Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part1

Cara-Menjadi-Istri-dan-Ibu-Rumah-Tangga-yang-sabar-baik-bijak-dan-hebat-menurut-islam-638x320Terhitung sudah sebulan sejak ku putuskan untuk taubat sama yang namanya nontonin drama-drama Korea ataupun dorama-dorama Jepang yang telah sukses membuatku kecanduan. Dan tepat di minggu kelima ini aku sudah tak sanggup lagi menahan candu akan tontonan itu. Tomat alias tobat kumat ditambah lagi libur akhir pekan tanpa agenda apa-apa. Alhasil hanya di kosan saja dan ya mau nggak mau, kerjaan paling nyenengin selain baca buku ya nonton. Idealnya ya pas aku putusin buat tobat, semua drama dan dorama itu harusnya diapusin semua terutama yang belum dotonton. Tapi sayang banget kalo inget pas downloadnya. Sayang sayang kan ya, udah bela-belain di download masak iya diapus gitu aja. Alasan sih, alasan orang-orang yang niat tobat tapi nggan terlalu niat. Tapi kalo dipikir-pikir ya, ngapain juga aku tobat, kan nonton nggak dosa ini asalkan jangan berlebihan. Nah, asalkan jangan berlebihan. Jangan sampai seperti yang ku alami pas kuliah dulu, nonton drama Korea dua hari berturut-turut nggak tidur. Eh pas giliran udah kelar tuh drama, berangkat kuliah serasa ngambang, berasa kaki nggak nyentuh tanah, hiiii nggak lagi deh kayak gitu. Berbekal keyakinan ‘asal nggak berlebihan’ mulailah ku buka laptop dan ku cari-cari dorama apa sekiranya yang pantas ku tonton. Jatuhlah pilihan pada dorama jepang dengan judul ‘Tennou no Ryouriban’, alasannya karena yang main si aktor kesayangan Takeru Sato, yang beberapa bulan ini memenuhi pikiran dan perasaan hahaha #lebay.

            Drama ini berkisah tentang seorang pemuda yang bernama Tokuzo (diperankan sama si Takeru Sato), anak kedua dari empat bersaudara, putra seorang juragan di sebuah desa di Jepang. Nah si Tozoku ini terkenal di desanya dengan julukan Nokuzo (artinya bodoh atau tolol) dikarenakan walaupun sudah dewasa pikirannya sangat jauh dari umurnya. Sifatnya sangat kekanak-kanakan. Mudah suka pada sesuatu tapi mudah juga buat bosan. Ketika memutuskan untuk mengambil sebuah pekerjaan atau tanggung jawab, dia hanya akan bertahan maksimal 3 bulan. Dia pernah menjadi seorang pedagang, petani, prajurit, juragan beras, bahkan yang terakhir dia memutuskan untuk menjadi seorang biksu tapi hasilnya dia malah dikeluarkan dari kuil karena kelakuannya yang tak bisa dimaafkan, merobohkan makam leluhur para biksu. Semua profesi itu dia jalani kurang dari 3 bulan. Sama sekali tak bisa dewasa, beda sekali dengan kakak tertuanya yang menjadi seorang mahasiswa hukum, sangat dewasa dan tau kemana masa depannya akan dia bawa. Sang ayah yang khawatir jikalau di masa depan si anak akan menjadi Yakuza memutuskan untuk menikahkan anaknya dengan putri sulung seorang juragan sembako (anggep aja juragan sembako, aku nggak tau istilahnya hahaha).

