Hwayi: a Monster Boy

260ae79ba0c94990805e7abc0c3f2166Awalnya niat nggak niat buat nontonin nih film. Filenya udah tergeletak cukup lama di folder ‘movie and drama’. Emang suka gitu sih, minta membabi buta tatkala ada yang nawarin drama atau film baru. Nontonnya sih nggak tau kapan, tapi percaya deh akan ada masa dimana kalian ngerasa sendiri dan nggak tau ngelekuin apaan. Nah, di saat itulah bakalan ada rasa kepengen banget buat nonton film atau drama. Pada saat itulah file film atau drama itu akan menunjukkan fungsinya, menemani kesendirian kalian yang memang telah lama manyendiri haha. Kayak aku kemaren, lagi punya waktu yang lumayan lengang, mau ngerjain pekerjaan lain, udah pada selesai dikerjain jadilah larinya ya nonton film. Pas buka file ‘movie and drama’ ada satu movie yang belum aku tonton, judulnya Hwayi: a Monster Boy. Bukan horror kok, aku juga ogah kalau yang horror mah. Penasaran apa isinya, yuk mulai ceritanya.

            Cerita ini dimulai dari adegan gangster yang sedang dalam pengejaran karena membawa barang terlarang. Ditampilkan dua tempat berbeda, satu di kereta bawah tanah, satunya lagi di kereta yang melintasi padang pasir gitu, gersang. Aku juga agak bingung untuk menceritakan latarnya, intinya gangster gitu ya. Gangster ini akhirnya berhasil kabur dari pengejaran dan berhasil sampai di markas mereka, sebuah rumah sambil duduk melingkar memperhatikan sebuah pot bunga yang memang dari awal proses pengejaran tadi menjadi bahan rebutan, aku juga tak mengerti, kenapa pot bunga itu menjadi begitu diperebutkan. Setelah perdebatan singkat, akhirnya tanaman dari pot bunga itu diangkat dan di dalamnya ada seorang anak kecil yang tertidur pulas dengan tangan diikat dan mulut di lakban. Setelah anak itu dikeluarkan, ketua gangster itu meminta untuk dibawakan minuman, dan keluarlah seorang perempuan muda membawakan minuman dengan wajah penuh luka dan kaki dirantai, sampai kakinya bengkak dan berdarah.

            Lima belas tahun kemudian, ditayangkan seorang remaja laki-laki yang sedang memakai seragam sekolah turun dari sebuaah bus sekolah membawa sebungkus jeruk. Anak ini terlihat begitu kaku tatkala disapa oleh seorang perempuan seumurannya. Terjadilah percakapan di antara mereka berdua dimana percakapan lebih didominasi oleh si perempuan, si anak laki-laki hanya menanggapi sesekali dengan sedikit kaku. Ketika sampai di persimpangan jalan, mereka berdua harus berpisah, si perempuan ke kiri sedangkan si remaja laki-laki ke kanan. Ketika mereka akan berpisah, si perempuan bertanya,

“nama kamu siapa?” tanyanya

“Hwayi” jawabnya, sambil memberikan sebuah jeruk yang dia bawa pada si remaja perempuan. Si remaja perempuan mengambilnya sambil menggumamkan nama Hwayi yang menurutnya agak sedikit tak lazim bahkan sedikit aneh.

            Tak selang berapa lama, sampailah Hwayi di rumahnya yang dihuni oleh ayah-ayahnya. Ayah-ayahnya? Iya, Hwayi mempunyai beberapa ayah, yang tak lain dan tak bukan adalah anggota gangster yang dulu telah menculiknya. Hwayi adalah anak kecil yang dulu diletakkan di bawah pot bunga. Hwayi diculik dan dibesarkan oleh gangster yang menculiknya. Jadi dia memanggil ‘ayah’ untuk semua gangster itu dan memanggil ibu pada seorang perempuan yang di awal tadi ku ceritakan kakinya dirantai.

            Sekarang aku akan menceritakan satu per satu karakter ayah-ayah Hwayi tapi hanya ku beri symbol abjad saja karena susah sekali mengingat nama-nama orang Korea itu. Baiklah, mari kita mulai,

A, ayah Hwayi yang satu ini adalah ketua gangster yang dikenal tak punya perasaan ketika mengeksekusi korbannya. Hal ini terlihat ketika mereka menembak korban, tanpa babibu tiba-tiba ditembak aja. Biasanya kalau film-film lain kan korbannya diajak ngobrol dulu terus pas nembaknya kita tahu gitu kapan mulainya, nah kalau film ini main ‘dor’ aja. Jangankan korban, aku aja kaget pas mereka mengeksekusi korbannya. Ketua gangster ini paling jarang ngomong di antara yang lain, mukanya datar, tapi matanya memancarkan aura pembunuh yang tidak takut akan apa pun. Hwayi terlihat paling tunduk, patuh, dan takut pada ayahnya yang satu ini.

