Menjadi Ansosmed

Dampak-Sosial-MediaCoba aku mau tanya ya, ada berapa media sosial (medsos) yang kalian punya? Tiga, empat, lima, atau bahkan lebih. Aku pernah punya instagram, facebook, path, twitter, dan line. Di antara kelimanya, yang serin aku buka adalah instagram dan facebook. Blog tak aku masukkan ke dalam kategori medsos karena menurut sepemahamanku, media sosial adalah media online yang digunakan untuk mencari tahu lebih jauh tentang seseorang (kepo) atau berhubungan lebih intens dengan orang lain, selalu mengambil jatah waktu terbanyak ketika menggunakannya, dan meninggalkan rasa sesal ketika selesai mengotak-atiknya karena seringkali informasi yang didapatkan sebenarnya nggak penting-penting amat untuk menginvestasikan waktu sebanyak itu. Nah berhubung ngeblog itu bukan sarana kepo, nggak intens berhubungan dengan orang yang spesifik, nggak terlalu makan waktu, dan banyak manfaat yang didapat, jadilah wordpress bagiku bukanlah medsos.

            Aktif di sebuah medsos telah ku alami dalam beberapa tahapan. Ketika di awal-awal kuliah, aku sangat aktif di facebook. Ketika masa peralihan itu, baru ku sadari kalau facebookku selama SMA banyak diisi dengan status yang sangat-sangat alay, huruf besar kecil, memakai kombinasi huruf dan angka, serta update status yang sama sekali tak penting. Aktif facebook kembali tatkala kuliah bukan tanpa alasan. Kala itu, orang yang aku ‘menaruh perhatian lebih padanya’ cukup aktif di facebook. Jadinya mau tak mau diriku harus aktif di facebook untuk sekedar mengetahui kalau dirinya juga sedang online. Memasang status yang nyeleneh dengan harapan di komentari atau paling tidak di like, bahkan besar harapan dalam diri agar dia memulai chatting duluan. Kenapa nggak chatting duluan aja? hellow… sesuka-sukanya aku sama orang, aku nggak mau dan nggak akan pernah mulai chat duluan, itu prinsip hahaha. Kalau sudah dikomen, amboy… bukan kepalang senangnya. Sumpah itu masa paling nggak banget. Masa iya bela-belain mantengin facebook cuma buat mantengin orang lain online apa nggak.

            Beranjak ke tingkat akhir, alokasi buat facebook mulai berkurang, perhatianku beralih ke twitter. Beralihnya diriku pada twitter bukan tanpa alasan. Lantas alasannya? Ya karena ikut-ikutan temen aja soalnya kesannya kalau facebook kayak terlalu privasi dan ribet, kalau twitter kan bebas mau update apa aja dan dalam waktu singkat tweet-an kita bakalan tenggelam sama tweet-an yang lain. Alasan besar lainnya adalah karena orang yang ku kagumi ketika SMA dan lanjut hingga kuliah juga aktif di twitter hahaha. Berhubung aku sukanya dalam diam, jadinya ya gini deh ngikutin media sosial apa yang sedang dia tekuni. Tapi nggak segitunya juga ya aku sukanya, aku emang pada dasarnya suka twitter karena simple dan informasi yang disampaikan cepet. Aku sih pas awal-awal sering banget nge-tweet, sampe nih ya, aku dijulukin detik.com soalnya aku katanya tweet-annya sering banget, nyama-nyamain detik.com. Pernah beberapa kali aku pengen banget kamu… iya kamu… balesin tweet-anku tapi ya berkali kali pula harapan itu tak terkabul. Karena yang terjadi adalah, ketika aku tak mengharapkan balasanmu, tiba-tiba kamu tuh ngebales tweet-an ku dan itu bikin hari itu jadi indah hahaha, luebbbay. Tapi pernah suatu malam, aku udah jenuh banget nungguin tanggapanmu atas tweet-anku yang tak pernah me-mention namamu tapi aku sadar itu tweet-an untukmu. Eh… tanpa diduga kau membalasnya, senengnya banget banget pake banget hahaha. Sesederhana itu sih menyukai bagiku, tak harus kamu tahu, cukup aku saja yang tahu. Karena aku tak mau menodaimu dan aku tak mau merusak diriku, menyukaimu seperti ini saja juga cukup bagiku. Walaupun nanti toh kamu dengan yang lain ya tak masalah, toh kamu juga tak pernah tau perasaanku. Aduuuuh… ini ngomongin apaan sih, maap yak lagi baper.

