Ungkap atau Tak Ungkap

Pernahkah menyimpan rasa? Aku sedang. Pernahkan mengungkap rasa? Aku bimbang. Dibesarkan dari lingkungan yang benar-benar menganggap pacaran adalah sesuatu yang tabu membuatku mau tak mau juga mentabukannya. Masalahnya aku sedikit salah paham, aku mangira pacaran itu sama tabunya dengan perasaan yang mendahuluinya. Bukankah pacaran itu dimulai dari rasa ketertarikan kita akan seseorang, lantas direalisasikan dalam bentuk pacaran karena pilihan menikah sangatlah jauh dari jangkauan. Nah itu, aku menganggap tabu pacaran, benar. Tapi celakanya aku juga menganggap tabu rasa suka yang ku rasakan. Padahal suka dan menyukai itu manusiawi, ya menyukai itu manusiawi. Akibatnya, aku merasa sangat bersalah dan malu luar biasa ketika mendapati diriku tanpa ku sadari telah menyukai seseorang. Jangankan untuk mengungkapkannya pada orang yang bersangkutan, menceritakannya pada teman sendiri aku tak sanggup menanggung malu, bahkan mengaku pada diri sendiri pun aku tak bisa (lebaaaay :D). Tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, aku sedikit demi sedikit mulai paham dan mengerti. Mulai berani mengakui bahwa aku menyukainya walaupun itu sebatas pada diri sendiri.

                Butuh waktu agak lama untuk memberanikan diri menceritakan perihal rasa pada teman dekat. Setiap kali aku dan teman-temanku berkumpul lantas ngobrol ngalur-ngidul yang ujung-ujungnya bakalan sampai pada bahasan soal rasa, aku selalu mengambil jalan aman, diam. Diamku tak akan menimbulkan curiga bagi yang lain, tau sendiri kan kalau perempuan lagi ngumpul, pasti bakalan ngobrol semua, jadinya aman. Posisi berbahaya itu ketika aku hanya tinggal berdua dengan seorang teman yang kekepoannya sangat tinggi. Kepo (keingintahuan) itu muncul karena aku juga mempunyai rasa kepo yang terlampaui tinggi. Hari yang benar-benar aku takutkan datang. Kala itu, aku sedang sendirian di asrama. Seorang temanku berniat untuk bertandang. Kita pun mengobrol banyak hal dan sampailah pada pertanyaan,

“kamu suka sama siapa Dit?” tanyanya.

“ada, temen SMA kita” jawabku pendek, berharap dia tak akan melanjutkan pertanyaannya lebih lanjut.

                Ternyata sungguh jauh dari dugaan. Dia terus menerus mendesakku. aku memberikan clue dan tak berani menyebutkan namanya, ku berharap dia berhenti karena kau paling tak bisa didesak. Benar saja, dia terus mendesak. Desakannya membuatku guling-guling di kasur asrama, dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Aku tak tahan didesak dan tak mampu menyebutkan namanya. Tapi parahnya, dia masih dengan keyakinannya bahwa dia harus tahu siapa yang aku suka. Pertahananku pun runtuh, aku sebutkan namanya, dengan suara lirih. Dia pun tertawa mendengar pengakuanku, tak habis pikir dengan sikapku yang terlalu berlebihan hanya untuk menyebutkan namanya. Ya beginilah aku dengan kelemahanku, lemah dalam hal ungkap mengungkap. Jikalau pilihannya ungkap tak ungkap, ya dapat dipastikan ku pilih tak ungkap. Lebih menarik menyimpan daripada mengungkap karena dengan begitu kita bebas bermain dengan ekspektasi kita sendiri terkait rasa yang kita rasa, itu sih pendapatku yah.

