Bertemu Hantu

hantu jogedIngin sejenak ke masa lalu karena terlalu rumit menceritakan masa sekarang. Terlalu banyak yang harus diceritakan atau mungkin tak ada yang menarik untuk diceritakan? Apa pun itu, yang pasti aku ingin sejenak kembali ke masa lalu. Karena raga tak mungkin ke sana, mari bersama ingatan kita ke sana. Ber mil mil jauhnya, bertahun tahun sudah lamanya, tak kan menghalangi tujuan kita ke sana. Itulah hebatnya ingatan, tak terbatas ruang dan waktu. Mengapa ingin ke sana? Ke masa lalu? Ingin sejenak menjauh dari bisingnya lingkungan? Nggak juga sih, malah ini lagi sepi, sunyi, soalnya lagi sendiri di kosan. Para penghuninya sedang menikmati dunia luar. Aku pun begitu, tadi.

            Aku sedari kecil tinggal di rumah mbah ku. Di sana banyak sekali tetangga, rumahnya dekat satu dengan yang lain. Nggak kayak rumahku yang sekarang. Jadi, nggak pernah bosen kalau di sana soalnya banyak orang, banyak temen, ada aja pokoknya yang mau dimainin. Seneng lah pokonya. Di antara tetangga-tetangga itu, ada satu tetangga yang dekeeet banget sama mbah ku, berarti deket sama aku juga lah, udah dianggap saudara. Nah… tetanggaku ini punya adek yang rumahnya di Sampang (pengetahuan tambahan aja: rumahku di kabupaten Pamekasan. Nah Madura itu ada empat kabupaten, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep). Adeknya tetanggaku itu umurnya dua tahun di atasku, jadi aku memanggilnya mbak, namanya mbak Romlah, disingkat jadi mbak Rom. Mbak Rom ini sekolahnya di Pamekasan, jadi tinggalnya sama tetanggaku yang tadi.

            Asal tau aja nih ya, Sampang itu terkenal tempatnya hantu, banyak dukun, pelet, dan semacamnya. Tetanggaku sering banget nyeritain cerita horror kalau lagi ngumpul di rumahku. Aku takut sebenernya buat dengerin, tapi ya penasaran juga. Akhirnya ya dengerin dari awal sampai akhir. Pernah nih ya, gara-gara cerita horornya, aku jadi takut banget buat keluar rumah. Parno aja bawaannya. Ditambah lagi kalau udah dengerin cerita hantu tuh bawaannya ngayal yang macem-macem aja, bikin tambah takut. Sebenernya aku bukan tipe penakut sih, malah bisa dibilang agak pemberani. Tapi ceritanya nyata banget, jadi bikin serem sendiri ngebayanginnya.

            Nah, suatu ketika si mbak Rom ini, nantangin aku sama temen-temenku buat ketemu hantu. Keren ga tuh tantangannya. Berhubung kita semua ngerasa kita pemberani dan penasaran juga, kayak apa sih hantu, jadinya kita sepakat buat ketemu hantu malam harinya. Aku tak ingat pasti berapa jumlah orang yang berpartisipasi di acara malam itu, yang pasti lebih dari lima orang, termasuk aku. Deg-degan sih, takut juga iya, soalnya kalau di film-film tuh biasanya cuma pemeran utamanya aja yang selamat kalau berurusan sama hantu. Aku sih ngerasa pemeran utama, jadi merasa pasti akan selamat, haha. Si mbak Rom ini menugaskan kita untuk membawa nampan dari seng, lilin, korek api, dan cermin. Aku pribadi tak tahu fungsi dari peralatan-peralatan itu, tapi ya kita iya iya aja. Peralatan sudah lengkap, tinggal menunggu untuk instruksi selanjutnya.

            Siang pun berganti malam, aku dan teman-temanku telah berkumpul di depan rumah mbak Rom untuk melakukan ritual pertemuan pertama kita dengannya, pertemuan yang mungkin tak semua orang menginginkan, pertemuan dengan hantu. Kita harus menunggu agak lama karena si mbak Rom lagi nyiapin sesuatu entah apa itu di kamarnya. Jadi pertemuan kita dengannya akan dilakukan di kamarnya si mbak Rom. Sempat ada pikiran untuk mengurungkan pertemuan perdana ini tapi kan tinggal selangkah lagi masak mau mundur. Ditambah lagi semua peralatan sudah lengkap dan kita banyakan, nggak sendirian, kalau ada apa-apa kan banyak temennya. Ok, niat sudah bulat, pantang ada kata mundur, dan mbak Rom mempersilahkan kita untuk masuk ke kamarnya.

