Sekarang Aku Suka

380508_10150478978223600_81428978599_8926950_1289811075_nKatanya sih, jangan ‘terlalu’ kalau suka atau nggak suka sama sesuatu. Soalnya bisa jadi akan terjadi kebalikannya di kemudian hari. Terlalu suka akan jadi nggak suka dan terlalu nggak suka akan jadi suka. Makanya dari itu, aku selalu menjaga agar diri ini hanya terbatas pada kata biasa-biasa saja. Suka ya sukanya biasa aja, nggak suka ya nggak sukanya juga biasa-biasa bae. Tapi yah, yang namanya perasaan, mana bisa diatur. Misalkan bisa diatur nih ya, nggak bakalan tuh temenku suka sama orang yang dulu bikin dia jengkel setengah mati, nggak bakalan juga sepupuku bakalan suka sama temennya yang sukanya manfaatin dia, nggak bakalan juga tuh temenku suka sama mantannya yang playboy-nya nauudzubillah, dan nggak bakalan juga aku suka sama kamu yang rasa-rasanya ‘mungkin nggak ya suka juga sama aku?’ #eaaa. Kalau bisa diatur mah nggak bakalan ada tuh ceritanya drama-drama yang kisah cintanya bakalan njilimet kayak gitu dan nggak bakalan ada pula tontonan favorit akuh, drama atau movie romance yang kisah cintanya tragis. Ok, udah kita sepakati dan ketahui bersama ya bahwa yang namanya perasaan tak bisa kita atur sesuka hati kita. Tiba-tiba aja suka sama sesuatu dan tanpa disadari ternyata rasa suka itu udah dalem dan udah telat banget buat ngedangkalinnya. Jalan keluarnya? Biarkan saja, karena hati akan punya caranya sendiri untuk mengatasinya. Ini bisa disebut jalan keluar nggak sih? Nggak juga sih, tapi ya mau gimana lagi, aku juga nggak punya saran yang lebih baik dari ini.

Pengantar tulisannya gitu banget ya, bawa-bawa perasaan. Padahal aku di sini mau cerita pengalaman pribadi perihal ‘terlalu’ yang nggak ada sangkut pautnya sedikit pun sama yang namanya perasaan. Kaitannya lebih pada raga bukan jiwa. Aku dulu nggak ‘terlalu’ suka yang namanya olahraga, nggak suka banget malah. Tapi, entah kenapa tiap ada teman dari luar IPB yang sedang berkunjung ke kampusku, pasti bakalan ku ajakin lari pagi keliling kampus. Lah… katanya nggak suka olahraga, bukannya lari pagi juga olahraga? Iya sih olahraga tapi ajakan lari pagi itu cuma judulnya doang, isinya mah jalan kaki ajah. Beneran aku nggak suka olahraga, makanya tiap ada pelajaran olahraga pas SMP atau SMA aku milih buat duduk-duduk nganggur di pinggir lapangan. Aku pernah mengalami pengalaman agak merusak image pas SMA terkait olahraga.

Pertama, olahraga basket. Pada suatu ketika, ada pertandingan basket antar kelas di sekolahku. Berhubung sudah nggak ada lagi tuh yang bisa dijadiin delegasi dari kelasku, jadilah diriku yang dipilih karena aku cukup tinggi di antara teman-teman yang lain. Aku agak seneng sih ditunjuk dan dikasih kepercayaan sama teman-teman sekelasku. Aku pun berjanji pada diri sendiri untuk melakukan yang terbaik yang aku bisa, demi nama baik kelasku. Nyampe lapangan, aku cukup percaya diri karena lawan dari kelas lain tinggi badannya lebih pendek dariku. Kan tinggi badan berbanding lurus sama kemenangan kalau di basket, pikirku kala itu. Tapi, ternyata oh ternyata, teoriku benar-benar terpatahkan hari itu juga. Anak kelas lain yang ku pandang sebelah mata karena postur badannya yang kecil malah dengan lincahnya ke sana kemari bawa bola basket lantas dengan mudahnya dimasukin ke ring basket. Sedangkan aku, hanya menganga ke sana kemari, mengejar bola basket yang tak sekalipun bisa ku pegang. Perlu digaris bawahi ya di sini, aku nggak bisa masukin tuh bola basket ke ring basket. Ya iyalah, gimana mau masukin ke ring basket, nyentuh aja lo… nyentuh bolanya satu kali aja aku nggak bisa. Sumpah malu banget, jadi orang oon di tengah lapangan. Ini mau nggak mau ngebuat aku trauma sama olahraga, terutama basket.

