Merasakan dan Mengalihkan Rasa Sakit

danboBangun untuk yang kedua kalinya. Bangun yang pertama ku terbangun karena suara berisik pintu kamar yang dibuka. Ternyata Mbak Dila baru pulang dari rutinitas rapat bersama organisasi sosialnya. Ku masih ingat belum sholat isya. Tapi pusing di kepala belum juga menghilang. Setelah bercakap-cakap sebentar, ku putuskan untuk kembali tidur. Lantas, bangun untuk kedua kalinya karena mendengar suara tetangga sebelah kamar yang sepertinya sedang curhat. Aku bisa menangkap beberapa bagian yang mereka bicarakan. Ternyata tentang penelitian tugas akhir mereka yang masih on progress. Entah memang bakat nguping atau memang pagi ini begitu sunyi?. Pagi? Ya Allah, hamba belum sholat isya. Terasa ada yang mengganjal di dada, pengen nangis karena merasa gagal melaksanakan kewajiban. Menyalahkan diri sendiri yang tak bisa menahan rasa pusing yang ternyata hingga keterjagaanku yang kedua masih juga tak hengkang dari kepala. Pusingnya masih terasa. Ku lihat jam di handphone, ternyata masih jam setengah 12 malam. Alhamdulillah, padahal rasanya udah tidur lama banget dan suasananya kayak udah pagi aja. Pusingnya makin menjadi-jadi, tapi segera ku langkahkan kaki ke kamar mandi, sholat isya, dan kembali tidur untuk mengistirahatkan diri dari rasa pusing ini.

            Entah kenapa sejak berada di tingkat akhir hingga akhinya lulus pun, rasa pusing di kepala ini makin sering datang. Entah pola makan atau pola hidupku yag kurang baik atau bagaimana, tapi intensitasnya makin sering. Telat makan dikit, pusing, capek dikit pusing, nggak tau sebabnya pun tiba-tiba pusing. Cara paling ampuh untuk menghilangkan rasa sakit adalah, menyakiti bagian tubuh yang lain. Terkesan menyeramkan ya? tapi begitulah adanya. Kenapa nggak minum obat aja? jujur aku paling anti memasukkan obat-obatan ke dalam tubuhku karena ku tahu mereka itu xenobiotic (zat yang tak dikenali tubuh, mereka asing). Mereka akan dimetabolisme menggunakan jalur yang tak biasanya sehingga akan mengganggu prose metabolisme yang lain. Ketika kau merasa sakit di bagian tubuh yang satu, cobalah buat bagian tubuh yang lainnya mendapatkan rasa sakit yang persentase sakitnya sedikit lebih besar. Maka rasa sakit yang pertama kamu rasakan akan beralih pada rasa sakit yang kedua, karena tubuh akan memusatkan perhatian pada rasa sakit yang lebih besar. Ini analisis dangkalku sih. Setidaknya rasa ini cukup ampuh untuk menghindar dari rasa sakit yang selama ini ku rasakan.

            Cara yang lain adalah, rasakan dengan seksama rasa sakit itu, cermati dan analisis penyebabnya. Pernah nonton Sherlock Holmes yang TV series nggak? Yang pemerannya Bennedict Cumberbatch, panggil saja di Om Ben. Aku lagi ngefans banget sama dia. Dia keren banget nggak sih, kalo nggak percaya, nonton deh. Dijamin kalian bakalan ngerasain apa yang aku rasain ke Om Ben. Fall in love, hahaha. Soalnya Om Ben udah ngasih motivasi buat aku. Banyak hal di film itu yang ngebuat aku termotivasi, salah satunya ketika si Om Ben ditembak sama Istrinya Jhon Whatson, sahabatnya. Di sana, Om Ben yang cerdasnya naudzubillah subhanallah itu mengalami masa kritis karena tembakan di dadanya. Yang dia lakukan? Dia ngerasain rasa sakit dan menganalisis penyebabnya, lantas mencari alasan kenapa dia harus bertahan dan terus hidup. Menurutku itu keren banget. Jelas tergambar proses bagaimana si Om Ben begitu keukeuhnya dengan menganalisis dan merasakan rasa sakit yang ia rasa.

            Banyak orang yang cenderung menghindar dari rasa sakit dan dengan mudahnya mengonsumsi obat-obatan yang dianjurkan bahkan hingga yang terlarang. Padahal dari film itu aku banyak belajar, hal yang terpenting ketika kita sedang dalam keadaan sakit adalah merasakan rasa sakit itu, lantas mengalihkannya dengan cara yang benar. Pun dalam agama kita, bagaimana seorang yang sakit begitu diistimewakannya, diampuni segala dosanya, tapi dengan catatan dia sabar dalam menghadapinya. Sakit sejatinya juga bukanlah seutuhnya musibah. Bahkan di Biokimia ada mata kuliah khusus yang menjelaskan bahwa sakit merupakan sebuah anugerah. Mengapa anugerah? Karena rasa sakit merupakan suatu respon, adanya rasa sakit menunjukkan bahwa reseptor-reseptor dalam tubuh kita berfungsi dengan baik. Berbahaya sekali jika tubuh kita mengalami hal yang tak wajar lantas kita tak merasakan rasa sakit. Bayangin aja, ketika tangan kita kena api, terus kita nggak ngerasain panas. Berbahaya sekali bukan? Itu artinya tangan kita sudah tak lagi menjadi satu kesatuan dengan tubuh kita karena dia sama sekali tak memberikan respon apa-apa. Anugerah sekali ya diberi rasa sakit. Memang kadang banyak yang salah kaprah, karena batas antara musibah dan anugerah tipis, mungkin tipisnya sama seperti batas antara benci dan cinta.

            Nah, kata yang terakhir kayaknya familiar nih, cinta. Rasa sakit karena cinta, banyak sudah yang jadi korbannya. Cara ngatasinnya? Kayaknya sama. Kita samain aja lah ya. Soalnya aku punya temen yang kayaknya pernah ngerasain rasa sakit yang bisa dikategorikan sebagai rasa sakit karena cinta. Yang dia lakukan? Merasakan dan mengalihkan rasa sakit itu. Dia mengalihkannya pada hal-hal positif. Hasilnya? Yup, dia berhasil menjuarai berbagai kompetisi penulisan di tingkat nasional, IPK nya meningkat tajam, dan kemampuannya banyak yang meningkat daripada sebelumnya. Bener-bener anugerah ya rasa sakit itu. Jadi, buat kamu yang lagi sakit, cara yang terbaik yang seharusnya kamu lakukan adalah merasakah dan mengalihkan rasa sakit itu, tentunya mengalihkannya ke hal-hal yang positif ya. Serta hadapi dengan sabar karena imbalannya adalah penghapusan atas dosa-dosa yang tak pernah bisa kita banyangkan banyaknya.

Advertisements

9 thoughts on “Merasakan dan Mengalihkan Rasa Sakit

  1. “… yang cerdasnya naudzubillah …”
    Haha, gini nih cara memuji yang salah.. “Na’udzubillah (min dzalik)” itu kan artinya “Kami berlindung kepada Allah (dari hal tersebut)”.. Jadi kalau muji orang “Cerdasnya na’udzubillah” secara gak langsung berarti kita gak pengen (minta dijauhkan/dilindungi) dari kecerdasan seperti kecerdasan orang yang kita puji..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s