Takut

mengatasi-rasa-takutTetiba saja terlintas kata ini ketika ku putuskan untuk menghabiskan waktu soreku di kampus. Karena kurang afdhol rasanya jika hari ini hanya ku habiskan untuk membaringkan tubuh di kamar yang memang butuh untuk dibaringkan. Tidak, ku tak boleh terus begini, harus ku hasilkan setidaknya ‘sesuatu’ hari ini. Misalnya saja, download drama korea yang sedang ku tunggu-tunggu itu. Ku paksakan tubuh yang sejatinya memang butuh dipaksa. Bersama-sama, aku dan ragaku pergi ke kampus dengan motivasi mendownoad sesuatu yang memang harus di download. Kampus? Ya… tempat yang sejatinya diperuntukkan untuk para mahasiswa. Lah aku? Bukan, bukan lagi mahasiswa. Lantas, kenapa masih di kampus? Nah… jawaban untuk pertanyaan ini yang belum aku temukan. Sebenarnya ceritanya begini. Keberadaanku di kampus sejatinya adalah sebuah gambaran seorang sarjana yang belum siap masuk ke dunia nyata. Sebenarnya aku siap, tapi belum menemukan alasan kuat kenapa aku harus menuju dunia nyata. Lebih tepatnya aku takut. Takut sekali. Dihadapkan pada dua dilema, langsung bekerja saja atau melanjutkan studi. Langsung nikah boleh? Iuuuuhhh maunya :D.

            Entah sejak kapan aku menjadi seorang penakut yang akut. Takut mengahadapi masa depan yang mau tak mau, suka nggak suka, berani ataupun takut harus aku hadapi. Aku punya rencana masa depan yang cemerlang, mimpi yang tinggi, tapi masih dengan kepercayaan diri yang rendah, apa iya seorang aku bisa meraih itu semua? Aku kan bukan dia ataupun dia yang punya banyak talenta lantas pantas untuk mendapatkan itu semua? Apa iya seorang aku bisa? Dengan kemampuan yang biasa-biasa saja? Haduh… aku tak tahu, yang pasti sekarang aku sedang manjalani fase terendah menjadi seorang aku. Maaf bukan bermaksud bergalau ria di tulisan ini, tapi ini hanya kerisauan hati yang tak tahu harus kemana ku ratapi.

            Ku tulis tulisan ini karena aku yakin akan ada masa dimana aku akan menuliskan tulisan dengan judul ‘berani’. Ku tulis tulisan yang terkesan melemahkanku karena sejatinya setiap manusia mempunyai banyak kelemahan. Lantas kenapa harus dituliskan? Untuk rekam jejak saja yang nantinya akan dibaca kembali oleh seorang aku yang sudah ‘berani’ dan ‘kuat’ bahwa sejatinya seorang aku juga pernah merasakan rasa takut. Aku yakin dan percaya, ketakutan sejatinya bukanlah kelemahan, ketakutan hanyalah fase awal dimana rasa berani akan segera datang. Tak apalah ku rasakan rasa takut di awal, asal rasa ini tak akan lagi muncul ketika aku telah berani. Ku rasakan rasa takut karena secara sadar ataupun tak sadar aku telah mempersiapkan diri untuk merasakan rasa ini. Lantas, ketika aku ingin berani? Mari siapkan diri secara sengaja untuk datangnya rasa itu, rasa berani yang akan mengusir sejauh-jauhnya rasa takut. Bismillah.

Advertisements

2 thoughts on “Takut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s