B, orang ini adalah sosok yang paling pintar di antara yang lain, paling dihormati oleh anggota gangster yang lain karena sosoknya yang terpelajar. Paling memikirkan masa depan Hwayi, bagaimana sekolahnya, intinya paling intelek lah di antara yang lain.

C, yang satu ini adalah sosok ayah Hwayi yang suka sekali bermain perempuan. Suka mabuk-mabukan dan berkunjung ke rumah bordir. Jago sekali membawa mobil sehingga selalu dijadikan sopir ketika gangster ini melaksanakan aksi mereka. Paling sayang pada Hwayi, gambaran sosok ayah yang rela memberikan apa pun dan berkorban demi anaknya. Sangat menganggap Hwayi seperti anaknya sendiri.

D, ayah Hwayi yang satu ini paling suka membunuh korbannya dengan pisau dan paling berhati dingin, seakan-akan sudah tak ada sama sekali belas kasihan di dalam dirinya. Akan sangat sebang ketika diberi kesempatan untuk menyiksa korban sambil tertawa, seakan-anak membunuh adalah kesenangan tersendiri baginya.

E, yang satu ini paling muda di antara yang lain, paling ganteng, dan tubuhnya paling atletis. Sangat mahir menggunakan pistol dan sejenisnya. Selalu mempunyai kecurigaan pada Hwayi. Bahkan dialah yang dulu sempat akan menembak Hwayi ketika dia berada di dalam pot. Mungkin karena paling muda kali ya, jadi belum begitu punya rasa kasih sayang pada Hwayi.

            Pada suatu ketika, gangster ini mendapatkan orderan untuk membunuh seorang pejabat yang hobinya korupsi. Kala itu, si pejabat sedang dipijat oleh seorang tunanetra. Tanpa babibu tiba-tiba ruangannya didobrak oleh segerombolan gangster, para ayah Hwayi. Si pejabat tak kooperatif, melawan pada para gangster sehingga dia langsung dihabisi dengan tembakan membabi buta di sekujur tubuhnya. Si tunanetra hanya gemetar tak tahu apa yang harus diperbuat, ayah Hwayi (A) mengetes penglihatan si tukang pijat tunanetra dengan mengambil sebuah paku dan pura-pura akan menancapkannya pada mata si bapak tunanetra sambil mengancam agar dia tak akan pernah bercerita tentang apa yang dia dengar. Si bapak tunanetra pun mengangguk sambil gemetar. Padahal si bapak tunanetra itu bisa melihat sekilas wajah A dikarenakan paku yang akan ditancapkan pada matanya membuat cahaya menjadi memusat sehingga dia bisa melihat orang yang didepannya, yaitu si A.

            Setelah kejadian itu, seperti biasa, polisi akan datang setelah kejadian terjadi. Si bapak tunanetra si bawa ke kantor polisi untuk dijadikan saksi akan tetapi, si bapak Tunanetra tidak memberikan keterangan apa pun, dia hanya diam seribu bahasa, karena takut akan ancaman si A. Polisi sampai dibuat stress karena si bapak tunanetra tidak mengeluarkan satu patah kata pun sehingga polisi tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah beberapa hari, munculah seorang polisi yang terkenal karena ke’nyentrikan’nya, dia selalu berhasil menginterogasi orang-orang yang sangat tidak kooperatif ketika proses interogasi. Dia pun langsung mengeluarkan aksinya, dia juga tau kalau si bapak tunanetra tidak total buta, artinya ada satu titik dimana dia bisa melihat gambaran benda walaupun hanya sesaat. Nah, karena diancam ini itu, akhirnya si bapak tunanetra itu buka mulut, seperti apa orang yang telah membunuh si pejabat. Parahnya, si A mempunyai kaki tangan seorang polisi, sehingga apa yang terjadi di kantor polisi kala itu langsung diketahui si A. Si A langsung menyusun rencana untuk menembak si bapak tunanetra ketika keluar dari penjara tapi tidak dengan tangannya, dia akan menyuruh Hwayi yang memang jago menembak, dia memang telah dilatih untuk menjadi sniper di masa depan. Senjata laras panjang telah disiapkan, Hwayi juga telah mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuk, tetapi ketika dia akan menarik pelatuk, dia justru tidak melakukannya kerana dia melihat sesosok monster yang tiba-tiba muncul di lensa senjatanya, ketika dia akan menembak, sehingga gagal lah rencana yang telah disusun oleh A. Si A marah besar pada Hwayi, dia marah bukan karena tak bisa membunuh si bapak tunanetra, melainkan karena dia merasa Hwayi tidak ingin menjadi seperti dirinya. Dia merasa Hwayi telah menganggapnya ayah yang kotor sehingga Hwayi tidak mau menajadi dirinya,

“Kenapa kau tak menarik palatuknya” tanyanya sambil menyeret Hwayi

“maafkan aku ayah, aku melihat ada monster” jawab Hwayi sambil menangis dan ketakutan.

