Menjadi Ansosmed

Dampak-Sosial-MediaCoba aku mau tanya ya, ada berapa media sosial (medsos) yang kalian punya? Tiga, empat, lima, atau bahkan lebih. Aku pernah punya instagram, facebook, path, twitter, dan line. Di antara kelimanya, yang serin aku buka adalah instagram dan facebook. Blog tak aku masukkan ke dalam kategori medsos karena menurut sepemahamanku, media sosial adalah media online yang digunakan untuk mencari tahu lebih jauh tentang seseorang (kepo) atau berhubungan lebih intens dengan orang lain, selalu mengambil jatah waktu terbanyak ketika menggunakannya, dan meninggalkan rasa sesal ketika selesai mengotak-atiknya karena seringkali informasi yang didapatkan sebenarnya nggak penting-penting amat untuk menginvestasikan waktu sebanyak itu. Nah berhubung ngeblog itu bukan sarana kepo, nggak intens berhubungan dengan orang yang spesifik, nggak terlalu makan waktu, dan banyak manfaat yang didapat, jadilah wordpress bagiku bukanlah medsos.

            Aktif di sebuah medsos telah ku alami dalam beberapa tahapan. Ketika di awal-awal kuliah, aku sangat aktif di facebook. Ketika masa peralihan itu, baru ku sadari kalau facebookku selama SMA banyak diisi dengan status yang sangat-sangat alay, huruf besar kecil, memakai kombinasi huruf dan angka, serta update status yang sama sekali tak penting. Aktif facebook kembali tatkala kuliah bukan tanpa alasan. Kala itu, orang yang aku ‘menaruh perhatian lebih padanya’ cukup aktif di facebook. Jadinya mau tak mau diriku harus aktif di facebook untuk sekedar mengetahui kalau dirinya juga sedang online. Memasang status yang nyeleneh dengan harapan di komentari atau paling tidak di like, bahkan besar harapan dalam diri agar dia memulai chatting duluan. Kenapa nggak chatting duluan aja? hellow… sesuka-sukanya aku sama orang, aku nggak mau dan nggak akan pernah mulai chat duluan, itu prinsip hahaha. Kalau sudah dikomen, amboy… bukan kepalang senangnya. Sumpah itu masa paling nggak banget. Masa iya bela-belain mantengin facebook cuma buat mantengin orang lain online apa nggak.

            Beranjak ke tingkat akhir, alokasi buat facebook mulai berkurang, perhatianku beralih ke twitter. Beralihnya diriku pada twitter bukan tanpa alasan. Lantas alasannya? Ya karena ikut-ikutan temen aja soalnya kesannya kalau facebook kayak terlalu privasi dan ribet, kalau twitter kan bebas mau update apa aja dan dalam waktu singkat tweet-an kita bakalan tenggelam sama tweet-an yang lain. Alasan besar lainnya adalah karena orang yang ku kagumi ketika SMA dan lanjut hingga kuliah juga aktif di twitter hahaha. Berhubung aku sukanya dalam diam, jadinya ya gini deh ngikutin media sosial apa yang sedang dia tekuni. Tapi nggak segitunya juga ya aku sukanya, aku emang pada dasarnya suka twitter karena simple dan informasi yang disampaikan cepet. Aku sih pas awal-awal sering banget nge-tweet, sampe nih ya, aku dijulukin detik.com soalnya aku katanya tweet-annya sering banget, nyama-nyamain detik.com. Pernah beberapa kali aku pengen banget kamu… iya kamu… balesin tweet-anku tapi ya berkali kali pula harapan itu tak terkabul. Karena yang terjadi adalah, ketika aku tak mengharapkan balasanmu, tiba-tiba kamu tuh ngebales tweet-an ku dan itu bikin hari itu jadi indah hahaha, luebbbay. Tapi pernah suatu malam, aku udah jenuh banget nungguin tanggapanmu atas tweet-anku yang tak pernah me-mention namamu tapi aku sadar itu tweet-an untukmu. Eh… tanpa diduga kau membalasnya, senengnya banget banget pake banget hahaha. Sesederhana itu sih menyukai bagiku, tak harus kamu tahu, cukup aku saja yang tahu. Karena aku tak mau menodaimu dan aku tak mau merusak diriku, menyukaimu seperti ini saja juga cukup bagiku. Walaupun nanti toh kamu dengan yang lain ya tak masalah, toh kamu juga tak pernah tau perasaanku. Aduuuuh… ini ngomongin apaan sih, maap yak lagi baper.

