Ketika Trial Bertemu Error

trial_and_errorSalah satu alat transportasi yang akhir-akhir ini akrab dengan keseharianku adalah angkot. Jika menelisik lebih jauh, ternyata alat transportasi ini telah lama akrab denganku. Bagaimana tidak, tetanggaku yang telah ku anggap seperti pamanku sendiri adalah seorang supir angkot. Ketika masih kecil, aku sering sekali diajak jalan-jalan menggunakan mobilnya yang sering sekali berganti-ganti. Karena memang selain menjadi supir angkot, beliau juga berprofesi sebagai pedagang mobil, gampangnya makelar mobil. Aku akan senang bukan kepalang ketika diajak untuk jalan-jalan ke kota karena memang rumahku di desa. Hal yang paling ku senangi ketika ke kota, karena ketika melewati persawahan luas di desaku, aku akan bisa melihat banyak sekali bintang yang bersinar terang di perbukitan nan jauh di sana. Bintang di perbukitan? Iya, tak lama setelah itu aku tahu, ternyata mereka bukan bintang melainkan cahaya lampu rumah penduduk yang bersinar layaknya bintang di langit. Tak hanya di ajak jalan-jalan, seringkali aku juga dibelikan makanan di kota. Ada sebuah warung bakso yang begitu terkenal di seantero desaku, namanya bakso goyang lidah. Saking tenarnya, kalau kamu ke kota tapi belum beli bakso goyang lidah, itu sama halnya kamu belum ke kota. Begitu katanya. Sekarang, bakso goyang lidah sudah tak setenar dulu, sudah banyak sekali pesaing-pesaing baru yang menawarkan bakso dengan citarasa berbeda. Begitulah hidup, semua ada masanya.

            Setelah menempuh pendidikan dari TK dan SMP yang semuanya dekat dari rumah di desa, tatkala SMA ku putuskan untuk melanjutkan SMA ke kota. Sudah cukup rasanya berkutat dengan semua yang berbau desa, sudah saatnya ku hirup udara kota. Singkat cerita ku diterima di sebuah SMA yang telah ku idam-idamkan sebelumnya, di SMA yang telah lama ku dengar namanya yang katanya tak mudah memasukinya. Jarak rumah yang cukup jauh mengharuskanku berangkat lebih awal dengan alat transportasi bermotor dan pilihannya tentu saja angkot. Waktu itu motor di rumahku hanya satu dan itu pun selalu digunakan bapakku untuk mengurusi pekerjaannya, jadi tak ada jatah motor tersisa untukku. Perdana masuk sekolah, aku ingat sekali, aku berangkat pagi sekali karena jarak dari rumah ke tempat melintasnya angkot cukup jauh, jadi harus berjalan kaki terlebih dahulu. Begitulah, rutinitasku berangkat sekolah tatkala kelas X.

            Ada kejadian yang ada kaitannya dengan angkot yang hingga kini melekat di ingatanku, tidak tidak, mungkin di semua ingatan teman-teman sekelasku. Kala itu pelajaran ekonomi. Seorang guru perempuan masuk ke kelas, gayanya cukup modis dan gaya bicaranya yang kocak tanpa ekspresi membuat suasana kelas jadi meriah karena riuh rendah tawa yang kami keluarkan. Karena baru awal masuk, setiap anak disuruh memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama dan asal masing-masing. Setiap anak yang berdiri, selalu dikomentari dengan hal-hal yang kocak sehingga mengundang tawa dari semua anak. Aku yang kala itu sangat pemalu, bukannya rileks malah tegang dengan perlakuan si guru bersangkutan, aku takut pas giliranku nanti, aku bakalan ditertawakan seperti teman-temanku yang lain. Sehingga aku memperhatikan setiap teman-temanku yang memperkenalkan diri satu per satu. Berhubung aku duduknya di depan, dan perkenalannya dimulai dari belakang, aku masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan jawabanku nanti. Beberapa perkenalan teman-temanku yang masih ku ingat,

“Nama Abrory Agus Cahya Pramana, panggilan Pram, asal larasati, dari rumah ke sekolah jalan kaki bu”

“Oh… larasati, kenapa ga ngesot aja? kan deket cuma larasati” semua anak-anak langsung tertawa

            Mendengar itu aku langsung fokus pada jawaban cara menuju sekolah. Aku pun memperhatikan jawaban temanku yang sama-sama menggunakan angkot ke sekolah. Perkenalannya kurang lebih seperti ini,

“Nama Fithtratin Nuzuliyah, panggilan Fifit, asal Tlanakan, ke sekolah naik angkot”

