Grabtaxi for The First Time

grabtaxi-logoCeritanya minggu kemarin aku dan beberapa temanku pergi ke dufan untuk sejenak melupakan beban. Seumur-umur baru pertama kali ini ke dufan dan rasanya exited banget. Maklum lah ya, apa-apa yang berbau pertama kali itu bakalan berkesan banget, contohnya nih, pertama kali masuk kuliah, pertama kali naik pesawat, pertama kali naik gojeg, dan pertama kali ketemu kamu… kamu… iya kamu. Tapi jujur, pertama kali ketemu kamu tuh nggak berkesan-berkesan amat sih, malah awalnya nggak suka, sebel, kesel, eh… kok makin ke sini-sini malah ngangenin. Ooops… sourry… kok malah curcol wkwkwk. Balik lagi ke dufan tadi. Jadi ceritanya gini. Teman sejawat ada yang punya tiket dufan gratis, dia dapet dari suaminya yang kerja di sebuah perusaan, sebut aja Suzuki (hahaha malah nyebut merk). Nah, berhubung si temen ini ada acara, jadinya ada empat tiket masuk dufan gratis dan dapet makan siang pula. Siapa coba yang kagak kepengen? Aku yang notabene adalah manusia normal dengan berbagai tawaran menarik yang ditawarkan akhirnya tanpa babibu langsung menawarkan diri untuk membeli tuh tiket, dengan harga miring tentunya.

            Berangkatlah kita berempat, aku, bak Dila, dan dua temanku ke dufan dengan hati riang gembira. Tak terhitung berapa kali hati ini menggumamkan kalimat ‘it’s holiday’. Pas nyampe dufan ternyata rombongan family gathering dari Suzuki ini buanyaaak banget, nggak bisa dibilang buanyak aja. Kita pun berpisah, aku sama mbak Dila dan dua temanku berduaan. Karena nyampe dufannya agak siang, jadilah aku dan mbak Dila memutuskan untuk ambil makan siang dulu biar nggak kepikiran makan pas naik wahana. Makan pun selesai dan tau nggak, pas nyampe ke dalem, antreannya masyaAllah banget. buat gambaran ya, rata-rata waktu ngantre untuk naik satu wahana itu satu jam, malah aku pas mau naik hysteria ngantrenya 1.5 jam. Keren nggak tuh, padahal naiknya ada kali ya cuma semenit, ngentrenya 1.5 jam. Hari itu aku hanya berhasil menaiki dua wahana, hysteria dan Niagara-gara, nggak kuat sama antreannya.

            Hari pun beranjak sore dan kita memutuskan untuk pulang ke alam masing-masing. Aku pun berpisah dengan mbak Dila di stasiun Jakarta Kota, mbak Dila naik jurusan ke Bogor, sedangkan aku dan ketiga temenku masih menunggu ufo buat ke Bekasi hahaha (canda). Perjalanan ke Bekasi cukup memakan waktu, kita pun berdiskusi, alat transportasi apakah yang akan kita naiki pas nanti nyampe di stasiun bekasi berhubung dari stasiun ke kosanku masih dua kali naik angkot. Kalau aku sih udah biasa naik gojeg, murah, cepat, tepat. Nah dua orang temanku ini masih bingung, yang satu udah sepakat buat naik gojeg tapi satunya lagi ingin mempertahankan prinsip, dia tidak mau boncengan selain dengan mahramnya (prok prok prok). Temenku yang satunya juga punya prinsip yang serupa tapi karena menurut dia keadaannya darurat jadi dia memutuskan untuk naik gojeg saja. Lalu prinsipku? Kalau aku sih masih memperbolehkan diri boncengan sama abang gojeg karena menurutku kita berdua sama-sama tidak saling kenal sehingga kekhawatiran untuk timbulnya hal-hal yang tak diinginkan (semisal rasa yang tak seharusnya dirasa) akan sangat tidak mungkin. Ya kali ada rasa, orang abang gojegnya biasanya bapak-bapak. Pernah sih sekali ketemu abang gojeg yang cakep, tapi balik lagi, ya kali… secepat itu timbul rasa hahaha.