            Diberitahu akan dinikahkan, memberontaklah si Tokuzo ini. tapi keputusan telah diambil, dia akan dinikahkan 10 hari lagi terhitung sejak dia mendengar kabar itu. Dia pun memutuskan untuk melihat calon istrinya secara diam-diam. Ketika dia melihat wajah si calon istri, dia benar-benar terpesona pada pandangan pertama, betapa tidak, istrinya sangat cantik jelita. si Tokuzo pun senang bukan kepalang dan sungguh bersemangat untuk rencana pernikahannya itu. Ketika sampai di hari pernikahannya, si Tokuzo kaget bukan kepalang karena calon istrinya bukanlah perempuan yang dia lihat secara diam-diam kemarin. Si perempuan cantik kemarin adalah adik calon istrinya. Dia pun memasang tampang kecewa. Saudara dan ayahnya langsung tersadar akan gelagat aneh si Tokuzo dan bersiap-siap untuk pasang badan. Benar saja, ketika pesta sedang berlangsung, si Tozoku berusaha untuk kabur dengan cara memanjat pagar rumah calon istrinya. Ayah dan saudaranya berusaha menahan dan meraih tubuhnya hingga terpental ke tanah. Dia pun langsung diberi minum ramuan yang entah apa itu sehingga dia pingsan. Ketika bangun Tokuzo telah berada di sebuah kamar yang nampaknya adalah kamar pengantin. Di sana telah duduk istrinya yang sedang menjahit baju dan langsung memberinya segelas air untuk diminum. Menurutku sih ya, istrinya cantik, cantik banget malah, iya sih emang nggak secantik adeknya, tapi ya tetap cantik khas wanita Jepang gitu, putih kurus. Bersamaan dengan segelas air yang diberikan si istri -namanya Tushiko-, dia berkata,

“Aku tidak apa-apa jika kau ingin membatalkan pernikahan ini” katanya

“Darimana kau tahu (kalau aku tidak menginginkan pernikahan ini)?” tanya Tokuzo

“Aku sudah terbiasa dibanding bandingkan dengan saudaraku” jawab Tushiko. Huhuhu sedih banget deh jadi Tushiko ini. Nah sampe sini aku telah memposisikan diri sebagai Tushiko. Karena beberapa alasan, satu, biar nontonnya dapet feel nya jadi harus ambil peran. Kedua, kita kan sama-sama perempuan masak iya aku yang jadi Tokuzo, ketiga, dia nikah sama Tokuzo (yang diperanin sama Takeru Sato –aktor kesayangan- hahahaha). Yuk lanjut ceritanya.

“Aku juga sering dibanding-bandingkan dengan Nii-yan (kakak laki-laki) ku. Padahal buat apa membanding bandingkan, ini ya ini, itu ya itu, nggak sama” jawab si Tokuzo sambil berapi-api, sampai-sampai air di gelas yang dikasih sama Tushiko jatuh dan tumpah. Memang beginilah karakter si Tokuzo, gaya berbicaranya berapi-api, ekspresi wajahnya maksimal sehingga orang yang melihatnya tak tahan untuk tidak tertawa. Begitu pun dengan Tushiko, dia langsung tertawa mendengar penuturan si Tokuzo. Melihat istrinya tertawa, si Tozoku langusung terpesona, inner beauty-nya keluar kali ya, sampe si Tokuzo ngeliatin istrinya tanpa berkedip. Dia pun langsung berkata,

“Kamu harus sering-sering tertawa seperti ini” katanya

“Aku tidak bisa, aku memang orang yang kaku dan membosankan” jawab Tushiko. Si Tokuzo langsung memasang wajah konyol untuk membuat si Tushiko tertawa lagi. Si Tushiko bukannya tertawa malah makin mendekat ke arah Tokuzo dan minta untuk diajari bagaimana cara memasang wajah konyol seperti yang dia lakukan. Tokuzo pun mengajari Tushiko, begitulah bunga-bunga cinta terjalin di malam pertama pernikahan mereka.

