Pudarnya Sebuah Idealisme

danbo_by_skulladrianortizNamanya pudar. Aku tak tahu darimana dia berasal. Pastinya, ketika dia datang semuanya akan terasa hambar dan tawar. Apalah jadinya ketika sebuah idealisme disandingkan dengan kata ini? Maka yang akan terjadi seperti yang akan aku ceritakan sebentar lagi, pudarnya sebuah idealisme.

              Buset… serius amat bacanya. Judulnya ngeri, bawa-bawa idealisme. Don’t judge an article by its tittle, kalimat ini bener banget. karena aku nggak bakalan ngomongin hal yang serius kali ini. Kapan sih aku pernah serius. Aku kan seriusnya cuma sama kamu, iya… kamu, hahaha. Entah udah berapa kali inget kejadian ini dan selalu sukses bikin ngakak histeris. Agak susah dibedain antara kegirangan sama kesurupan. Cerita kali ini tentang seorang teman yang menurutku idealismenya sungguh tak bisa diragukan lagi. Ibaratnya nih, idealisme dia tuh kayak layangan yang diterbangin di lagit, sedangkan aku layangan yang belum dibuat. Jauh banget kan. Iyalah, aktivis kampus cuy sama aku yang rakyat jelantah, eh rakyat jelata maksudnya.

            Sebut saja dia ‘mas bro’. Pertemanan kita teradi karena asal muasal kita yang sama, sama-sama terbuat dari tanah, dan dilahirkan di tanah yang sama, tanah Madura. Semakin didekatkan dengan sebuah proyek yang kita garap bersama. Suatu ketika mas bro ini sakit sis. Aku dan teman-teman satu proyek berniat menjenguknya. Kala itu ku ingat masih dalam suasana panas-panasnya pemilu. Nyampe kosannya bener-bener kerasa suasana pemilu. Gimana enggak, di depan pager kosannya nih tertempel poster salah satu calon capres dan cawapres lengkap sama spanduk yang terikat kuat ke pohon mangga. Kebetulan, afiliasi si mas bro ini yang ku tahu, sama kayak poster sama spanduk yang ada di depan kosannya. Sempat terbesit curiga, jangan-jangan yang nempelin nih poster sama spanduk ini si mas bro. Tapi, kayaknya nggak deh, dia kan lagi sakit.

            Bertemulah kita semua sama si mas bro ini dan sampailah bahasan kita soal capres cawapres. Usut punya usut ternyata salah satu temenku dapet kabar katanya bakalan ada pertemuan rahasia yang akan diadakan oleh timses salah satu capres cawapres, yang anehnya mahasiswa juga diperbolehkan hadir. Si mas bro langsung bereaksi tak suka, karena yang akan mengadakan pertemuan bukanlah capres cawapres yang dia dukung. Aku tahu itu.

            “wah… nggak bisa ini, masak main politik di kalangan akademisi, ngelibatin mahasiswa lagi” ucapnya

            “Iya sih, tapi katanya dikasih uang saku lumayan buat mahasiswa yang dateng” jawab temenku

            “berapa emang? Parah banget ya, main politik uang” tanya si mas bro

            “ya nggak tau, ih… mau dateng ya. kalo aku sih nggak mau idealismeku dituker sama uang. Aku nggak mau dukung calon yang itu” tambah temenku yang lain

            “masak? Tiba-tiba besok dateng aja, hahaha” kita pun semua tertawa

            Keesokan harinya adalah jadwal pertemuan rahasia itu. Aku kala itu yang sedang penelitian tiba-tiba mendapat SMS dari temanku yang tahu kabar pertemuan rahasia itu kalau mahasiswa yang datang bakalan di kasih uang saku 4 juta. Sejenak mataku terbelalak dan sejenak kemudian ku geleng-gelengkan kepala. Tak mau aku menukar idealismeku dengan uang 4 juta, tapi kan lumayan juga uang 4 juta, tapi ku geleng-gelengkan kepala lagi pertanda aku tak mau. Sejujurnya bukan karena idealisme aku tak datang tapi lebih karena penelitianku yang tak bisa ditinggal. Coba aja kalau bisa ditinggal, sudah bisa ku pastikan aku hadir di pertemuan rahasia itu. Uang 4 juta itu kan besar banget buat mahasiswa. Tak masalah dong aku kayak gitu, toh aku memang dari awal tak begitu idealis, beda sama si mas bro. Aku yakin si mas bro bakalan nolak mentah-mentah walaupun imbalannya 4 juta. Ditambah lagi dia kan lagi sakit. Pasti dia nggak bakalan dateng. Beneran kagum deh sama si mas bro.

            Tapi, semuanya runtuh seketika. Tatkala ku tahu ternyata si mas bro datang saudara-saudara ke pertemuan rahasia itu. Wajar dong judul tulisan ini, pudarnya sebuah idealisme. Usut punya usut si mas bro ini tak tahan dengan godaan imbalan itu. Dia benar-benar datang bahkan dalam kondisi tubuhnya yang kurang fit. Bisa dibayangin dong seorang mas bro yang idealis itu datang ke pertemuan rahasia yang bahkan seorang aku pun yang tak idealis tak bersedia hadir dalam acara itu. Ngebayangin gimana ekspresi si mas bro kalau aku dan teman-temanku datang ke acara itu, acara yang kemarin mati-matian dia caci maki.

            Kita pun kembali bertemu di kesempatan yang lain dan bahasan utama kita adalah pertemuan rahasia itu. Usut punya usut ternyata yang dateng ke pertemuan itu sama sekali nggak dikasih uang saku. Bayangin dong gimana kecewanya si mas bro. Udah ngorbanin idealisme tapi uang saku juga nggak dapet. Setelah diselidiki, ternyata SMS yang ku terima dulu itu salah. Isi SMS itu sebenarnya itu murni kesalahan temanku yang tanpa membaca dengan teliti langsung mem-forward SMS itu dan mengirimkannya pada kita semua. Uang 4 juta sebenarnya uang untuk proyek kita, tapi saking nggak konsennya dia ngiranya tuh uang buat yang dateng ke pertemuan rahasia itu. Kita pun tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritanya dan ngebayangin mas bro yang udah ngorbanin segalanya, waktu istirahatnya, tenaganya, dan idealismenya yang selama ini dia jaga yang hancur tak bersisa karena imbalan uang saku untuk menghadiri pertemuan rahasia, hahahaha :D.

Advertisements

2 thoughts on “Pudarnya Sebuah Idealisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s