“kamu merasa bersih? Kamu tak mau menjadi kotor seperti ayah-ayahmu? Kau tak mau menjadi bagian dari kita? Kau bagian dari kita anakku” jawabnya sambil melemparkan tubuh Hwayi ke dekat tubuh bapak tunanetra yang telah menjadi mayat dan tubuhnya penuh dengan luka.

“maafkan aku ayah, aku akan melakukannya, tapi tadi ada monster, maafkan aku ayah, jangan kurung aku, aku takut… aku takut…. Ada monster ayah… ada monster…” pinta Hwayi karena dia tahu ayahnya akan mengurungnya di gudang bawah tanah. Padahal di belakang Hwayi sedang berdiri seekor monster yang sangat besar yang membuatnya begitu ketakutan, monster yang telah menemani kesendiriannya dan selalu menimbulkan rasa takut yang sangat mendalam dalam dirinya. Hwayi tak berbohong, monster itu nyata, tetapi nyata hanya bagi Hwayi, ya hanya Hwayi yang bisa melihatnya, orang lain tidak. Ya, ini semacam halusinasi atau fobia. Ayah-ayah Hwayi yang lain sebenarnya tidak setuju dengan apa yang dilakukan si A. Beberapa di antara mereka malah ingin si Hwayi mempunyai kehidupan yang normal, mereka tidak mau Hwayi hidup seperti mereka. Bahkan ayah Hwayi si B, berencana untuk menyekolahkan Hwayi ke Amerika. Dia telah mendaftarkan Hwayi ke sekolah seni terbaik di Amerika karena dia tahu Hwayi sangat pintar melukis. Tapi ketika dia menceritakan rencananya pada Hwayi, Hwayi justru menolaknya karena dia tahu si A tidak akan mengijinkannya.

            Pada suatu hari, Hwayi duduk di seberang sebuah sekolah tempat anak perempuan yang dulu bertemu dengannya. Kala itu sedang pulang sekolah, dia memperhatikan dengan seksama gerak gerik anak perempuan itu. Memperhatikan ketika dia berbicara dengan teman-temannya, menjahili temannya, bersenda gurau dengan temannya, tanpa terasa dia menyebrang tanpa melihat kanan kiri karena pandangannya hanya terpusat pada anak perempuan tadi sehingga dia terjatuh karena truk yang ngerem mendadak karena Hwayi yang menyeberang tiba-tiba. Semua perhatian orang-orang di sekitar tempat itu menjadi tertuju padanya, termasuk si anak perempuan tadi, karena bunyi rem mobil yang sangat keras. Si anak perempuan langsung mendekati Hwayi dan mereka pun duduk di sebuah kursi taman sambil ngobrol. Si anak perempuan mengambil buku gambar Hwayi yang penuh dengan sketsa yang sangat bagus, dia memuji Hwayi yang begitu berbakat,

“lukisanmu sangat bagus, seandainya saja aku bisa melukis seperti ini, kamu mau tidak melukisku?” tanyanya.

“sebagai gantinya aku akan memotret wajahmu” lanjutnya sambil mengambil HP dan memotret si Hwayi. Hwayi pun dibuat kikuk oleh anak perempuan itu.

“aku sebenarnya jago memotret, seandainya aku bisa punya kamera professional, pasti gambar yang aku potret akan semakin bagus, tapi sayang aku tak punya cukup uang” katanya berpanjang lebar. Hwayi hanya memperhatikannya tanpa berucap sepatah kata pun. Kalau sepemahaman aku sih, si Hwayi ini suka sama si anak perempuan ini. Bayangin dong, sampe hampir ketabrak truk hanya gara-gara merhatiin gerak-gerik orang haha. Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba di seberang jalan dari tempat mereka duduk, ada seorang bapak-bapak yang sedang mabuk dan merangkul dua perempuan penghibur. Perhatian mereka berdua pun teralih pada bapak-bapak dan dua perempuan tersebut. Si remaja perempuan pun berkata,

“lihat lah bapak-bapak yang sedang mabuk di seberang jalan itu, dia sungguh laki-laki hidung belang” komentarnya pada Hwayi. Ketika menatap Hwayi, ternyata pandangan Hwayi sedang tertuju pada bapak-bapak di seberang jalan. Si remaja perempuan pun kembali bertanya, “kamu kenal bapak-bapak itu?”

“itu ayahku” jawab Hwayi. Si perempuan menjadi tidak enak telah berkomentar macam-macam terhadap si bapak-bapak di seberang jalan yang ternyata adalah bapak Hwayi. Hwayi pun membawa ayahnya yang mabuk itu pulang. Hwayi membawanya pulang menggunakan mobil yang sebelumnya dibawa ayahnya tapi sekarang dialah yang menyetir karena ayahnya sedang mabuk. Sialnya, ketika mereka akan melewati sebuah jalan, sedang ada razia polisi, Hwayi pun merasa panic karena dia memakai seragam sekolah yang artinya dia belum cukup umur untuk mengendarai mobil, karena keadannya terdesak, Hwayi pun menerobos pemeriksaan polisi keetika telah sampai gilirannya. Terjadilah kejar-kejaran sengit antara Hwayi dan polisi. Hwayi mengendarai mobil dengan sangat mahir, maklum dia dilatih oleh ayah-ayahnya yang semuanya gangster yang kemampuan menembak maupun menyetirnya tak bisa diragukan lagi. Tak hanya pandai menembak dan nyetir mobil, Hwayi juga pandai membuka pintu tampa menggunakan kunci. Intinya kemampuan yang dimiliki oleh ayah-ayahnya yang notabene adalah mafia, Hwayi bisa menirunya dengan sangat baik. Akhirnya Hwayi bisa melarikan diri dari kejaran polisi yang tadi mengejarnya.