            Tushiko menjadi lebih sering tertawa semenjak menikah dengan Tokuzo, begitu pun dengan Tokuzo, dia menjadi lebih bertanggung jawab dan lebih rajin bekerja di toko sembako ayah Tushiko. Ketika ditanya oleh kakaknya, apakah Tokuzo telah menemukan passionnya, dia menjawab dengan bijak,

“Aku tidak yakin ini adalah hal yang aku suka (passion) atau tidak, tapi yang pasti aku akan melakukan yang terbaik demi istriku” so sweet banget nggak sih apalagi yang ngomong Takeru. Untung aku udah ngambil peran jadi Tushiko wwkwkwkwk. Keduanya sangat bahagia. Bahkan ibu Tushiko sangat tidak percaya ketika ibu Tokuzo bilang kalau anaknya terkenal dengan julukan Nokuzo di desanya. Ketika ibu Tokuzo berkunjung ke rumah besannya, dia bercerita banyak kepada Tushiko tentang kelakuan anaknya sebelum menikah, bahwa dia mudah sekali suka dan bosan pada sesuatu. Dia hanya bisa bertahan maksimal tiga bulan atas sebuah tanggung jawab yang dia pegang. Ketika mendengar cerita itu Tushiko khawatir bukan kepalang karena dia tau, pernikahannya sebentar lagi akan menginjak tiga bulan. Dia khawatir akan terjadi hal yang buruk pada pernikahannya.

            Benar saja, si Tokuzo sudah mulai bosan dengan kesehariannya bekerja di toko sembako sang mertua. Ketika dia mengantar barang pada pelanggan, dia mencium aroma makanan dari sebuah dapur resimen prajurit, dia pun mengikuti sumber aroma karena penciumannya yang tajam. Ketika memasuki dapur itu dia menyerahkan barang pesanan si koki dan melihat si koki –namanya Tanabe- sedang memukul-mulul daging untuk mengempukkannya. Si koki pun memasak daging itu menjadi makanan yang disebut ‘cutlet’. Tokuzo diizinkan untuk mencicipinya, ketika mencicipinya si Tokuzo pun bertertiak,

“Makanan apa ini?” saking enaknya. Dari pertemuan itulah dia merasa sangat tertarik pada masakan dan dunia masak memasak. Bahkan sampai tidur pun dia sampai terbayang-bayang ketika dia menggigit potongan ‘cutlet’. Sejak saat itu jadilah dia setiap hari meminta izin untuk berkeliling mencari pelanggan padahal aslinya dia belajar memasak di dapur koki Tanabe. Tokuzo merasa menemukan passionnya. Setiap hari tanpa absen dia selalu ke sana. Tushiko pun merasa ada yang aneh dengan sikap suaminya yang mengacuhkannya dan sering senyum-senyum sendiri (iyalah, istri mana coba yang nggak curiga). Si Tushiko ini tipikal istri yang mendem gitu, ada apa-apa diem aja, dicuekin diem aja, nggak diperhatiin nggak ngomong. Nah, pas banget ketemu sama suami yang cueknya minta ampun kayak Tokuzo. Ketika udah nemu hal yang dia suka, dia bakalan lupa sama hal di sekitarnya, yang dia pikirkan hanyalah masak, masak dan belajar masak, lupa kalau dia udah beristri. Dongkol nggak kalo jadi Tushiko, dongkol lah, tapi si Tushiko ini tipikal istri jaman dulu yang sabarnya minta ampun. Nerima-nerima aja mau diapain juga. Jadi istri apa emang gitu ya.

