasa aku tak mau menambah beban mereka dengan kejadian ini, cukuplah aku yang beranjak dewasa ini yang menanggungnya. Walaupun ku akui ini sangatlah berat, huhuhu. Tapi tenang, aku nggak sendirian kok. Aku menanggungnya berdua dengannya, dengan saudara kembarku. Kalu kamu mau ikutan sih, wuih… dengan penuh rasa suka cita akan ku terima sambil berkata kayak di dongeng-dongeng, ‘Jika yang membantu perempuan, maka akan aku jadikan saudara. Tapi, jika yang datang membantu laki-laki maka akan aku jadikan pendamping hidup’ hahahahaha #ngayal.

            Intinya sore itu, aku diantar sama saudara kembarku ke suatu tempat. Berangkatnya sih dia yang bawa motor, tapi pulangnya aku yang bawa. Padahal, aku sedikit trauma gara-gara tabrakan yang kemarin, tapi berhubung tadi dia yang bawa, jadi pulangnya giliran aku yang bawa. Menuju jalan pulang, hujan mengguyur tiada henti, makin lama makin tak mau berhenti. Kita tetap melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, macet sana sini, nyelip sana sini. Berhubung motornya agak ringkih, aku memilih untuk berjalan di pinggir biar aman. Tapi tiba-tiba, byaaaarrrrr… seekor angkot melaju dengan kencangnya dengan semburan air ‘bah’ mengenai muka kita berdua. Oke, kita terima. Kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba motor yang kita tumpangi berjalan tersendat-sendat seperti kehabisan bensin. Baiklah, lengkap sudah. Ditambah POM bensin yang katanya jaraknya masih sangat jauh. Ternyata Allah maha baik, motornya idup lagi setelah beberapa kali di starter. Kita pun segera melaju menuju POM bensin. Alhamdulillah.

            Jalanan setelah pengisian bahan bakar tak sedramatis tadi. Sudah aman terkendali ditambah hujan yang juga telah berhenti. Tanpa kita sadari ternyata kita lapar sekali. Banyak warung makan berjejer di pinggir jalan. Pandanganku tertuju pada sebuah toko buah-buahan yang bisa dibilang besar, ‘fresh buah’. Aku pun langsung mengambil inisiatif memulai percakapan,

“Berhenti di sana yuk, beli pancake durian, katanya yang di toko itu enak” kataku sambil menunjuk toko buah yang ku maksud.

“enggak ah” jawab saudara kembarku.

“ih… ayuk ah, berhenti. Kapan lagi bisa mampir ke sini” aku memaksa.

“tau nggak, kita kemarin baru dikirimin uang sama Bapak”

“tuh kan, kita kan lagi ada uang. Ayuk beli pancake durian” paksaku.

“kita emang dikirimin uang sama Bapak. Tapi kan kita nggak tau uang itu dapetnya dari mana. Bisa aja kan beliau dapet uangnya minjem sana sini, terus kita dengan seenaknya gunain uang itu hanya untuk beli pancake durian”

            Aku pun langsung terdiam. Tak tau harus berkomentar apa. Yang pasti, aku sangat sangat malu pada tingkahku yang masih belum dewasa. Masih beum bisa memprioritaskan mana yang kebutuhan atau mana yang kesukaan. Sungguh. Jadi sangat merasa bersalah pada kedua orang tuaku yang telah banyak berkorban demi aku dan saudaraku. Tapi aku? Ya begitulah, belum juga dewasa, masih beranjak dewasa. Ya Allah, maafkan kesalahan kesalahan hamba kepada orang tua hamba. Izinkanlah hamba untuk bisa membahagiakan mereka selagi mereka masih ada. Oh… pancake durian, pesonamu sungguh membutakan sekaligus menyadarkan, bahwa sesungguhnya aku masih sangat kekanak-kanakan.  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s