Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part2

kisah-cinta-romantis-Islam-oleh-Unik-SegiEmpatBaiklah, ku putuskan untuk segera menceritakan cerita yang sudah terlanjur ku mulai, pantang ngegantung cerita, sekali mulai maka harus selesai. Takut keburu buyar nih ingatan. Sebenernya udah beberapa hari yang lalu selesai nonton nih dorama, malah malam ini udah ada satu lagi doramanya Takeru Sato yang sayang banget kalau nggak diceritain, judulnya Q10 bacanya ‘Kyuto’. Berhubung aturannya first in first out, maka aku selesain cerita ini baru nanti cerita dorama Q10. Padahal udah nggak tahan banget pengen cerita, hmmmm. Bener kan, emang nggak salah nontonin dorama maupun movie yang diperanin sama si Takeru Sato, semacam kayak ada jaminan gitu lo, pas abis nonton rasanya banyak banget pelajaran yang didapet dari tuh tontonan. Nggak kayak film yang kemarin aku tonton, beneran dah berasa rugi banget investasiin waktu dua jam ku untuk film semacam ntuh. Astagfirullah, kenapa jadi ngebanding-bandingin gini yak. Baiklah, daripada makin lama ngelanturnya, yuk lanjutin kisah si Tokuzo sama Tushiko.

            Kemarin nyampe mana ya? Kalau nggak salah sampe di cerita ketika si Tokuzo ngirimin jimat bersalin untuk Tushiko. Nah jimat bersalin itu ada gantungan lonceng kecil gitu, jadi kalau pas digerakin bunyi-bunyi ‘krining’ semacam itulah. Si Tushiko biasa menggunakannya untuk menghibur anaknya di kandungan, analog sama ibu-ibu yang ngajiin anaknya gitu kali ya kalau pas lagi hamil. Nah, naasnya si Tukuzo ternyata ketauan kalau dia bekerja di dua tempat, yakni di restoran Perancis sama kedutaan Inggris. Tindakan Tokuzo merupakan sebuah pelanggaran sehingga mau tak mau dia harus dipecat dari dua tempat dimana dia bekerja. Udah tuh ya, si Tokuzo jadi bingung mau tinggal dimana. Ditambah lagi ketika dia ke kosan Nii-yan (kakak laki-laki) nya, kakaknya ternyata sudah pulang kampung karena sakit parah. Kakaknya menderita TBC. Tokuzo kaget bukan kepalang karena alasan yang sering dia gunakan agar bisa bekerja di dua tempat adalah bilang kalau dia ingin menjenguk kakaknya yang sedang sakit, semacam karma gitu lah ya. Si Tokuzo malu untuk pulang karena dia telah dipecat, dia juga malu untuk memberitahu alamatnya yang sekarang. Dia akhirnya mendapatkan pekerjaan baru sebagai pelayan di sebuah warung kecil milik seorang bapak tua dan istri mudanya.

            Karena tak memberikan alamat yang baru akhirnya si Tokuzo tidak tau kabar tentang keluarga di desanya, tentang Tushiko, maupun tentang kakaknya. Si Tokuzo hanya fokus untuk membuat menu baru untuk warung tempatnya bekerja sehingga dia bisa mendapatkan pelanggan yang banyak. Usahanya sedikit membuahkan hasil, dia membuat sebuah menu dengan nama ‘kari Perancis’ yang sukses membuat orang-orang antre untuk hanya sekedar mencicipi kari buatannya. Setelah beberapa bulan bekerja di sebuah warung kecil, datanglah kabar dari teman sekamarnya dulu ketika bekerja di restoran Perancis kalau dia mendapatkan banyak surat dari desanya. Jadi suratnya nyampe di kosan Tokuzo yang awal, iyalah, dia kan nggak ngasih tau alamat yang baru. Taukah isinya? Ternyata isinya adalah Tushiko tidak bisa melahirkan dengan baik, anaknya meninggal ketika proses kelahiran. Kaget banget kan si Tokuzo, dia langsung pulang ke desanya, pergi ke rumah Tushiko dan meminta maaf atas perbuatan kurang ajar yang telah dia lakukan terhadap Tushiko, bahkan dia tidak ada ketika Tushiko berjuang untuk melahirkan anak mereka. Nah Tushiko ternyata masih sakit, dia kaget akan kedatangan si Tokuzo. Sebelum ke rumah Tushiko, Tokuzo pergi ke rumahnya untuk bertemu dengan ayahnya, dia bukannya minta maaf karena pergi dari rumah tapi malah minta untuk dipinjami uang 100yen. Rencananya uang itu akan dia gunakan untuk membuat sebuah rumah makan di Tokyo, dia sangat yakin akan rencananya itu, dia berniat akan membawa Tushiko ke Tokyo.