                Keberanianku kala itu menstimulasi keberanian-keberanianku selanjutnya untuk menceritakan perihal orang yang aku suka pada teman yang satu dan teman yang lainnya. Benar-benar akselerasi keberanian. Benar kan, lingkungan benar-benar berpengaruh pada keberanian seseorang untuk melakukan sesuatu. Nah, sekarang aku sedang tinggal satu kosan bersama dengan seseorang yang telah banyak mengalami asam garam dunia suka menyukai. Dia benar-benar seratus delapan puluh derajat berbeda denganku. Dia adalah orang yang sangat terbuka perihal perasaan yang dia rasa. Dia juga pernah bercerita padaku bahwasanya telah beberapa kali dia mengungkapkan rasa yang dia rasa pada orang yang dia suka. Aku tak habis pikir bagaimana dia bisa melakukannya dengan mudah, tak hanya sekali tapi berkali-kali. Penolakan demi penolakan telah dia alami, tapi menurut dia itu tak masalah karena setidaknya dia telah mengetahui apa yang dirasa oleh orang yang dia suka terhadapnya. Dia selalu bercerita pengalamannya dan sesekali menanyakan pengalamanku. Aku bercerita mulanya seadanya tapi lama-lama semuanya termasuk orang yang sekarang ku suka. Seperti dugaanku sebelumnya, dia memberi saran padaku agar mengungkapkan rasa yang ku rasa, dan seperti kau duga aku pasti menolaknya. Tapi dia tidak menyerah, dia terus mendesakku, terus menerus. Hingga muncullah sedikit pemikiran, “apa aku coba aja ya? Seenggaknya kan aku bisa tahu bagaimana perasaannya padaku”. Berkali-kali pernyataan itu aku pertimbangkan. Hari demi hari semakin muncullah rasa yakin dalam diri, hingga suatu malam aku berniat untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Hanya sebatas ingin tahu saja bagaimana perasaan dia padaku, itu saja.

                Ku ambillah HP dan entah kenapa sebelum memulai pengungkapan itu, aku ingin sekali menelpon salah seorang temanku yang memang sering ku jadikan tempat curhat dan perlu kau ketahui, teman curhatku ini juga tak tahu perihal orang yang ku suka. Ku bercerita tentang sesuatu yang kurang penting seperti biasa hingga tanpa ada angin dan hujan dia berkata,

“Dita tau nggak, dia (temanku yang lain) lagi anniversary.an tau” ungkapnya.

“anniversary.an? emang pacaran sama siapa?” tanyaku karena yang ku tahu teman yang kita omongin ini tak mempunyai pacar.

“anniversary.an pengungkapan perasaan yang dia lakukan” jawabnya.

“maksudnya?” tanyaku makin penasaran.

“iya jadi ceritanya dia tuh udah nggak tahan menahan rasa, jadinya dia memutuskan untuk mengungkapkan rasa yang dia rasa pada orang yang bersangkutan di fb, chat fb. Tapi orang yang bersangkutan  nggak ngerespon tau, nggak bales satu huruf pun padahal chat nya udah dibaca. Nah hari ini tuh, tepat satu tahun dia nggak dibales chattingannya” ceritanya berpanjang lebar.

                Aku pun membeku mendengar cerita temanku, seketika ku buang jauh-jauh keinginanku terkait ungkap mengungkap itu. Aku membayangkan bagaimana jadinya kalau aku yang ada di posisi temanku yang tak dibalas chat nya. Mau ditaruh mana Maluku? Ya di ambon lah (hahaha). Aku menjadi kembali introvert seperti dahulu kala, tak ada lagi keinginan ungkap mengungkap itu. Aku putuskan akan berada di sisi tak ungkap karena ku tahu aku tak akan sanggup dan sepertinya prinsipku yang dahulu lebih menarik, bermain-main dengan ekspektasi sendiri akan jauh lebih menyenangkan daripada kenyataan yang menyakitkan, ya iyalah. Lagi pula prinsip ini jauh lebih tepat karena aku perempuan walaupun katanya menyatakan duluan itu jauh lebih besar pahalanya bagi seorang perempuan (ga tau ini dalilnya apaan). Pilih ungkap atau tak ungkap? Aku sih tak ungkap, kalau kamu gimana? Kamu… kamu iya kamu.

Advertisements

Hati-Hati Agar Tak Menyakiti Hati

love-09Memang rumit membahas masalah hati. Karena dari sanalah muara rasa sedih – senang, derita – bahagia yang kadang-kadang datang dari sesuatu yang tak pernah kita duga. Sengaja lawan kata di atas ku bahagiakan di akhir, bukan tanpa alasan, aku adalah penyuka cerita dengan akhir bahagia. Bukankah semua orang juga mendamba hal yang sama, bahagia di akhir cerita. Apa kabar gerangan dengan hati? Sudahkah berhati-hati agar tak menyakiti hati? Kalau hatimu bagaimana? Kamu… iya kamu… yang sering ku doakan agar dekat dengan hatiku jikalau memang harusnya begitu. Kalaupun tidak, aku siap didekatkan dengan hati lain selain hatimu. Tapi mengapa hatiku tak bisa berbalik arah menjauhi hatimu. Mungkin karena ku kurang berhati-hati menjaga hati. Kali ini ku akan berkisah tentang sebuah kisah yang berkaitan dengan hati, hati-hati agar tak menyakiti hati.