            Masa twitter pun berakhir, beranjak ke masa instagram (IG). Ketika kuliah aku benar-benar tak mau membuat akun instagram walaupun teman-temanku menyarankan untuk membuatnya. Katanya sih menyenangkan gitu, bagi-bagi foto aktifitas sehari-hari kita, makanan yang kita makan, pemandangan, dan apapun itu yang bisa difoto. Aku bukannya tak tertarik tapi HP ku yang jadul tak mengizinkanku menginstallnya. Aku telah mengazzamkan diri untuk menginstall instagram ketika aku telah punya HP baru dan Alhamdulillah aku udah ganti HP. Langsung lah ku install instagram, path, dan line. Instagram menjadi sangat menarik dan dalam waktu singkat aku menjadi sangat aktif di IG. Bukan aktif posting-in foto tapi aktif kepoin orang-orang yang menarik untuk dikepoin. Apakah kepoin orang yang ku suka? Sekarang nggak lagi, kepoin orang-orang lucu, aneh, dan kocak menjadi lebih menarik perhatian toh kamu… iya kamu… tak terlalu aktif di IG. Selebgram yang sering bikin video dubsmash atau parodi yang mengocok perut menjadi incaranku tiap harinya. Akibat jarang liburan kali ya, jadi hiburannya video-video singkat di IG. Tiap waktu selalu mantengin IG, duduk berjam-jam pun menjadi tak terasa, benar-benar menguras waktu. Padahal waktu yang ku gunakan untuk membuka IG bisa aku gunakan untuk hal lain yang lebih positif.

            Kemana-mana menjadi tak tahan untuk tak melihat HP. Aku benar-benar merasa terganggu. Aku tak mau menjadi sosok nomofobia (No mobile phone fobia) dan kalau terus dibiarkan sepertinya aku akan menuju ke syndrome itu. Kenapa kekhawatiran itu ada? Karena aku tipe orang yang totalitas ketika ingin mengetahui sesuatu. Misalnya nih, aku lagi pengen tau si A. Jadilah aku akan kepoin semua medsos yang dia punya hingga aku merasa puas akan ke-kepo-anku. Misalnya saja, aku sempat terjerat sama pesonanya actor jepang Takeru Sato, jadilah selama beberapa minggu ku habiskan untuk mencari tahu secara detail siapa si Takeru ini. Makin banyak aku tahu, makin besarlah rasa sukaku dan makin banyak pula waktu yang aku alokasikan untuk berkutat dengan media sosial yang berkaitan sama si Takeru Sato.

            Beberapa hari yang lalu aku menyadari kesalahan perilakuku. Akhirnya ku putuskan untuk menantang diri sendiri, sejauh mana diri ini bisa bertahan ketika ku putuskan untuk menjadi seorang ansosmed (anti sosial media). Dua hari yang lalu ku uninstall semua media sosial yang ada di HP ku (fb, IG, path, twitter, line) hanya ku sisakan whatsapp (telah menjadi kebutuhan hidup dan kerjaan) dan BBM (ini sarana untuk berhubungan dengan anggota keluarga). Hari ini adalah hari kedua dan apa yang aku rasakan? Hidupku benar-benar tenang dan damai. Banyak sekali waktu produktif yang bisa aku alokasikan untuk mengejar impianku yang sempat ditutupi oleh bayang-bayang media sosial. Aku tak mau melalaikan keinginanku untuk mengejar impian hanya gara-gara meladeni media sosial itu, yang ada malah aku hanya bisa jadi penonton kesuksesan orang lain dan lalai untuk meraih kesuksesan diri sendiri. Emang aku agak lebay sih nanggepin medsos, ya atuh gimana kalau emang dampaknya segitu jauhnya buatku. Sebelum benar-benar terlihat dampak buruknya, akhirnya ku putuskan untuk mengambil langkah berani, langkah yang benar-benar ku syukuri karena ternyata menjadi ansosmed sangat sangatlah menyenangkan. Bisa bertahan berapa lama ya kira-kira menjadi ansosmed? Nanti aku ceritain deh kalau nanti medsos itu sudah kembali aku install. Aku berani menantang diri sendiri untuk menjadi ansosmed, kalau kamu gimana? Kamu… iya kamu.

