Kejadian Malam Itu

kelana-malam1Izinkanlah aku minta maaf karena telah berkali-kali melanggar jam malam. Tapi, sepertinya sudah telah sejak lama ku tak mematuhinya. Entah apa yang melatarbelakanginya, tapi yang pasti ku tak melakukan hal-hal bodoh walaupun melanggarnya. Aku masih punya akal sehat untuk berpikir jernih dan alasan yang kuat untuk tak melakukan hak-hal yang dilarang. Ngapain juga, nanti ujung-ujungnya dampaknya bakalan ke kita juga. Toh, aku hanya menghabiskan waktu malam di kampus, membenamkan diri di spot yang paling ku sukai, spot yang penuh dengan koneksi wifi. Hingga tak ku sadari waktu telah berlari dan jam malam telah terlewati. Enggan beranjak karena donlotan film belum kelar. Aku tak sendiri, berdua dengan temanku. Ya kali di kampus malem-malem sendiri. Berdua aja udah ketar-ketir apalagi sendiri. Setelah hajat kita selesai, kita pun memutuskan untuk balik ke kosan.

            Malam itu suasana kampus horror seperti biasanya. Suasana horror ini didukung dengan latar tempat yang ditumbuhi pohon-pohon besar, sinar lampu yang remang-remang, jalanan agak berkabut, dan sedikit mendung menyelimut. Kita mendoktrin diri kita sendiri bahwa semuanya sama seperti biasanya, suasananya sama seperti biasanya, dan semuanya baik-baik saja. Kita terus menelusuri jalanan kampus menuju kosan melewati parkiran motor yang telah sepi di dekat sebuah minimarket. Tapi ada yang aneh di sana. Kita melihat sesuatu yang tak biasa. Tapi kita terus melangkahkan kaki seolah taka da apa-apa. Tapi hati ini mengelak tak terima bahwa semuanya baik-baik saja. Jelas sekali kita berdua melihatnya, melihat dengan mata kepala kita masing –masing kejadian malam itu.

Continue reading

Advertisements

Pudarnya Sebuah Idealisme

danbo_by_skulladrianortizNamanya pudar. Aku tak tahu darimana dia berasal. Pastinya, ketika dia datang semuanya akan terasa hambar dan tawar. Apalah jadinya ketika sebuah idealisme disandingkan dengan kata ini? Maka yang akan terjadi seperti yang akan aku ceritakan sebentar lagi, pudarnya sebuah idealisme.

              Buset… serius amat bacanya. Judulnya ngeri, bawa-bawa idealisme. Don’t judge an article by its tittle, kalimat ini bener banget. karena aku nggak bakalan ngomongin hal yang serius kali ini. Kapan sih aku pernah serius. Aku kan seriusnya cuma sama kamu, iya… kamu, hahaha. Entah udah berapa kali inget kejadian ini dan selalu sukses bikin ngakak histeris. Agak susah dibedain antara kegirangan sama kesurupan. Cerita kali ini tentang seorang teman yang menurutku idealismenya sungguh tak bisa diragukan lagi. Ibaratnya nih, idealisme dia tuh kayak layangan yang diterbangin di lagit, sedangkan aku layangan yang belum dibuat. Jauh banget kan. Iyalah, aktivis kampus cuy sama aku yang rakyat jelantah, eh rakyat jelata maksudnya.

Continue reading

Takut

mengatasi-rasa-takutTetiba saja terlintas kata ini ketika ku putuskan untuk menghabiskan waktu soreku di kampus. Karena kurang afdhol rasanya jika hari ini hanya ku habiskan untuk membaringkan tubuh di kamar yang memang butuh untuk dibaringkan. Tidak, ku tak boleh terus begini, harus ku hasilkan setidaknya ‘sesuatu’ hari ini. Misalnya saja, download drama korea yang sedang ku tunggu-tunggu itu. Ku paksakan tubuh yang sejatinya memang butuh dipaksa. Bersama-sama, aku dan ragaku pergi ke kampus dengan motivasi mendownoad sesuatu yang memang harus di download. Kampus? Ya… tempat yang sejatinya diperuntukkan untuk para mahasiswa. Lah aku? Bukan, bukan lagi mahasiswa. Lantas, kenapa masih di kampus? Nah… jawaban untuk pertanyaan ini yang belum aku temukan. Sebenarnya ceritanya begini. Keberadaanku di kampus sejatinya adalah sebuah gambaran seorang sarjana yang belum siap masuk ke dunia nyata. Sebenarnya aku siap, tapi belum menemukan alasan kuat kenapa aku harus menuju dunia nyata. Lebih tepatnya aku takut. Takut sekali. Dihadapkan pada dua dilema, langsung bekerja saja atau melanjutkan studi. Langsung nikah boleh? Iuuuuhhh maunya :D.

