Kemampuan Melupakan

http://cahayahipnoterapi.com/wp-content/uploads/2015/02/melupakan-mantan-dengan-hipnoterapi.jpg

melupakan

Malam ini berasa kembali ke masa kuliah dulu, begadang hingga waktu yang tak ditentukan. Berakhir tatkala mata telah tak mampu untuk bertahan. Sejauh ini masih sanggup dibegadangkan hingga 2 jam ke depan. Aku tahu ini tak dibenarkan tapi berasa kangen banget dengan pola hidup begadang hingga tengah malam. Telah ku tunaikan, lantas apa yang dirasakan? Kepuasan (hahaha). Mau curhat apa ya kira-kira? Ada kisah apakah hari ini? Oh… iya berita kehilangan. Tiga hari belakangan ini aku dikagetkan dengan beberapa berita kehilangan. Pertama, mbak kosan yang kehilangan HP nya ditempat yang sebelumnya telah terjamin keamanannya. Mbak kosanku termasuk pula aku telah terbiasa meletakkan HP dan laptop begitu saja di kantor tempatku bekerja. Tapi hari itu benar-benar sial, ada seorang bapak-bapak yang masuk dengan berpura-pura punya urusan tapi ternyata ngambil yang bukan-bukan, bukan haknya maksudnya. Aku berpapasan dengan bapak itu ketika keluar ruangan yang tak biasanya ada orang baru keluar dari ruangan itu, aku curiga, tapi odongnya tak punya niatan atau inisiatif untuk sekedar bertanya ‘bapak ngapain di sana?’. Benar saja, satu buah handphone telah raib dari ruangan itu. sebenarnya kalau aku tak segera ke sana mungkin semua barang berharga di ruangan itu akan raib (3 buah HP, 2 buah laptop, dan tas para pegawai). Selalu ada keberuntungan di setiap ketidakberuntungan, ‘untung ya cuma satu HP saja yang sempat terambil’.

            Kejadian kehilangan yang kedua dialami oleh seorang pegawai yang kehilangan motor yang baru dibelinya kurang dari tiga bulan yang lalu. Rasa iba menyelimuti hati karena orang yang bersangkutan sebelumnya telah terkena tipu daya jual beli motor online. Harga telah disepakati, uang sekitar 4 juta telah ditransfer, lantas si penjual hilang raib tanpa bekas. Banyak yang menyayangkan, kenapa membeli barang semahal itu lewat online apalagi belum berpengalaman. Tapi begitulah musibah, bisa menimpa siapa saja tanpa terkecuali, baik yang sudah berpengalaman apalagi yang belum berpengalaman sama sekali. Kejadian ketiga baru tadi sore terjadi. Seorang siswi kehilangan tas sekolahnya yang berisi buku pelajaran, dompet, uang, dan barang berharga lainnya. Kronologisnya begini, si siswi bersangkutan bersama pacarnya membawa mobil ke sebuah ruamh makan. Sesampainya di sana mereka keluar dan tas si siswi pun diletakkan di dalam mobil. Pencongkelan mobil pun terjadi, pintu mobil dicongkel dan tas pun di ambil, hilang tak berbekas. Air mata tak hentinya terurai dari mata si siswi. Banyak yang tak habis pikir, bagaimana di tempat seramai dan seaman itu bisa terjadi kejadian seperti itu padahal banyak satpam, yah walaupun mereka hanya berkumpul di satu titik tak punya niat untuk berkeliling, sepertinya. Satu lagi, bagaimana mungkin pintu mobil dicongkel tanpa menimbulkan suara alarm mobil? Bukankah disenggol sedikit saja suka pada heboh bunyinya. Entahlah, memang maling selalu punya cara. Benar-benar tiga kejadian yang mencengangkan, membuatku menjadi lebih awas dan waspada.