            Masa twitter pun berakhir, beranjak ke masa instagram (IG). Ketika kuliah aku benar-benar tak mau membuat akun instagram walaupun teman-temanku menyarankan untuk membuatnya. Katanya sih menyenangkan gitu, bagi-bagi foto aktifitas sehari-hari kita, makanan yang kita makan, pemandangan, dan apapun itu yang bisa difoto. Aku bukannya tak tertarik tapi HP ku yang jadul tak mengizinkanku menginstallnya. Aku telah mengazzamkan diri untuk menginstall instagram ketika aku telah punya HP baru dan Alhamdulillah aku udah ganti HP. Langsung lah ku install instagram, path, dan line. Instagram menjadi sangat menarik dan dalam waktu singkat aku menjadi sangat aktif di IG. Bukan aktif posting-in foto tapi aktif kepoin orang-orang yang menarik untuk dikepoin. Apakah kepoin orang yang ku suka? Sekarang nggak lagi, kepoin orang-orang lucu, aneh, dan kocak menjadi lebih menarik perhatian toh kamu… iya kamu… tak terlalu aktif di IG. Selebgram yang sering bikin video dubsmash atau parodi yang mengocok perut menjadi incaranku tiap harinya. Akibat jarang liburan kali ya, jadi hiburannya video-video singkat di IG. Tiap waktu selalu mantengin IG, duduk berjam-jam pun menjadi tak terasa, benar-benar menguras waktu. Padahal waktu yang ku gunakan untuk membuka IG bisa aku gunakan untuk hal lain yang lebih positif.

            Kemana-mana menjadi tak tahan untuk tak melihat HP. Aku benar-benar merasa terganggu. Aku tak mau menjadi sosok nomofobia (No mobile phone fobia) dan kalau terus dibiarkan sepertinya aku akan menuju ke syndrome itu. Kenapa kekhawatiran itu ada? Karena aku tipe orang yang totalitas ketika ingin mengetahui sesuatu. Misalnya nih, aku lagi pengen tau si A. Jadilah aku akan kepoin semua medsos yang dia punya hingga aku merasa puas akan ke-kepo-anku. Misalnya saja, aku sempat terjerat sama pesonanya actor jepang Takeru Sato, jadilah selama beberapa minggu ku habiskan untuk mencari tahu secara detail siapa si Takeru ini. Makin banyak aku tahu, makin besarlah rasa sukaku dan makin banyak pula waktu yang aku alokasikan untuk berkutat dengan media sosial yang berkaitan sama si Takeru Sato.

            Beberapa hari yang lalu aku menyadari kesalahan perilakuku. Akhirnya ku putuskan untuk menantang diri sendiri, sejauh mana diri ini bisa bertahan ketika ku putuskan untuk menjadi seorang ansosmed (anti sosial media). Dua hari yang lalu ku uninstall semua media sosial yang ada di HP ku (fb, IG, path, twitter, line) hanya ku sisakan whatsapp (telah menjadi kebutuhan hidup dan kerjaan) dan BBM (ini sarana untuk berhubungan dengan anggota keluarga). Hari ini adalah hari kedua dan apa yang aku rasakan? Hidupku benar-benar tenang dan damai. Banyak sekali waktu produktif yang bisa aku alokasikan untuk mengejar impianku yang sempat ditutupi oleh bayang-bayang media sosial. Aku tak mau melalaikan keinginanku untuk mengejar impian hanya gara-gara meladeni media sosial itu, yang ada malah aku hanya bisa jadi penonton kesuksesan orang lain dan lalai untuk meraih kesuksesan diri sendiri. Emang aku agak lebay sih nanggepin medsos, ya atuh gimana kalau emang dampaknya segitu jauhnya buatku. Sebelum benar-benar terlihat dampak buruknya, akhirnya ku putuskan untuk mengambil langkah berani, langkah yang benar-benar ku syukuri karena ternyata menjadi ansosmed sangat sangatlah menyenangkan. Bisa bertahan berapa lama ya kira-kira menjadi ansosmed? Nanti aku ceritain deh kalau nanti medsos itu sudah kembali aku install. Aku berani menantang diri sendiri untuk menjadi ansosmed, kalau kamu gimana? Kamu… iya kamu.