            Tokuzo menceritakan rencananya pada Tushiko, ya seperti biasa, Tushiko mendengarkan dengan seksama, menanggapi seperlunya dan bertanya apakah dia mampu menjadi seorang istri yang bisa bersikap ramah pada para pengunjung padahal dia adalah orang yang kaku, Tokuzo pun menjawab,

“Kamu pasti bisa Tushiko” jawab Tokuzo mantap sambil terus berjalan tanpa sadar bahwa Tushiko berhenti berjalan dan cukup jauh tertinggal dari langkahnya. Tokuzo tersadar ketika Tushiko berteriak,

“Tidak, aku tidak bisa, aku tidak mau menjadi istri seorang juragan rumah makan, aku tidak bisa” jawab Tushiko sambil menangis, mengeluarkan air mata yang sedari tadi dia tahan.

“Tushiko, kamu kenapa? Kenapa menangis?” tanya Tokuzo sambil berjalan menghampiri Tushiko. Tokuzo pun melanjutkan,

“Apakah kamu masih sedih karena kehilangan anak kita”

“Apa kamu bilang, sedih? Kamu bertanya apakah aku sedih? Aku sedih sampai tidak tahu akan ku gambarkan seperti apa kesedihanku Kamu tidak akan tahu bagaimana kesedihanku hingga kau merasakan sendiri apa yang aku rasakan. Apa yang ku rasakan ketika pertama kali kau pergi meninggalkanku, berbulan-bulan tanpa kabar, kemudian aku menyusulmu untuk memberikan surat cerai tapi ku urungkan karena kehamilanku, dan kau sama sekali tidak memberika solusi akan permasalahan yang kita hadapi. Aku pun dengan sabar menanggung masa kehamilanku sendiri, menunggu anakku lahir, dan ternyata kau pun tak pernah ada kabar dan tak datang ketika aku tak bisa menyelamatkan anak kita. Dan sekarang kau masih menanyakan apakah aku sedih? Ya aku sedih, sedih sekali, dan aku tak tahu harus ku gambarkan seperti apa rasa sedihku itu padamu” jawab Tushiko panjang lebar, seakan-akan itu adalah luapan emosi dan kata-kata yang selama ini dia tahan. Iyalah, siapa coba yang tahan digituin. Dan perkataan pamungkas Tushiko,

“Aku tidak mau hidup denganmu lagi” teriak Tushiko sambil berlari meninggalkan Tokuzo yang tak tau harus berkata apa karena dia benar-benar tak menyangka Tushiko yang sabar akan mengeluarkan ceramah panjang seperti itu. Tapi, yang namanya laki-laki ya, dia nggak terima lah dihina kayak gitu, dia malah balik berteriak pada Tushiko yang telah agak jauh meninggalkannya,

“aku juga tidak mau tinggal bersama wanita membosankan sepertimu” padahal dalam hatinya dia pengen banget memulai dari awal sama Tushiko tapi apalah daya Tushiko udah nggak mau diajak hidup bareng.

            Tokuzo pun pulang ke rumahnya disambut oleh ayahnya yang setuju dengan permintaannya untuk meminjamkan Tokuzo uang 100yen tapi Tokuzo malah tanpa rasa malu bilang,

“Berikan aku 200 yen, aku tidak jadi membuat rumah makan, aku akan pergi ke Perancis” kata Tokuzo tanpa ekspresi akibat udah diputusin sama si Tushiko. Ayahnya langsung marah dong, si Tokuzo langsung ditampar dan diusir dari rumahnya. Iyalah, kalau aku jadi ayahnya juga bakalan kayak gitu, kayak nggak konsisten gitu, sekarang mau ini eh nggak lama kemudian mau itu. Sebelum kembali ke Tokyo, Tokuzo menemui kakaknya yang dikarantina di sebuah rumah yang terpisah dari rumah utamanya karena kan TBC bisa menular. Nah si Tokuzo menceritakan keinginannya untuk pergi ke Perancis. Kakaknya pun mendengarkan dengan seksama dan sesekali memberikan nasehat pada adiknya yang labil.

