Menatap Punggung Bapak

aku-sayang-ayahKemarin Bapak datang, datang ke acara yang mungkin telah lama iya nanti-nantikan. Dinanti? Mungkin, walaupun toh tak pernah beliau berucap demikian. Baliau hadir di acara wisuda dua anak kembarnya yang sekarang sudah berhasil beliau tuntaskan dalam hal pendidikan. Sampai pada tahap dimana anak-anak saudaranya yang lain belum sampai setuntas beliau. Bangga? Mungkin, walaupun toh aku merasa tak ada yang pantas beliau banggakan dari kami berdua atau lebih tepatnya aku. Saudaraku masih bisa dibanggakan dengan predikat lulusan terbaik dari departemennya, sedangkan aku hanya cukup berpuas diri berdiri di belakang lulusan terbaik departemenku. Tapi tanpa embel-embel lulusan terbaik pun, aku percaya beliau sudah bangga dengan apa yang beliau lihat hari itu, anak kembarnya telah diwisuda. Walaupun sekali lagi, beliau tak pernah mengucapkan kebanggaannya pada kami.

            Kalau boleh jujur aku tak begitu dekat dengan beliau, apalagi jika parameter kedekatakan itu dibandingkan dengan kedekatanku dengan ibu, perbedaannya akan sangat jauh sekali. Aku bisa menceritakan apa saja pada ibuku, bercerita panjang lebar hingga lupa diri, tapi pada bapak, akan sangat apa adanya, lima menit telponan rasanya bisa jadi rekor nelpon terlama. Ya, separah itu. Dari cerita yang ku tahu, Bapakku sangat menginginkan anak laki-laki, tapi nyatanya kami ber-empat semuanya perempuan. Tapi, tak seperti di drama-drama ataupun di sinetron-sinetron itu ya, yang lantas si bapak menyiksa anak perempuannya. Tidak, tidak sama sekali. Beliau tetap menyayangi kami dengan cara beliau. Bapakku jarang sekali marah, amat sangat jarang sekali. Tapi jangan ditanya, sekalinya marah bisa membuat kadar kemarahan ibuku yang diakumulasikan menjadi tak ada apa-apanya. Bila ku ingat-ingat, sepertinya hanya sekali beliau marah padaku, itu pun hanya masalah kecil, hanya gara-gara aku yang meninggalkan teman lamaku karena punya teman baru (hahaha, sungguh kekanak-kanakan). Lantas kalau ada yang bertanya, banggakah diriku pada baliau? Ku jawab, tentu saja. Hal apakah yang membuat diriku bangga? Ku katakan, ketika menatap punggung Bapak, seketika rasa bangga itu muncul. Beliau memang tak berpangkat jenderal, tak berpenghasilan super, tak berpendidikan tinggi, tapi sekali menatap punggung beliau, rasa bangga itu kembali ada.

            Di dekat rumahku ada sebuah masjid yang biasa digunakan oleh masyarakat di kampungku untuk melaksanakan sholat berjamaah, maulid nabi, sholat taraweh, dan perayaan hari-hari besar islam lainnya. Aku dan keluargaku cukup intens datang ke masjid itu tatkala bulan ramadhan untuk melaksanakan sholat taraweh. Shaff laki-laki di depan sedangkan perempuan di belakang, dipisahkan oleh sebuah tembok berkaca. Sehingga para jamaah perempuan masih bisa melihat para jamaah laki-laki. Ketika sholat akan dimulai, orang-orang pun mulai merapatkan shaff. Di saat itulah aku pun mengambil posisi dimana aku bisa melihat bapakku, melihat punggung beliau. Seketika muncul rasa bangga tatkala melihat beliau berdiri di antara para jamaah yang lain. Beliau selalu terlihat paling bersinar –di mataku- karena pakaian beliau yang tampak rapi dan bersih. Sederhana bukan, sesederhana itu rasa banggaku pada bapakku. Oleh karena itu, jikalau nantinya aku dipertemukan denganmu –imamku- ku ingin kau juga seperti bapakku. Menyiapkan dan memakai baju terbaikmu tatkala akan sholat di masjid. Sehingga rasa banggaku pada bapakku tak padam karena digantikan olehmu, oleh punggungmu. Bukan berarti kau harus seperti bapak, tidak sama sekali. Jadilah dirimu apa adanya. Aku hanya ingin menatapmu dengan rasa bangga, seperti rasa banggaku tatkala menatap punggung bapak.

Advertisements

5 thoughts on “Menatap Punggung Bapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s