            Perbedaan pendapat antara dua orang temanku ini sudah mulai agak sedikit panas. Satunya mempertanyakan bagaimana prinsip yang selama ini dia pegang. Aku hanya diam saja sembari meyakinkan dalam hati kalau aku akan tetap naik gojeg soalnya uangku kala itu cuma tinggal 20 ribuan akibat nafsu jajan yang tak bisa dibendung. Tak ingin keduanya berselisih pendapat akhirnya aku teringat pada aplikasi grabtaxi. Aku pun menawarkan pada mereka berdua dan api perdebatan mulai padam. Alhamdulillah, kita pun sepakat untuk naik taxi memakai aplikasi grabtaxi, lumayan dapet potongan 10ribu. Ufo pun sampai di stasiun bekasi (wkwkkwk), kita turun dengan hati-hati dan aku langsung menuju tempat charger HP karena baterai HP ku yang mulai melemah. Sesampainya di tempat charger HP, di sampingku ada seorang wanita seumuranku atau mungkin lebih muda yang sedang duduk sendiri sambil memandang cemas pada layar HP nya. Ku dengar temanku menanyakan si mbak ini, aku masih sibuk memesan grabtaxi. Ternyata si mbak-mbak ini ingin memesan gojeg tapi selalu trouble dari tadi dan hari mulai beranjak malam.

            Berhubung aku pernah di posisi si mbak-mbak ini akhirnya aku menawarkan diri untuk memesankan gojeg padahal pesananku sendiri belum kelar. Pas nanya alamatnya ternayata kita searah, lantas kita menawarkan, kenapa nggak bareng kita aja yang bakalan naik taxi juga, kan lumayan tuh, win win solution, mbak nya bisa pulang terus kita bisa dapet harga yang lebih murah. Kita pun sepakat. Banyak sekali keuntungan yang didapat ketika naik taxi pakai grabtaxi dan yang paling terasa adalah rentang harga taxi yang harus kita bayar sudah bisa kita ketahui sebelum kita naik ke taxi yang bersangkutan plus dapet diskon pula. Jadi nggak perlu ketar-ketir karena mikirin argo taxinya. Naik taxi tak pernah setenang ini haha. Dibayar berapa sih gue promosiin grabtaxi sampe segininya hahaha. Tak lama berselang bapak taxi menghubungiku dan kita pun pulang dengan rasa aman, mudah, cepat, tepat, dan nyaman. Terimakasih grabtaxi.

NB: buat kamu kamu yang berniat naik taxi pake grabtaxi, bisa klik link ini ya http://invite.grabtaxi.com/pradita82750 lumayan lo, nanti bakalan dapet potongan tarif 30 ribu. Kapan lagi bisa naik taxi semurah ini hahaha.

Advertisements

8 thoughts on “Grabtaxi for The First Time

  1. Tunggu, tunggu sebentar… ini semacam uber juga yah Mbak? Iya sih kalau lagi beramai-ramai mending pakai mobil, apalagi kalau jarak agak jauh. Ojek kan biasanya kalau sendiri dan lagi mendadak alias buru-buru :hehe, menurut saya demikian :)).
    Salut dengan teman Mbak yang tetap bisa memegang prinsipnya dengan teguh!

    • Iya sejenis kali ya…. uber, grabtaxi, grabbike,gojeg… kan lg ngetrand gitu apps yang sejenis ini. Kalau ramean enakan pake mobil tp kalau sendirian mending naik ojeg soalnya kalau macet bisa nyelip2 gitu hahaha. Iya salut, tapi kadang2 terlalu kaku juga ga baik juga, pegang teguh prinsip bagus asal jgn merugikan orang lain juga. Toh islam juga nggak kaku2 amat, banyak memberikan kemudahan bagi pengikutnyan. Tapi ya ga bs dijadiin alasan untuk ngelanggar sih. Intinya sih selama tidak menyangkut tauhid, peraturan itu masih bisa disesuaikan sama kondisi kita. Lah… kok malah curhat haha

    • Saya ga pernah pake uber sih mbak…. tp kayaknya, kayaknya nih ya, mahalan uber. Kalau grabtaxi aku kemarin 9km cuma bayar 70rb trs dipotong 10rb karena promo. Jadi 60ribu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s