            Dari ketiga kejadian itu dapat ku lihat bahwa setiap korban akan mengalami shock dan kaget luar biasa mengalami kejadian yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Sehari dua hari mungkin masih membekas rasa sedihnya, tapi dua orang yang ku lihat tak perlu hitungan hari untuk recovery. Mereka terlihat begitu tegar dan menerima kejadian ini sebagai bagian dari ujian hidup. Pengen rasanya memperlihatkan ketegaran mereka pada maling-maling yang terkutuk itu agar mereka menyesal dan merasa rugi serugi-ruginya. Ini ngayal sih, lagian mana ada maling yang bakalan nyesel, kalau nyesel ya ga bakalan jadi maling. Bagaimana mereka bisa dengan begitu mudahnya bangkit dari keterpurukan? Analisa dangkalku sih karena otak kita punya kemampuan luar biasa untuk melupakan, melupakan sesuatu yang tak mengenakkan, entah itu rasa sakit, kecewa, sakit hati, penyesalan, dan rasa tak enak lainnya. Allah sudah begitu baik merancang otak kita dengan bagitu apiknya agar dengan begitu mudahnya melupakan. Mungkin ingatan tentang kejadiannya masih ada, tetapi rasa dari kejadian itu pasti telah hilang.

            Pengalaman pribadi yang aku alami adalah setiap bulan aku akan mengalami rasa sakit yang luar biasa akibat menstruasi, kejadian ini berulang tiap bulan, berlangsung selama dua sampai tiga hari. Menjalani hari tanpa gairah dan inginnya hanya tergeletak saja di kasur, makan tak minat, beraktivitas tak mampu. Aku selalu ingat memori itu tapi aku lupa rasa sakitnya ketika telah lewat masanya. Bayangkan saja bagaimana tersiksanya aku ketika aku bisa mengingat rasa sakit itu, hidupku akan terus berkutat dengan rasa sakit. Allah benar-benar maha baik, fabiayyi alaa irabbikuma tukadzibaan (maka nikamat tuhanmu yang manakah yang kau dustakan) (QS. 55:55). Kemampuan melupakan yang hebat inilah yang juga membuat perempuan mampu untuk mempunyai anak satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya padahal semua orang tau bagaimana rasa sakitnya ketika melahirkan. Rasa sakitnya seperti patahnya 200 tulang secara bersamaan. Jikalau tak ada kemampuan melupakan maka tak akan ada ceritanya perempuan yang mau melahirkan lebih dari sekali jika rasa sakitnya masih bisa dirasakan.

            Kemampuan melupakan ini juga bisa membuat ornag-orang yang mengalami kegagalan akan terus bangkit dari keterpurukan. Maka aku sedikit tak percaya ketika anak muda jaman sekarang mengleuarkan istilah ‘gagal move on’. Hei… mana ada? Otak kita telah dirancang untuk bisa melupakan walaupun memang pada beberapa kasus membutuhkan waktu. Maka jangan lantas cepat mengambil kesimpulan dangkal bahwa kau telah ‘gagal move on’ yang ada adalah kau sedang dalam proses untuk move on. Istilah ‘gagal move on’ telah memberikan gambaran seakan-akan kalian adalah generasi yang mudah menyerah. Ih… mbak serius amat, itu kan istilah buat becandaan doang. Hahaha ya juga ya, serius amat nanggepinnya. Intinya adalah tak ada istilahnya kita harus menyerah akan rasa sakit entah itu jiwa maupun raga yang menimpa kita karena kita punya kemampuan luar biasa canggih untuk melupakannya. Jika sakit itu datang menghapiri hadapi dengan rasa sabar karena sakit yang disertai sabar akan menjadi penggugur dosa. Setiap dari kita telah dirancang untuk mempunyai kemampuan melupakan jadi jangan mendoktrin diri untuk senantiasa terpuruk karena kenangan akan rasa sakit yang kita coba untuk terus diingat. Biarkan aku dengan semua pengharapanku untuk suatu saat nanti membersamaimu, toh walaupun nantinya kau tak bersamaku, hidupku masih akan berjalan dengan normal karena aku punya kemampuan untuk melupakan, malupakanmu, kamu… iya kamu, walaupun ku tahu itu butuh waktu.