Advertisements

Grabtaxi for The First Time

grabtaxi-logoCeritanya minggu kemarin aku dan beberapa temanku pergi ke dufan untuk sejenak melupakan beban. Seumur-umur baru pertama kali ini ke dufan dan rasanya exited banget. Maklum lah ya, apa-apa yang berbau pertama kali itu bakalan berkesan banget, contohnya nih, pertama kali masuk kuliah, pertama kali naik pesawat, pertama kali naik gojeg, dan pertama kali ketemu kamu… kamu… iya kamu. Tapi jujur, pertama kali ketemu kamu tuh nggak berkesan-berkesan amat sih, malah awalnya nggak suka, sebel, kesel, eh… kok makin ke sini-sini malah ngangenin. Ooops… sourry… kok malah curcol wkwkwk. Balik lagi ke dufan tadi. Jadi ceritanya gini. Teman sejawat ada yang punya tiket dufan gratis, dia dapet dari suaminya yang kerja di sebuah perusaan, sebut aja Suzuki (hahaha malah nyebut merk). Nah, berhubung si temen ini ada acara, jadinya ada empat tiket masuk dufan gratis dan dapet makan siang pula. Siapa coba yang kagak kepengen? Aku yang notabene adalah manusia normal dengan berbagai tawaran menarik yang ditawarkan akhirnya tanpa babibu langsung menawarkan diri untuk membeli tuh tiket, dengan harga miring tentunya.

            Berangkatlah kita berempat, aku, bak Dila, dan dua temanku ke dufan dengan hati riang gembira. Tak terhitung berapa kali hati ini menggumamkan kalimat ‘it’s holiday’. Pas nyampe dufan ternyata rombongan family gathering dari Suzuki ini buanyaaak banget, nggak bisa dibilang buanyak aja. Kita pun berpisah, aku sama mbak Dila dan dua temanku berduaan. Karena nyampe dufannya agak siang, jadilah aku dan mbak Dila memutuskan untuk ambil makan siang dulu biar nggak kepikiran makan pas naik wahana. Makan pun selesai dan tau nggak, pas nyampe ke dalem, antreannya masyaAllah banget. buat gambaran ya, rata-rata waktu ngantre untuk naik satu wahana itu satu jam, malah aku pas mau naik hysteria ngantrenya 1.5 jam. Keren nggak tuh, padahal naiknya ada kali ya cuma semenit, ngentrenya 1.5 jam. Hari itu aku hanya berhasil menaiki dua wahana, hysteria dan Niagara-gara, nggak kuat sama antreannya.

            Hari pun beranjak sore dan kita memutuskan untuk pulang ke alam masing-masing. Aku pun berpisah dengan mbak Dila di stasiun Jakarta Kota, mbak Dila naik jurusan ke Bogor, sedangkan aku dan ketiga temenku masih menunggu ufo buat ke Bekasi hahaha (canda). Perjalanan ke Bekasi cukup memakan waktu, kita pun berdiskusi, alat transportasi apakah yang akan kita naiki pas nanti nyampe di stasiun bekasi berhubung dari stasiun ke kosanku masih dua kali naik angkot. Kalau aku sih udah biasa naik gojeg, murah, cepat, tepat. Nah dua orang temanku ini masih bingung, yang satu udah sepakat buat naik gojeg tapi satunya lagi ingin mempertahankan prinsip, dia tidak mau boncengan selain dengan mahramnya (prok prok prok). Temenku yang satunya juga punya prinsip yang serupa tapi karena menurut dia keadaannya darurat jadi dia memutuskan untuk naik gojeg saja. Lalu prinsipku? Kalau aku sih masih memperbolehkan diri boncengan sama abang gojeg karena menurutku kita berdua sama-sama tidak saling kenal sehingga kekhawatiran untuk timbulnya hal-hal yang tak diinginkan (semisal rasa yang tak seharusnya dirasa) akan sangat tidak mungkin. Ya kali ada rasa, orang abang gojegnya biasanya bapak-bapak. Pernah sih sekali ketemu abang gojeg yang cakep, tapi balik lagi, ya kali… secepat itu timbul rasa hahaha.