            Suatu ketika, gerombolan gangster ini mendapatkan sebuah proyek untuk membunuh seorang politisi di daerah itu. Mereka telah melakukan penyelidikan mendetail tentang korban yang akan dijadikan target. Korban ini adalah sepasang suami istri yang hidup berdua, si istri sakit-sakitan dan si suami seperti seorang politisi jujur yang kakinya pincang. Entah siapa yang meminta untuk membunuh mereka tapi siapa pun yang memberikan perintah tak menjadi masalah bagi mereka, yang mereka pentingkan adalah bayaran atas pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka tak pernah mempermasalahkan mereka di pihak yang benar maupun di pihak yang salah, semuanya hanya berlandaskan uang. Operasi pun dimulai, hari itu hujan mengguyur wilayah itu. Si suami yang menjadi target, keluar dari rumah untuk berangkat ke kantor, tinggalah sang istri sendiri. Kali ini para gangster itu melibatkan Hwayi dalam operasi mereka. Hwayi bertugas untuk membuka pintu rumah si target. Ketika si Hwayi sedang berusaha membuka pintu, ada mobil patroli keamanan milik polisi yang sedang beroperasi dan parahnya ketika polisi melihat Hwayi, Hwayi belum berhasil membuka pintu si target. Ketika si polisi hendak menghampiri Hwayi yang gerak-geriknya mencurigakan, pada saat itulah pintu si korban bisa dibuka dan kecurigaan polisi menjadi tak beralasan pada Hwayi.

            Hwayi masih merasakan detak jantungnya karena panik. Ketika masuk ke dalam rumah, Hwayi menemukan sapu tangan dan sebuah foto yang tergeletak di lantai. Hwayi pun langsung curiga bahwa di rumah itu ada orang, yaitu istri si politisi. Hwayi memasukkan foto dan sapu tangan yang dia temukan ke dalam kantong celananya dan langsung melangkah pelan ke dalam sebuah ruangan yang dia yakini telah dijadikan tempat persembunyian oleh istri si politisi, di ruangan itu benyak dipenuhi lukisan. Di saat yang sama, istri sang politisi sangat panik dan ketakutan sambil mengirimkan sms pada suaminya bahwa di rumah mereka ada orang tidak dikenal masuk ke rumah. Pesan singkat itu sampai pada si politisi dan dia langsung memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah. Ketika Hwayi akan membuka pintu lemari tempat si istri politisi bersembunyi, tiba-tiba ayah-ayahnya datang. Hwayi pun langsung menutup pintu lemari walaupun dia tahu ada orang di sana, karena dia benar-benar tidak tega dengan wajah tak berdaya dan ketakutan si istri politisi. Si A langsung bertanya apakah di rumah itu ada orang, Hwayi langsung berkata bahwa di rumah itu tidak ada orang, ya dia berbohong pada ayahnya (si A). Ketika sedang berkeliling, datanglah si politisi ke rumahnya. Bak masuk ke kandang harimau, dia langsung diseret ke sebuah ruangan yang biasa dia gunakan untuk berdoa (si politisi ini adalah seorang penganut Kristen yang taat). Ketika telah sampai di ruangan itu, dia sampai tidak bisa menggerakkan kakinya, karena memang kaki yang satunya hanya menggunakan kaki palsu. Ketika sedang berdialog dengan politisi, dari luar terdengar seseorang berlari ke luar rumah dan semuanya langsung curiga bahwa itu adalah istri si politisi. Si A langsung memasang muka marah pada Hwayi karena dia telah berbohong. Si A langsung meyeret si Hwayi ke dalam ruangan tempat dia berdialog dengan si politisi.

            Istri si politisi dikejar oleh si B tapi tak bisa karena istri si politisi bertemu dengan warga sekitar dan dengan suara gagu dia menceritakan apa yang dia lihat, dia benar-benar tak bisa berkata apa-apa dan langsung pingsan. Hwayi meminta maaf pada ayahnya karena telah berbohong, maka sebagai gantinya, ayahnya memberika pistol pada Hwayi dan menyuruhnya untuk menembak si politisi. Hwayi benar-benar tak bisa melakukannya, dia ketakutan dan gemeteran. Dia memang sangat mahir menembak tapi menembak manusia dia benar-benar tak bisa. Si A terus mendesak HWayi hingga Hwayi menarik pelatuk pistol tapi parahnya tidak mengenai korban. Makin menjadi-jadilah kemarahan si A,

“kenapa kau tidak mau? Kau merasa bersih? Kau merasa berbeda dari ayah-ayahmu? Kau malu dengan kondisi kita sehingga kau tak mau seperti kita?”

