Kematian

Di malam minggu yang sesunyi ini, aku sendiri, tiada yang menemani. Eh ada ding, mbak kosan kan ada yang nggak pulang, jadi seenggaknya malam minggu kali ini nggak sendiri-sediri amat, wkwkwk. Nggak masalah sih sendiri, so what gitu ya, orang udah 23 tahun sendiri juga biasa-biasa aja (hahaha, baper). Emang ga masalah sih sendiri tapi kadang ngerasa horror aja sendirian di kosan, di luar angkasa (read: Bekasi, wkwkw), dan di tengah maraknya pemberitaan pembunuhan wanita di kos-kosannya. Jadi ngerasa was-was aja, tapi rasa was-was ini tak bisa sepenuhnya dibenarkan, karena apa? Karena sesungguhnya seorang muslim tak pernah sendiri, karena selalu ada Allah di hatinya (hm… adem ya).

Malam minggu kan malam dimana kita akan menuju hari malas sedunia (read: minggu) yang katanya banyak yang bilang malam yang panjang, malam yang asyik buat tiduran. Nah berbekal syair itu, entah kenapa aku jadi nguantuk pake banget abis sholat magrib. Jadilah langsung tuh rebahan aja dengan niat pengen nikmatin malam minggu, malam yang panjang. Dua jam pun berlalu dan aku pun terbangun dengan mata yang penuh dengan air mata, mengalir tanpa bisa dibendung. Kok bisa gitu? Semua air mata ini dikarenakan mimpiku yang erat kaitannya dengan judul tulisan ini, kematian. Aku bermimpi dipisahkan dengan saudara kembarku karena kematian. Aku nggak nyangka bakalan sesedih itu, awalnya aku kuat, tapi lama kelamaan aku nggak kuat, akhirnya tiap kali ingat kalau mbak Dila meninggal, aku jadi nangis sejadi-jadinya (read: di mimpi). Saking nyatanya tuh mimpi, air matanya ampe jadi kenyataan di dunia nyata. Pas bangun bukan cuma air matanya aja yang masih ada, tapi rasa sedih dan kehilangannya masih melekat di hati dan pikiran. Pikiranku langsung kemana-mana, sanggupkah aku ditinggalkan oleh orang-orang yang ku sayangi karena kematian? Di mimpi aja rasanya udah sakit banget, ngilu banget nih hati.

Jadi teringat pertanyaan seorang teman,

“Dit gambar yang kamu liat pertama kali apa?” tanyanya pada suatu pagi

apel

kalau kamu liat apa pas pertama kali liat gambar ini?

Ku jawab saja “apel” karena memang gambar itulah yang pertama kali ku lihat. “kenapa emang?” tanyaku melanjutkan pertanyaan, penasaran.

“kalau kamu lihat gambar apel berarti kamu takut akan kematian, kalau liatnya kupu-kupu berarti kamu takut dihianati” kata temanku menjelaskan

“beneeer bangeeet” jawabku kegirangan. Iya tau seriusan, aku selalu takut akan kematian. Mungkin karena taqwa dan bekalku masih minim kali ya, jadi bawaannya takut aja yang mau mati. Melihat pemberitaan para jamaah haji yang meninggal karena tertimpa crane yang jatuh ketika melaksanakan ibadah di tanah suci, rasanya ingin sekali menjadi salah satu bagian dari mereka. Tapi lagi-lagi, pas liat foto para korban aku jadi ciut sendiri, pasti sakit banget, pasti kaget banget, pasti takut banget. Apakah aku siap menjadi seperti mereka tertimpa crane yang beratnya bisa bikin orang kepenyet kalau tertimba tuh besi. Tuh kan, emang dasar masih tipis nih iman sama taqwaku. Ya Allah kenapa hamba menjadi begitu takut, padahal sejatinya kematian akan semakin mendekatkan hamba dengan-Mu. Akhir-akhir ini aku selalu bertanya-tanya, apa ya kiranya penyebab kematianku nanti? Apapun penyebabnya, ku harap aku akan mati dalam keadaan khusnul khotimah, aaamiiin.