            Aku lupa tanggapan guruku seperti apa, yang pasti tanggapannya tidak terlalu menusuk. Aku pun berfikir, ah… sepertinya kalau nanti bilang naik angkot, kurang elit ah. Jadilah aku mencari jawaban yang lain dan seperti inilah perkenalanku,

“Nama Pradita Maulia panggilan Dita, asal desa Plakpak, dari rumah ke sekolah naik Taksi”

            Tahukah kamu apa tanggapan guruku? Bukannya hanya dia yang menanggapi, tapi seisi kelas langsung tertawa mendengar jawabanku. Aku langsung jadi sasaran bullying guruku karena bilang dari rumah ke sekolah naik taksi. Kenapa semua pada ketawa? Iyalah, mana ada taksi di Madura, nggak ada sebiji pun. Lantas kenapa aku bilang naim taksi? Mau nyari sensasi? Ya enggaklah, aku punya alasan kuat kenapa bisa bilang seperti itu. Jadi gini, bahasa Madura sama bahasa Indonesia itu ada perbedaan di beberapa sisi. Misalnya nih, kendaran bermotor roda dua itu dalam bahasa Indonesia kan motor, tapi motor dalam bahasa Madura itu artinya mobil. Lah terus kalau motor bahasa maduranya apa? Di sana disebut sepeda motor. Ribet kan ya. Nah… di Madura itu angkot dibilangnya taksi. Jadi kalau mau naik angkot bilangnya NAKSI (Naik Taksi). Nggak salah dong kalau aku bilang naik taksi karena waktu itu aku lupa kalau di SMA kita harus pake bahasa Indonesia bukan bahasa Madura.

            Waktu itu tuh ya, malunya bukan kepalang. Mana gurunya nanggepin macem-macem sampe anak-anak sekelas tertawa terpingkal-pingkal. Tak hanya berhenti di situ, peristiwa taksi itu juga terus berlanjut hingga pertemuan-pertemuan selanjutnya. Si guru itu bakalan nyinggung-nyinggung taksi yang bakalan bikin anak-anak sekelas entah untuk yang ke berapa kalinya tertawa terbahak-bahak, kecuali diriku tentunya. Aku nggak suka sih jadi bahan lelucon, tapi ya mau gimana lagi, nasi telah menjadi bubur, dan aku bingung cara ngubah tuh bubur jadi bubur ayam, jadinya ku biarkan saja. Hingga suatu ketika, ada kabar gembira untuk kita semua, untukku sih. Si ibu guru ekonomi bakalan dimutasi ke sekolah lain dan tak akan mengajar lagi di sekolahku lebih tepatnya di kelasku. Aku seneng dong, jadi ga bakalan jadi bahan bullying lagi. Tapi ya aku pura-pura sedih soalnya temen-temenku yang lain pada sedih soalnya bu guru ekonomi itu lucu dan enak ngajarnya. Iyalah, mereka kan ga tau rasanya jadi aku. Emang aku agak lebay sih pas SMA soalnya aku nggak suka jadi pusat perhatian apalagi perhatian karena kekonyolanku haha. Nah itu cerita angkot atau taksi yang ku alami. Niatnya sih pengen trial ngasih jawaban yang anti-mainstream tapi jadinya error karena salah maksud. Tapi dipikir-pikir, jawabanku anti-mainstream sih tapi ya gitu, aku ga kuat mental buat jadi bahan leluconan tiap kali pelajaran ekonomi.

            Nah satu lagi kejadian di angkot yang baru kemarin aku alami. Kejadian yang benar-benar sebuah trial error. Berniat pulang ke kosan karena telah selesai melakukan sebuah aktivitas, ku naiki sebuah angkot yang telah biasa ku naiki. Telah ada dua orang ibu-ibu di dalamnya. Angkot pun langsung melaju setelah ku naik. Tak berapa lama melaju, angkot kemabali berhenti karena ada seorang ibu-ibu lain yang ingin masuk, sepertinya baru pulang belanja karena membawa banyak bawaan yang plastiknya tertera jelas nama sebuah retail ternama. Setelah itu ada seorang nenek-nenek yang masuk. Total penumpang di dalam angkot berjumlah lima orang, dua orang di kanan dan tiga oragn di sebelah kiri termasuk aku. Tak lama setelah formasi itu terbantuk, masuklah seorang pemuda dengan membawa ransel yang cukup besar, bisa ku prediksi tak banyak yang ia bawa karena kelihannya memang tak berat. Dia memilih untuk duduk di dekat pintu padahal aku telah dengan rela hati menggeser badan agar si mas mas itu bisa duduk di sebalahku. Mungkin deket kali ya pikirku. Ada kali ya lima meter dari tempat si mas mas yang naik, naik lagi seorang bapak-bapak dengan kemeja rapi lengan panjang, si bapak ini memilih duduk di sebelahku. Karena kegerahan mungkin ya, padahal sore itu sejuk-sejuk adem, di bapak ini berniat membuka jendela tapi sayangnya nggak bisa. Angkot pun terus melaju. Baru ada 20 meteran, eh si mas-mas udah turun, kemudian si bapak-bapak pake kemeja juga turun. Aku pribadi menyayangkan, kenapa cuma jarak sedekat itu mereka naik angkot, mending jalan aja, kan sayang ongkosnya, apalagi ongkos angkot sekarang naik. Ternyata tanpa aku sadari telah terjadi trial error di balik kejadian tadi, trial error pencopetan lo. Hah? Kok bisa?