            Kita diperintahkan untuk duduk melingkar, mbak Rom duduk di antara kita. Suasana horror mulai terasa karena lampu kamar dimatikan. Kemudian lilin yang tadi disuruh bawa, mbak Rom nyalakan, ya penerangannya hanya lilin kecil itu. Kita saling pandang satu sama lain. Entah apa yang ku pikirkan waktu itu, rasa penasaran benar-benar telah menguasai alam sadarku. Mbak Rom kemudian mengambil nampan seng, dia menyuruh masing-masing dari kita untuk memegang ujungnya begitu pun dirinya. Si mbak Rom kemudian membaca mantra, sambil menggerakkan nampan dengan gerakan memutar. Kita pun mengikuti iramanya gerakan tangannya. Nampan pun bergerak memutar di atas lilin yang menyala. Tak berapa lama si mbak Rom memerintahkan kita untuk memejamkan mata karena sudah waktunya katanya. Ingin rasanya berhenti sampai di situ, benar-benar ingin melarikan diri saking deg-degannya, tapi lagi-lagi rasa penasaran dengan kuat menahan ragaku untuk tetap di situ.

            Begitulah, dalam keadaan mata terpejam, gerakan nampan memutar di atas lilin, mantra yang dikomat kamitkan mbak Rom, kita semua pasrah. Setelah beberapa lama, mbak Rom menghentikan mantranya, tapi dia masih menyuruh kita untuk tetap memejamkan mata. Si nampan di ambil alih sepenuhnya oleh mbak Rom. Entah mantra apa lagi yang dia baca, aku memang tak mengerti artinya sejak awal. Selesai membaca mantra, mbak rom menyuruh kita untuk menghadapkan telapan tangan kita ke depan dan menyuh kita untuk mengusap-usapkan telapak tangan kita pada bagian belakang nampan yang tadi telah dibacakan mantra olehnya. Kita pun bergiliran mengusap-usapkan telapak tangan ke nampan tadi. Tak cukup hanya disitu, mbak rom memerintahkan kita untuk mengusapkan telapak tangan tadi ke muka kita, katanya itu adalah ritual akhir agar kita bisa bertemu hantu. Kita pun mengusap muka kita secara rata dengan telapak tangan. Setelah itu, mbak Rom menyuruh kita untuk mengambil cermin yang tadi disuruh bawa. Kita disuruh untuk menghadapkan cermin itu di depan wajah kita. Kemudian kita disuruh membuka mata pelan-pelan karena di cermin itulah hantu yang telah menunjukkan wujudnya pada kita.

            Deg-degan dong, gimana kalau hantunya menyeramkan? Menakutkan? Ya tapi kan tinggal selangkah lagi. Ok, ku buka mata pelan-pelan. Betapa kagetnya, si hantu ternyata mempunyai wajah yang hitam bak arang, cemong-cemong gitu. Tapi anehnya, aku tak merasa takut atau merinding. Malah sebaliknya, sepertinya aku kenal siapa hantu yang di cermin yang ku lihat. Setelah kesadaranku kembali utuh, ternyata wajah hitam bak arang yang ku lihat itu bukan hantu tapi wajahku sendiri. Lah… kok bisa? Iya, jadi ceritanya begini. Tuh nampan kan terbuat dari besi, ketika dia diputar-putar di atas lilin yang sedang menyala, maka bagian bawah nampan itu akan hitam karena sisa pembakaran. Nah, kita kan disuruh mengusap-usapkan telapak tangan ke nampan tuh terus ke wajah, jadilah jelaga hitam dari nampan berpindah ke wajah kita semua. Pas dilihat dicermin ya itu wajah kita yang penuh jelaga, cemong-cemong. Kita semua pun tertawa. Ternyata pertemuan dengan hantu tak lebih hanya iseng-isengannya si mbak Rom ngerjain kita semua dengan cara yang berbeda. Menyenangkan sekali bukan masa kecil itu, masa dimana kita sangat gampang mendapatkan tipu daya. Tapi justru dari sanalah kita banyak belajar, bermain, dan berinteraksi dengan teman sepermainan. Aku senang punya masa kecil yang belum terpapar canggihnya teknologi jaman sekarang, yang dunianya hanya sebatas layar tab, handphone, atau mungkin laptop atau computer. Tak ada yang salah memang karena beda masa beda juga medianya. Termasuk juga bertemu hantu, aku udah langsung ketemu, kamu? Hehe.

Advertisements

6 thoughts on “Bertemu Hantu

  1. Wakaka ada-ada aja, ane dulu pernah ngerjain bocah kecil biar bisa lihat tuyul. Yaitu dengan mencukur habis alis dan rambut lalu ngaca di cermin, lantas si bocah percaya aja… lalu ngebet banget minta cukur sama bapaknya. Baru kemudian bapaknya sadar kalau anaknya baru dikerjain…. Nice sharing Mba 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s