            Karena tiap hari pergi keliling cari pelanggan tapi buktinya nggak ada pelanggan yang datang, curigalah si ayah Tushiko. Dia pun tahu kalau si Tokuzo ternyata belajar masak bukan keliling mencari pelanggan. Ayah Tushiko –yang pelit- langsung marah besar dan langsung memaki-maki si Tozoku. Bawa-bawa kalau dia itu laki-laki yang tidak bisa menafkahi istri, udah syukur diajak tinggal di rumahnya dan nanti bakalan mewarisi toko sembako besarnya, eh dia malah enak-enakan belajar masak yang sama sekali tak menghasilkan sepeser pun uang. Si Tokuzo nggak terima lah dibentak-bentak gitu, dia malah balik marah-marah. Dia bilang dia tak pernah meminta untuk tinggal di rumah itu, dia tak pernah memohon untuk menjadi pewaris tokonya. Intinya perang besar lah antara Tokuzo dan mertuanya. Tushiko –istri yang penyabar banget- mendinginkan hati suaminya yang kala itu duduk di pinggir sungai dengan menanyakan hobi memasaknya, makanan apa yang dia buat padahal mah di dalam hati dia tuh sedih, teriris-iris hatinya melihat suaminya seperti itu. Dia mendengarkan penuturan berapi-api suaminya dengan mata berkaca-kaca karena air mata, ditambah lagi dia takut banget kalau suaminya bakalan kabur karena bosan dengan pernikahannya, Tushiko takut karena dia sudah terlanjur cinta pada Tokuzo. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, si Tozoku terngiang-ngiang akan pernyataan koki Tanabe yang bilang,

“Kalau kamu ingin belajar masak, kenapa tidak ke Tokyo saja”

            Dan tau nggak, beneran dong, malem-malem pas Tushiko lagi tidur –padahal sebenarnya dia nggak tidur- si Tokuzo ngeberesin bajunya, dia mau kabur ke Tokyo. Setelah semuanya siap si Tokuzo pun kabur menumpang kereta menuju Tokyo untuk mengejar cita-cintanya menjadi seorang koki terhebat di Jepang. Tushiko tak sanggup untuk menahan kepergian sang suami, dia hanya bisa menangis dengan menghadap sisi yang lain agar suaminya tak meyadari kalau dia ternyata tak tidur. Air mata pun mengalir, ketika suaminya menutup pintu dari luar dia pun menutupi wajahnya dengan selimut. Sampai di sini aku tak habis fikir dengan pemikiran si Tokuzo ini. Iya sih dia nggak dewasa, tapi masak iya se-nggak dewasa-dewasanya orang masak iya main kabur aja ninggalin istri. Dia tuh nggak mikir kalau tindakan yang dia lakukan ini banyak menyakiti orang lain, keluarga mertuanya, keluarganya sendiri, dan terutama si Tushiko. Aku nyesek banget tau jadi Tushiko, sempet nyesel kenapa tadi di awal ngambil peran jadi Tushiko hehehe. Iya sih ngejar cita-cita, tapi nggak gitu juga kali, kenapa nggak bawa istrinya sekalian. Lagian kalau emang belum dewasa, ngapain nikah sih. Bener-bener kesel deh sama si Tokuzo ini. Ngebayangin kalau hal macam ini terjadi di desaku, hu…pasti kabarnya bakalan jadi satu desa, karena kabur ninggalin istri itu bukanlah hal sepele, ini menyangkut tanggung jawab besar, tak hanya di dunia tapi juga di akhirat, syereeem.

            Nyampe di Tokyo si Tokuzo ini luntang lantung nyari alamat, dia kayak orang ling lung gitu. Singkat cerita dia ketemu sama Nii-yan (kakak laki-laki) nya yang kuliah di jurusan hukum di Tokyo. Dia bilang pada kakaknya akan magang di sebuah restoran tempat si koki Tanabe dulu bekerja. Tapi sayangnya dia ditolak habis-habisan apalagi dia membawa bawa nama koki Tanabe yang ternyata dulu dipecat karena menggoda kepala koki wanita. Tapi, si Tokuzo ini ngeyel, tipikal orang yang tak mudah menyerah, karena baginya tersiksa itu ketika impiannya tak terwujud. Tak peduli hujan, angin, badai dia tetep aja memelas duduk, nginti-ngintip di depan pintu dapur restoran besar itu. Di lain pihak, keluarga Tokuzo menyampaikan rasa maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Tushiko dan bersedia menanggung konsekuensi perbuatan anak mereka yang sangat memalukan. Tapi, taukah, si Tushiko malah ngebelain si Tokuzo, dia akan menunggu sebulan, beharap si Tokuzo akan kembali. Pernyataannya juga diperkuat dengan surat dari Nii-yan Tokuzo yang bilang akan memulangkan adiknya sebulan lagi. Sabar banget ya Tushiko digituin, ditinggal kabur suami lo, ditinggal kabur, masih aja dibelain. Jadi istri apa emang gitu ya.