            Jadi ceritanya begini, setelah dua orang (mas mas dan bapak bapak) itu turun, si ibu-ibu buka suara kalau dia curiga sama dua orang tadi. Kecurigaannya langsung ditanggapi sama si nenek-nenek yang tadi masuk. Aku dan dua orang lain yang nggak ngeh sama sekali hanya berseru tak percaya. Si mas-mas yang naik pertama kali, dia bertugas mengambil dompet dari si ibu-ibu dari tasnya. Nah si bapak-bapak yang pake kemeja bertugas mengalihkan perhatian si ibu-ibu. Ketika kedua tersangka telah di angkot, mereka memang memilih untuk mengepung si korban. Si mas-mas di pintu, si bapak-bapak di dekat ibu-ibu yang duduknya di pojokan tepat di belakang pak supir. Si bapak-bapak mengalihkan perhatian si ibu-ibu dengan cara membuka kaca yang letaknya di belakang si ibu-ibu, kalau udah gitu otomatis noleh dong si ibu-ibu ini. Pas noleh itulah, si mas-mas ngerogoh tas si ibu-ibu dengan cara nutupin tangannya pake ransel gede yang dia bawa. Cerdas kan ya? tapi untungnya si ibu-ibu ini nyadar dan buru-buru megangin tas nya yang ternyata udah kebuka separoh, makanya mereka cepet-cepet turun takut ketahuan, takut diteriakin maling. Bener-bener trial ketemu error. Jadi buat temen-temen yang biasa pake angkot, sekarang motif perampokannya macem-macem, salah satunya yang aku ceritain ini. Hati-hati ya, banyak baca doa dan pegang tas erat-erat. Semoga semua trial yang mereka lakukan selalu bertemu error ya. Aminin dong, aaamiiin.

Advertisements

14 thoughts on “Ketika Trial Bertemu Error

  1. Amiin.
    Tapi canggih ya copet zaman sekarang. Betul-betul tidak boleh lengah dengan sekitar. Meleng sedikit barang berharga bisa melayang. Semoga kita selalu waspada ya :)).

    • iya emang macem-macem motifnya jaman sekarang, ada yang pake hipnotis lah, ini lah, itulah. harus selalu waspada dan pegang tas erat-erat 😀 iya semoga kita selalu waspada

  2. Saya dulu malah pernah mergokin bapak2 copet yg mw ngambil dompet ibuk-ibuk diangkot, terus refleks saya pukul bahunya. Anehnya si-copet ngga merasa bersalah atau lari, malah balas nampar. Setelah kejadian itu, saya selalu bawa pensil runcing atau cater di tas, khawatir kalo seangkot lagi… 😀

    • eh seriusan masnya ditampar? terus mas tampar balik nggak? parah banget tuh copet, udah salah, nampar orang lagi. pensil runcing sama cutter? mau dibacok pake itu maksudnya hahaha 😀

      • Ngga balas lagi, soalnya aku dulu yang mukul dia. Lagian takut juga sih, copetnya badannya gede dan aku cuma anak SMA ingusan… udah gitu si ibu-nya ngga sadar kl td mw dicopet hehe

      • hahaha, maaf ya mas ketawa, lucu sih. iya ya, kalo badannya gede mah… serem juga. tapi seenggaknya, mas ini hebat lo soalnya udah menggagalkan sebuah pencopetan. ga jarang lo, orang-orang yang justru cuek2 aja ngeliat perbuatan tak terpuji di depan mereka (semisal pencopetan). good good 😀

    • berarti kamu kuat mental, kalo sekarang sih aku juga gitu, tapi kalo pas SMA? ogah, introvert banget soalnya aku tuh dulu

      iya, emang pengalaman mengajari kita segalanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s