Bertambahnya Kadar Kemiripan

 danbo_by_m_nedwed-d4v0fdn           Katanya sih every single person in the world tuh bakalan punya 8 kembaran yang letaknya di belahan bumi yang lain. So, you are not alone, never alone sebenernya. Nah, kebetulan nih aku dan kembaranku lahir berdekatan satu sama lain, dari rahim ibu yang sama. Well, seperti anak kembar lainnya, kita punya wajah yang serupa, postur badan yang serupa, tinggi dan berat badan yang serupa, tapi dengan kepribadian yang berbeda tentunya. Percayalah, kita adalah pribadi yang berbeda, punya keunikan sifat yang juga berbeda. Tetapi parahnya, banyak yang mengira dan memperlakukan kita layaknya kita adalah pribadi yang sama hanya karena penampakan fisik kita yang serupa. Misalnya saja, yang deket sama kita nih ya, keluarga. Orang tuaku selalu membelikan kita baju yang sama dari ujung kaki hingga ujung kepala dan mbak ku selalu membelikan barang-barang yang sama. Ok, perlakuan itu sukses tatkala kita masih kecil, malah kita bakalan nangis kalo dibeliin baju atau barang yang berbeda. Bahkan nih ya, baju yang modelnya sama tapi warnanya berbeda, akan menjadi sumber pertengkaran antara anak kembar seperti kita. Jadi, jalan keluarnya gampang, belikan saja barang yang sama mulai dari model hingga warnanya. Problem solved.

            Pas kecil sih ok lah ya, kan anak kecil emang doyan tuh yang namanya perhatian, jadi emang kerjaannya cari-cari perhatian. Berhubung kita kemana-mana kayak cermin nih, jadilah kita pusat perhatian kemana pun kita melangkah, seneng banget lah jadi pusat perhatian. Tapi seiring berjalannya waktu, time flow people change, bagitupun dengan kita berdua. Mulai gerah dengan tatapan statis orang-orang tatkala kita melintas di depan mereka, mulai jengah dengan pandangan-pandangan menyelidik yang mereka arahkan pada kita, ya kita mulai tak nyaman. Mulailah kita memberontak dengan tak lagi memakai baju yang sama, sekolah di SMA yang berbeda dengan harapan kita bisa menjalani hidup kita masing-masing. Yah… walaupun pada akhirnya dipersatukan kembali di universitas yang sama. Baju yang kita punya pun sekarang tak ada yang sama, barang sebiji pun, yah… kecuali jas almamater ya, kan kita di almamater yang sama. Kita mulai nyaman dengan ini, sedikit demi sedikit mulai banyak yang tak menyadari kalau kita kembar, paling banter dikira kakak adek. Tak ada yang salah sih emang dibilang kembar, tapi ketika seseorang tau kita kembar, mereka akan bertindak seolah-olah kita adalah anak kecil, anak bocah, padahal kan kita udah dewas #tsah. Kayak gini nih ngomongnya “ih… kembar ya, yang kakak yang mana nih? (dengan tatapan mata berseri-seri kayak ketemu sama anak bocah)” padahal tak jarang yang ngomong gini nih umurnya di bawah kita. Kan rasanya gimana gitu ya, digituin sama adek kelas. Aku kan tipe orang yang mementingkan senioritas hahaha.

            Tapi, akhir-akhir ini ada yang berbeda, entah ini baru aku sadari atau emang dari dulu, banyak orang yang sadar kalau kita adalah sepasang anak kembar. Padahal dulu-dulunya nggak segitunya sih, analisisku sih karena kadar kemiripan kita yang semakin bertambah. Masak iya sih? Mungkin juga kali ya. Ada beberapa kejadian sedikit ‘awkward’ yang bakalan aku ceritakan di sini.