“tidak ayah, bukan begitu, aku benar-benar tidak bisa jika harus membubuh orang” jawab Hwayi sambil menangis

“ayo lakukanlah… LAKUKANLAH!!!” bentak ayah Hwayi berusaha untuk memprovokasi Hwayi dan berhasil, Hwayi pun menarik pelatuk pistol dan menembak berkali-kali hingga korban tewas bersimbah darah. Hwayi tak percaya dengan apa yang dilakukannya, dia langsung murung dan sangat merasa bersalah, dia seperti mengalami trauma yang sangat berat. Tapi berkebalikan dengan si A yang begitu bangga pada Hwayi karena telah berhasil mengalahkan rasa takutnya. Mereka pun kembali ke rumah mereka, dan sesaat kemudian, TKP telah dipenuhi polisi dan warga sekitar yang berkerumun untuk melihat apa yang sedang terjadi.

            Sesampainya di rumah, Hwayi langsung tidur tanpa mengganti pakaiannya, masih terlihat jelas trauma yang dia alami. Keesokan harinya juga begitu, Hwayi tetap tak ingin makan dan tak mau beranjak dari kamarnya. Perempuan yang tinggal di rumah itu, yang telah menganggap Hwayi seperti anaknya sendiri, masuk ke kamar Hwayi dan menanyakan keadaannya. Ketika menuju meja belajar Hwayi, perempuan ini menemukan sebuah foto (foto yang Hwayi ambil dari rumah si politisi kemarin). Si perempuan kemuadian berkata,

“kau ternyata telah banyak berubah ya, kau sekarang sudah besar. Dulu kau dengan matamu yang bulat dan besar selalu ceria bermain di rumah ini. Waktu memang berlalu begitu cepat” ucapnya sambal memegang foto yang kemarin Hwayi bawa.

Hwayi pun mengangkat wajah dan berkata,

“itu bukan aku, yang di foto itu bukan aku” jawab Hwayi

“bagaimana aku bisa lupa dengan wajah polosmu, ini kamu Hwayi” jawab si perempuan. Hwayi pun langsung beranjak,

“ini aku? Apa ini benar-benar wajahku ketika aku kecil?” tanya Hwayi sambil mengguncang bahu si perempuan

“iya, memangnya kenapa Hwayi?” jawab si perempuan

            Hwayi pun langsung beranjak dari tempat tidurnya, entah apa yang dia pikirkan kala itu, pikirannya benar-benar kacau. Dia seakan-akan tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi. Kalau memang yang di foto itu adalah Hwayi, maka dia kemarin telah membunuh ayahnya sendiri. Hwayi kembali mendatangi TKP, dia masuk ke dalam rumah yang telah dipanuhi garis polisi. Dia masuk ke tempat dia telah menembak ayahnya, kemudian dia naik ke lantai atas karena ada suara orang masuk yang tak lain adalah istri si politisi, entah apa yang akan dia lakukan. Hwayi tak sengaja masuk ke dalam ruangan yang sepertinya adalah kamar anak kecil. Masih tertata dengan rapi barang-barang di sana dan di pojok ruangan dia menemukan satu kardus berisi poster anak hilang, koran anak hilang, sampai sketsa wajah anak kecil itu di masa depan, dimana anak itu adalah Hwayi. Perasaan Hwayi makin tak karuan melihat itu semua. Tiba-tiba dia dikagetkan dengan bunyi benda jatuh, dia pun segera turun ke lantai bawah dan betapa kagetnya karena dia menemukan istri si politisi –yang tak lain adalah ibunya- sedang gantung diri di ruangan tempat suaminya dibunuh. Hwayi pun langsung berteriak dan memegangi kaki ibunya agar nyawanya terselamatkan,

“tidak… tidak… tidak… jangan meninggal ibu, jangan…” teriaknya sambil menangis. Untungnya nyawa ibunya masih bisa diselamatkan.

            Adegan berganti, menampilkan ayah Hwayi si B yang sedang melamun di ruang kerjanya. Tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh suara Hwayi yang sedari tadi bersembunyi di pojokan ruang kerjanya,

“kamu sudah tahu kan? Kamu sudah tahu semua kan?” tanya Hwayi memulai percakapan

“tau apa Hwayi, kamu kemana saja dari tadi, kita semua mencarimu, menghawatirkan keadaanmu. Apakah kau kembali ke tempat kemarin?” jawabnya yang sejatinya belum begitu mengerti apa yang dikatakan oleh Hwayi atau mungkin pura-pura tidak mengerti.

“jawab saja, kau tahu dari awal kan kalau mereka adalah orang tuaku” teriak Hwayi sambil menodongkan pistol pada ayahnya.