            Perbedaan pendapat antara dua orang temanku ini sudah mulai agak sedikit panas. Satunya mempertanyakan bagaimana prinsip yang selama ini dia pegang. Aku hanya diam saja sembari meyakinkan dalam hati kalau aku akan tetap naik gojeg soalnya uangku kala itu cuma tinggal 20 ribuan akibat nafsu jajan yang tak bisa dibendung. Tak ingin keduanya berselisih pendapat akhirnya aku teringat pada aplikasi grabtaxi. Aku pun menawarkan pada mereka berdua dan api perdebatan mulai padam. Alhamdulillah, kita pun sepakat untuk naik taxi memakai aplikasi grabtaxi, lumayan dapet potongan 10ribu. Ufo pun sampai di stasiun bekasi (wkwkkwk), kita turun dengan hati-hati dan aku langsung menuju tempat charger HP karena baterai HP ku yang mulai melemah. Sesampainya di tempat charger HP, di sampingku ada seorang wanita seumuranku atau mungkin lebih muda yang sedang duduk sendiri sambil memandang cemas pada layar HP nya. Ku dengar temanku menanyakan si mbak ini, aku masih sibuk memesan grabtaxi. Ternyata si mbak-mbak ini ingin memesan gojeg tapi selalu trouble dari tadi dan hari mulai beranjak malam.

            Berhubung aku pernah di posisi si mbak-mbak ini akhirnya aku menawarkan diri untuk memesankan gojeg padahal pesananku sendiri belum kelar. Pas nanya alamatnya ternayata kita searah, lantas kita menawarkan, kenapa nggak bareng kita aja yang bakalan naik taxi juga, kan lumayan tuh, win win solution, mbak nya bisa pulang terus kita bisa dapet harga yang lebih murah. Kita pun sepakat. Banyak sekali keuntungan yang didapat ketika naik taxi pakai grabtaxi dan yang paling terasa adalah rentang harga taxi yang harus kita bayar sudah bisa kita ketahui sebelum kita naik ke taxi yang bersangkutan plus dapet diskon pula. Jadi nggak perlu ketar-ketir karena mikirin argo taxinya. Naik taxi tak pernah setenang ini haha. Dibayar berapa sih gue promosiin grabtaxi sampe segininya hahaha. Tak lama berselang bapak taxi menghubungiku dan kita pun pulang dengan rasa aman, mudah, cepat, tepat, dan nyaman. Terimakasih grabtaxi.

NB: buat kamu kamu yang berniat naik taxi pake grabtaxi, bisa klik link ini ya http://invite.grabtaxi.com/pradita82750 lumayan lo, nanti bakalan dapet potongan tarif 30 ribu. Kapan lagi bisa naik taxi semurah ini hahaha.

Hwayi: a Monster Boy

260ae79ba0c94990805e7abc0c3f2166Awalnya niat nggak niat buat nontonin nih film. Filenya udah tergeletak cukup lama di folder ‘movie and drama’. Emang suka gitu sih, minta membabi buta tatkala ada yang nawarin drama atau film baru. Nontonnya sih nggak tau kapan, tapi percaya deh akan ada masa dimana kalian ngerasa sendiri dan nggak tau ngelekuin apaan. Nah, di saat itulah bakalan ada rasa kepengen banget buat nonton film atau drama. Pada saat itulah file film atau drama itu akan menunjukkan fungsinya, menemani kesendirian kalian yang memang telah lama manyendiri haha. Kayak aku kemaren, lagi punya waktu yang lumayan lengang, mau ngerjain pekerjaan lain, udah pada selesai dikerjain jadilah larinya ya nonton film. Pas buka file ‘movie and drama’ ada satu movie yang belum aku tonton, judulnya Hwayi: a Monster Boy. Bukan horror kok, aku juga ogah kalau yang horror mah. Penasaran apa isinya, yuk mulai ceritanya.