Kebohongan si Bapak

20Bebarapa bulan yang lalu tepatnya di bulan November aku memutuskan untuk pulang kampung. Ngapain? Lamaran ya? Banyak yang menyangka begitu tetapi sesungguhnya aku pulang bukan karena itu, aku pulang karena orang rumah akan mengadakan pengajian. Pengajian buat lamaran ya? Pasti ada aja yang ngejar sampai segitunya, masih belum percaya kalau aku memang pulang bukan untuk itu. Sungguh, aku pulang bukan untuk itu, tapi untuk lamaran #eh hahaha. Orang rumah telah mewanti-wanti aku dan saudaraku untuk mengurus izin pada bulan November, katanya mau ada pengajian dan orang tuaku berharap semua anaknya berkumpul pada hari itu. Kurang afdhol katanya kalau kurang satu dua orang. Jadilah aku sudah mengurus surat ijin sejak bukan oktober dan sedikit pergulatan pendapat akhirnya aku diperbolehkan untuk pulang. Lega.

            Sesampainya di rumah aku benar-benar tak bisa istirahat, padahal bayanganku yang namanya pulang kampung itu berarti istirahat pol. Lah ini, dari pagi ampe malem kerjaannya bikin kue, masak ini, masak itu, untuk keperluan aqiqah keponakanku dan pengajian yang hajatannya disatukan. Di rumahku tak ada ceritanya pesen catering-cateringan, semuanya dimasak sendiri. Lebih hemat dan lebih kekeluargaan katanya. Tapi jujur, cuapek banget. Padahal kerjaanku nggak ribet-ribet amat sih, paling cuma ngupas, motong, bungkus. Nggak kayak ibu sama mbahku yang mondar-mandir, ngasih bumbu ini, ngasih bumbu itu, mencampur yang ini, mencampur yang itu. Sejauh yang aku inget, tiap kali ada hajatan tak pernah sekalipun pesen catering, pasti masak sendiri, sebesar apa pun hajatannya. Pas mbak ku yang pertama dan kedua menikah, mulai dari kue ringan, kue berat, menu daging, menu ayam, nasi, semuanya dibuat sendiri. Kebayang dong gimana rieweuh-nya. Misal mau bikin semur aja, undangannya kan beratus-ratus orang (di desa emang gitu), maka ibuku akan memprediksi berapa daging yang harus dibeli, berapa kelapa yang dibutukan (kelapa yang dibeli masih dalam batok kelapanya, jadi harus dikupas dulu), berapa bawang putih yang harus dikupas, semuanya dimulai dari awal dan dibikin sendiri. Salut deh sama orang rumah terutama ibuku kalau dalam hal masak memasak.

            Ibuku memang terkenal jago masak, hampir semua orang desaku tahu itu. Lihat saja tiap kali lebaran, pasti banyak sekali yang datang ke rumah untuk memesan kue kering. Aku kadang bosan karena merasa terlalu capek tapi seiring bertambahnya usia aku jadi mengerti, semua yang ibuku lakukan tak lain dan tak bukan hanyalah untuk anak-anaknya. Ibuku selalu menggunakan bahan-bahan terbaik, makanya orang-orang suka memesan kue atau makanan ke ibuku walaupun harganya lebih mahal dari yang lain tapi mereka sudah tahu kualitasnya tak akan mengecewakan. Semuanya mengakui jikalau masakan ibuku enak, aku pun begitu. Tiap kali pulang kampung ibuku selalu bertanya mau dimasakin apaan. Bakalan banyak menu berderet yang aku sebutkan. Program diet yang ku lakukan akan gagal total kalau pulang kampung tiba. Perbaikan gizi benar-benar terlaksana, bahkan kalau dibiarkan bisa overweight. Ibuku itu suka sekali masak, tapi anehnya tak suka makan. Kalau di rumah sedang tak ada aku dan mbak Dila, ibuku jadi malas masak karena orang rumah pada malas makan. Nafsu makan mereka seolah-olah disatukan padaku dan mbak Dila. Bisa dibilang masakan ibuku telah mendapatkan pengakuan ‘enak’ hampir dari semua orang tapi tidak dari satu orang. Siapa dia? Dialah bapakku.