            Pertama, pas aku ke Jogja kemarin aku nginep di kosan temenku. Dia dulu satu jurusan denganku dan langsung melanjutkan S2 di UGM. Pas aku nyampe di kosannya, dia malah bilang aku kayak kembaranku. Agak sedikit aneh sih nih pernyataan, ya iyalah aku mirip kembaranku, namanya juga kembar. Tapi perlu kalian ketahui, setiap anak kembar itu punya perbedaan yang ngebuat seseorang tau kalau aku bukan kembaranku. Tak berhenti di situ ternyata. Pas aku nginep di kosan temenku yang lain, kalau yang ini temen SMA ku. Anaknya unik dan unpredict, sampe-sampe temen sekelas pas SMA ada yang bilang dia alien gara-gara kadar kecuek-an dia tuh seabrek-abrek. Nah… temenku ini juga bilang aku kayak mbak Dila, makin mirip mbak Dila, bahkan sampe suaraku katanya makin mirip mbak Dila. Weleh-weleh, padahal nih, salah satu perbedaan yang paling kontras di antara kita berdua adalah suara. Suaraku gede, suara mbak Dila cempreng. Tuh kan, kadar kemiripan kita semakin bertambah.

            Kedua, kejadiannya tadi malam, ini kejadian yang aku bilang ‘awkward’ tadi. Ceritanya aku dan mbak Dila pergi ke sebuah minimarket deket kosan, sebut saja alfamart. Setelah aku selesai memilih-milih barang yang ku inginkan, ku langsung ke kasir. Nah di sana ada mas-mas yang lagi antre juga, si mas-mas ini baik hati mngijinkanku ke kasir kedua untuk membayar. Bak Dila tiba-tiba memanggilku dari belakang, aku pun menoleh dan mengomentari barang-barang yang dia beli. Nah, ternyata si mas-mas ini juga noleh ke mbak Dila lantas dengan cepat kembali menoleh padaku, terus noleh lagi ke mbak Dila. Si mas-mas ini pun tersenyum, seperti menemukan hal yang menarik perhatiannya. Mbak Dila menghampiriku di kasir menggantikanku yang memang sudah selesar bayar. Si mas-mas ini bela-belain mundur ke belakang beberapa langkah demi merhatiin kita berdua sambil senyum-senyum sumringah karena sadar akan kemiripan kita. Beneran deh si mas-mas ini lagaknya kayak kakak sepupu kita yang seneng banget kalo ketemu kita pas kecil, nah persis… pandangan si mas-mas ini kayak pandangan sepupuku dulu, pandangan seorang kakak sepupu pada adek sepupunya yang masih bocah. Kita pun segera keluar dari tuh minimarket, tapi pas nyampe di pintu minimarket, sorang ibu-ibu malah langsung nyapa ‘mbak kok mirip, kembar ya?’ tanyanya, kita pun menjawab ‘iya’. Ottoke… bener-bener makin bertambah deh kadar kemiripan kita.

            Ketiga, tadi sore kita naik motor berdua menuju sebuah rumah makan padang. Berhubung aku yang bawa motor, jadilah mbak Dila yang turun dan beli makan di warung itu dan aku masih di atas motor. Karena agak lama, ku longokkan kepalaku untuk melihat posisi mbak Dila, nah pada saat yang bersamaan, mas-mas yang ngebungkusin nasi melihat ke arahku dan dengan cepat menoleh kea rah mbak Dila. Ok, aku sadar apa yang telah terjadi. Benar saja, setelah selesai mbak Dila cerita padaku kalau si mas-mas tadi nanya,

‘mbak kembar ya?’ tanyanya

‘iya mas’ jawab mbak Dila

‘pantesan, saya lihat di luar kok ada, tapi di dalem warung masih ada’

‘hahaha, emang semirip itu ya mas’

‘iya mbak’

‘kirain saya kita udah beda’

‘hahaha’ si mas-mas malah ketawa

            Itulah beberapa kisah yang baru-baru ini ku alami sebagai bukti akan judul tulisan ini, bertambahnya kadar kemiripan. Kalau kamu kenal cukup lama denganku, apa iya aku semirip itu? Nggak kan. Kalau kalian bilang mirip, itu artinya kalian belum mengenal kita seutuhnya, hahaha.

IMG_4135

kanan (aku) kiri (mbak Dila)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s