            Cerita ini dimulai dari adegan gangster yang sedang dalam pengejaran karena membawa barang terlarang. Ditampilkan dua tempat berbeda, satu di kereta bawah tanah, satunya lagi di kereta yang melintasi padang pasir gitu, gersang. Aku juga agak bingung untuk menceritakan latarnya, intinya gangster gitu ya. Gangster ini akhirnya berhasil kabur dari pengejaran dan berhasil sampai di markas mereka, sebuah rumah sambil duduk melingkar memperhatikan sebuah pot bunga yang memang dari awal proses pengejaran tadi menjadi bahan rebutan, aku juga tak mengerti, kenapa pot bunga itu menjadi begitu diperebutkan. Setelah perdebatan singkat, akhirnya tanaman dari pot bunga itu diangkat dan di dalamnya ada seorang anak kecil yang tertidur pulas dengan tangan diikat dan mulut di lakban. Setelah anak itu dikeluarkan, ketua gangster itu meminta untuk dibawakan minuman, dan keluarlah seorang perempuan muda membawakan minuman dengan wajah penuh luka dan kaki dirantai, sampai kakinya bengkak dan berdarah.

            Lima belas tahun kemudian, ditayangkan seorang remaja laki-laki yang sedang memakai seragam sekolah turun dari sebuaah bus sekolah membawa sebungkus jeruk. Anak ini terlihat begitu kaku tatkala disapa oleh seorang perempuan seumurannya. Terjadilah percakapan di antara mereka berdua dimana percakapan lebih didominasi oleh si perempuan, si anak laki-laki hanya menanggapi sesekali dengan sedikit kaku. Ketika sampai di persimpangan jalan, mereka berdua harus berpisah, si perempuan ke kiri sedangkan si remaja laki-laki ke kanan. Ketika mereka akan berpisah, si perempuan bertanya,

“nama kamu siapa?” tanyanya

“Hwayi” jawabnya, sambil memberikan sebuah jeruk yang dia bawa pada si remaja perempuan. Si remaja perempuan mengambilnya sambil menggumamkan nama Hwayi yang menurutnya agak sedikit tak lazim bahkan sedikit aneh.

            Tak selang berapa lama, sampailah Hwayi di rumahnya yang dihuni oleh ayah-ayahnya. Ayah-ayahnya? Iya, Hwayi mempunyai beberapa ayah, yang tak lain dan tak bukan adalah anggota gangster yang dulu telah menculiknya. Hwayi adalah anak kecil yang dulu diletakkan di bawah pot bunga. Hwayi diculik dan dibesarkan oleh gangster yang menculiknya. Jadi dia memanggil ‘ayah’ untuk semua gangster itu dan memanggil ibu pada seorang perempuan yang di awal tadi ku ceritakan kakinya dirantai.

            Sekarang aku akan menceritakan satu per satu karakter ayah-ayah Hwayi tapi hanya ku beri symbol abjad saja karena susah sekali mengingat nama-nama orang Korea itu. Baiklah, mari kita mulai,

A, ayah Hwayi yang satu ini adalah ketua gangster yang dikenal tak punya perasaan ketika mengeksekusi korbannya. Hal ini terlihat ketika mereka menembak korban, tanpa babibu tiba-tiba ditembak aja. Biasanya kalau film-film lain kan korbannya diajak ngobrol dulu terus pas nembaknya kita tahu gitu kapan mulainya, nah kalau film ini main ‘dor’ aja. Jangankan korban, aku aja kaget pas mereka mengeksekusi korbannya. Ketua gangster ini paling jarang ngomong di antara yang lain, mukanya datar, tapi matanya memancarkan aura pembunuh yang tidak takut akan apa pun. Hwayi terlihat paling tunduk, patuh, dan takut pada ayahnya yang satu ini.

B, orang ini adalah sosok yang paling pintar di antara yang lain, paling dihormati oleh anggota gangster yang lain karena sosoknya yang terpelajar. Paling memikirkan masa depan Hwayi, bagaimana sekolahnya, intinya paling intelek lah di antara yang lain.

C, yang satu ini adalah sosok ayah Hwayi yang suka sekali bermain perempuan. Suka mabuk-mabukan dan berkunjung ke rumah bordir. Jago sekali membawa mobil sehingga selalu dijadikan sopir ketika gangster ini melaksanakan aksi mereka. Paling sayang pada Hwayi, gambaran sosok ayah yang rela memberikan apa pun dan berkorban demi anaknya. Sangat menganggap Hwayi seperti anaknya sendiri.