            Bapakku enggan sekali atau bisa dibilang jarang sekali memuji masakan ibuku. Ada saja yang dikritik, kurang inilah, kurang itulah. Ibuku sampai kebal dengan kritikan bapakku, sampai-sampai ibuku bilang,

“masakan ibu emang nggak pernah bener di mata bapakmu”

            Aku agak aneh saja, perasaan nih ya, masakan ibuku itu enak-enak aja, bahkan bisa dibilang enak banget. Tapi ya gitu, bapakku terkesan gengsi untuk mengakuinya. Apa semua laki-laki gitu ya? Gengsi untuk memuji pasangannya. Tapi nggak juga kali ya, bapakku aja yang aneh. Bapakku penyuka masakan padang, sukaaa sekali. Menurut dia nih, masakan padang tuh uwenaaak tenan. Aku juga suka sih, tapi ya nggak gitu-gitu amat. Pada suatu ketika, bapakku pernah berkata ketika kita semua sedang makan bareng,

“kok bisa ya, orang padang itu bikin daun singkong jadi seenak itu. Tapi kok ibumu nggak bisa. Ibumu pernah bikin, tapi rasanya nggak bisa ngalahin masakan warung padang” kata bapakku pada suatu hari mencoba menyulut amarah ibuku. Ibuku sih anteng-anteng aja, kritikan seperti itu biasa baginya, ibaratnya udah kenyang.

            Pas aku pulang November kemarin, bapakku sedang sakit. Sakitnya bapakku akan berimbas pada makanan yang dia makan. Dapat dipastikan akan lebih banyak permintaan yang bapakku inginkan. Masakan padang tak bisa dia order karena bapakku terkena kencing manis, tau sendiri kan masakan padang kayak gimana. Ketika beliau sakit, beliau tak mau makan masakan ibuku. Bapakku lebih suka nasi bungkus di pasar, katanya enak. Jadilah setiap pagi hari kita punya tugas untuk membelikan nasi bungkus di pasar. Aku agak aneh saja, perasaan nasi bungkus yang bapakku bilang enak itu jauh banget rasanya kalau dibandingkan dengan nasi bikinan ibuku, beneran deh. Agak males juga sih tiap pagi harus ke pasar yang jaraknya lumayan. Pas hari dimana ada hajatan aqiqah dan pengajian di rumahku, bapakku tetap keukeuh untuk dibelikan nasi bungkus pasar. Padahal di rumah lagi banyak banget makanan dan semua orang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mbakku yang tertua bertugas untuk menjaga dan memenuhi keperluan bapakku yang kala itu sedang sakit. Ketika jam sarapan, mbakku ini nggak sempet ke pasar buat beli nasi bungkus dan akhirnya punya ide brilian untuk mengatasinya. Dia ambillah bungkus nasi dan meracik sendiri nasi dan lauk serta dibungkus seolah-olah nasi bungkus yang biasa bapakku minta belikan di pasar.

            Setelah dianggap sempurna tanpa celah, masuklah mbakku ke kamar bapakku dan menyuapkan nasi bungkus imitasi itu. Makanlah bapakku suap demi suap tanpa merasa curiga sedikit pun. Tak lama kemudian, bapakku berkata pada mbakku,

“ini nasinya beli dimana? Kok beda rasanya dari biasanya?” selidik bapakku

“kenapa pak?” tanya mbakku, benar-benar tak menyangka kalau dia bakalan ketahuan

“enak, enak banget, beda dari yang kemarin-kemarin. Beli dimana?”

“beli di Ibu Sari (nama ibuku)” jawab mbakku sambil tertawa terbahak-bahak dan bapakku hanya tersenyum malu.

            Mbakku langsung menceritakan apa yang dia alami ke orang-orang yang ada di dapur dan semuanya langsung tertawa terpingkal-pingkal termasuk diriku. Ternyata selama ini hanyalah kebohongan yang bapakku lontarkan terkait penilaiannya terhadap masakan ibu. Gengsi sih dipupuk-pupuk jadinya gitu kan kena karma hahaha. Ketika bapakku keluar kamar, aku dan mbak Dila langsung menggoda bapakku,

“pak, gimana enak nggak masakan bu Sari?” tanya kita dengan nada meledek. Bapakku hanya tertawa saja. Oh… bapak-bapak… sesulit itukah memuji masakan ibu? Lain kali juju raja ya, kalau nggak jadi malu sendiri kan, wkwkwkw.