Yang kadua, pas SMA tuh aku ada pelajaran renang. Berangkat pagi-pagi banget, diusahakan jam 6 pagi udah stand by di sebuah kolam renang umum di kotaku. Kenapa pagi? Ya biar nggak rame lah. Mana ada orang yang mau renang jam 6 pagi buta. Jadi kolam renangnya bisa kita kuasai sesuka hati kita tanpa ada gangguan dari orang lain. Metode ini diterapkan karena sekolahku tak punya kolam renang sendiri. Ada sih tempat renang di belakang sekolah, sungai hahaha. Tapi, perlu kalian ketahui, aku hanya datang buat ngabsen wajah biar absenku penuh aja. Absen penuh, artinya nilai penjaskes aman. Jadi selalu seperti ini, datang, bayar uang masuk, ngabsen, diem, ngobrol di tempat yang nyaman, nggak nyentuh air tentunya, dan pulang. Selalu begitu, bersiklus tiap kali ada pelajaran renang. Pada suatu ketika, kepancing juga tuh buat renang gegara ngeliat temen yang kayaknya enak banget pas renang. Kebetulan nih, kolam renangnya dibagi, cewek kolam renang yang dangkal, cowok kolam renang yang dalem. Tiap kali renang aku selalu di kolam yang dangkal, sesuai sama kemampuan renangku yang memang belum dalam. Tapi yang namanya manusia ya, masak tiap kali nyoba renang nggak ada progress. Jadinya di suatu hari aku memberanikan diri untuk berenang di zona dalam. Berdiri… dan wus… ku coba berenang dan ternyata baik-baik saja untuk sejenak. Karena telah merasa aman, ku hentikan gerakanku dan berniat untuk menginjak lantai dasar kolam renang. Tapi ternyata lantainya masih jauh dari jangkauan kakiku dan aku pun kelelep. Paniknya bukan main, ku coba menyembulkan kepalaku ke permukaan air dan langsung membuka mulutku untuk berteriak, tapi tak pernah bisa berhasil karena tiap kali akan berteriak ‘tolong’ tubuhku kembali tenggelam dan mulutku nggak bisa keluar suara karena kemasukan air kolam. Berkali-kali ku lakukan, tapi tetap begitu, parahnya temanku sedang asyik-asyiknya mengobrol dan posisi badan mereka benar-benar tak menghadapku, hampir semua dari mereka memunggungiku. Bayangin dong, nggak lucu juga kan aku mati ngambang di kolam renang umum gegara nggak ada satu pun temanku yang nyadar kalo aku lagi kelelep. Tapi untungnya, setelah beberapa kali ku sembulkan kepala, ada temanku yang menyari hal aneh yang sedang ku alami. Segera salah seorang temanku berenang menuju tempatku dan langsung menarikku ke pinggir kolam renang. Makasih ya teman, udah nyelamatin temanmu yang tak berdaya kala itu hahaha. Tuh kan, pengalaman ini yang juga ngebuat aku mau nggak mau makin antipati sama yang namanya olah raga.

Dampak dari ‘terlalu’ tak sukaku pada olahraga ternyata baru aku rasakan beberapa bulan belakangan ini. Badanku jadi benar-benar rapuh, mudah lesu, lunglai, lelah, dan lemah. Berat badan naik yang dampaknya juga pada naiknya rasa malas. Aku sadar ini kesalahanku ‘terlalu’ tak suka padamu, olahraga. Jadilah aku putuskan untuk kembali menjalin hubungan baik denganmu yang telah terlalu lama terlanjur tak baik. Ku putuskan untuk olahraga secara rutin setiap hari. Ku investasikan dua buah raket dan shuttlecock untuk menjembatani hubungan baik antara kita berdua, aku dan olahraga. Karena memang badminton-lah satu-satunya olahraga yang tak pernah membuatku trauma dan paling bisa ku mainkan, ya hanya badminton. Tak sangka tak dinyana, memperbaiki hubungan baik yang bahkan walau telah bertahun-tahun tak baik, sebegitu mudahnya. Aku dengan mudahnya menjadi menyukaimu dari yang awalnya tak suka. Aku sekarang menjadi ‘terlalu’ menyukaimu, menyukai salah satu cabang olahraga, yaitu badminton. Aku sekarang menjadi rutin berolahraga tiap pagi dan sore bersama teman-teman kosanku. Aku menjadi kembali bersemangat menjalani hari-hari, tubuhku menjadi lebih bugar dan sehat, menjadi lebih ringan, dan tidur menjadi lebih nyenyak. Terimakasih klinik tong fang hahaha. Beneran dah, mungkin ini agak sedikit lebay, tapi emang beneran, aku sekarang suka suka suka sekali olahraga, terlalu suka bahkan. Sampe kebayang-bayang, kalau malam datang, kapan ya pagi nya, biar bisa main badminton, begitu pula tatlkala siang menerjang, kapan ya sorenya, biar bisa main badminton. Sama seperti malam ini, malam ketika tulisan ini dibuat, pengen deh buru-buru pagi, padahal baru tadi sore main badmintonnya. Sebegitu dahsyatnya ya rasa suka, membuat kita ingin selalu ingin ketemu padahal baru aja ketemu. Ketemu kamu, iya kamu hahaha.

Advertisements

6 thoughts on “Sekarang Aku Suka

  1. Saya tak bisa berenang (lebih tepatnya mengambang), tapi entah saya seneng banget main air, entah di kolam renang, sungai, ataupun laut, haha..

    Nb: asalkan dalamnya tidak melebihi leher sendiri 😆

  2. Saya dulu waktu kecil paling tidak suka sayur nangka dan sayur daun singkong atau masakkan lain berbahan-baku dua itu, mending mogok makan deh dari pada disuruh makan itu. Tapi semenjak merantau ke Jogja, apapun makanannya lahap semua :D. Terimakasih klinik tongfang #eh Jogja.

    Salam blogwalking Mba Dita 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s