            Aku kenal akrab dengan mereka berdua, mawar dan kumbang, bahkan sangat akrab dengan si mawar. Jadi bisa ku pastikan ini bukanlah cerita fiktif belaka karena akan ku sertakan bukti konkret untuk menguatkannya. Mawar adalah seorang perempuan yang belum bertemu dengan jodohnya, sedangkan kumbang telah beranak satu. Keduanya dipertemukan di sebuah tempat kerja yang aku juga ada di dalamnya. Hubungan keduanya sangat akrab, aku bisa melihat itu semua, bahkan sejak pertama kali ku menjadi bagian dari instansi ini, bisa ku lihat jelas keakraban di antara keduanya. Tak ada yang salah dari interaksi mereka berdua, interaksi mereka masih dalam taraf wajar-wajar saja. Keakraban yang terjalin sangatlah wajar karena si mawar merupakan pribadi yang selalu cerah ceria dan berbaur dengan semua orang yang ada. Aku pun juga berpendapat begitu. Candaan pun kerap mereka lontarkan satu dengan yang lain, suasana pun terbangun tanpa rasa canggung dan membuat semua personil yang ada di sana menjadi nyaman.

            Pada suatu hari, ada urusan yang harus segera mawar sampaikan pada kumbang. Memang sudah bukan jam kantor, tetapi karena urusannya begitu urgent, akhirnya si mawar memutuskan untuk menghubungi kumbang melalui whatsapp, seperti biasa candaan pun si mawar lontarkan pada si kumbang. Di akhir percakapan, si mawar mengucapkan rasa terimakasih yang agak kontroversial seperti di bawah ini,

“terimakasih ya mas kumbang yang ganteng” sembari berkata padaku,

“aku ngirim kayak gini bahaya nggak ya mbak, takutnya istrinya marah. Tapi, nggak mungkin sih, lagian istrinya kan lagi jauh di luar kota” ucapnya padaku yang ku tanggapi dengan senyuman saja sambil berkata “awas lo… ntar istrinya tau”.

            Kejadian itu benar-benar sudah ku lupakan, hingga si mawar pada suatu pagi menghampiriku dengan raut wajah yang berbeda,

“mbak, aku mau cerita sesuatu, tapi jangan bilang-bilang ya” ucapnya penuh rasa was-was.

“ya udah cerita aja” kataku dengan nada suara datar padahal aslinya penasaran banget sama ceritanya. Dia pun langsung mengeluarkan HP nya dan menunjukkan chat dari mas kumbang,

20151206214520

20151206214529

Aku pun membelalakkan mata,

“Hah? Seriusan ini?” tanyaku seakan-akan tak percaya

“Iya mbak beneran, aku bingung banget pas dikirimin chat ini. aku gemeteran, nggak nyangka aku bakalan dimaki-maki sama mas kumbang kayak gini. Makanya cuma aku bales emot nangis. Tapi setelah aku pikir-pikir, ini kayaknya dari istrinya mas kumbang deh mbak. Tapi aku tuh nggak ngerti, aku emang salah apa. Aku juga nggak pernah chat.an sama mas kumbang kecuali kaitaannya sama kerjaan dan itu pun jarang banget” ceritanya berpanjang lebar.

“oh… jangan-jangan karena chat mbak yang kemarin itu loh mbak yang bilang mas kumbang ganteng” jawabku mencoba flashback.

“iya kali ya mbak, aku juga sempet kepikiran ke chat yang itu. aduh… kok bisa kayak gini ya” kata si mawar

“hahahaha… makanya hati-hati kalau ngomong, padahal kemarin udag nyadar bakalan kayak gini, eh… malah tetep dilakuin, rasain akibatnya sekarang” jawabku sambil terus tertawa

            Benar-benar harus hati-hati bukan? Hati-hati agar tak menyakiti hati. Mungkin bagi kita hal sederhana tapi tidak bagi hati yang lain. Tidak lah salah jika makian justru yang kita dapat karena hal yang kita lakukan tanpa kehati-hatian. Begitulah hati ketika telah tersakiti, akan mengeluarkan segala cara agar si hati yang menyakiti mendapatkan balasan yang setara dengan rasa sakit yang dialami. Aku pribadi sih tak menyalahkan akan sikap si istri mas kumbang karena sangatlah lumrah ketika pujaan hati digoda oleh hati yang lain. Hati siapa coba yang tak sakit hati ketika melihat tanda-tanda ketika si pujaan hati mempunyai gelagat untuk pindah ke lain hati. Ku harap kamu tak kan begitu, kamu iya kamu. Hati-hati ya jaga hati, aku pun begitu, akan selalu mejaga hati hingga bertemu kamu nanti.