Anak-Anak Itu Tak Lagi Punya Jatah

67251410.wXfnYTihTiba-tiba terbangun gegara suara riuh rendah anak-anak kecil yang sepertinya lupa kalau halaman yang mereka tempati untuk bermain adalah halaman para anak kost yang sedang enak-enaknya tidur siang. Ya, mereka telah benar-benar lupa atau mungkin sengaja lupa kalau aku tengah tidur siang dan sungguh merasa terganggu dengan suara riuh rendah yang mereka hasilkan. Refleks ku ambil handphone untuk melihat sesuatu di dalamnya –kebiasaan manusia di jaman sekarang yang juga telah menjadi kebiasaanku-. Tak ada hal yang spesial. Ku taruh kembali dan langsung menuju kamar mandi mengerjakan sesuatu yang tentunya kita semua sudah pada tau. Sampe kamar mandi pun suara anak-anak itu masih terdengar begitu jelas. Tak heran jika suara mereka mampu membangunkanku yang biasanya susah sekali dibangunkan kecuali atas keinginan diri sendiri.

            Aku akan uraikan bagaimana asal muasal mereka bisa ada di halaman kosanku. Bagini, pada awalnya semua anak di kosanku sepakat untuk sama sekali tak mengizinkan anak-anak kecil itu untuk bermain apalagi beramai-beramai membuat kegaduhan di halaman kosan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kita mulai agak luluh dan sedikit demi sedikit membuka diri dan mengizinkan mereka untuk bermain. Kebetulan halaman kosanku memang cukup luas untuk sekedar main bulutangkis atau permainan lainnya yang tak membutuhkan area yang sangat luas. Mereka biasanya memulai kegiatan mereka di tengah hari, siang-siang, jam yang pas banget buat bobo. Mereka sama sekali tak menghiraukan sengatan sinar matahari di siang hari yang bakalan bikin kulit mereka hitam demi memuaskan keinginan mereka untuk bermain. Tak heran sih, aku juga dulu begitu. Yah… walaupun lebih sering ga dibolehin soalnya kata mbahku tidur siang itu penting banget buat anak-anak. Usut punya usut ternyata berdasarkan artikel ilmiah yang pernah aku baca, tidur siang itu baik banget buat perkembangan otak anak-anak apalagi dalam masa pertumbuhan. Keren banget ya nenekku, sering baca artikel ilmiah. Hadeuh… boro-boro, bica baca aja nggak. Jadi intinya, orang tua kita itu paling tau apa-apa yang terbaik buat anaknya. Catet!

            Balik lagi ke anak-anak yang bikin gaduh itu. Aku pribadi ngizinin mereka main, tapi hak ku juga dong merasa terganggu dengan apa yang mereka lakukan. Tapi, aku nggak sejahat itu kok, aku cuma menggrutu di tulisan ini aja, di aslinya mah aku nggak ngelakuin apa-apa. Aku biarin aja. Abis dari kamar mandi aku balik lagi ke kamar dan di tengah jalan menuju kamar aku inget sesuatu yang melunturkan rasa kesalku pada anak-anak itu. Sungguh luntur tak berbekas sama sekali, berganti rasa kasihan dan prihatin. Ingatan tentang apakah itu? ingatan tentang mereka yang tak lagi punya jatah. Jatah untuk menyalurkan keinginan mereka untuk bermain dan bercanda gurau di tempat yang seharusnya. Mengapa begitu?

            Jadi begini, kemaren sore aku berniat mengunjungi salah seorang adek kelasku yang sedang punya musibah. Datang untuk memberikannya semangat dan motivasi. Karena aku percaya, kunjungan teman dan kerabat adalah hal yang paling penting ketika ketika sedang punya kesusahan. Ketika akan mengunjungi kosannya, semuanya telah tampak berbeda. Lingkungannya benar-benar berubah hingga hampir membuatku pangling dan lupa jalan menuju kosannya. Apanya sih yang ngebuat beda? Karena di sana telah berdiri dengan kokohnya sebuah kosan berlantai dua yang dipagari dengan pagar besi yang kelihatannya begitu angkuh. Terlihat jelas kesan mahal sewa kosan ini. Jadi miris ngeliatnya. Bukan mikirin biaya sewanya yang ngebuat aku prihatin tapi lokasinya lah yang begitu aku sayangkan. Sebelum kosan itu berdiri, tempat itu adalah sebuah lapangan bulutangkis yang memang sudah tak begitu terawat. Tapi, tiap aku melintasinya, lapangan itu cukup ramai digunakan anak-anak untuk bermain dan berlarian. Lah sekarang? Anak-anak itu tak lagi punya jatah, tak ada sama sekali. Jikalau sudah begitu, bagaimana tak luntur rasa kesalku pada mereka, bagaimana tak prihatin dan kasihannya aku pada mereka. Sungguh hilang tak berbekas. Mulai saat itu aku bertekad akan ku ijinkah kalian untuk bergaduh-gaduh ria di depan kosanku karena ku tahu kalian tak lagi punya jatah.

            Berbeda sekali denganku yang punya banyak sekali lahan bermain di sawah-sawah yang lebar itu. Memunguti mangga yang jatuh dari pohonnya, mengambil tumbuhan liar yang mengahasilkan buah-buahan yang manis, menangkap para capung yang asyik bertengger, hingga mandi lumpur di sawah ketika musim hujan tiba. Memang tak bijak membanding-bandingkan hal yang satu dengan yang lain, karena memang tak ada yang benar-benar setara di dunia ini. Jadi, membanding-bandingkan menjadi hal yang percuma. Tapi, tetap saja, naluri manusia memang diciptakan untuk selalu dan senantiasa membanding-bandingkan. Maafkan aku yang dengan tak sopannya membanding-bandingkan kehidupanku dengan kehidupan kalian, adek-adek kecil. Kita memang hidup di jaman yang berbeda, tapi tak bisakah mereka –anak-anak kecil itu- mendapatkan jatah yang seenggaknya hampir sama dengan jatah yang ku dapatkan atau kalau bisa mungkin lebih baik dari jatahku dulu.

            Oh… para pemangku kebijakan dan kekuasaan. Bolehlah infrastruktur bangunan-bangunan itu terus kau perbanyak karena memang itu juga sangat diperlukan untuk kemajuan suatu daerah yang mungkin implikasinya untuk kemajuan bangsa. Tapi, janganlah lupa bangunlah juga ruang hijau dan ruang bermain yang sama banyaknya atau setidaknya mencukupi. Karena sesungguhnya ruang bermain dan ruang hijau itu amatlah diperlukan oleh mereka, oleh anak-anak itu, anak-anak yang tak lagi punya jatah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s