            Ayah Hwayi benar-benar terkejut dengan perbuatan si Hwayi, tapi dia langsung berusaha untuk mengabil alih pistol yang Hwayi todongkan padanya, sambil berkata,

“dengarkanlah penjelasanku Hwayi” pintanya sambil berusaha menenangkan Hwayi. Hwayi yang telah gelap mata langsung menarik pelatuk pistolnya dan ayahnya mati di tempat. Hwayi langsung melarikan diri dan menuju rumah sakit karena dia tahu ibunya sedang dalam bahaya. Benar saja, ibu Hwayi sedang didatangi oleh orang asing yang menyamar sebagai dokter. Dia telah bersiap-siap untuk menyuntikkan cairan beracun pada infus ibu Hwayi, pada saat yang bersamaan Hwayi datang dan langsung terjadilah perkelahian sengit antara Hwayi dan orang asing itu yang tak lain adalah orang suruhan ayah Hwayi (si A). Hwayi berhasil menaklukkan si orang suruhan dan dia mengikatnya di kursi roda dan mendorongnya dari ruangan ibunya (lantai 7 sepertinya) dan langusung jatuh mengenai mobil ambulance rumah sakit. Langsung hebohlah suasana rumah sakit itu. Hwayi langsung membawa ibunya dan meminta bantuan teman perempauannya (yang dulu Hwayi perhatikan gerak geriknya) untuk menjaga ibunya di rumah sakit yang berbeda dari sebelumnya.

            Api balas dendam benar-benar telah berkobar dalam diri Hwayi. Dia benar-benar sangat benci pada ayah-ayahnya. Hwayi langsung pergi ke markas tempat senjata para gangster itu simpan. Hwayi mengambilnya, tetapi sayangnya gerak-gerik Hwayi di ruang senjata telah diketahui oleh ayahnya yang E. terjadilah perkelahian antara Hwayi dan dia. Dia sangat puas karena kecurigaannya selama ini pada Hwayi telah terbukti, sudah sejak dari awal dia tak pernah setuju untuk membesarkan Hwayi. Pertarungan benar-benar sangat sengit dan ayah-ayah Hwayi yang lain datang. Hwayi berhasil kabur menggunakan mobil dan dikejar oleh ayah-ayahnya. Hwayi yang memang sudah snagat mahir menyetir berhasil melarikan diri. Ayah-ayah Hwayi benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka alami, mereka merasa Hwayi telah sangat berlebihan.

            Hwayi kabur ke sebuah gudang, dia telah merencanakan sebuah rencana untuk membalaskan dendamnya. Dia sudah tak bisa menahan diri untuk tak membalaskan dendam. Bagaimana tidak, dia telah dijebak untuk membunuh ayah kandungnya sendiri yang telah lama mencari keberadaan Hwayi, bahkan hampir saja ibunya meninggal karena bunuh diri. Hwayi menelpon ayahnya si A untuk melakukan pertemuan. Ayahnya senang sekali mendapatkan telepon dari Hwayi, terutama ayahnya si C yang memang sangat menyayangi Hwayi.

“kamu dimana?” tanya ayah Hwayi si A

“aku ada di suatu tempat. Datanglah besok ke tempat ini (Hwayi menyebutkan lokasi sebuah temapat)” jawab Hwayi

“baiklah, aku yakin kau telah membunuh monster yang selama ini menghantuimu. Karena sejatinya untuk membunuh monster, hal yang harus kau lakukan adalah menjadi seorang monster” jawab ayah Hwayi si A. Hwayi langsung menutup teleponnya dan benar saja, di depannya telah berdiri monster yang besarnya seperti dinosaurus yang perlahan berjalan mundur dan akhirnya mati. Ya, Hwayi telah berhasil membunuh monster yang selama ini selalu membuatnya tak berani sendirian, benar kata ayah Hwayi dia sekarang telah menjadi seorang monster yang siap membunuh ayah-ayahnya.

            Ketika para ayah Hwayi datang ke tempat yang telah dijanjikan, di sana telah penuh dengan segrombolan polisi yang datang atas perintah seorang politisi yang merasa diancam oleh gangster. Padahal, itulah rencana Hwayi, mengadu domba antara polisi dan ayah-ayahya. Rencananya berhasil, terjadilah tembak menembak antara dua kelompok itu. Hwayi berada di sebuah tower di sebelah gudang tempat mereka tembak menembak, Hwayi layaknya sniper mengamati dari jauh dan sesekali menembak target yang dia ingin tembak. Hampir semua ayah Hwayi meninggal karena tembak menembak yang terjadi. Hanya tertinggal ayah Hwayi si A yang berhasil keluar dari gudang itu dan ayah Hwayi si C yang memang sejak dari awal hanya menunggu di mobil. Sejak dari keberangkatan, ayah Hwayi si C selalu bilang kalau Hwayi hanya kalap saja, jadi dia memohon kepada mereka agar mereka jangan sampai membunuh Hwayi. Melihat si A keluar dari gudang menuju tower tempat Hwayi berada, si C segera berlari menaiki tower untuk menemui Hwayi. Di sana dia berusaha untuk memaksa Hwayi menghentikan aksinya,

