Bukan Segalanya Kok

http://anisahanwar.weebly.com/uploads/1/4/5/4/14545560/4998934_orig.jpg?271“kamu harus juara kelas terus ya,” perkataan kakak perempuanku ini sungguh membekas di ingatan, susah banget buat ngapusnya, kayak kamu #eh.

“kamu harus juara kelas, aku aja nggak pernah peringkat 3, peringkatnya kalau nggak satu ya dua” tambahya lagi menguatkan pernyataannya yang sebelumnya. Aku sih angguk-angguk geleng-geleng aja kala itu. Saking seringnya nih kakakku mendoktrinku dengan kalimat semacam ini, dampaknya adalah aku menjadi anak yang super rajin dan fanatik banget sama yang namanya nilai. Aku hanya tak ingin kalah dari kakakku, kan generasi penerus harus lebih baik, iya to?

            Di tingkat sekolah dasar (SD) ku lewati dengan cukup mudah. Hanya saja sempat terjengkang ke peringkat empat ketika kelas 3SD dan sukses membuatku nangis-nangis Bombay. Setelah itu, jangan ditanya, bak seorang marketing yang dikejar target, belajarku menjadi berkali-kali lipat dari sebelumnya sehingga peringkat wahid kembali ku dapatkan tatkala naik di kelas 4SD. Masa kejayaan masih ku pertahankan hingga masa sekolah dasar berakhir.

            Memasuki masa SMP, masa dimana bersekolah menjadi hal yang sangat-sangat menyenangkan. Aku menjadi pribadi yang haus akan perhatian dan nilai. Sifatku menjadi sangat mengerikan. Mau tahu semengerikan apa? Kalian bisa baca di sini. Singkat cerita, masa SMP ku lalui dengan begitu mulus, masa keemasan masih dengan kuat ku genggam.

            Masa-masa SMA adalah masa-masa suram untuk nilai raportku. Susaaah banget buat dapet nilai sesempurna masa-masa sebelumnya. Temennya makin beragam, pengetahuannya beragam, latar belakangnya beragam, membuat aku benar-benar tak bisa berkutik. Ku pasrah pada kesempurnaan nilai. Akan tetapi pada masa-masa terpuruk inilah aku menadapatkan banyak sekali pencerahan dan pendewasaan tentang apa itu hakekat sebuah nilai. Memang benar nilai-nilai yang ku dapatkan tak sesempurna tempo doeloe tapi aku mearasa lebih mengerti, lebih paham, lebih menguasai apa-apa yang ku pelajari. Aku telah menjadi lebih bijak dan lebih dewasa dalam menuntut ilmu. Judulnya aja kan menuntut ilmu, bukan menuntut nilai. Jadi ilmulah yang harus diperoleh bukan nilai. Nilai hanyalah bonus semata. Bonus kan bisa didapet ya sering juga ga dapetnya. Jangan sampai bonuslah yang menjadi target utama kita tapi esensi dari ilmunya malah terbengkalai.

            Kuliahpun aku tak terlalu menghawatirkan masalah nilai, yang penting ngerti. Tapi yang nggak nyungsep-nyungsep amatlah nilainya, masih dalam taraf standar, seenggaknya mau daftar apa-apa (semisal beasiswa atau lanjut studi) masih masuk kriteria lah. Nah… masuklah ke inti dari tulisan ini, ternyata masalah nilai inilah yang sedikit membuatku sedih akhir-akhir ini, gimana enggak coba, gini nih ceritanya. Emang harus segitunya ya… eh ceritanya belum yak wkwkwkwk.

            Ceritanya nih aku lagi jadi tutor buat adek-adek SMA. Nah kebetulan hari itu tuh ada ujian. Ku bagikan kertas ujian sambil ku bisikkan bisikan gaib kata-kata bijak sedikit,

“dikerjain sendiri ya adek-adek, nilai yang kalian dapetin di sini nggak terlalu penting, yang penting adalah kelian paham atau nggak sama materinya. Nilai ini hanya sebagai parameter, sebenernya selama ini kalian paham atau nggak. Jangan nanya temen ya, kerjain sendiri, nanti yang nilainya paling tinggi dan ngerjain sendiri kakak kasih coklat” kataku berpanjang lebar sedikit diselingi reward dengan tujuan mereka akan termotivasi mengerjakan soal-soal yang diberikan.

“tapi kak, kakak ngerasa nggak sih kalau sekarang itu sudah tidak ada yang namanya kejujuran. Semuanya hanya berpatokan pada hasil. Saya aja misalkan udah ngerjain bener-bener sendiri tanpa nanya temen terus nilainya kecil, saya bakalan dimarahin sama orang tua saya. Jadi, jujur itu nggak penting, yang penting di zaman sekarang itu cuma hasil. Iya nggak sih kak?” papar seorang anak di kelas itu, paparannya sungguh polos. Berbekal dari pengalaman pribadi sebagai premis tapi sayangnya kesimpulan yang didapatkan sungguh tidak tepat. Tapi jujur, aku sempat tercekat dan bingung harus menjawab apa. Belum sempat menjawab tiba-tiba anak yang lain menjawab,

“iya kak, orang tua saya juga begitu” jawabnya polos

            PLAK!!! Tamparan keras nih bagi para orang tua yang senantiasa menuntut nilai bagus tanpa menanamkan bagaimana seharusnya cara yang dilakukan untuk mendapatkan nilai tersebut. Jangan melulu menuntut nilai bagus, nilai bagus itu bukan segalanya kok. Kalau kalian jadi aku, mau jawab apa ke anak itu?

Advertisements