            Tokuzo masih tetap bersikeras dengan apa yang dia yakini. Dia ingin magang di restoran itu. Kakak Tokuzo sangat prihatin dengan kondisi adiknya dan menceritakan pada professor pembimbingnya kalau adiknya sangat ingin menjadi seorang koki dan ingin magang di restoran besar tetapi tidak diterima. Sang profesor pun memberikan solusi, beliau punya link ke restoran besar yang sangat tersohor di Tokyo, dia akan merekomendasikan Tokuzo di restoran itu tapi menjadi seorang pencuci piring terlebih dahulu. Kakak Tokuzo bingung antara dua pilihan, apakah akan memberikan rekomendasi itu ataukah memulangkan adiknya sesuai janjinya tempo hari. Tapi, karena dia melihat kesungguhan dalam diri adiknya, dia memutuskan untuk memberikan rekomendasi itu. Tokuzo senang bukan kepalang.

            Satu bulan pun berlalu, keluarga Tokuzo kembali berkunjung ke rumah Tushiko untuk mengucapkan permintaan maaf sekali lagi karena anaknya tak kunjung kembali. Ayah Tushiko marah bukan kepalang, siapa coba yang tak marah ketika anaknya disia-siakan seperti itu, tak dinafkahi, ditinggal kabur, tak diberi kabar, hilang tanpa jejak. Di tengah argumen yang ayah Tushiko sampaikan, Tushiko malah memberikan pembelaan atas nama Tokuzo. Rugi banget si Tokuzo tuh menyia-nyiakan istri seperti Tushiko. Dia bilang dia akan menunggu tiga bulan lagi, berharap Tokuzo akan segera pulang. Dia berpendapat kalau Tozoku tak pernah tahan lebih dari tiga bulan akan suatu pekerjaan atau tanggung jawab, jadi dia akan menunggu, memberikan perpanjangan waktu pada Tokuzo, berharap dia akan kembali. Ayah dan ibu Tokuzo benar-benar terharu dengan sikap Tushiko. Kesel-kesel se kesel-keselnya sama si Tozoku. Dia benar-benar tak tau diri, malahan dia sudah lupa telah memiliki istri karena fokus utamanya adalah menjadi seorang koki terhebat di Jepang. Bayangin dong sebulan ditinggalin tanpa kabar, Tushiko tetap sabar, apa jadi istri emang gitu ya.

            Tokuzo akhirnya diterima magang di Kazoku Kaikan (restoran mewah di Tokyo) di bawah pimpinan kepala koki Usami-san. Pekerjaannya adalah mencuci barang-barang (semua peralan dapur) dari pagi hingga malam hari, menyiapkan bahan yang akan dimasak, mengepel dapur, semua pekerjaan itu dia kerjakan hingga malam hari, kemudian dia masih harus mengepel. Jatah makan pun dia mendapatkan makanan sisa dari yang disajikan pada pelanggan. Ketika semuanya telah selesai dicuci bersih, keesokan harinya barang-barang itu harus kembali dicuci sebelum digunakan. Intinya pekerjaanya mencuci piring. Awalnya Tokuzo sangat bersemangat, tapi beberapa minggu bekerja dia mulai bosan karena dia merasa pekerjaannya sangat tidak menunjang cita-citanya, bahkan ketika dia akan melihat apa yang sedang dimasak, kokinya malah melarang dia melihat, malah menghalang-halangi pandangannya. Tiga bulan pun berlalu dan taka da tanda-tanda kalau si Tokuzo bakalan kembali ke kampung halamannya. Orang tua Tokuzo kembali mendatangi kediaman Tushiko. Ayah Tushiko memberikan selembar surat cerai yang harus ditanda-tangani oleh pihak Tozoku karena dia telah menemukan orang lain yang bersedia menikah dengan anaknya. Tushiko lagi-lagi memberanikan diri menyampaikan pendapat. Dia bilang dia akan ke Tokyo menyusul Tokuzo, bukan untuk membawanya pulang tetapi untuk meminta tanda tangannya langsung untuk surat cerainya. Lagi-lagi, ayah dan ibu Tokuzo dibuat kagum akan ketabahan dan kesabaran si Tushiko. Tushiko sabar Tushiko malang, apa emang gitu ya jadi istri.

