Aku yang Menyebalkan

  Bete          Pernah nggak ngerasain ini, jatuh cinta? Hahaha… nggak nggak bukan masalah cinta, kali ini masalah perasaan. Lah… apa bedanya? Hehe. Pernah nggak sih ngerasa gelisah? Akhir-akhir ini aku gelisah gegara pengen nulis tapi nggak dapet ide buat nulis apaan. Sebenernya ada sih ide, tapi lagi-lagi sepertinya terlalu frontal kalau harus di posting di blog karena aku tahu lambat laun kau juga akan tau. Apaan sih nggak jelas. Intinya gini, aku punya sesuatu yang pengen aku tulis, tapi aku belum siap buat nulis itu karena isinya terlalu… hm… menjurus ke susuatu. Akhirnya setelah perenungan singkat, ku temukan sesuatu yang ingin ku tulis dan yang pasti ‘aman’ untuk aku posting dimana pun. Aku lagi pengen nostalgia, kembali ke masa pake seragam dulu dan ku daratkan ingatanku pada masa SMP dulu.

            Seperti apakah aku kala itu? satu hal yang ku ingat ketika kembali mengingat-ingat. Aku dulu adalah aku yang menyebalkan. Beneran, sungguh. Mungkin banyak yang nggak terima dengan kenyataan ini (yaelah… GR nya :D). Tapi sekali lagi ku iya kan, aku dulu adalah aku yang menyebalkan.

            Sekolah SMP ku ini sungguh istimewa. Baru dibangun dan baru mempunyai alumni yang jumlahnya puluhan. Aku tak tahu pasti aku angkatan berapa, yang pasti masih di bawah angka sepuluh. Keuntungan bersekolah di sekolah yang baru dibangun adalah semua fasilitasnya serba baru dan kekurangannya adalah semua fasilitas yang ada serba kurang. Sekolahku berdiri megah dan mewah (mepet sawah). Sebenarnya aku berniat mondok kala itu, tapi atas beberapa pertimbangan, keinginan mondok itu tak kesampaian. Jadilah aku murid baru di sebuah SMP yang juga baru.

            Masih tersimpannya semangat seorang juara kelas dan ketua kelas tiga tahun berturut-turut tatkala SD, membuatku sedikit agak kelebihan kepercayaan diri. Sekolahku ini tak begitu jauh dari rumahku sehingga sangatlah mudah bagiku untuk beradaptasi ditambah lagi teman-teman SMP ku sebagian besar adalah teman-teman SD ku dulu. Sungguh medan yang sangat mudah bukan? Aku sangat senang pergi sekolah kala itu. Banyak faktornya, guru-gurunya yang baik, teman-teman yang baik, dan pelajaran-pelajaran baru yang aku suka. Saking senengnya sekolah, aku sampe sedih lo kalo hari sabtu, karena hari minggu artinya sekolah akan libur. Sampe segitunya lo kecanduan sekolah. Hahaha.

            Aku mengenal dan dikenal baik oleh orang-orang seantero sekolah. Gimana nggak kenal? Orang dari kelas satu sampe kelas tiga, jumlah kelasnya cuma 6. Jadi tiap kelas cuma ada dua kelas, kelas A dan B. Iyalah dikenal, orang aku anak kembar, sangat gampang untuk menjadi terkenal di sekolah dengan kekembaran kita hehehe. Pun waktu nulis tulisan ini ya, rasa seneng pas sekolah SMP dulu masih kerasa, wkwkwk. Implikasi dari rasa suka sekolah juga berakibat pada prestasi belajar yang aku dapatkan. Aku tak pernah absen jadi juara kelas dan seperti para juara kelas lainnya, aku menyebalkan. Mungkin ada yang nggak kali ya. Ini cuma pernyataan tak berdasarku saja. Belajar menjadi hal yang tak berat bagiku kala itu. pulang sekolah langsung aku buka lagi buku pelajaran, bukan karena apa-apa, tapi karena aku senang. Sembari berkhayal, seandainya rasa senang belajar kala itu bisa aku transfer ke masa sekarang ya.

            Banyak hal menyebalkan yang aku lakukan ketika SMP dulu. Aku adalah anak yang mengharamkan contek menyontek. Tidak hanya haram bagiku tapi juga haram bagi teman-temanku. Sampe PR pun aku nggak rela kalo ada temenku yang nyontek PR yang pasti udah aku kerjakan. Pelit banget kan. Pasti temen-temenku gondok banget ke aku ya. Aku aja ngebayangin gondok banget. Ada beberapa kejadian tentang contek menyontek yang membuatku senyum senyum sendiri kalau inget.