D, ayah Hwayi yang satu ini paling suka membunuh korbannya dengan pisau dan paling berhati dingin, seakan-akan sudah tak ada sama sekali belas kasihan di dalam dirinya. Akan sangat sebang ketika diberi kesempatan untuk menyiksa korban sambil tertawa, seakan-anak membunuh adalah kesenangan tersendiri baginya.

E, yang satu ini paling muda di antara yang lain, paling ganteng, dan tubuhnya paling atletis. Sangat mahir menggunakan pistol dan sejenisnya. Selalu mempunyai kecurigaan pada Hwayi. Bahkan dialah yang dulu sempat akan menembak Hwayi ketika dia berada di dalam pot. Mungkin karena paling muda kali ya, jadi belum begitu punya rasa kasih sayang pada Hwayi.

            Pada suatu ketika, gangster ini mendapatkan orderan untuk membunuh seorang pejabat yang hobinya korupsi. Kala itu, si pejabat sedang dipijat oleh seorang tunanetra. Tanpa babibu tiba-tiba ruangannya didobrak oleh segerombolan gangster, para ayah Hwayi. Si pejabat tak kooperatif, melawan pada para gangster sehingga dia langsung dihabisi dengan tembakan membabi buta di sekujur tubuhnya. Si tunanetra hanya gemetar tak tahu apa yang harus diperbuat, ayah Hwayi (A) mengetes penglihatan si tukang pijat tunanetra dengan mengambil sebuah paku dan pura-pura akan menancapkannya pada mata si bapak tunanetra sambil mengancam agar dia tak akan pernah bercerita tentang apa yang dia dengar. Si bapak tunanetra pun mengangguk sambil gemetar. Padahal si bapak tunanetra itu bisa melihat sekilas wajah A dikarenakan paku yang akan ditancapkan pada matanya membuat cahaya menjadi memusat sehingga dia bisa melihat orang yang didepannya, yaitu si A.

            Setelah kejadian itu, seperti biasa, polisi akan datang setelah kejadian terjadi. Si bapak tunanetra si bawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi akan tetapi, si bapak Tunanetra tidak memberikan keterangan apa pun, dia hanya diam seribu bahasa, karena takut akan ancaman si A. Polisi sampai dibuat stress karena si bapak tunanetra tidak mengeluarkan satu patah kata pun sehingga polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah beberapa hari, munculah seorang polisi yang terkenal karena ke’nyentrikan’nya, dia selalu berhasil menginterogasi orang-orang yang sangat tidak kooperatif ketika proses interogasi. Dia pun langsung mengeluarkan aksinya, dia juga tau kalau si bapak tunanetra tidak total buta, artinya ada satu titik dimana dia bisa melihat gambaran benda walaupun hanya sesaat. Nah, karena diancam ini itu, akhirnya si bapak tunanetra itu buka mulut, seperti apa orang yang telah membunuh si pejabat. Parahnya, si A mempunyai kaki tangan seorang polisi, sehingga apa yang terjadi di kantor polisi kala itu langsung diketahui si A. Si A langsung menyusun rencana untuk menembak si bapak tunanetra ketika keluar dari penjara tapi tidak dengan tangannya, dia akan menyuruh Hwayi yang memang jago menembak, dia memang telah dilatih untuk menjadi sniper di masa depan. Senjata laras panjang telah disiapkan, Hwayi juga telah mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuk, tetapi ketika dia akan menarik pelatuk, dia justru tidak melakukannya kerana dia melihat sesosok monster yang tiba-tiba muncul di lensa senjatanya, ketika dia akan menembak, sehingga gagal lah rencana yang telah disusun oleh A. Si A marah besar pada Hwayi, dia marah bukan karena tak bisa membunuh si bapak tunanetra, melainkan karena dia merasa Hwayi tidak ingin menjadi seperti dirinya. Dia merasa Hwayi telah menganggapnya ayah yang kotor sehingga Hwayi tidak mau menajadi dirinya,

“Kenapa kau tak menarik palatuknya” tanyanya sambil menyeret Hwayi

“maafkan aku ayah, aku melihat ada monster” jawab Hwayi sambil menangis dan ketakutan.