            Sesampainya di Tokyo, di warung tempatnya bekerja, ternyata pak tua yang punya tuh warung lagi ke luar kota, tinggal istri mudanya saja. Dan taukah apa yang Tokuzo lakukan? Dia selingkuh dong sama istri mudanya si pemilik warung. Ini akibat dia stress kali ya, udah dicerain (maksudanya nggak diterima gitu sama istrinya, soalnya kan nggak ada ceritanya tuh istri cerain suami wkwkw), terus diusir ayahnya. Sampe di cerita ini nih aku kesel bukan main sama si Tokuzo ini, dia tuh nggak setia banget situ lo, aku sampe mikir apa memang semua laki-laki kayak gitu ya? Punya kecenderungan untuk selingkuh, punya kecenderungan untuk mendua. Tau ah, pokonya aku kessssel pake banget, sampe-sampe seharian aku uring-uringan ngebayangin penghianatan yang dilakuin sama Tokuzo ini, sungguh tak bisa dimaafkan. Tokuzo pun tinggal menetap di warung itu, berusaha untuk melupakan Tushiko dan masalah hidupnya yang lain.

            Suatu ketika, ibu Tokuzo datang berkunjung ke warungnya, dan membawa dua kabar yang sangat mengagetkan. Pertama, ibu Tokuzo bilang kalau ternyata Tushiko telah menikah lagi dengan seorang duda juragan beras yang menginginkan seorang ibu untuk anak dari istri pertamanya yang masih kecil. Aku jleb banget dong denger kabar kayak ginian, apalagi Tokuzo ya, tapi biarin ah, si Tokuzo kan juga selingkuh, tapi aku sedih, kok pasangan ini jadi kayak gini ya cerintanya huhuhuhu. Kabar yang kedua adalah, ibunya membawa uang sebanyak 200 yen untuk Tokuzo, uang itu adalah pemberian dari kakaknya yang sedang sakit TBC, melalui surat kakaknya bilang kalau dia ingin ikut andil mewujudkan cita-cita Tokuzo untuk menjadi koki terbaik di kekaisaran Jepang. Nangis dong si Tokuzo baca surat dari kakaknya. Penyakit TBC yang dideritanya sudah tak bisa lagi disembuhkan, jadi keseharian kakaknya Tokuzo hanyalah berdiam di dalam kamar, semacam karantina lah. Karena itulah sebelum dia meninggal, Nii-yan ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat dirinya bangga, yaitu ikut andil dalam pencapaian cita-cita Tokuzo, menjadi koki terhebat di kekaisaran Jepang.

            Singkat cerita berangkatlah Tokuzo ke Perancis. Dia ditempatkan di sebuah restoran bernama Ritz Charlton sebagai seorang pencuci piring. Pada masa itu orang Eropa sedang begitu apatisnya pada orang-orang di luar bangsa mereka. Orang Asia di sana mereka sebut monyet kuning. Begitulah, Tokuzo diremehkan dan dipandang sebelah mata karena perbedaan warna kulit dan yang pasti postur badan mereka. Akan tetapi, yang namanya emas mah tetep emas ya mau ditaruh dimana pun. Tokuzo memperlihatkan kemampuannya menggunakan pisau dapur yang sangat cepat sehingga orang-orang Eropa itu sedikit demi sedikit mulai mengakuinya sebagai koki dan mengangkatnya menjadi chef. Di Perancis, Tokuzo bertemu dengan seorang perempuan bernama Francoies (enggak tau deh bener apa enggak tulisannya, intinya mah dia ketemu sama perempuan bule lah ya). Mereka menjalin hubungan pertemanan yang lantas berlanjut menjadi hubungan asmara. Kebayang lah ya kalau menjalin hubungan asmara sama orang Eropa, intinya mah mereka udah tinggal serumah aja, udah gitu aja. Ih….. aku makin sebel aja nih sama Tokuzo, dia lupa banget kayaknya udah sama Tushiko. Aku kesel se kesel-keselnya, masak kisah mereka gini amat ya, terlalu banyak orang terlibat di kisah mereka dan sekarang malah cerai dan masing-masing bertemu dengan orang lain.

