Kick Andy dan Pengorbanan Para Penontonnya

2010_05_26_02_22_55_default_kickandy

#taping: persiapan untuk on air, masuk ke sebuah ruangan untuk on air

Berhari-hari nggak ngeblog. Bukannya nggak mau nulis, tapi kayaknya nggak ada kisah atau kejadian menarik yang mampu menarik otak lantas jari jemari untuk menari di atas keyboard laptop yang nantinya akan terurai menjadi sebuah cerita yang dapat ku posting dan kau baca. Nah, ini nulis. Iya baru kepikiran sama kejadian ini yang kayaknya pantas buat dibagi. Yah… walaupun apa adanya. Ceritanya tentang perjuangan kami, para penonton yang banyak berkorban padahal peran kami hanyalah sebagai penonton. Liat guys… hidup memang penuh pengorbanan kan, mau jadi penonton aja yang notabene hanyalah bagian yang bisa dianggap ‘tak penting’ dalam sebuah show, perjuangannya sungguh… sungguh terlalu, menurutku sih.

Kalau di dunia ini benar-benar ada yang namanya faksi kayak film divergent, maka aku akan memilih faksi Erudite. Kenapa? Karena aku tak suka yang banyak gerakan fisik layaknya Dountless dan golongan terlalu baik plus membosankan layaknya abnegation. Ya, aku suka menjadi bagian dari Erudite yang kerjaannya di kantoran dan laboratorium gitu, adem, banyak AC nya, dan yang pasti full koneksi internet. Nah… bagian yang terakhir ini yang paling aku suka, browsing dan menjelajah dunia maya. Saking senengnya sama internet, taruhlah aku di sebuah kamar yang nyaman dengan koneksi full internet, dikurung seminggu pun aku bakalan betah banget (tapi dikasih makan loh ya, hehe). Gara-gara suka internetan dan otak atik media social ini, bertemulah aku dengan sebuah tweet.an sebuah stasiun TV yang menyatakan sesuatu kurang lebih seperti ini “bagi yang berminat nonton Kick Andy langsung di studio metro TV silahkan kirimkan email dengan syarat membawa teman minimal 10 orang”. Tanpa babibu, langsunglah diriku menghubungi teman-teman yang ku perkirakan bisa ikutan. Nggak susah lah nyari 10 orang di sini apalagi diajakin buat nonton Kick Andy. Ditambah lagi kita kan udah pada lulus nih istilah kerennya sih vacum of power, kuliah nggak ada, ya kerjaan juga belum punya, jadinya ya gini nyari kesibukan yang sekiranya bermanfaat dan Kick Andy menurut kami termasuk dalam kategori show yang cukup bermanfaat.

Singkat cerita terkumpulah 12 orang yang telah bersiap bersama-sama menuju grand studio metro TV. Tapingnya akan dimulai jam 19.00 tapi registrasi ulangnya jam 17.00. Alhasil kita berangkat dari Bogor jam 14.00. Formasi dari 12 orang itu terdiri dari, 9 orang dari Bogor termasuk aku, 2 orang nunggu di stasiun Rawa Buaya, dan 1 orang berangkat dari stasiun Jakarta kota. Kesepakatan awal kita semua akan bertemu di stasiun Rawa Buaya lantas naik angkot B14 menuju grand studio metro TV tempat show ini berlangsung. Sampailah kita bersembilan di stasiun rawa buaya yang telah dijanjikan, sholat ashar karena udah jam 17.00. Selesai sholat nggak bisa langsung ke studio karena harus nungguin satu orang lagi yang dari Jakarta kota. Ditungguin orangnya nggak dateng-dateng, katanya kereta yang dari stasiun duri menuju Rawa Buaya nggak nongol-nongol. Jadilah kita memutuskan untuk membagi rombongan menjadi dua kelompok. Satu kelompok berangkat duluan ke studio metro TV dan satunya lagi nungguin si temen yang belom dateng itu. Aku kebagian rombongan satu karena aku lah yang menjadi ketua rombongan ini. Berangkatlah aku menuju studio dengan menaiki angkot B14. Ternayata Jakarta menunjukkan jati dirinya, macet dimana-mana padahal jam udah nunjukin jam 18.20. Itu kan telat banget ya, padahal kan jadwalnya jam 17.00-18.00 daftar ulang dan jam 19.00 mulai taping.

Setelah melewati macetnya lalu lintas sampailah kita di jalan menuju studio yang ternyata buat mencapai grand studio jaraknya cukup lah bikin kaki pegel, jauh men. Kita buru-buru takutnya daftar ulangnya udah ditutup, mana belum sholat magrib. Ternyata registrasinya masih berlangsung, kita pun lega tapi masalahnya temen-temen yang lain belum pada dateng. Setelah ditungguin ternyata mereka datang satu per satu dengan abang ojek, takut nggak keburu kalau naik angkot. Aku pun langsung bergegas sholat setelah memberikan instruksi cara registrasi. Ternyata masjidnya berada di ujung jalan pas kita pertama kali masuk, alhasil kita pun harus berjalan kembali secara tergesa-gesa takutnya nggak keburu taping. Kan sayang banget, udah nyampe studionya tapi nggak bisa ikutan taping. Berjalan dari ujung ke ujung cukup menguras tenaga, tapi tak apalah, daripada nggak sholat. Kita pun segera masuk ke studio yang ternyata akan mulai on air. Kita bingung mau duduk dimana soalnya penontonnya penuh banget, untungnya panitianya udah nyiapin kursi cadangan dan diletakkan di posisi yang cukup strategis. Strategis jika dibandingkan teman-temanku yang duduk lesehan di pinggir panggung.