“Hwayi… berhentilah nak, berhentilah… kau seharusnya tak berbuat seperti ini” paksanya sambil memluk Hwayi

“lepaskan aku, pergi sana, kau sama saja dengan mereka, kau hanya ingin menjebakku, kau sudah tau semuanya kan tentang ayah dan ibuku” kata Hwayi sambil berteriak dan terus mengeluarkan air mata

“tidak Hwayi… ayah tidak tahu apa-apa, kau harus berhenti nak” ayahnya terus memohon

“mengakulah, kau tahu semua kan, kau sama sekali dengan mereka” teriak Hwayi sambil terus mendorong ayahnya ke belakang tanpa Hwayi sadari bahwa pagar pembatasnya patah dan membuat ayah Hwayi jatuh. Hwayi pun langsung menarik tangan ayahnya, sekuat tenaga dia berusaha untuk menarik ayahnya,

“percayalah Hwayi, ayah benar-benar menyayangimu, menganggapmu sebagai anak ayah sendiri, ayah tidak pernah menjebakmu, percayalah Hwayi” papar ayahnya panjang lebar sambil menangis

“bertahanlah ayah” jawab Hwayi. Tiba-tiba tangan ayah Hwayi berusaha untuk melepaskan diri dari Hwayi karena sang ayah tak mau Hwayi juga ikut terjatuh ke bawah. Ayah Hwayi pun jatuh dan tertancap di besi dan meninggal seketika itu juga.

            Melihat rekannya jatuh dari atas tower tempat Hwayi berada, ayah si A langsung berbalik arah dan menembak semua ban mobil yang ada di sana dan segera masuk ke dalam mobil untuk menuju tempat yang sangat Hwayi lindungi, yaitu rumah sakit tempat ibunya berada. Sesampainya di rumah sakit dia langsung masuk ke dalam ruangan ibu Hwayi dan berbicara dengan ibu Hwayi,

“kamu tahu tidak, anakmu tumbuh menjadi anak yang sangat cemerlang, dia cerdas, mudah menangkap apa pun yang kita ajarkan, dan dia sama seperti ayahnya, pintar melukis” katanya bertutur pada ibu Hwayi. Ibu Hwayi hanya menanggapinya dengan mengeluarkan air mata tanpa henti. Si A kemudian melanjutkan,

“aku dulu adalah anak panti asuhan, satu panti asuhan dengan suamimu. Suamimu adalah orang yang rajin dan cemerlang. Aku ketika di panti asuhan sama seperti Hwayi, sering didatangi monster yang selalu membuatku tak bisa tidur nyenyak setiap malam. Kemudian aku menceritakan hal yang ku alami pada suamimu, kemudian dia memberikan saran agar aku berdoa kepada tuhan untuk menghilangkan monster itu dan kau tahu apa yang terjadi? Ternyata suamimu berbohong padaku, karena ternyata monster itu tetap saja mengahantuiku tiap malamnya. Hal itu membuatku benar-benar kesal pada suamimu ditambah lagi karena perempuan yang ku suka di panti asuhan lebih memilih untuk menyukai suamimu dari pada aku. Dia lebih menganggap suamimu dan sama sekali tak menganggapku. Karena kesal aku pun memperkosa si perempuan itu dan pada saat yang sama, suamimu memasuki kamarku dan melihat perbuatanku. Karena panic aku pun menyerang kaku suamimu menggunakan garpu besar sehingga kaki suamimu harus di aputasi” ceritanya berpanjang lebar dengan nada seperti seorang psikopat.

“aku datang ke rumah sakit menemui suamimu dan kau tahu apa reaksinya ketika aku datang? Dia bukannya berubah menjadi monster sepertiku tapi dia malah memaafkanku. Aku tidak suka, aku tidak mau dia memaafkanku, aku mau dia marah dan menjadi monster sepertiku. Tapi dia berbeda, dia malah memaafkanku. Oleh karena itu, aku menculik Hwayi untuk mengubahnya menjadi monster sepertiku. Tapi aku punya rencana yang lebih brilian lagi, jadi aku membesarkan anakmu agar aku bisa mendidiknya menjadi monster sepertiku” jawabnya tertawa lebar sambil memagang pistol dan menghampiri tempat tidur ibu Hwayi.