            Karir Tokuzo melesat di sana sehingga dia menjadi anak buah koki terbaik di dunia saat itu. Tokuzo seperti lupa untuk pulang, dia sudah begitu mencintai profesinya dan kekasih barunya. Akan tetapi, datanglah sebuah berita besar, kaisar Meiji meninggal dunia. Nangis sampe berdarah-darah dong si Tokuzo mendengar berita itu. Di film itu juga ditayangkan kalau seluruh orang jepang berkumpul di lapangan besar sambil menangis sejadi-jadinya. Aku kagum banget sama nasionalisme orang Jepang ini. Pantesan aja jadi Negara yang maju banget, rakyatnya sebegitu cintanya sama pemimpinnya. Mana ada gitu di Negara kita, kepala Negara meninggal terus semua rakyat Indonesia nangis sejadi-jadinya. Dari sini aku belajar kalau orang Jepang begitu mencintai pemimpin mereka. Ya iyalah, kaisar Meiji gitu lo yang meninggal, kaisar yang telah merubah wajah jepang ke arah modern, kaisar yang telah dengan kebijaksanaannya mengeluarkan restorasi yang di kemudian hari dikenal dengan nama restorasi Meiji. Restorasi yang begitu ampuh membawa Jepang menjadi salah satu negera super power di dunia.

            Setelah tiga tahun tinggal di Perancis, Tokuzo mendapatkan surat dari kekaisaran Jepang bahwa dia akan ditunjuk sebagai koki utama kekaisaran Jepang dan akan bertanggung jawab sebagai penyedia menu untuk pengangkatan kaisar (Tennou) jepang yang baru. Antara percaya dan tak percaya membaca surat itu, Tokuzo pun makin dibuat bingung karena dia tau dia tak bisa meninggalkan kekasihnya, si Francoies. Sebagai jalan keluar, Tokuzo mengajak Francoies untuk menikah dan tinggal di Jepang. Aaapppaaa? Nggak terima pokoknya, aku nggak terima. Francoies seneng banget diajakin nikah dan dia setuju dengan ide si Tokuzo untuk bersama-sama tinggal di Jepang. Tetapi, sehari sebelum kepulangannya ke Jepang, si Francoies berubah pikiran, dia tidak bisa meninggalkan Perancis, dia juga ingin seperti Tokuzo, mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang penyanyi hebat di Perancis. Walaupun sangat sedih, Tokuzo merelakan keputusan Francoies, karena dia paham bagaimana tersiksanya tak bisa mewujudkan impian.

            Pulanglah Tokuzo ke rumahnya, dia menemui ayahnya. Ayah Tokuzo antara percaya dan tak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang. Tokuzo yang dulu tak bisa diandalkan sekarang malah menjadi koki utama kaisar Jepang. Beliau bangga tapi sekaligus gengsi untuk menunjukkan kebanggaannya. Jadilah kaku kaku gitu lah, hahaha. Tokuzo langsung menemui Nii-yan nya di tempat karantinanya, dia menjadi sangat kurus karena penyakit yang menggerogotinya. Untuk menjalankan tugasnya sebagai koki kaisar, Tokuzo harus tinggal di Tokyo. Dia tinggal di warung makan tempat dia bekerja dulu, tempat dia selingkuh dulu. Dia menemui istri pemilik warung dan ternyata bapak-bapak pemilik warung itu sudah meninggal. Ketika Tokuzo menyampaikan niatnya untuk menyewa kamar di sana, si istri pemilik warung bilang kalau kamar yang biasa disewakan telah disewa oleh orang lain. Jadi, Tokuzo tetep boleh tinggal di sana, tapi tinggal di kamar yang udah mirip kayak gudang gitu. Tapi, karena tak ada pilihan lain, Tokuzo tak keberatan tinggal di sana.