            Suatu hari, guru matematika yang gayanya nyentrik di SMP ku ngasih PR yang kala itu tergolong susah. Aku seperti biasa, sudah pasti sudah selesai mengerjakannya pas masuk sekolah keesokan harinya. Aku pun tak heran melihat teman-temanku yang berkerumun minta contekan. Tapi seperti biasa pula, tak akan pernah aku berikan. Pelajaran matematika akan dilaksanakan setelah jam istirahat. Aku yang notabene udah ngerjain tuh PR dengan senang hati pergi ke kantin tanpa memperhatikan muka melas teman-temanku yang pengen minta contekan. Aku membeli snack dan sebungkus es teh yang dibungkus plastik. Setelah puas jajan, ku putuskan kembali ke kelas dan betapa kagetnya ketika di kelas ternyata banyak anak-anak di kelasku yang sedang berkerumun di mejaku. Ditambah lagi di atas meja itu ada buku PR matematikaku yang ternayata sedang mereka contek. Aku kesal bukan kepalang. Aku langsung berteriak meneriaki nama mereka satu per satu, tapi tak ada respon, mereka tetap saja dengan buru-buru menyalin jawabanku ke buku mereka. Lantas aku memanggil nama bak Dila (saudara kembarku) yang kelasnya bersebelahan denganku, tapi juga tak memberi efek karena bak Dila sepertinya tak di kelasnya. Aku benar-benar tak terima dan jalan keluar yang aku lakukan adalah sangat tidak manusiawi.

            Ku berlari kea rah mereka dan ku lemparkan es teh yang aku pegang ke kerumunan mereka. Jadilah mereka lari tunggang langgang dengan seragam dan buku mereka yang basah kuyup. Aku tak mengucapkan sepatah kata maaf pun, malah tanpa rasa bersalah berlari ke mejaku untuk mengecek apakah bukuku basah atau nggak. Jahat banget kan? Sungguh itu kejadian paling ‘nggak’ banget. Kalau inget kejadian itu, ingin rasanya minta maaf satu per satu ke teman-teman yang dulu sering aku dzolimi karena keangkuhanku.

            Keangkuhanku tak berhenti di situ, setiap kali ujian aku selalu menjadi tangan kanan guruku untuk mengawasi teman-temanku yang ingin nyontek. Tiap kali ujian, biasanya aku akan selesai duluan dan punya banyak waktu untuk mengerjakan yang lain. Logikanya ya, kalau udah selesai ngerjain, ya udah kumpulin aja. Tapi aku nggak, aku bakalan berubah profesi jadi pengawas, membantu memberi tahu guruku siapa-siapa saja yang nyontek yang lewat dari pengawasan guruku. Aku akan bilang “itu bu yang nyontek, si itu bu nyontek, yang itu pak nyontek, si ini pak tadi nyontek punya si ini”. Begitulah kelakuanku, kelakuan si aku yang menyebalkan.

Menjadi anak kesayangan guru menjadi hal yang mudah bagiku kala itu, tapi mungkin tidak di antara teman-temanku, pikirmu. Tapi anehnya, teman-temanku tak memusuhiku, tak menaruh rasa kesal padaku, setidaknya itu yang aku rasakan selama tiga tahun sekolah di sana. Padahal ya, kalo misalnya nih aku punya temen yang kelakuannya kayak aku yang dulu, aku bakalan ga mau tuh temenan sama orang itu. Tapi teman-teman SMP sungguh lapang dada, bisa menerima seorang aku dengan banyaknya kekurangan yang ku miliki. Mereka tetap mengajakku main bersama, tetap menganggap aku teman mereka, tetap menerimaku ketika ku bermain ke rumah mereka. Oh… teman-teman SMP ku yang budiman, maafkan temanmu yang dulu, temanmu yang hanya seorang aku, seorang aku yang sungguh-sungguh menyebalkan.

Advertisements

17 thoughts on “Aku yang Menyebalkan

    • hahaha… iya sadis banget ya kau. padahal klo ngeliat sekarang nggak ketara banget klo zaman SMP nya se sangar itu. sekarang mah udah jadi gadis lugu dan pendiem, mungkin bisa ditambah anggun juga kali ya hahaha 😀

  1. Wuiih parah bener ya, ini mah kalau dikelasku dulu pasti tiap hari digarapin sama anak2. Mulai dari tasnya diumpetin sampai kursi jebakan batmen. Tapiii sebenarnya bagus juga kalo dipikir2… cuma dulu waktu SMP ngga sampai mikir sebegininya, sampai jadi pengawas. hehe

  2. Pingback: Bukan Segalanya Kok | Pradita Maulia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s