            Ketika Hwayi sampai di rumah sakit, di kamar ibunya, dia melihat ibunya telah bersimbah darah, ditembak dengan mambabi buta oleh ayahnya. Hwayi pun langsung berterian dan menangis sejadi-jadinya,

“kenapa kau membunuhnya… KENAPA”

            Ayah Hwayi si A sampai di rumahnya dan mendapati lantai rumahnya yang penuh dengan darah karena perempuan yang ada di rumah itu telah memukul kepala polisi nyentrik yang menginterogasinya. Sesampainya di sana, dia langsung meminta makan tapi si perempuan tak mau membuatkannya, dia pun langsung menyeret si perempuan, menyiksanya, dan mengambil pisau untuk melakukan hal yang lebih jauh. Ketika akan beraksi tiba-tiba Hwayi datang,

“hentikan” kata Hwayi

“nak… akhirnya kau pulang. Akhirnya kau sadar kan, kalau memang rumah ini tempat kau kembali” sambutnya. Psikopat banget nih emang si bapak, kayak udah lupa apa yang udah dia lakukan sama si Hwayi

“Hwayi pun mengarahkan pistol pada ayahnya”

“ayo tembak aku nah… ayo tembak… katanya” pinta ayah Hwayi yang juga sedang memegang pistol. Tapi Hwayi tak kunjung menarik pelatuk senjatanya

“ayo tembak aku… kalau tidak aku yang akan menembaknya… DOR” ayah Hwayi menembak kaki si perempuan. Hwayi pun dibuat bingung dengan kelakuan ayahnya, karena terus di desar akhirnya,

“DOR…” satu peluru mengenai Hwayi yang berasal dari pistol polisi nyentrik yang pingsan karena kepalanya dipukul oleh si perempuan.

“DOR…” satu peluru melayang sehingga tubuh si polisi tumbang. Peluru itu berasal dari pistol ayah Hwayi

“beraninya kau menembak anakku” katanya. Hwayi pun meletakkan pistolnya dan ayahnya menghampiri Hwayi dan memeluknya

“kau akan bersama ayah seterusnya kan? Hanya kaulah yang ayah butuhkan sekarang, ayah sangat senang kau kembali lagi pada ayah” Hwayi memeluk ayahnya dan memandang pada si perempuan yang terus menggeleng karena tak ingin Hwayi jatuh ke dalam jebakan ayahnya yang psikopat.

“DOR…” ayah Hwayi pun kaget dengan bunyi senjata yang telah mengenai perutnya, ternyata Hwayi telah menyimpan pistol untuk berjaga-jaga. Ayahnya pun terkulai lemas dan mati dengan mata terbuka. Itulah akhir tragis hidup seorang manusia monster yang ingin membuat orang lain menjadi monster seperti dirinya.

            Di akhir cerita, Hwayi menjadi seorang sniper handal yang melakukan penembakan pada para politisi yang berimage baik padahal sering melakukan tindak kejahatan seperti korupsi, suap dan sejenisnya. Dia membawa senjatanya dengan wadah gitar sehingga taka da yang mencurigainya. Nah, bagaimana dengan cerita perempuan yang dia sukai? Ya tentu si Hwayi tak bisa menemuinya, di akhir cerita ditampilkan si perempuan yang mendapatkan paket ketika berada di sekolahnya. Setelah dibuka ternyata isi paket itu adalah kemera keluaran terbaru yang dulu pernah dia ceritakan pada Hwayi ingin memilikinya tapi tak punya cukup uang untuk membelinya.

            Gitu deh ceritanya, panjang banget ya. Aku juga bingung kenapa ceritanya bisa sepanjang ini, padahal awalnya tak mau berpanjang lebar kayak gini, tapi apalah daya, berasa ada yang kurang kalau ceritanya sepotong-sepotong. Aku nulisnya juga berhari-hari hahaha. Dari film ini aku banyak belajar bahwa sejatinya orang yang jahat itu, sepenuhnya sadar bahwa dirinya orang jahat. Ya tapi balik lagi ke orangnya, mau terus jadi orang jahat apa ingin kembali ke jalan yang benar. Satu lagi, orang jahat pun dia juga makhluk social, jadi dia nggak mau jadi jahat sendiri, jadinya mereka bakalan ngajakin orang lain. Nah, sebagai manusia yang dikaruniai akal sehat, kita harus bisa menimbang-nimbang dan memilah-milih mana orang yang baik mana orang yang hanya ingin mencetak kita layaknya dirinya dengan tujuan dia nggak mau sendirian jadi jahat, hahaha.

Advertisements

6 thoughts on “Hwayi: a Monster Boy

  1. aku lebih suka film yang agak mikir. saking terlalu keren itu film, sampe aku nggak ngerti ceritanya ttg apa. drama okelah, kalo yang nggak ada cinta-cintaannya hehe

    • Hahaha…. kalau gitu kamu pasti suka tv series sherlock holmes…. movie ini jd bagus karena ekspektasiku yg rendah.. eh pas nonton lumayan bagus. Jd kerasanya bagus banget. Kadang suka gitu sih, ekspektasi rendah lantas hasilnya bagus akan memberikan kepuasan tersendiri

      • Iya… kece banget aktingnya emang… muka datar,otak jenius, tak berperasaan, ngomongnya cepet… aktor watak emg dia mah. Denger2 sih katanya tahun 2015… mungkin akhir tahuan kali ya… pnasaran sama lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s