            Tokuzo tak pernah bertemu dengan ornag yang menyewa kamar di warung itu. Kata istri si pemilik warung, yang menyewa kamar iru adalah seorang perempuan yang sering berangkat malam dan pulangnya pagi hari. Makanya si Tokuzo tak pernah ketemu sama tuh orang. Suatu hari ketika Tokuzo lagi digodain sama istri si pemilik warung ada orang yang tiba-tiba masuk ke dalam warung itu. Tau nggak siapa? Si Tushiko tau. Tushiko langsung kaget melihat adegan di depan matanya, dia langsung minta maaf dan pergi. Si Tokuzo juga tak kalah kagetnya, dia langsung mengejar Tushiko untuk menjelaskan apa yang dia lihat tadi. Jadilah mereka mengobrol berdua. Tushiko ikut senang mendengar kalau Tokuzo sekarang menjadi seorang koki utama kaisar. Nah si Tokuzo penasaran kenapa si Tushiko bisa berada di tempat ini, bukannya dia sudah menikah. Tushiko pun menjawab,

“Aku memang sudah menikah, aku mengasuh anak suamiku dari istri sebelumnya. Tapi aku sering sekali merasa diintip oleh seseorang ketika aku menggendong anak suamiku. Suatu hari aku tau kalau yang mengintip itu adalah istri suamiku yang pertama, dia sangat ingin bertemu dengan anaknya, ingin sekali mengasuh anaknya tapi tidak bisa karena dia sudah bercerai dengan suaminya. Jadi, aku memutuskan untuk kabur dari rumah itu dan meninggalkan surat cerai agar si ibu itu bisa tinggal bersama anaknya. Karena aku tau bagaimana rasanya kehilangan anak” jawab Tushiko. Tuh kan liat, emang hati malaikat banget ya si Tushiko ini. Oya satu lagi yang main ngebuat aku sedih adalah tau nggak alasan Tushiko minta cerai dari Tokuzo? Alasannya adalah karena dia tidak ingin Tokuzo kehilangan impiannya untuk menjadi seorang koki. Kalau dia punya rumah makan kan mentok-mentoknya dia cuma jadi majikan rumah makan, nah Tushiko tuh nggak mau Tokuzo hanya sebatas itu. Dia ingin Tokuzo menggapai impiannya untuk menjadi seorang koki terbaik di kekaisaran Jepang. Tushiko juga tak ingin menjadi cangkang siput yang memberatkan siput untuk bergerak. Dia memutuskan untuk bercerai dengan alasan agar si Tokuzo bisa lebih cepat bergerak dan menggapai impiannya tanpa beban cangkang (dirinya) di pundah Tokuzo. Bayangin dong, punya istri kayak gini. Mendukung impian suami dengan cara dia sendiri. Ya, walaupun aku agak nggak setuju sih soalnya kan bisa aja gitu ya berjuang bersama, justru kan kalau bareng-bareng jadi lebih mudah. Tapi itu kan udah jadi keputusannya si Tushiko ya mau gimana lagi. Tokuzo penasaran akan pekerjaan Tushiko, karena dia sering berangkat malam dan pulang pagi, terkesan seperti wanita gimana gitu ya. Tapi ternyata Tushiko jadi seorang bidan lo, membantu wanita di berbagai wilayah untuk melahirkan, makanya sering berangkat malam pulang pagi.

            Tokuzo menjadi koki utama kaisar ketika umurnya 26 tahun, muda banget ya. Kebayang dong semuda apa dia pas nikah sama Tushiko dulu, makanya dia nggak dewasa. Tokuzo berjuang keras untuk menyiapkan menu terbaik pada hari penobatan kaisar yang baru. Pada hari itu akan ada tamu dari berbagai Negara, jadi hari itu akan jadi hari pembuktian keahlian Tokuzo. Tushiko juga dimintai pendapat oleh Tokuzo terkait pemilihan menu dan seperti biasa, Tushiko selalu memberikan solusi yang membuat Tokuzo kembali bersemangat. Pada hari penyambutan banyak yang dibuat kagum dengan masakah yang dibuat Tokuzo. Acara jamuan makannya sukses. Di lain pihak, kedua orang tua Tokuzo sedang membacakan menu-menu apa saja yang disajikan di acara jamuan makan itu di samping Nii-yan yang sedang sekarat. Nii-yan mendengarkannya dengan seksama dan timbul rasa bangga dalam dirinya karena pencapaian Tokuzo. Beberapa hari setelah hari pengangkatan kaisar baru, Tokuzo mendapatkan surat dari orang tuanya bahwa Nii-yan sudah meninggal. Tokuzo benar-benar terpukul mendengar kabar tersebut. Dia nangis di pinggir sungai. Tushiko dengan sedikit enggan ingin menghampiri Tokuzo tapi beberapa langkah dia kembali berbalik badan karena tidak ingin menggaggu Tokuzo,

