Bertahan

2013-09-29_221430Aku akan agak berpanjang lebar di sini, di cerita ini, cerita tentang masa SMA ku yang empat tahun lalu ku alami. Masih segar dalam ingatan kenangan-kenangan di dalamnya, walaupun hanya secara general saja, karena memoriku tak sanggup untuk menampung hal-hal kecil yang mungkin telah ku hapus dalam ingatan. Hal-hal kecil yang mungkin dengan sedikit stimulus bisa kembali ku ingat, tapi buat apa. Cukuplah materi kuliahku yang terlalu detail itu, tak usahlah memori masa lalu juga ikut-ikutan detail. Mengingat kembali masa-masa SMA ini seperti mngurai kembali bagaimana kemampuan bertahanku benar-benar diasah di sini. Bertahan? Dalam hal? Banyak hal.

            Aku dan bak Dila (my twin sista) memutuskan untuk berpisah sekolah tatkala SMA, keputusan yang sulit memang. Ini adalah keputusan penting kedua yang kami ambil sebagai anak kembar, dimana keputuan penting pertama adalah keputusan untuk tak lagi memakai baju yang sama sejak kelas 2 SMP. Keputusan telah diambil maka konsekuensi yang mengikuti keputusan tersebut harus sama-sama kita tanggung, dan kali ini harus kita hadapi sendiri-sendiri karena kita tak lagi bersama. Inilah saat dimana akan ku tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa berdiri di kaki kita masing-masing dan tak tergantung satu sama lain. Masa-masa SMA pun dimulai. Perlu diketahui, aku adalah alumni pertama SMP ku yang berhasil masuk SMA ini, agak bangga sih apalagi kalau pas main ke SMP. Tapi bakalan malu banget kalau guru-guru pada tahu reputasiku di SMA yang sering banget semedi di BP pas perlajaran pertama gara-gara sering telat. Sering banget malah, sampe-sampe nih ya temen-temen pada heran kalo aku ga telat.

            Seperti rutinitas mainstream sekolah lainnya, sekolahku juga mengadakan yang namanya ospek. Aku nggak suka rutinitas mainstream ini, tapi siapa aku. Aku hanyalah anak desa biasa yang mencoba peruntungan sekolah di kota. Tapi ada hikmahnya juga sih, aku jadi bisa ketemu sama dia. Dia yang berhasil bersarang di otakku selama 3 tahun full ditambah 2 tahun masa kuliah. Ini kemampuan bertahan pertama yang berhasil ku dapatkan selama di SMA dan bisa dibilang ku berhasil. Bertahan untuk menyukainya secara diam-diam tanpa pernah ku ungkapkan bahkan hingga perasaan itu menguap entah kemana. Hebat kan? Sudah-sudah tidak perlu diperpanjang.

            Aku sekelas dengan anak-anak angkuh karena aku juga dulunya anak yang angkuh. Angkuhnya anak desa sepertiku tak akan ada apa-apanya dengan anak angkuh di kota. Hal itulah yang membuatku benar-benar tersiksa tatkala berada di kelas satu SMA. Entah kenapa mereka terlihat begitu angkuh di mataku. Mungkin karena mereka dulunya yang terbaik di sekolahnya sehingga keinginan untuk menjadi yang terbaik kembali adalah sebuah keharusan. Persaingan terasa sengit bagiku. Kita di kelas memang terlihat adem ayem, tapi nyatanya terjadi perang dingin yang hanya diketahui kita yang ada di dalam kelas. Aku benar-benar tak tahan dengan suasana kelasku, teman-temanku terlalu egois dan tak bersahabat. Sangat jauh dengan apa yang sering aku lihat di sinetron-sinetron atau FTV yang sering aku tonton. Kenyataan ini sedikit membuatku tertekan. Datang ke SMA menjadi sebuah rutinitas memuakkan yang harus aku lakukan setiap harinya, sangat berbeda dengan masa-masa SMP ku dulu. Hari sabtu tak lagi menjadi hari yang menyedihkan bagiku, malah sebaliknya, ingin menyegerakan hari sabtu, dan ingin memerahkan semua kalender.

            Berbeda dengan bak Dila. Dia selalu menceritakan temannya yang sungguh ramah tamah, baik, dan dia selalu cerah ceria jika sedang bercerita tentang kelasnya. Aku, hanya bercerita seperlunya saja dan memang tak banyak yang bisa aku ceritakan. Keramahan teman-teman bak Dila juga ku rasakan tatkala ku sempatkan diri untuk sejenak singgah ke sekolahnya. Sungguh ketika kelas satu keinginan untuk pindah sekolah benar-benar ingin ku lakukan, aku tak tahan dengan tekanan yang ku alami. Bak dila tak pernah berkunjung ke sekolahku karena memang ku tak ingin dia tahu bagaimana tak enaknya suasana kelasku, cukup aku saja yang tahu, orang lain tak perlu tahu.

