Arti Mempersiapkan Diri Bagiku

Danbo 33Seneng itu ketika orang yang dulu pernah dekat denganmu, apapun hubungan itu, baik yang legal semisal teman atau sahabat, maupun yang illegal seumpama mantan, pacar, atau mungkin orang yang diam-diam kau kagumi, tiba-tiba saja mengirimkan pesan, apapun medianya dan menanyakan perihal kabarmu. Hal itulah yang kemaren terjadi padaku. Teman yang dulu ‘dekat’ sekali denganku, yah… sekarang mungkin sudah tak dekat lagi, jika parameter kedekatan di sini kita ukur dari jarak raga atau intensitas komunikasi yang kita lakukan. Kita tak lagi dekat karena aku di jawa barat dan dia di jawa timur, pun demikian kita tak lagi dekat karena intensitas komunikasi yang kita lakukan amat sangat jarang sekali. Maka tidaklah mengherankan jikalau aku begitu riangnya mendapatkan pesan darinya yang menanyakan kabarku. Tetiba saja panasnya Bogor di siang itu menjadi tetap panas, hahaha. Iyalah…. Aneh aja kalau tiba-tiba dingin. Percakapan kita diisi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terkesan basa basi yang lantas menjadi netral karena sejatinya ketika basa (pH di atas 7) dicampur dengan basi (pH di bawah 7) maka hasilnya akan menjadi pH netral, hahahaha #apasih.

            Sampailah pada pertanyaan terbasa dengan jawaban yang juga terbasi agar suasana menjadi netral. Pertanyaan terbasa, perihal pasangan hidup dengan jawaban terbasi, akan datang ketika aku siap dan mempersiapkan diri. Jawaban pamungkas yang sejatinya aku pun tak begitu paham maksudnya. Hingga turunlah hujan sore yang sungguh deras itu. Membasahi apapun yang lewat di bawahnya termasuk diriku yang tak membawa payung tapi ingin segera sampai di kosan karena entah mengapa firasatku tak enak kala itu. Benar saja, hujan yang lebat itu berhasil menenggelamkan kosanku. Banjir terparah yang pernah ku alami. agak aneh memang, di Bogor kok banjir. Tapi, ya begitulah. Aku dan temanku pun luntang lantung, panik tak karuan, menyelamatkan barang-barang yang tak boleh kena air, sesaat suasana menjadi begitu panik. Air bah telah berhasil masuk kamarku setinggi mata kaki menuju betis, kira-kira 15 cm. Kita baru bisa tidur nyenyak pada jam 10 malam karena harus membuang air ke luar kamar, ngepel, dan meletakkan barang di tempatnya semula.

            Keesokan harinya, hujan deras kembali turun dengan lebatnya. Tak pernah ku lalui hujan dengan perasaan tak karuan seperti ini, takut kejadian kemarin akan terulang kembali. Ku angkat barang-barang yang tergeletak di lantai ke tempat yang lebih tinggi, ku siapkan semua, dan ku pastikan tak ada yang terlewat. Peristiwa banjir ini telah mengajariku segalanya, termasuk jawaban terbasi yang selama ini ku lontarkan tiap kali jawaban terbasa itu muncul. Ku telah mengerti arti kata mempersiapkan diri.

            Hujan sejatinya adalah sebuah anugerah yang sangat besar karena ketika hujan diturunkan banyak doa-doa yang dipanjatkan dan dikabulkan, makhluk hidup yang kering kerontang mendapatkan penghidupan, tanah gersang mendapatkan pencerahan, dan para petani kembali punya harapan. Dari air hujan inilah ku baru mengerti arti kata mempersiapkan diri. Boleh ku buat perumpamaan? Boleh lah. Jikalau hujan ku ibaratkan pasangan hidup, maka aku punya dua pilihan, mendapatkan air hujan yang bersih atau air bah yang tak diketahui asal usul maupun kebersihannya. Pilihan yang kita buat tergantung dari persiapan yang kita lakukan. Menerima air bah atau menghindarinya. Ketika air bah serta merta memasuki kamarku, tak ada penolakan yang bisa ku lakukan, ya… pasrah saja menerimanya. Banyak barang-barangku yang rusak karena tak sempat ku selamatkan karena memang aku sama sekali tak mempersiapkan diri. Penolakan hanya bisa dilakukan ketika sebelumnya kita telah mempersiapkan diri dengan cara meletakkan barang-barang yang ada di kamar kita ke tempat yang lebih tinggi yang tentunya tak bisa terjangkau air bah banjir. Analoginya serupa dengan pasangan hidup kita. Jika barang-barang itu diibaratkan aspek-aspek yang ada dalam diri kita maka mempersiapkan diri artinya ketika kita membuat setiap aspek dalam diri kita lebih tinggi dan lebih baik dari sebelumnya, sehingga kemungkinan kita untuk mendapatkan air bah banjir -pasangan yang ‘kurang baik’- akan semakin kecil.

            Jilakau ada yang berkilah, “kamarku ga bakalan kena banjir kok soanya di lantai dua”. Bener juga sih, tapi emang ada yang tau derajat kita sudah setinggi itu, emang ada yang jamin kualitas kita udah setinggi itu, setinggi kamar yang berada di lantai dua itu? Sehingga air bah banjir ga bakalan menjangkau kita. Nggak tau kan? Nggak ada yang jamin kan? Nah, maka dari itulah teruslah mempersiapkan diri, teruslah tingkatkan kualitas diri kita lebih tinggi, lebih baik, lebih bagus dari sebelumnya agar pasangan hidup yang nantinya akan menemani kita adalah air hujan yang bersih bukan air bah banjir yang tak pasti kebersihannya. Itu arti mempersiapkan diri bagiku, kalau kamu?… iya kamu, ahahaha.

Advertisements

One thought on “Arti Mempersiapkan Diri Bagiku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s