“Kau tak menggangguku” kata Tokuzo tiba-tiba. Yang membuat langkah Tushiko tertahan. Tokuzo pun melanjutkan,

“Setiap orang yang ku kenal datang dan pergi. Aku tidak bisa menahan kepergian mereka. Karena aku sekarang sudah bertemu denganmu, maukah kau hidup bersamaku?” Tanya Tokuzo. Tushiko hanya terdiam mendengar penuturan Tokuzo yang ngebuat aku nggangguk-nggangguk tanda setuju. Ya elah, siapa yang ditanya siapa yang nggangguk hahaha. Karena Tushiko cuma diem aja, Tokuzo melanjutkan kata-katanya,

“Apa kau mungkin sudah terlalu muak padaku?” kata Tokuzo berputus asa.

“Tokuzo-san, aku akan hidup lebih lama darimu, jadi jangan sungkan (mengajakku hidup bersama)” jawab Tushiko. Beda banget ya jawabannya orang bijak kayak Tushiko. Jadi dari jawaban itu dia ingin menegaskan kalau Tokuzo tak usah khawatir akan mengalami rasa kehilangan lagi, karena Tushiko akan hidup sampai Tokuzo nanti meninggal. Tokuzo pun tak bisa untuk menangis sejadi-jadinya mendengar jawaban Tushiko. Adanya ya kalau dorama-dorama biasa itu, bakalan meluk gitu ya. Kalau nih dorama, pas Tokuzo mendengar jawaban Tushiko, dia malah balik badan dan nangis sejadi-jadinya, nah ini malah yang ngebuat nih dorama spesial. Jadi rasa sedihnya tuh makin dapet aja. Akhirnya Tokuzo dan Tushiko menikah lagi dan dikaruniai 3 orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan.

            Banyak kejadian yang terjadi selama Tokuzo dan Tushiko hidup bersama, mulai dari gempa Jepang yang mngakibatkan banyak korban dan pengungsi, bom atom yang dijatuhkan oleh Amerika sebagai balasan dari penyerangan yang dilakukan oleh tentara Jepang. Jadilah Jepang Negara jajahan Amerika. Aku tak mau ceritain itu, aku mau ceritain kisahnya si Tushiko sama Tokuzo aja. Karena kesibukannya yang begitu padat, Tushiko jadi punya penyakit yang sering membuat dia sakit di bagian dada. Pada suatu hari, ketika Tokuzo sedang berada di rumah, Tushiko jatuh dan memegangi dadanya yang sepertinya sakit sekali. Setelah diperiksa oleh dokter, ternyata di Tushiko menderita gagal jantung. Jadi dia tidak boleh beraktivitas yang terlalu melelahkan. Jadilah Tokuzo menjadi begitu protektif terhadap Tushiko. Akan tetapi, penyakit Tushiko seperti tidak kunjung membaik, semakin hari dia semakin lemah. Tokuzo pun sampai cuti dari pekerjaannya untuk merawat Tushiko. Setiap hari dia selalu mengubah menu untuk dimakan Tushiko, tapi ya gimana namanya juga orang sakit, lama kelamaan Tushiko makin sedikit saja makanan yang dia makan. Ketika sedang menyuapi Tushiko, terjadilah obrolan di antara mereka berdua,

“Aku adalah wanita yang beruntung karena aku dirawat oleh seorang koki kaisar” papar Tushiko pada Tokuzo. Tokuzo pun tak bisa menahan rasa harunya mendengar penuturan si Tushiko. Tushiko melanjutkan kata-katanya,

“Apa artinya Je’taime? Kata itu kamu tulis di akhir surat yang kau kirimkan padaku pertama kali” Tanya Tushiko.