Membatasi Diri

E003592

sumber gambar

Sempat membatasi diri untuk tak menulis beberapa hari ini. Banyak alasannya, capek lah, ga punya ide lah, tapi yang paling kuat sih alasannya karena beberapa hari yang lalu aku harus LDR.an sama laptopku. Ada sih komputer, tapi ngetik di tempat yang nggak biasanya itu rasanya gimana ya, biasa aja sih, bilang aja males haha. Niatnya mau nulis tadi malem tapi rasanya nggak bakalan produktif soalnya kan bakalan ngantuk banget, imbasnya bakalan bangun kesiangan. Aku sih mikirnya mending nulis pagi-pagi aja, kan fresh tuh. Tapi ya lagi-lagi, rencana hanya tinggal rencana. Paginya ya aku tidur lagi. Nulisnya baru tereksekusi siang ini. Baiklah, cerita apa gerangan kali ini? ya… sesuai judulnya, kali ini aku akan menulis terkait membatasi diri. Tulisan ini sedikit ingin ‘mengkritik’ perilaku orang yang selalu membatasi diri, membuat diri sendiri seolah-olah tak bisa padahal mah bisa-bisa aja. Orang lain lho bisa, lah kenapa kita seolah-olah membuat diri terbatas dan tak bisa. Bakalan ‘agak’ sedikit berapi-api karena aku telah beberapa kali (atau bahkan berkali-kali) kena imbas orang yang ‘membatasi diri’ ini. Tak perlu berpanjang lebar, mari kita mulai.

            Minggu kemarin aku dan teman-temanku mengunjungi seorang teman yang baru menikah. Entah kenapa selalu senang bersilaturrahim ke rumah-rumah pasangan baru seperti mereka. Selalu banyak cerita, ilmu, dan pengalaman yang mereka bagi padaku, bikin pengen segera nikah juga #eh. Jarak tak menjadi masalah bagiku karena aku tahu, ilmu yang akan aku dapatkan tak aka nada apa-apanya dari jarak yang ku tempuh. Aku berencana untuk menggunakan layanan gojek agar lebih efektif dan efisien karena tempat tujuan memang terkenal dengan kemacetannya. Tapi aku agak sedikit ragu karena aku tahu salah satu teman yang akan ikut ke sana tidak mau boncengan dengan lelaki manapun kecuali suaminya kelak. Ya aku tahu ini prinsip, teman-temanku pas kuliah dulu juga begitu, aku menghormatinya selama tidak mengganggu kepentingan orang lain. Ini salah satu contoh membatasi diri yang ku maksud. Aku sih ‘pada awalnya’ tak masalah dengan prinsip ini, tapi kesini-sini kok makin ‘ngeselin’ ya prinsip membatasi diri kayak gini. Menurutku, setiap prinsip yang kita pegang harus melihat kemampuan diri kita juga dan pembatasan diri ini juga harus diimbangi dengan kemampuan tambahan yang kita punya. Semisal membatasi diri dalam kasus ini, maka kita harus membekali diri dengan kemampuan ‘bisa naik motor’. Kalau tak bisa? Ya maka kasusnya akan seperti ini, kalian akan menjadi pribadi yang ‘ngeselin’. Jujur ya, sekali dua kali mungkin kalian tak akan merepotkan tapi masalah prinsip kan akan jadi pegangan seumur hidup. Karena aku tahu kalian bakalan malu banget kalau ngubah prinsip yang agak ‘merepotkan’ ini. Maka selama kalian hidup dan belum punya ‘supir’ (read: suami) kalian akan merepotkan orang-orang di sekitar kalian. Maaf ya agak sedikit jahat karena aku jujur sudah terlalu jengah dengan pembatasan diri yang kalian buat.

