Aku dan Pemikiranku

introspeksi diri“Aku pengen segera kuliah ah…” kata salah seorang temanku ketika aku masih SMA dulu. Aku pun mengernyitkn dahi, kenapa buru-buru, bukannya kala itu kita baru saja kelas 10 dan itu artinya kita baru saja masuk menjadi seorang siswa SMA. Aku telah sepenuhnya lupa apa alasan yang temanku ungkapkan kala itu ketika ku tanyakan kenapa dia begitu buru-buru. Ah… sudahlah, diingat juga pecuma, buat apa juga, sekarang masa itu juga telah berlalu. Sering ku perhatikan sekitar, melihat orang lain kuliah, seminar, sidang, kemudian wisuda. Mereka terlihat begitu bahagia melalui semua proses itu. Aku pun juga begitu, bahagia melihat kebahagiaan mereka. Tapi aku juga bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah aku akan bisa berekspresi sebahagia mereka ketika aku melewati proses itu? Karena aku bukanlah orang yang pandai mengungkapkan rasa lewat ekspresi. Dan benar saja, ku lewati semua proses itu, dan bagiku rasanya biasa-biasa saja, seperti tak ada yang begitu sangat spesial sehingga aku harus tertawa begitu girang untuk mengungkapkannya. Lagi-lagi aku pikir ini semua hanyalah proses, aku juga nanti akan mengalaminya.

            Proses selanjutnya adalah memasuki dunia kerja, menikah, berkeluarga, mempunyai anak, dan akhirnya meninggal. Memasuki dunia kerja sedang ku hadapi sekarang dan rasanya, ya biasa-biasa saja, tapi aku sangat bersyukur dengan lingkungan kerja yang sangat kondusif bahkan seakan meningkatkan pengetahuanku terkait ilmu agama. Aku sangat bersyukur akan hal ini. Lantas proses selanjutnya adalah menikah dan berkeluarga. Inilah puncak kebahagiaan yang tiada tara bagi orang yang dimabuk cinta, ketika semua yang dulunya haram dan berbau neraka menjadi halal dan berbau surga. Apakah aku akan melewati proses ini? Mungkin iya atau mungkin saja tidak. Aku tidak tau karena hingga saat ini aku tak tau bagaimana atau seperti apa pastinya rasa jatuh cinta itu. Kata teman-temanku rasanya campur-campur. Aku iyakan saja karena merekalah yang merasakannya, ekspresi apakah yang akan aku keluarkan ketika proses itu datang? Apakah hanya akan berakhir dengan pernyataan biasa-biasa saja? Aku tak tahu. Aku sering dibuat bingung oleh beberapa temanku yang menunjukkan berbagai ekspresi ketika mengalami rasa yang satu ini. Kadang senang, senyum-senyum sendiri, tapi kadang sedih lantas nangis-nangis sendiri. Untuk urusan ini aku banyak dibantu oleh drama-drama yang aku tonton, tapi lagi-lagi ketika melihat diri sendiri, apa iya aku bakalan melakukan hal yang menurutku sedikit di luar akal sehat ini? tak taulah.

            Suatu malam aku mendapatkan ucapan maaf dari seorang teman yang sebelumnya kita tak pernah berkomunikasi secara intens. Dia mengucapkan maaf dan aku bertanya kenapa tiba-tiba minta maaf, dia pun manjawab karena ingin minta maaf saja. Beberapa hari dari malam itu aku baru tau ternyata temanku ini baru saja melahirkan seorang putra pertamanya. Aku baru mengerti untuk apa sebenarnya kata maaf itu, ya sepenuhnya untuk menghadapi peperangan dari proses melahirkan seorang anak. Apakah aku akan melawati proses yang satu ini? Mungkin iya mungkin saja tidak. Banyak yang bilang rasanya sakit sekali, tak bisa digambarkan. Aku mengiyakan saja, karena aku memang belum mengalaminya.

            Kemudian proses yang terakhir adalah mati, kematian. Apakah aku akan mengalaminya? PASTI. Seperti apa rasanya, tak ada satu pun orang yang mengalaminya memberikan kesaksian, kalau ada pasti kita bakalan lari tunggang langgang. Mengapa begitu? Iyalah, itu kan artinya kita diberi kesaksian oleh orang yang sudag meninggal. Tetapi, informasi dari beberapa ustadz yang aku tau, katanya rasanya sangatlah sakit, rasa sakit yang paling sakit yang tidak pernah kita rasakah selama kita hidup. Membayangkannya saja aku sudah tak sanggup. Kadang aku menutup mulut dan hidungku, menahan nafas sejenak, ku ingin sedikit merasakan bagaimana rasanya tanpa nafas untuk beberapa saat. Efeknya sukses membuatku sesak nafas dan tak ingin lagi mengulanginya, aku tak ingin mati konyol karena keisenganku.