“kamu merasa bersih? Kamu tak mau menjadi kotor seperti ayah-ayahmu? Kau tak mau menjadi bagian dari kita? Kau bagian dari kita anakku” jawabnya sambil melemparkan tubuh Hwayi ke dekat tubuh bapak tunanetra yang telah menjadi mayat dan tubuhnya penuh dengan luka.

“maafkan aku ayah, aku akan melakukannya, tapi tadi ada monster, maafkan aku ayah, jangan kurung aku, aku takut… aku takut…. Ada monster ayah… ada monster…” pinta Hwayi karena dia tahu ayahnya akan mengurungnya di gudang bawah tanah. Padahal di belakang Hwayi sedang berdiri seekor monster yang sangat besar yang membuatnya begitu ketakutan, monster yang telah menemani kesendiriannya dan selalu menimbulkan rasa takut yang sangat mendalam dalam dirinya. Hwayi tak berbohong, monster itu nyata, tetapi nyata hanya bagi Hwayi, ya hanya Hwayi yang bisa melihatnya, orang lain tidak. Ya, ini semacam halusinasi atau fobia. Ayah-ayah Hwayi yang lain sebenarnya tidak setuju dengan apa yang dilakukan si A. Beberapa di antara mereka malah ingin si Hwayi mempunyai kehidupan yang normal, mereka tidak mau Hwayi hidup seperti mereka. Bahkan ayah Hwayi si B, berencana untuk menyekolahkan Hwayi ke Amerika. Dia telah mendaftarkan Hwayi ke sekolah seni terbaik di Amerika karena dia tahu Hwayi sangat pintar melukis. Tapi ketika dia menceritakan rencananya pada Hwayi, Hwayi justru menolaknya karena dia tahu si A tidak akan mengijinkannya.

Continue reading

Menghidupkanmu Lagi

cara-menghidupkan-komputerBerasa luamaaa banget nggak nulis blog. Bukan karena males ato gimana ya (ada malesnya juga sih dikit) tapi penyebab utamanya adalah karena laptopku nggak bisa diidupin. Kenapa nggak idup? Ya karena nggak ada baterainya, ya elah tinggal dicas lah, ya memang segampang itu solusinya tapi atuh gimana kalau chargernya lagi rusak. Benerin atau paling praktisnya beli charger yang baru. Iya sih, tapi berhubung aku belum begitu familiar dengan daerah sini jadi ku putuskan saja untuk memati surikan laptopku untuk beberapa hari. Laptop mati suri imbasnya juga mati surilah aktivitas tulis menulis di blog. Paling banter cuma sebatas blog walking lewat HP, kalau nulis lewat HP kayaknya nggak deh, bisa keriting nih jari dan pastinya bakalan nggak konsen banget karena keganggu sama notifikasi medsos. Aku tuh paling nggak tahan kalau nggak buka laptop, jadinya dengan niat yang sudah ku bulatkan, ku putuskan untuk membeli charger baru di sebuah mall di bekasi yang katanya pusat barang-barang elektronik gitu, namanya Bekasi Cyber Park (dibacanya BCP). Lumayan deket sih nih mall dari tempatku soalnya kalau nggak salah liat aku pernah lewatin nih mall. Jadinya sore-sore langsung cus deh ke tempat itu.

            Awalnya sih kepengen naik gojeg tapi berhubung jaraknya deket jadi ku putuskan untuk naik angkot saja, lebih murah juga, paling ya macet-macet dikit. Naiklah aku angkot pertama, ke tempat tujuan dua kali angkot kalau nggak salah, dan beneran dong muacet, karena nggak tahan jadinya aku turun aja. Jalan kaki sekitar 100 meteran buat ngecegat angkot yang kedua. Di tempatku berdiri itu adalah pangkalan angkot dan angkotnya lagi kosong melompong jadinya ku putuskan untuk berdiri di luar saja siapa tau ada angkot dari belakang yang langsung berangkat tanpa ngetem. Ada kali ya sekitar 15 menitan berdiri di pinggir jalan raya yang ruame banget dengan polusi kendaraan yang luar biasa bikin badmood dan angkotnya nggak dateng-dateng. Kemudian datanglah dua orang dari belakang yang kepengen juga naik angkot yang searah sama aku, nah barulah si abang-abang yang tadinya main kartu di pangkalan tanpa menghiraukan kehadiranku beranjak dari duduknya untuk menjalankan angkotnya. ‘Oh… jadi gitu, pilih kasih’ pikirku kala itu, sedikit baper hahaha. aku pun bergegas naik ke dalam angkot tapi tau nggak pas naik ternyata ada angkot dari belakang yang langsung berangkat dong. Tau gitu kan nggak buru-buru naik angkot yang ini tadi biar si abangnya tau rasa udah nyuekin aku (hahaha apa coba).

