Untuk yang Diam-diam Memendam Perasaan

Kasur Empuk

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak tulisan yang diam-diam kau tuliskan untuknya? Tulisan-tulisan yang bahkan dia tidak tahu bahwa dia adalah pelaku utama. Tulisan-tulisan yang tumbuh dari renungan panjang, tapi tak pernah ditunjukkan. Tulisan-tulisan yang hanya dipendam, seperti perasaanmu yang juga terpendam sejak lama. Tulisan-tulisan yang berisi harapan agar keberanian segera mengajakmu untuk menyatakan, tentu dalam ikatan yang direstui Negara dan Agama. Tulisan-tulisan yang berisi impian dimana ‘kamu dan dia’ bersatu menjadi ‘kita’.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak kau sebut dia dalam doa-doamu? Doa-doa yang kau jadikan sebagai penggenggam rasa, juga sebagai pengantar rindu. Doa-doa yang tulus kau ucapkan, agar dia memperoleh hidup yang bahagia, juga berharap jika kamulah yang membahagiannya. Doa-doa yang entah kenapa terasa indah, bahkan sebelum kau mampu menenangkan hati yang gundah.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak letupan-letupan rasa yang muncul setiap kali kau berpapasan tak sengaja dengan dia? Setiap letupan itu…

View original post 88 more words

Advertisements

Pilih Rel yang Mana?

relTak henti-hentinya ku berdecak kagum tiap kali menggunakan alat transportasi massal yang satu ini, kereta, baik itu yang api maupun commuter line. Perubahannya luar biasa dahsyat. Hampir semua komponen yang ada di sarana transportasi ini mengalami perubahan, perombakan besar-besaran, yang pastinya lebih menguntungkan masyarakat. Perubahan itu bisa kita lihat mulai dari keretanya sendiri, para petugasnya, stasiunnya, kamar madinya, kebersihannya, ketertibannya, hingga rel keretanya. Ngomong-ngomong masalah rel kereta, aku punya bahasan tersendiri untuk yang stau ini. Tapi, tunggu dulu biarkan diri ini sejenak memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seorang pucuk pimpinan yang telah melakukan revolusi besar-besaran terhadap kemajuan perkeretaan di Indonesia, Bapak Ignasius Jonan. Mengapa aku begitu lancangnya mengatakan revolusi? Karena aku adalah konsumen setia kereta yang telah menggunakan jasa transportasi ini sejak masih bobrok dulu hingga berkelas seperti sekarang. Maafkan juga karena saya juga telah begitu lancangnya mengangkat bapak –Ignasius Jonan- sebagai idola baru saya. Bapak keren sih, hehe. Itulah kenapa saya tak begitu kecewa dengan susunan kementrian yang sekarang, karena bapak berada di antara jajaran para menteri itu yang pastinya banyak harapan saya, perubahan elegan yang bapak lakukan tak hanya terjadi di PT. KAI saja tetapi juga semua jasa perhubungan di Indonesia, baik darat, laut, dan udara. Saya sudahi saja pembahasan tentang apresiasi ini karena tak akan ada habisnya jika terus dilanjutkan dan hal ini akan berakibat semakin bertambahnya rasa kagum saya pada bapak. Kan bisa berbahaya karena saya sedang menerapkan konsep ‘kagumilah/sukailah seseorang biasa-biasa saja’ karena ketika telah terlalu dalam kagum/suka pada seseorang maka akan sedalam itu pulalah rasa sakit yang akan kita rasakan ketika seseorang yang kita kagumi/sukai tak sesuai dengan apa yang kita harapkan (hahaha, curhat).

Continue reading

Mencari Tahu

repost sajak yang saya juga tidak tahu persis siapa pengarangnya, suka sekali dengan sajak ini, happy listening

“Ajari aku menggunakan pena, Akan ku tulis gemercik air, udara dingin, kabut senja, sampai daun gugur”

Mencari Tahu

Tahukah kita, seandainya setiap orang paham

Bahwa mencintai bukan hanya soal waktu, soal keberanian atau soal kesempatan

Namun, soal keimanan dan ketaqwaan

Bila setiap orang sadar bahwa tidak semua perasaan itu harus dituruti, tidak harus dikatakan, tidak harus ditindaklanjuti,

Kan sudah ku bilang, urusan ini bukan sekedar urusan waktu dan keberanian

Tapi urusan keimanan dan ketaqwaan

Continue reading

Menatap Punggung Bapak

aku-sayang-ayahKemarin Bapak datang, datang ke acara yang mungkin telah lama iya nanti-nantikan. Dinanti? Mungkin, walaupun toh tak pernah beliau berucap demikian. Baliau hadir di acara wisuda dua anak kembarnya yang sekarang sudah berhasil beliau tuntaskan dalam hal pendidikan. Sampai pada tahap dimana anak-anak saudaranya yang lain belum sampai setuntas beliau. Bangga? Mungkin, walaupun toh aku merasa tak ada yang pantas beliau banggakan dari kami berdua atau lebih tepatnya aku. Saudaraku masih bisa dibanggakan dengan predikat lulusan terbaik dari departemennya, sedangkan aku hanya cukup berpuas diri berdiri di belakang lulusan terbaik departemenku. Tapi tanpa embel-embel lulusan terbaik pun, aku percaya beliau sudah bangga dengan apa yang beliau lihat hari itu, anak kembarnya telah diwisuda. Walaupun sekali lagi, beliau tak pernah mengucapkan kebanggaannya pada kami.

Continue reading