            Berarti hidup di dunia ini singkat sekali sebenarnya ya, melewati beberapa proses yang telah umum dilalui oleh sebagian besar orang lantas setelah itu kita mati. Pertanyaannya, kalau memang begitu sederhananya kita hidup, mengapa Allah menciptakan manusia begitu banyak, kenapa tidak beberapa saja kalau hanya untuk menjalani proses yang begitu sederhana itu. Jawabannya adalah karena ada maksud, ada alasan kenapa kita diciptakan. Pemikiranku begini, setiap orang yang hidup itu punya misi yang telah diamanahkan kepadanya, lantas ketika misi itu telah selesai maka saat itu pulalah kita harus kembali. Lalu bagaimana dengan orang yang terlahir tanpa punya kesempatan untuk hidup seperti bayi-bayi yang diaborsi atau yang dilahirkan lantas dibuang itu? Ya mungkin misinya hanya sebatas itu, dilahirkan untuk memberikan tambahan kisah bagi ibu yang melahirkan mereka. Aku tak mau berpanjang lebar dengan pemikiranku karena sepertinya jika diteruskan akan keluar jalur. Intinya hidup di dunia ini hanya sementara, jalani prosesnya dengan sebaik-baiknya, jangan terburu-buru untuk melangkah ke proses selanjutnya karena cepat atau lambat kita akan melewatinya, nikmati saja proses yang sedang kamu jalani sekarang. Tak usahlah ingin segera beranjak ke proses selanjutnya hanya kerena orang lain telah mejalani proses itu dan kelihatan bahagia karenanya. Setiap kita punya masa untuk melewatinya. Karena proses yang pasti dijalani adalah kematian, siapkan diri dan bekal untuk menghadapi proses itu. Ini sepenuhnya pengingat untuk diri sendiri, syukur-syukur ada yang ikutan ingat, sehingga bisa jadi amal jariyah di akhirat kelak, aaamiiin.

Advertisements

20 thoughts on “Aku dan Pemikiranku

  1. Iya juga ya, waktu sudah berjalan sesuai kecepatan yang telah diatur Tuhan jadi yang bisa kita lakukan ya menikmati masa sekarang, ketimbang menyesali masa yang telah lalu dan ketakutan dengan masa depan. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok, dan tak ada juga yang bisa mengubah masa lalu :hehe. Jadi mungkin kita nikmati saja apa yang terjadi saat ini dengan melakukan usaha terbaik yang kita bisa, sambil percaya kalau besok pasti lebih baik dari hari ini jika kita melakukan usaha terbaik di hari ini :)).

  2. Saya pernah bikin geger sekelas gara-gara nyebarin kertas isinya minta maaf. Langsung dikira ada apa-apa. 😛 padahal sih abis baca buku dan setuju sama yang ditulis dibuku, jangan sampai terlambat ucapkan kata maaf. Kenapa gak tulis maaf ke teman-teman. gitu.

    makasih banyak mbak buat pemikirannya ya… jadi berpikir banyakkk

  3. Boleh juga nih pemikirannya. :))
    Makanya sekarang gua juga udh coba meninggalkan perkara2 yg gak bermanfaat. Karena umur gak ada yg tau, kalo pas lagi berbuat dosa terus meninggalkan serem ya. Hiii…

  4. Memang secara umum… cerita manusia d planet bumi yaaa seperti itu.. tapi kan yg membuat menarik adalah prosesnya. Prosesnya yg beda antara satu dgn yg lain…

    dan benar sekali… selalu kembalikan pada satu hal, yakni alasan penciptaan manusia d bumi 🙂

    Untuk beribadah dan tidak mmbuat kerusakan di muka bumi serta bermanfaat bagi sesama
    alasan

  5. menjawab pernyataan (apa pertanyaan?) yusuf, biasanya traffic naik karena Dita rajin BW. Iya apa iya? 😀 Tapi itu bagus kok. Nambah ilmu. Sama aja kayak silaturahim ke rumah temen baru. Terus nulis dan jalan-jalan, Dit!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s