            Akhirnya Tushiko menyusul Tokuzo ke Tokyo. Ketika bertemu dengan suaminya, si Tokuzo kaget bukan kepalang melihat kedatangan si Tushiko. Dia baru ngeh kali ya kalau punya istri. Nah si Tushiko akhirnya ngobrol berdua sama si Tozoku di sebuah penginapan, Tushiko meminta maaf karena datang tiba-tiba (ya ampun bener-bener hati malaikat banget ya si Tushiko ini, dia yang didzolimin eh malah dia yang minta maaf). Dia menyerahkan sebuah hadiah untuk Tokuzo. Baju baru yang telah dia jahit sendiri. Bayangin dong, udah ditinggal kabur, disia-siain, tak diberi nafkah, tak diberi kabar, eh pas ketemu malah si Tokuzo dikasih hadiah. Juara sabar dan tabah emang si Tushiko, apa emang gitu ya jadi istri. Dia pun menyampaikan maksuda kedatangannya ke Tokyo, dia menyerahkan surat cerai yang harus Tozoku tanda-tangani. Tokuzo pun kaget, ada rasa kecewa di matanya. Iyalah, gimana nggak, tiga bulan woy kabur tanpa kabar, kalau di islam kan jatohnya udah talak tuh. Di tengah obrolannya, tiba-tiba si Tushiko mual, muntah-muntah, eh ternyata si Tushiko hamil. Makin bingunglah si Tokuzo. Keesokan harinya, si Tozoku pamit buat kerja, si Tushiko nganterin sampe depan penginapan dan bilang ke Tokuzo,

“Jangan khawatir, bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Aku akan mencari jalan keluar sendiri. Kucing betina saja bisa mencari jalan keluar sendiri, aku juga pasti bisa” Tozoku langsung lari gitu sambil nangis mendengar perkataan Tushiko. Gitu banget ya Tushiko sabarnya, saking cintanya kali ya sama si Tokuzo, sampe segitunya, banyak berkorban, korban perasaan, apa emang gitu ya jadi istri.

            Pas pulang ke rumah, ayah Tushiko malah meminta Tushiko untuk menggugurkan kandungannya. Tapi Tushiko nggak mau, iyalah ibu mana yang mau ngegugurin anaknya. Sebagai akibat penolakannya, dia diusir dari rumahnya. Tushiko pun menumpang di rumah orang tua Tokuzo. Berhari-hari dia tidak pulang. Tiba-tiba ibunya menjemputnya agar pulang karena sang ayah telah memaafkannya. Sebenarnya ayahnya tak benar-benar serius memintanya untuk menggurkan kandungannya, itu hanya gertakan saja dan rasa kesal karena anak yang dia sayangi disia-siakan. Di lain sisi si Tokuzo mulai sadar akan tanggung jawabnya, dia berniat akan bekerja lebih giat untuk bisa menafkahi dan membawa Tushiko beserta anaknya nanti ke Tokyo. Dia pun diam-diam bekerja di restoran kedutaan inggris, jadilah dia kelabakan, tiap hari lari dari kazoku kaikan dan ke kedutaan inggris untuk bekerja.