            Nyampe di perempatan menuju tuh mall, turunlah aku dari angkot dan kembali jalan kaki sekitar 200-300 meteran, luamayan menguras tenaga dan tau nggak apa yang terjadi? Sekitar 10 meteran pas mau nyampe mall nya, ternyata mall nya bukan BCP dong tapi BTC. Aduuuh, kebayang nggak gimana keselnya, aku memang pengingat yang buruk soalnya huruf awalnya sama-sama B, tapi pengingat yang sangat baik jika itu berkaitan denganmu, kamu… iya kamu… hahaha. Aku kecewa dong, tapi coba aja masuk siapa tau ada yang jualan charger laptop. Tapi pas liat sekiling, ternyata tak ada satu stand pun yang kaitannya sama laptop semuanya jualan HP dan yang kaitannya sama HP. Berhubung udah kepalang basah jadinya ku putuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dan alat transportasi yang paling ajib di kondisi kayak gini nih, apalagi kalau bukan bang gojeg. Tak butuh lama menunggu, datanglah abang gojeg dan langsunglah kita meluncur ke BCP.

            Sesampainya di BCP, ku mulailah mengedarkan pandangan, stand yang manakah yang sekiranya harus ku singgahi. Setelah sedikit mengamati, berhentilah aku di sebuah stand khusus yang tulisannya menerima service laptop. Ku tanyakan, bisakah kiranya mereka menyervice chargerku yang bermasalah, si mas masnya bilang kalau charger sebaiknya beli yang baru saja. Ku iyakan saja, bersamaan dengan itu ku keluarkan charger laptopku agar mereka tau spesifikasi charger yang ku inginkan. Salah satu dari mas mas penjaga stand meminta izin untuk membawa chargerku karena ingin mengambil tipe charger yang sama. Tak lama berselang datanglah si abang-abang dengan charger yang 99% sama. Aku pun tertarik dan ku tanyakan harganya,

“kalau kayak gini berapa mas?”

“kalau yang kayak gini (square) ori semua jadi harganya agak tinggi, 280 ribu” katanya

“pas nya berapa mas?” tanyaku mencoba menawar

“270 ribu” jawabnya

Ya elah minim banget motongnya, kataku dalam hati. Kemudian ku lanjutkan lagi

“ga bisa kurang lagi mas? Pas nya berapa” kataku menambahkan

“paling nih pas nya 250 ribu mbak, udah nggak bisa kurang lagi nih, udah mepet banget, soalnya yang kayak gini original”

“yah… nggak bisa 200 ribu ya mas” tanyaku sedikit maksa

“nggak bisa mbak”

“oh… ya udah kalau gitu” aku pun bergegas dari tempat itu dengan harapan si abang-abangnya manggilin lagi, hahaha (ini sih taktik kalau belanja baju di pasar) dan abangnya nggak manggil dong. Jadilah aku ke stand yang lain, nanyain harga dan hampir semua ngasih harga tak kurang dari 250 ribu, paling rendah 250 ribu. Aku bertekad buat nyari harga 200 ribu soalnya aku liat di toko online sepeti di lazada, tokopedia, ada kok yang harganya 200 ribu. Tapi masih agak was was kalau beli online takut ga masuk pas lagi dicas jadi mending beli langsung ke tempatnya. Aku mulai agak luluh untuk tak mempertahankan perbedaan harga 50.000 itu soalnya aku tahu, kalau tempat jual elektronik di mall itu sebenernya punya satu orang alias satu stand sama stand yang lain harganya beti (beda tipis) soalnya mereka semacam sekongkol harga gitu lah. Tapi setelah berkunjung ke stand yang terakhir ini membuat aku membulatkan tekad untuk mencari harga yang lebih murah, masak si abangnya bilang gini,

Continue reading