Pelabuhan yang Salah

danbo_on_the_beach_by_macpic-d4nhz48Aku tak tahu apa memang sudah waktunya atau memang aku telah cukup dewasa untuk mendengarkan banyak cerita yang nyatanya aku sendiri juga belum siap untuk mendengarkannya. Perlu digaris bawahi di sini, aku tak siap untuk mendengarkannya apalagi mengalaminya dan aku berharap jikalau nanti sudah sampai waktuku ke masa-masa itu, aku tak mau dan tak rela mengalami pengalaman semacam ini. Ya, aku juga tak boleh menghakimi mereka-mereka yang sekarang mengalami kisah ini, dulunya juga berharap kisah yang semacam ini. Mungkin mereka dulu sama sepertiku, ingin cerita yang mulus, lurus, lancar, tanpa hambatan bak jalan tol. Tapi jalan tol pun tak selamanya lancar, adakalanya macet, tak selamanya lurus, ada kalanya berbelok, bahkan telah tak terhitung berapa banyak kecelakaan yang terjadi di dalamnya. Nah begitu pula kehidupan, tak ada yang menjamin kehidupan kita ke depannya –yang telah kita susun sedemikian rupa- akan seiring seirama dengan rencana yang telah kita rancang dengan begitu matang. Lagi-lagi, tak ada yang tahu dan tak ada yang menjamin. Karena tanpa jaminan inilah, kita butuh teman untuk menasehati ketika kita salah, meluruskan ketika kita bengkok, atau mungkin memutarkan arah ketika kita salah melangkah. Semuanya dimulai dari kesalahan yang kita buat lantas dia datang untuk membenarkannya. Tapi, apalah jadinya jika kita memulai sesuatu yang salah dan ternyata orang yang membersami kita –atau lebih tepatnya orang yang kita pilih untuk membersamai kita- adalah orang yang salah? Berlabuh di pelabuhan yang salah?

Telah tak terhitung berapa kali Andin membaca tulisan di layar handphonenya. Entah telah berapa kali pula dia belalakkan mata, menguceknya, dan menggeleng-glengkan kepalanya, seakan tak percaya apa yang ia baca. Antara sadar dan tidak akan apa yang telah dia lakukan hingga atasannya mengirimkan hal yang semacam itu. Andin sungguh tak percaya, karena atasannya bukan sembarang atasan, dia adalah pewaris perusahaan tempat dia magang untuk memenuhi tugas kuliahnya. Tidaklah mengherankan di umur semuda itu dia bisa menempati posisi setinggi itu.

“Andin, Abang suka sama kamu” tulisan inilah yang sedari tadi Andin perhatikan di chat line HPnya. Mendapatkan pengakuan perasaan semacam ini selalu memberikan kesan tersendiri, begitu pun bagi Andin. Sinyal– sinyal itu sudah sejak lama Andin rasakan, tapi tak pernah dia prediksi akan secepat ini. Bukan cuma waktunya yang terasa salah bagi Andin tapi juga orang yang menyatakannya, bukannlah orang yang Andin prediksi sebelumnya. Kesalahan prediksi dan waktu inilah yang membuat Andin berkali-kali tak percaya akan apa yang ia baca di layar HPnya.

Continue reading

Advertisements