            Ketika Tushiko kembali ke rumahnya, ayahnya tak mengatakan sepatah kata pun dan langsung menyerahkan sepucuk surat. Tushiko langsung mengambil surat ini dan senangnya bukan kepalang ternyata itu adalah surat dari Tokuzo. Tushiko membacanya dengan berlinang air mata. Isinya tentang Tokuzo yang diangkat menjadi chef sayuran dan gajinya naik dari 1 yen 50 sen menjaid 3 yen dan dia merasa gajinya akan terus naik menjadi 4 yen, 5 yen, hingga akhirnya dia mampu memboyong Tushiko dan bayinya ke Tokyo. Tokuzo juga menyelipkan uang yang tak seberapa di surat itu. Tushiko menangis sejadi-jadinya. Mungkin ini buah kesabaran Tushiko selama ini. Kenapa nggak dari dulu aja ya si Tokuzo ini jujur mau cari kerja di Tokyo terus ngirim surat ke istrinya gitu jadi nggak terkesan lari dari tanggung jawab dan menyia-nyiakan istrinya. Banyak kok pasangan muda di desaku yang ditinggal suaminya merantau ke luar negeri tapi ya ada kabarnya gitu nggak ngilang. Perempuan kan cuma butuh kepastian, jangan digantung kayak Tushiko, apalagi ditinggal kabur. Surat berikutnya si Tokuzo ngirimin jimat bersalin buat Tushiko dari upahnya kerja sambilan di restoran kedutaan Inggris. Sampai di episode ini aku senang dan terharu bukan kepalang karena Tushiko seenggaknya dapet surat dari suaminya yang udah lama ngilang. Sampe sini aku juga sadar bahwa jadi istri itu memang harus sabar, banyak berkorban, dan harus terus percaya serta mendukung cita-cita suami selama itu baik. Karena sekali lagi, dibalik suami yang sukses, ada istri hebat di belakangnya. Sekali lagi, jadi istri emang gitu ya. Katanya sih nanti si Tokuzo bakalan sukses jadi koki terhebat di jepang, menjadi kepala koki di kekaisaran Jepang, setaraf presiden lah ya. Tapi perjalanan untuk menuju ke sana benar-benar berlila-liku, berdarah-darah dan penuh deraian air mata. Nanti aku ceritain di part 2, apakah nanti si Tokuzo dan Tushiko akan bersatu atau malah berpisah. Tunggu aku download lanjutan episodenya dulu yaw.

Advertisements

7 thoughts on “Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part1

  1. Beuh, ceritanya mengaduk perasaan juga. Salutlah dengan Tushiko yang pengabdian pada suaminya sampai sebegitunya, semoga dia mendapat hasil yang terbaik dan pasangan mereka jadi abadi. Perjuangan memang tak mudah, menjaga napas untuk komitmen apalagi, tapi kalau orang yang terkenal tak bisa tahan dalam suatu pekerjaan saja bisa, mestinya kita juga pasti bisa berkomitmen untuk melakukan sesuatu yang merupakan passion kita, kan? Inilah yang saya suka dari dorama Jepang, sekilas sepele dan kejadiannya drama yang kadang lebay tapi pesan yang ada di dalamnya dalam banget!

    Btw, menulis ini bagaimana caranya Mbak? Sekali trek begitu? Habisnya panjang dan rinci sekali, keren deh, saya berasa menonton dramanya secara langsung, habis deskripsimu begitu nyata, keren sekali :hehe. Saya ikutan belajar dari tulisan ini :)).

    • Iya nih… kagum banget sama Tushiko yang sabarnya banget banget banget hahaha. Nulis cerita gini soalnya ga ada temen buat curhat, kan biasanya tuh ya kalau abis nonton pengennya cerita, nyeritain isi ceritanya. Ada sih temen cerita. Tapi kan kalau kelamaan kasian juga yg dengerin. Nah salah satu media untuk mnyalurkannya adalah cerita d blog. Bisa cerita sebanyak dan sesuka kita hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s