Waktu kecil aku juga sering berkhayal tentang kematian, membuat kesepakatan tak masuk akal dengan Allah yang sekarang ku tahu itu sangatlah kekanak-kanakan, ya iyalah namanya juga anak-anak. Aku sering bergumam pada diri sendiri,

“ya Allah, hamba rela mati sekarang juga asalkan langsung masuk surga tanpa hisab”

            Hahaha, ngakak nggak sih baca kalimat di atas. Kalau inget masa itu jadi malu sendiri. Kenapa gitu? Ya iyalah malu, siapa aku gitu ya, minta mati sekarang dengan syarat yang muluk abis. Ya kali aku bakalan dengan semudah itu dikasih surga tanpa melewati ujian terlebih dahulu. Surga itu mahal mbak bro, hanya orang-orang yang berani berkorban lebih, beribadah lebih, berlebih sabar menghadapi ujian yang bakalan dapetin tuh surga. Itu pun mereka masih dihisab. Lah aku yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa malah minta surga tanpa hisab hanya ditukar dengan kematian yang tiba-tiba. Ya maafkanlah pemikiran dangkal tempo doeloe itu, namanya juga anak-anak, masih polos, dan masih belum mengerti apa-apa tapi sangat mengharapkan surga.

            Takut akan kematian ini pulalah yang membuatku begitu takut naik pesawat, jadi bawaannya deg degan aja kalau lagi naik pesawat, kesannya masih sayang banget sama nyawa. Padahal kan nggak boleh gitu ya, kalau udah takdir ya mau ngehindar kayak gimana juga pasti bakalan mati. Suatu hari, aku lagi ngobrol sama anak SMA yang udah kelas tiga, iseng-iseng nih nanya-nanya pengen masuk universitas apa,

“saya pengen masuk kedinasan kak, angkatan udara, pengen kayak bapak saya” jawabnya mantap.

“wah…. Keren banget, emang nggak takut naik pesawat. Kan akhir-akhir ini sering tuh berita pesawat jatuh” tanyaku penasaran.

“nggak sih kak, kalau emang nasibnya meninggal ya meninggal, mau gimana lagi” jawabnya bijak.

            Jleb banget dong dikasih jawaban yang begitu dewasa sama anak yang umurnya terpaut agak sedikit jauh dariku. Tuh liat, anak umur segitu udah tau hakekat sebuah nasib dan takdir kematian. Sedangkan aku masih dengan pemikiran cupuku yang takut akan kematian. Emang sebegitu indahnya ya dunia sampe sebegitu nggak relanya ninggalin dunia? Iya juga sih ya, perasaan dunia nggak indah-indah amat tuh, malah terkadang sangatlah tidak indah dengan berbagai problematikanya. Lantas, kenapa masih takut mati? Ya… mungkin ini proses yang harus dijalani hingga nantinya aku akan mulai tak taku akan kematian.

Advertisements

7 thoughts on “Kematian

  1. Itu teori dari mana itu yang tentang “apel” dan “kupu-kupu”??

    “… udah 23 tahun sendiri …” ane bacanya seakan-akan ente udah ditinggalin ma keluarga dari orok.. Habis seumur hidup, hidup sendiri sih, haha..

      • Gak murni jawaban ane.. Soalnya ane gak langsung lihat gambar.. Jadi awalnya ane baca tulisan ente.. Pas ente nulis kalau ente lihatnya “apel”, secara refleks otak ane berkata, “pasti ada gambar lain.”

        Walhasil ketika ane ngelirik gambarnya, yang terlihat pertama kali adalah “kupu-kupu”..

      • Hmm.. Bisa jadi, haha.. Sejak SMP ane udah punya prinsip tidak mau punya teman yang “terlalu dekat”..

        Tapi sebenarnya maksud pertanyaan ane itu dapet simpulan dari mana tuh orang hingga mengatakan kalau yang dilihat pertama apel artinya takut kematian dan kalau kupu-kupu artinya takut dikhianati..

      • Ga tau jg ya itu test nya valid ato nggak…. intinya di gambar itu kan ada 4 gambar ada apel, kupu2, pisau, trs ulet. Nah…. setiap gambar yg diliat pertama kali katanya ada maknanya. Aku dikasih tau tmenku cm klo liat apel sm kupu2. Bnyak kok tesr itu berkeliaran d fb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s