            Hal lain yang membuatku terganggu dengan pembatasan diri yang kalian buat adalah karena kalian seakan-akan melihat sebelah mata orang-orang yang tak mempunyai prinsip seperti kalian. Kalian merasa seolah-olah paling benar dan paling suci. Lah… kalian lho merepotkan orang lain, apa nggak lebih berdosa, aku sih gitu aja. Kalau kalian punya prinsip ya sudah pegang saja prinsip kalian dan jangan menganggap orang lain salah. Lagian aku kasih gambaran seperti ini, aku juga enggan untuk berboncengan dengan orang lain yang statusnya aku kenal (dalam hal ini rekan kerja atau teman), single, atau beristri karena aku takut timbul rasa atau fitnah. Maka aku lebih memilih membawa sendiri motor yang ada. Nah kalau kasusnya abang ojek atau gojek itu beda lagi, mereka tak aku kenal, mereka mencari nafkah, kemungkinan timbul rasa dan fitnah kecil karena mereka dalam hal ini mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka. Iya kan? Aku sih mikirnya gitu. Bukannya islam itu memudahkan, kenapa ini jadi begitu kaku dan seperti tak ada keringanan? Atau mungkin aku yang kurang ilmu, mungkin. Alasan lain kenapa aku tak begitu kaku seperti kalian karena menurutku, hidup kita tak akan selamanya berada di kondisi ideal yang kita inginkan. Akan ada kondisi dimana kita akan menemui kondisi-kondisi tak ideal. Kalau kalian di kondisi tak ideal ini? maka hal yang paling mungkin kalian lakukan adalah merepotkan orang lain dan menjadi pribadi yang ‘ngeselin’. Nasehat tentang kondisi yang tak selalu ideal ini aku dapatkan dari seorang senior yang sudah cukup berumur. Kala itu aku sedang sakit perut dan ingin ke belakang (read: BAB). Nah aku memutuskan untuk menahannya sambil meringis dan membaringkan diri di musholla. Melihatku seperti itu, seniorku tak tahan untuk tak bertanya,

“kamu lagi kenapa?” tanyanya padaku

“sakit perut mbak” jawabku singkat

“ya udah, ke belakang aja sana, ada kamar mandi kan, ngapain ditahan-tahan” jawabnya memberikan solusi

“aku nggak bisa mbak kalau di toilet umum, aku bisanya di kamar mandi yang udah aku kenal, kayak di kosan, di rumah. Nanti aku pulang aja deh kan kosanku deket” jawabku

            Mendengar jawabanku itu langsunglah dia berpanjang lebar menasehatiku yang nasehatnya masih aku ingat sampai sekarang. Begini katanya,

“nah gini nih yang salah, kamu jangan membatasi diri, memilih milih tempat. Iya kalau kamu selalu di tempat yang ideal yang sesuai dengan pemikiranmu. Nah, misalnya kamu suatu saat nanti berada di tempat yang nggak ideal gimana. Apa iya kamu nggak bakalan ke belakang? Nggak juga kan. Pembatasan seperti ini membuat kita tak bisa padahal mah kalau kita kondisikan ya bisa-bisa saja, tergantung kitanya saja. Kalau kamu merasa tak bisa di toilet umum karena kotor, ya bersihkan dulu sampai batas dimana kamu bisa mentolerirnya, kondisikan sampai pada tahap dimana kamu bisa menerimanya. Kamu perlu tahu, dunia ini banyak yang tak ideal, selalu mencari yang ideal sama artinya menyiksa diri dan membuatmu tak berkembang. Ini juga berlaku untuk hal yang lain.”

            Aku mengiyakan saja akan nasehat seniorku ini dan kembali teringat karena kasusnya sama seperti yang ku alami sekarang, berada di antara orang-orang yang membatasi diri. Sayangnya aku belum punya cukup keberanian untuk menasehati karena posisiku sebagai junior dan orang yang membatasi diri ini sedikit ‘keukeuh’ dan selalu menganggap dirinya benar. Aku kan jadi males sendiri yang mau nasehatin. Bisa aja sih nasehatin, tapi nanti jatohnya aku bakalan emosi dan kemana-mana. Kan nggak enak juga merusak hubungan hanya gara-gara hal kecil kayak gini. Kecil sih tapi kalau dibiarin benar-benar menjengkelkan hahaha. Aku sih tak mau membatasi diri, kalau kamu gimana? Kamu… iya kamu.

Berjanji

Kenapa harus ada janji kalau memang tak bisa menepati. Seperti itulah, kenapa bisa bilang cinta kalau masih bisa menyakiti. Pas nggak sih analoginya hahaha. Maksa-maksa dikit nggak mama papa lah ya. Pertanyaanku adalah, sudah berapa janji yang tak kau tepati? Tidak ada? Baguslah. Lantas janji denganku apakah kau sudah lupa? Janji untuk membersamaiku hahaha (apaan sih gaje banget). Kali ini aku akan sedikit berbagi pengalaman konyolku terkait janji berjanji. Dulu… dulu sekali, aku sangat gampang mengucapkan janji dan parahnya susah sekali menepati. Ditepati sih… tapi setelah sekian lama. Ini kebiasaa buruk, tapi sekarang nggak lagi kok. Seriusan, seserius aku sama kamu, kamu… iya kamu hahaha (maaf ya banyak becandanya ~.~).