“Itu artinya kau harus makan masakanku hari ini, besok, besoknya lagi, dan seterusnya. Bukankah kau sudah berjanji padaku untuk hidup lebih lama dariku?” Jawab Tokuzo sambil menangis di depan Tokuzo. Je’taime itu bahasa Perancis yang artinya, aku cinta padamu. Aku nangis dong liat adegan mereka berdua ini, sedih banget seriusan. Kerasa banget bagaimana cintanya si Tokuzo sama Tushiko, kerasa banget gimana takut kehilangannya si Tokuzo.

“Kamu tau ini apa?” Tanya Tushiko sambil menujukkan lonceng yang selalu dia pakai kemanapun dia pergi.

“Itu lonceng mu bukan?” jawab Tokuzo

“Kamu tau tidak darimana aku mendapatkan lonceng ini? Ini adalah lonceng dari jimat bersalin yang dulu kau belikan untukku” kata Tushiko. Makin menjadi-jadilah sedihnya si Tokuzo. Dia benar-benar tak ingin kehilangan istri yang begitu dia sayangi, penyabar, dan setia seperti Tushiko.

“Lonceng ini, ambillah. Karena kamu sangat mudah marah, aku khawatir padamu di masa depan dengan sifat tempramen seperti itu. Simpanlah lonceng ini dan ketika kau akan marah dan lonceng ini berbunyi, ingatlah padaku, ingatkah kata-kataku hari ini, tahanlah emosimu” kata Tushiko berpanjang lebar.

“Kamu bicara apa, jangan berbicara omong kosong” Jawab Tokuzo dengan ketus karena omongan istrinya seperti sebuah wasiat buatnya dan benar saja Tushiko meninggal pada hari itu. Tokuzo benar-benar terpukul dengan kepergian Tushiko. Kemanapun dia pergi, Tokuzo selalu membawa serta lonceng itu dan sangat ampuh menahan emosinya. Ketika Tokuzo akan marah, ketika dia menggerakkan badan untuk meluapkan kemarannya, lonceng pemberian Tushiko juga ikut berbunyi sehingga Tokuzo tidak jadi marah. Begitulah Tokuzo menjalani sisa hidupnya tanpa Tushiko, tapi dia tetap merasakan kahadiran Tushiko dari lonceng yang kemanapun selalu dia bawa. Hingga Tokuzo pensiun sebagai seorang koki utama kaisar Jepang setelah sekita 60 tahun mengabdi. Di akhir film itu menayangkan Tokuzo yang sudah tua dan dinyatakan telah selesai dengan tugasnya alias dipensiunkan dan dia tetap setia menyimpan lonceng pemberian Tushiko.

            Manis banget nggak sih nih cerita, mulai dari pernikahan yang tak diinginkan kemudian berakhir dengan perceraian karena tak dewasanya seorang Tokuzo dan masing-masing dari mereka telah bersama orang lain sebagai pasangan mereka. Tapi akhirnya mereka kembali disatukan karena memang rasa cinta belum pergi dari hati mereka masing-masing. Mereka pun hidup bersama hingga salah satunya menemui ajal dan yang satunya tetap setia sampai usia senja. Berliku-liku banget ya kisah cintanya. Pelajaran yang bisa diambil dari kisah ini adalah kesetiaan, dukungan, dan kesabaran memang wajib dimiliki oleh seorang istri. Ya jadi istri memang harus gitu. Bagaimana dengan seorang suami, janganlah terlalu mudah mendua ya walaupun kalian punya kecenderungan untuk melakukan itu hahaha. Setialah pada istri kalian yang telah dengan segenap jiwa raga memberikan kesetiaan, dukungan, dan kesabaran kepada kalian. Jadi pasangan suami istri yang memang harus begitu. Lega, akhirnya ceritanya selesai juga, maaf ya panjang banget, :D.

Advertisements

12 thoughts on “Jadi Istri Apa Emang Gitu Ya #part2

  1. Sumpah, ane pengen nangis baca ringkasan dorama yang ente tulis ini sebanyak dua bagian.. TT^TT

    Dan sedihnya lagi, pas ane baca ini, ane bacanya di warnet, jadi malu banget buat nangis, haha..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s