            Aku juga tak tahu, apa sebenarnya yang membuat aku benar-benar tak menyukai kelasku. Intinya aku nggak suka. Hal ini mau tidak mau mempengaruhi prestasi belajarku, sifat, dan tingkah lakuku. Hampir semua nilai mata pelajaranku bertahan di taraf apa adanya, sifatku menjadi pendiam, males ngomong, introvert nggak ketulungan, tingkah lakuku menjadi benar-benar penakut, sangat tak bisa untuk tampil di depan umum. Aku akan sangat malas, takut, deg degan ga kontrol jika harus berbicara di depan kelas, apalagi membaca puisi di depan kelas, aku benar-benar nggak suka. Sebegitu parahnya aku kala itu dan aku tahu, tak hanya aku saja yang merasakan tekanan ini, banyak anak-anak lain yang ternyata juga merasakan hal yang sama. Tapi, aku pastikan aku akan tetap bertahan karena katanya di kelas dua nanti akan dilakukan perombakan layaknya sekolah-sekolah pada umumnya sehingga aku tak kan lagi sekelas dengan teman-temanku di kelas satu.

            Setelah menunggu satu tahun akhirnya masa itu pun tiba, perombakan kelas. Kita satu angkatan dikumpulkan di depan sekolah. Banyak yang tak rela dipisah tapi banyak pula yang sangat berharap agar dipisah dari kelas sebelumnya, aku termasuk yang ini. Tapi ternyata sekolah mengeluarkan peraturan baru, semua kelas akan dirombak kecuali kelasku. Yaelah… padahal ngarep banget pengen dipisah, tapi kenyataannya. Ya sudahlah, mungkin Allah punya skenario yang lebih baik.

            Di kelas dua aku mulai sedikit bangkit dari keterpurukanku, mulai sedikit terbuka pada teman-temanku, mulai sedikit menerima kelebihan dan kekurangan mereka. Aku mulai agak terbiasa dengan sifat egois dan tak pedulinya mereka yang ternyata sedikit demi sedikit mempengaruhiku untuk juga tak terlalu peduli pada sekitar. Pergaulanku hanya sebatas kelas tanpa ikut organisasi intra sekolah karena menurutku itu hanya membuang waktu dan tak penting. Sifat apatis dan egois mulai ku miliki. Aku mulai ikut beberapa lomba dan dari sanalah mereka mulai menganggap keberadaanku, ini ku rasakan kala itu. Persaingan di kelas dua sudah tak seketat kelas satu dulu, mulai merenggang, karena kita semua sudah tau siapa yang unggul dan siapa yang biasa. Aku sudah sejak kelas satu menyerah, menyerah untuk menjadi unggul dan sukarela menjadi yang biasa. Suasana kelas mulai enak dan menyenangkan. Kita mulai sering main bersama, saling kunjung mengunjungi rumah, nonton bersama, dan pastinya ikutan lomba bersama. Tali persahabatan mulai terbentuk di sini dan mungkin tali asmara juga mulai terjalin. Aku tahu beberapa orang yang terlibat dalam urusan hati ini karena memang perhatianku hanya terbatas pada teman-teman sekelasku dan urusan apalagi yang paling menarik kalau bukan urusan hati. Aku tahu siapa yang suka sama siapa, siapa yang terang-terang menunjukkannya hingga yang diam-diam memendamnya.

            Di kelas tiga kami kembali tak dipisah. Ada rasa syukur terucap di sana karena aku sudah mulai sangat nyaman dengan kelasku. Kita mulai sering bergi bersama-sama, besok makan di rumah siapa, besoknya di rumah siapa. Rindu masa kumpul-kumpul bareng dulu. Bersama mereka serasa menemukan diriku dan mengingatkanku bahwa sesungguhnya di atas langit masih ada langit, jadi tak usahlah ada rasa angkuh. Kelas tiga SMA benar-benar membentuk dan menguatkan persahabatan kita. Bersama-sama berjuang untuk masuk di univeritas dan jurusan yang kita inginkan, yah… walaupun aku salah satu yang perjuangannya biasa-biasa aja. Berada dan menjadi bagian di antara mereka membuaku mempunyai banyak impian besar yang nantinya bisa aku wujudkan. Mereka berhasil mempengaruhiku bahwa impian besar akan membuat kita menjadi besar.

            Kini kita memang telah tak bersama, tapi tiap kali liburan, kumpul bareng-bareng kalian lah yang aku tunggu-tunggu. Yah… walaupun tak selalu bisa karena kalian telah sibuk dengan kegiatan kalian, dengan kampus kalian, dengan teman baru kalian, dan dengan pasangan kalian (ada tiga orang yang udah nikah dan tiga-tiganya sedang hamil hehehe). Entah kenapa, kenangan SMA yang dulunya tak mengenakkan itu akan sangat menyenangkan jika diceritakan kembali ketika beberapa di antara kita dipertemukan. Ah… kalian. Si bocil (temanku) telah cukup baik mendeskripsikan masing-masing dari kalian di sini. Dari kalian aku banyak belajar apa arti dari sebuah kata bertahan. Bertahan adalah tatkala kita bersabar dalam memaknai sebuah perjalanan. Tak enak di awal bukan berarti harus segera ku tinggalkan karena pastinya akan banyak hikmah terpendam dan pelajaran yang bisa aku dapatkan.

Advertisements

18 thoughts on “Bertahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s