Untuk yang Diam-diam Memendam Perasaan

Kasur Empuk

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak tulisan yang diam-diam kau tuliskan untuknya? Tulisan-tulisan yang bahkan dia tidak tahu bahwa dia adalah pelaku utama. Tulisan-tulisan yang tumbuh dari renungan panjang, tapi tak pernah ditunjukkan. Tulisan-tulisan yang hanya dipendam, seperti perasaanmu yang juga terpendam sejak lama. Tulisan-tulisan yang berisi harapan agar keberanian segera mengajakmu untuk menyatakan, tentu dalam ikatan yang direstui Negara dan Agama. Tulisan-tulisan yang berisi impian dimana ‘kamu dan dia’ bersatu menjadi ‘kita’.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak kau sebut dia dalam doa-doamu? Doa-doa yang kau jadikan sebagai penggenggam rasa, juga sebagai pengantar rindu. Doa-doa yang tulus kau ucapkan, agar dia memperoleh hidup yang bahagia, juga berharap jika kamulah yang membahagiannya. Doa-doa yang entah kenapa terasa indah, bahkan sebelum kau mampu menenangkan hati yang gundah.

Untuk yang diam-diam memendam perasaan.

Sudah berapa banyak letupan-letupan rasa yang muncul setiap kali kau berpapasan tak sengaja dengan dia? Setiap letupan itu…

View original post 88 more words

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s