            Entah sejak kapan aku menjadi seorang penakut yang akut. Takut mengahadapi masa depan yang mau tak mau, suka nggak suka, berani ataupun takut harus aku hadapi. Aku punya rencana masa depan yang cemerlang, mimpi yang tinggi, tapi masih dengan kepercayaan diri yang rendah, apa iya seorang aku bisa meraih itu semua? Aku kan bukan dia ataupun dia yang punya banyak talenta lantas pantas untuk mendapatkan itu semua? Apa iya seorang aku bisa? Dengan kemampuan yang biasa-biasa saja? Haduh… aku tak tahu, yang pasti sekarang aku sedang manjalani fase terendah menjadi seorang aku. Maaf bukan bermaksud bergalau ria di tulisan ini, tapi ini hanya kerisauan hati yang tak tahu harus kemana ku ratapi.

Continue reading

Arti Mempersiapkan Diri Bagiku

Danbo 33Seneng itu ketika orang yang dulu pernah dekat denganmu, apapun hubungan itu, baik yang legal semisal teman atau sahabat, maupun yang illegal seumpama mantan, pacar, atau mungkin orang yang diam-diam kau kagumi, tiba-tiba saja mengirimkan pesan, apapun medianya dan menanyakan perihal kabarmu. Hal itulah yang kemaren terjadi padaku. Teman yang dulu ‘dekat’ sekali denganku, yah… sekarang mungkin sudah tak dekat lagi, jika parameter kedekatan di sini kita ukur dari jarak raga atau intensitas komunikasi yang kita lakukan. Kita tak lagi dekat karena aku di jawa barat dan dia di jawa timur, pun demikian kita tak lagi dekat karena intensitas komunikasi yang kita lakukan amat sangat jarang sekali. Maka tidaklah mengherankan jikalau aku begitu riangnya mendapatkan pesan darinya yang menanyakan kabarku. Tetiba saja panasnya Bogor di siang itu menjadi tetap panas, hahaha. Iyalah…. Aneh aja kalau tiba-tiba dingin. Percakapan kita diisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terkesan basa basi yang lantas menjadi netral karena sejatinya ketika basa (pH di atas 7) dicampur dengan basi (pH di bawah 7) maka hasilnya akan menjadi pH netral, hahahaha #apasih.

            Sampailah pada pertanyaan terbasa dengan jawaban yang juga terbasi agar suasana menjadi netral. Pertanyaan terbasa, perihal pasangan hidup dengan jawaban terbasi, akan datang ketika aku siap dan mempersiapkan diri. Jawaban pamungkas yang sejatinya aku pun tak begitu paham maksudnya. Hingga turunlah hujan sore yang sungguh deras itu. Membasahi apapun yang lewat di bawahnya termasuk diriku yang tak membawa payung tapi ingin segera sampai di kosan karena entah mengapa firasatku tak enak kala itu. Benar saja, hujan yang lebat itu berhasil menenggelamkan kosanku. Banjir terparah yang pernah ku alami. agak aneh memang, di Bogor kok banjir. Tapi, ya begitulah. Aku dan temanku pun luntang lantung, panik tak karuan, menyelamatkan barang-barang yang tak boleh kena air, sesaat suasana menjadi begitu panik. Air bah telah berhasil masuk kamarku setinggi mata kaki menuju betis, kira-kira 15 cm. Kita baru bisa tidur nyenyak pada jam 10 malam karena harus membuang air ke luar kamar, ngepel, dan meletakkan barang di tempatnya semula.

Continue reading