Ku Harus Bisa

danbo_heaven_by_bry5-d391z1o“Kau harus bisa… bisa berlapang dada

Kau harus bisa… bisa ambil hikmahnya”

            Kenal sama lagu itu nggak? Lagu terbarunya Sheila On7. Aku bukan Sheila Gang sih dan bukan juga dalam kategori orang yang suka musik, liat aja play list di HPku, kosong melompong tanpa satu lagu pun tersimpan. Hanya saja, sepertinya bait lagu itu seakan-akan ngasih nasehat buat aku yang sekarang sedang ‘sedikit’ dilanda kesedihan, bahasa kerennya sih down. Bukan down syndrome ya. Emang sih up and down dalam kehidupan itu biasa. Kadang kitanya aja yang seringkali banyak keluhan, jumawa ketika di atas dan merasa terhina ketika di bawah. Padahal kan sama kayak bait lagu di atas tuh, kita selayaknya harus selalu bisa mengambil hikmah dalam setiap peristiwa yang terjadi di hidup kita, baik up maupun down.

            Nah, kemarin tuh pagi-pagi dikagetkan karena sebuah kabar dari seorang teman yang dengan kabar itu pula aku down. Kenapa? Karena kabar itu telah sukses merubah seluruh rencana hidup aku yang telah ku susun hingga tahun depan, semuanya hancur berantakan karena kabar itu. Salahku juga sih, tak pernah menyiapkan rencana cadangan jikalau kemungkinan buruk ini akan terjadi. Ya begitulah aku, terlalu berpositif thinking yang kadang kelewat batas, bahasa kasarnya sih keGRan. Kabar apaan sih sampe segitunya? Iya…. Aku dapet kabar kalau kamu udah sama yang lain dan bentar lagi mau nikah. Aku kan nggak siap dan nggak akan pernah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk ini. Mana mungkin aku siap dan menyiapkan diri untuk melihatmu dengan orang lain. Sedangkan di lain sisi aku telah siap dan menyiapkan diri untuk bersanding denganmu. Tapi… semua yang ku ceritakan tadi boong hahaha. Intinya aku lagi sedih gitu ya karena sesuatu hal yang tak bisa aku ceritakan di sini.

            Pas dapet kabar itu aku sempat shock dan tak bisa menerima kenyataan. Atuh gimana ya, bayangin aja udah nunggu-nunggu, bikin rencana matang, eh tak taunya semuanya benar-benar di luar dugaan. Tapi anehnya aku nggak nangis, lebih tepatnya nggak bisa nangis, emang nggak pengen nangis juga sih hehe. Pagi itu aku terus-terusan bertanya pada diri sendiri, apa salahku… apa? Berasa jadi orang paling nggak berguna deh, paling suram masa depannya, paling nggak jelas, dan nggak nggak yang lainnya, down se-down down nya (bahasa apa ini). Tapi Allah memang maha baik ya, langsung ngasih obat atas kegalauanku saat itu juga.

            Ketika memutuskan untuk keluar kosan, ku buka pagar kosan, ku tutup lagi, dan saat membalikkan badan ternyata di depanku ada orang yang sukses membuatku sembuh dari proses down yang ku alami. Seorang anak laki-laki yang masih sangat belia memikul dagangan, bakso. Deg, aku langsung tertampar melihat anak itu, bagaimana tidak? Di umur yang sebelia itu dia –mau tak mau- telah terjun ke dunia kerja, bisa dikategorikan kerja kasar. Di umur yang seharusnya dia sedang asyik-asyiknya bermain dan bersenda gurau bersama teman-temannya, dia malah berjibaku bermandikan keringat demi memenuhi kebutuhan keluarganya, mungkin ibu, bapak, atau adik-adiknya. Lantas masih pantaskah aku mengeluh, down, dan merasa menjadi orang yang paling tak jelas masa depannya? Hellow Dita, kamu harus banyak bersyukur, berterimakasih kepada Allah yang maha baik sama kamu. Seengaknya kamu masih bisa berbangga dengan tambahan title yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal yang spesial dan menjadi nilai tambah. Yah… walaupun aku belum siap mempertanggungjawabkannya. Seenggaknya kamu pernah mengalami indahnya bangku sekolah dan bersenda gurau bersama teman-temanmu. Seenggaknya kamu nggak pernah ngalamin berjibaku bermandikan keringat di umur yang begitu belia untuk mencari penghasilan. Seenggaknya kamu masih punya penghasilan sendiri dan tak usah menafkahi orang lain. Ya Allah maafkan hamba yang terlalu banyak menuntut dan mengeluh, padahal di luar sana masih banyak yang lebih merana dan menderita tapi syukurnya justru jauh berlipat-lipat daripada hamba. Terimakasih atas pembelajaran berharga ini, sejatinya keberhasilan tak usah dirayakan dengan rasa senang yang terlalu, pun demikian kegagalan tak usahlah diratapi dengan rasa sedih yang mengharu biru. Karena di setiap momen, entah itu sedih atau bahagia, akan dan pasti ada hikmah di dalamnya. Ya, ku harus bisa… bisa berlapang dada. Ku harus bisa… bisa ambil hikmahnya. Ya aku harus bisa.

Advertisements

5 thoughts on “Ku Harus Bisa

  1. Pasti bisa, Mbak. Terima kasih juga sudah berbagi dengan kami di sini ya :)). Tuhan memang punya cara yang indah banget untuk mengingatkan hambanya, biasanya sih dengan cara yang tak terduga cuma memang membuat sadar banget :)). Semoga gaung kabar buruk itu cepat selesai dan segera berganti dengan kabar-kabar baik yang mengisi hari-harimu, ya :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s