Acaranya cukup menarik lah, tapi rasanya diri ini kurang terpuaskan karena ekspektasiku untuk Kick Andy ini cukup tinggi dan ternyata ekspektasi tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Keren sih pembicaranya, tapi rasannya untuk nonton show semacam ini dengan pengorbanan yang sebanyak ini rasanya tak sebanding. Pengorbanan besar? Ya, perlu aku ceritain nih ya, salah seorang teman-temenku yang naik ojek itu sampe nangis gegara abang ojeknya bawa keliling dia karena tak tahu tempat studio metro TV, uang nggak bawa, HP mati, malem hari, di Jakarta, Perempuan lagi. Gimana nggak mau nangis tuh? Pas nyampe studio, duduknya lesehan di samping kursi pembicara yang katanya suaranya nggak begitu jelas. Kasian kan? Ternyata pengoranan tak cukup sampai disitu.

Kick Andy selesai sekitar jam sepuluh kurang dikit. Kita langsung pulang naik angkot menuju stasiun Rawa buaya yang denger-denger kereta terakhirnya Cuma sampe jam setengah 10 malem. Tapi kita tetep optimis, siapa tahu itu Cuma kabar burung aja. Naik angkot yang dikemudikan dua anak muda, lampu angkot dimatiin dan musing disco diputer dengan volume full. Bayangin tuh, udah kayak di diskotek aja. Nyampe stasiun ternyata keretanya bener-bener udah abis. Jadilah bapak petugas menyarankan kita untuk naik bus transjakarta. Dari stasiun rawa buaya ke hal bus transjakarta tuh jauh banget. Kita jalan men… udah panas, keringetan, berdebu, laper banget, kacau balau lah pokoknya. Ditambah lagi kita belum tau kemana arah dan tujuan kita setelah naik bus transjakarta. Hidup kita benar-benar luntang lantung tak tau arah dan tujuan. Untungnya ada satu anak asli Jakarta yang dengan baik hati menawarkan kita-kita yang telah putus asa ini untuk menginap di rumahnya. Berhubung dia perempuan, teman-teman yang laki-laki yang jumlahnya tiga orang merasa tidak enak. Tapi dengan pertimbangan taka da lagi kereta dari Sudirman ke Bogor berhubung udah mau jam setengah 12 malem, jadilah mereka mau. Iyalah daripada tidur di luar stasiun.

Dengan langkah gontai sampailah kita semua di rumah teman kita yang baik hati itu. Dan tau nggak? Kita udah disiapin bermacam-macam makanan. Bak oase di tenga padang pasir, kita pun langsung serasa punya roh kehidupan kembali. Menu nasi goreng itu menjadi menu paling mewah kita hari itu. Bayangin aja dari siang belum makan terus jalan kaki jauh terus ada yang nawarin nasi goring hangat, sirup dingin, dan buah-buahan segar, gimana nggak seneng sampe ke ubun-ubun. Sumpah itu  anugerah banget. Setelah makan kita langsung ganti baju (dikasih pinjem sama tuan rumah) dan bersih bersih badan, lantasbobo cantik. Tidur senyenyek-nyenyaknya karena badan udah diajak berjuang seharian. Kita balik ke Bogor keesokan harinya dengan suasana hati yang riang gembira. Begitulah perjuangan dan pengorbanan kami, para penonton Kick Andy. Bener ya bung, sejatinya hidup adalah perjuangan, perjuangan di awal dan menikmati hasil di akhir. Kayak kita-kita nih, emang cape banget sih, tapi kita lalui semua rasa capek itu, lantas yang kita dapatkan? Eratnya tali persahabatan yang sepertinya akan meningkat terus menjadi tali persaudaraan. Semoga kalian selalu inget kisah ini ya teman-teman. Jangan kapok diajakin nonton apa gitu di kesempatan selanjutnyam hahaha.

Advertisements

5 thoughts on “Kick Andy dan Pengorbanan Para Penontonnya

  1. Mungkin karena kamu cukup nekat ya orangnya 😀
    di jakarta tu kalo naik angkot nggak bisa diprediksi, waktu itu saya pernah nonton stand up comedy yg di metro tv juga, karena naik motor dan sudah tau daerahnya jadi ya santai, sampai sana malah baru beberapa orang yg dateng, nunggu sekitar setengah jam trus dikasih nasi kotak (padahal saya udah bawa bekel roti & air mineral) abis itu masuk studio (tapping) saya duduk paling depan soalnya pada nggak mau duduk di depan, pada milih di belakang, akhirnya waktu liat di tv saya sering ke shoot 😀
    tapi salut banget deh sama perjuangan kamu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s