Advertisements

26 thoughts on “Menjadi Ansosmed

  1. Lha ini ngeblog tapi ada unsur curhatnya. Mungkin karena sosmednya udah tutup jadi tumpah ke blog hihihi :peace.

    Kalo aku sendiri batasin 1-2 media sosial, WA, sama blog sih buat kebutuhan dunia maya. Setuju kalau banyak-banyak bikin makin pusing dan nggak produktif 😀

  2. Aku bisa banget loh dit nggak pake sosmed, bahkan nggak pegang HP dalam beberapa hari. Akunya sanggup, tapi orang lain yang punya kepentingan sama aku yang bakal ngomel-ngomel hehe. Sekarang, keadaan sih ya yang menuntut kita untuk update sosmed. Kalo nggak, kita yang tergilas zaman. Asal porsi ibadahnya nggak jadi nomor 2 😉

  3. wkwk, lucu baru tau dita lagi baper nih. Well, udah ngerasain sih social media musti di batasin. Mulai ga update facebook, twitter, lama-lama nular ke social media lain. Kayaknya menyadari jadi generasi muda yang ga produktif, yang hobi seneng-seneng tapi ga dibarengin dengan aktivitas positif sama banyaknya. Sekarang paling-paling aktif di wordpress sama tumblr, yang ngasah nulis. Sama aktif di wa, line sama bbm; yang notabene punya grup-grup untuk memperpanjang silahturahmi. Kalau ig, cuma khusus foto-foto lagi ketemu siapa, karena makin kesini waktu kumpul dengan seseorang itu makin berharga. Wohoo, ketika teknologi makin pintar, memang kita ya yg musti (lebih) pintar 🙂

    • Uji…. long time no keep in touch (hahaha ngasal gini inggrisnya)… aku terperdaya banget sm yang namanya medsos… aku ngerasain dampak positifnya tp ternyata dampak negatifnya jauh lebih banyak… sejauh ini i’m fine without socmed 🙂

  4. Wkwkwkwkwkwk… ngakak sendiri baca nih tulisan… assslliii bapeeer 😜

    Bagus… bagussss… jangan sampai lupa daratan karena sosmed yah

    Jadilah kacang yg tak lupa pada pemiliknya *haduh ngomong apa ini 😣

  5. Tos dulu dong, kita sama-sama pernah ngalay di fesbuk wkwkwk

    Sekarang aku aktif cuma di line sih, buat tau info perkuliahan dari temen-temen. Twitter jarang buka, fesbuk apalagi. yah, sesekali doang sih 😀

    • #tos wkwkw
      Iya mending jangan banyak-banyak sosmed, bikin kita jadi update sih tapi menyita waktunya itu yang bikin mumet. Kadang aktifitas yang lebih penting malah terbengkalai, kan rugi

  6. hahahahaha aku tadinya juga gitu. fb dan twitter aja sih. tapi twitter emang bikin keranjingan. lha tiap detik ada tweet. udah gitu aku berteman sama kpoper2 yg umurnya jauh lebih muda dr aku, ya udah lah makin keasikan hahaha sampe kebingungan kalau kehabisan kuota internet. terus karena dapet hidayah dari Allah, aku pun menutup akun twitterku karena terlalu banyak mudharatnya drpd manfaatnya. yang waktuku bisa dipake buat ngaji dan zikir, eh malah terbuang percuma dengan tweet2 gak penting dan gak bermanfaat. ya, walaupun sempet sering ngeretweet tweet2 dari ustad2 atau dr akun2 islami, tapi teman2ku di situ gak mendukung, yaudah mending deactivate aja deh. lalu facebook yang makin sepi pun aku deactivate, dan efeknya, emang idup jd lebih bermakna, gak cuma liatin status2 alay. sempet bikin ig tp gak aktif krn hapenya rusak. -_- yaudah kembali lg on di fb, karena msh bisa kupakai buat komunikasi ama bbrp tmn, itupun sering bikin bosen karena status2nya masih aja gak mutu hahaha yg penting sekarang gmn kita pinter2 mengalokasikan waktu utk bersosmed dan utk mengejar kehidupan akherat yg gak terhindarkan hehehe oh ya, tapi dengan sosmed kita bs manfaatin wat dakwah mengajak pada kebaikan, ya gak? 🙂

    • Kalau sekarang udah ga ansosmed lagi sih mbak… udah aku install lagi di hpku. Soalnya jadi berasa kudate banget kalau nggak punya medsos… ditanyain ini nggak tau… ditanyain ini ga ngerti… jai aku balik lagi deh aktifin mereka. Bedanya… sekarang aku jadi agak bijaksana ngaturnya (dikit sih) jadi nggak terlalu mengganggu kehidupan realku. Asikin aja sih kata tmenku… ga usah diambil ribet haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s