Merasakan Masa Lalu

merenung-2Masa lalu, banyak yang merindumu dan membencimu. Aku termasuk yang merindukanmu, rindu berada di masa itu. Masa dimana semuanya tak sekompleks di masa setelah masa lalu. Masa dimana ku tak banyak tahu tentang fananya dunia yang nyatanya sekarang pun tak banyak ku tahu. Sedikit saja ku tahu tapi rasanya sudah banyak yang seharusnya tak ku tahu. Haruskah ku berhenti melangkah agar tak terus tahu? Sehingga ku tak perlu tahu sesuatu yang tak seharusnya ku tahu? Atau sekalian saja tak tahu semua yang seharusnya ditahu. Tapi aku tak mau, karena aku tahu, ketika ku banyak tahu sesuatu apapun itu, maka akan banyak kesempatan terbuka untukku. Termasuk merasakanmu, merasakan masa lalu dari sudut pandang yang berbeda dari masa lalu.

            Liburan kali ini ku banyak merasakan momen masa lalu. Liburan yang sebenarnya tak layak disebut liburan. Mengapa? Karena ku tak lagi menyandang status mahasiswa. Aku sudah selesai dengan predikat itu. Lantas sekarang sedang menyandang predikat ‘tanpa status’ untuk selanjutnya mempersiapkan diri untuk kembali bersama status itu. Apa iya seorang yang sedang dalam status ‘tanpa status’ menganggap masa vacuum of power nya sebagai liburan? Pantas sih. Ya sudah, lupakan sejenak masalah status, karena ku sedang tak berminat membicarakannya. Aku hanya ingin sejenak bercengkerama dengan masa lalu.

            Ibuku lah yang banyak berperan mengantarkanku merasakan masa lalu. Dulu itu, merupakan sebuah agenda tahunan untuk mengunjungi pasar malam ketika musim tembakau datang, musim dimana uang terasa lebih gampang didapatkan. Di daerahku hanya ada dua musim, musim hujan untuk menanam padi dan musim kemarau untuk menanam tembakau. Musim padi yang artinya beras mudah didapatkan dan musim tembakau ketika uang mudah sekali dilipatgandakan. Tapi itu dulu, sekarang tembakau sudah tak semenjanjikan itu. Banyak orang-orang desaku yang menanggung banyak kerugian karena daun tembakau yang dulu disebut daun uang ini dan harus merantau untuk mengganti kerugian-kerugian itu. Banyak kisah sedih tercipta karena daun tembakau ini, tapi ku sedang tak berminat membicarakannya, biarlah ku ceritakan cerita bahagianya saja.

            Suasana suka cita begitu terasa ketika musim tembakau tiba baik di desa apalagi di kota. Di desa banyak petani berlomba-lomba merawat daun tembakaunya, berharap hasil maksimal akan didapatkannya. Di kota, pasar malam digelar untuk menarik para petani dan pedagang tembakau agar membeli dagangan mereka. Aku suka sekali ke pasar malam. Sudah menjadi keharusan mengunjunginya, setidaknya sekali saja agar bisa ikut bercerita ketika bermain bersama teman sepermainan. Untuk menuju pasar malam aku dan tetangga-tetanggaku beramai-ramai menaiki sebuah mobil ‘pick up’, merasakan kencangnya angin ketika mobil itu dijalankan kencang, dan tertawa terbahak-bahak ketika ada yang terjungkal ke depan ketika mobil tiba-tiba di rem. Menyenangkan sekali. Mungkin bagi orang kota kita terlihat kampungan, tapi siapa peduli, yang penting kita happy. Tapi, seiring beranjaknya usia, ku mulai peduli. Ku mulai merasakan apa itu rasa malu. Sedikit demi sedikit ku tinggalkan kebiasaan itu. Ku merasa enggan untuk menaiki mobil ‘pick up’ menuju pasar malam di kota. Ku lebih memilih naik motor yang sudah bisa ku kendarai sendiri. Tapi, mengunjungi pasar malam menjadi semakin hambar dan tak semenarik dulu lagi hingga ku putuskan tak mau lagi mengunjunginya. Kalau ku ingat-ingat, sepertinya sejak SMA ku tak lagi mengunjunginya. Ku dengar juga katanya sekarang pasar malam itu tak lagi ada, karena prospek tembakau yang tak semenjanjikan dulu. Baiklah, sudah sejak lama ternyata ku tak merasakan momen bahagia itu, momen menyenangkan ketika menaiki mobil ‘pick up’ bersama teman-teman sepermainanku dan jujur aku rindu.

            Tapi, kemarin ku merasa kembali ke masa itu, merasakan masa lalu. Ceritanya, ibuku sedang keranjingan ikutan pengajian, pengajian yang menurutku subhanallah sekali. Ibuku mengajakku untuk ikut bersamanya dan langsung aku iyakan, untuk kebaikan kan. Pengajian ini selalu rutin dilaksanakan setiap malam minggu. Lumayan kan, jadi ada kegiatan tiap malam minggu, jadi ga terlalu keliatan jomblonya hahaha. Lokasi pengajiannya tidak menetap, berpindah-pindah tiap malam minggu. Kebetulan malam itu lokasinya agak jauh dari desaku jadi kita –aku dan para ibu-ibu pengajian- harus menaiki alat transportasi menuju TKP. Awalnya aku dan ibuku berniat bawa motor tapi karena alasan keselamatan, kita putuskan untuk bersama rombongan saja. Dan tahukah kau? Ternyata mobil yang digunakan adalah mobil ‘pick up’. Oh… senangnya bukan main, aku langsung menuju bak belakang ‘pick up’ itu. Mobil pun melaju dengan kencang. Ku cengeram besi pembatas pick up, angin menerpa wajah disertai gerimis, masa lalu itu kembali terlintas, walaupun semuanya telah banyak berubah. Dulu, tinggi badanku tak dapat mencapai tinggi mobil ‘pick up’ tapi sekarang sudah melebihi. Dulu, aku adalah kelompok anak-anak tapi sekarang akulah yang mengayomi anak-anak di mobil ‘pick up’ malam itu. Terimakasih atas kesempatan langka ini ya Allah, kesempatan yang tak tahu kapan lagi bisa ku rasakan. Kesempatan untuk merasakan masa lalu yang telah lama kurindu.

Advertisements

One thought on “Merasakan Masa Lalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s