                Janji yang ku ucapkan bukanlah janji pada manusia tetapi pada Allah, biasanya janji seperti ini disebut nadzar. Ingatan tentang nadzar ini masih ada tetapi detailnya sudah agak kabur, samar-samar. Jadi akan ku ceritakan seingatku saja. Banyak sekali keinginan yang ingin sekali ku dapatkan. Tiap kali ku merasa menginginkan sesuatu, maka aku akan memejamkan mata dan berdoa dalam hati, “ya Allah jikalau KAU mengabulakan keinginan hamba, maka hamba akan berpuasa selama 3 hari”. Ya janji (nadzar) seperti itulah yang sering ku panjatkan. Ada beberapa keinginan yang ku janjikan seperti itu dan tiga diantaranya terkabul, alhamdulillah. Apa sajakah itu, kalau tidak salah ya… pertama, keinginanku untuk diterima di SMAku dulu, kedua, keinginanku untuk lolos di sebuah lomba, ketiga, keinginanku untuk ketemu sama kamu (yang ini becanda ya, aku lupa apa yang ketiga). Pokoknya tiga keinginan kalau nggak salah. Setelah keinginanku itu tercapai, apakah gerangan yang ku lakukan? Melupakan janji itu? Tentu tidak. Aku masih ingat, tapi tak kunjung membayarnya hahaha.

                Kelalaianku ini diketahui oleh saudaraku dan nenekku. Beberapa kali mereka mengingatkanku akan janjiku, beberapa kali pula aku mengiyakannya. Tapi lagi-lagi, aku tak kunjung membayarnya. Hingga pada suatu ketika aku kena batunya. Nenekku pernah berpesan, jikalau kita tak segera menepati janji (nadzar) maka kita akan dikejar-kejar ular, katanya. Aku antara percaya tak percaya mendengar perkataan nenekku. Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah menggunakan motor, tak berapa lama setelah aku berangkat di depanku ada seekor ular yang sangaaaat panjang. Panjangnya hampir selebar jalan yang ku lewati. Aku yang kala itu mengendarai motor dengan cukup kencang tak bisa seketika mengerem jadinya dengan reflek aku membelokkan motorku dan melewati kepala si ular sambil berteriak. Untungnya aku tak melindas kepala si ular karena ku lihat dari spion sepertinya si ular baik-baik saja. Menulis cerita ini pun masih mampu membuat buku kudukku berdiri karena jujur aku fobia ular. Aku sangat shock dengan kejadian ini dan sempat terbesit ‘apa ini gara-gara nadzarku yang belum dibayar ya?’. Ya, tapi lagi-lagi, aku tak menyegerakan melunasinya. Niat bayar sih ada, tapi realisasinya ga nyata.

                Kejadian yang kedua jauh lebi menyeramkan dari yang pertama. Siang itu, aku tidur di depan TV. Karena tak ada acara yang menarik akhirnya ku terlelap. Tanganku ku julurkan di atas kepala. Ketika sudag cukup terlelap, antara sadar dan tidak sadar, seperti ada yang melintasi tanganku. Pikiranku masih belum sepenuhnya sadar, tapi terbesit pertanyaan ‘apakah gerangan yang melintasi tanganku? Ah… ini ular’. Langsung saja aku hempaskan yang melintasi tanganku itu walaupun aku tak 100% yakin kalau yang di tanganku itu ular. Aku bangun dan berteriak karena yang ku lemparkan benar-benar ular. Aku langsung lari terbirit-birit dan berteriak sekencang-kencangnya. Orang rumah langsung heboh dan mendatangiku. Aku langsung menunjukkan letak si ular yang sepertinya lari ke pojokan. Sejak saat itu aku langsung melunasi semua hutang janjiku. Aku tak mau lagi bermain-main dengan janji. Kalau memang sekiranya tak bisa menepati, ya tidak usah berjanji. Aku sudah kapok didatengin ular. Aku juga tak bisa membayangkan seperti apa balasannya kalau ditagihnya di akhirat. Jadi, buatlah janji denganku, in shaa Allah aku (pasti) menepatinya.

                Tetiba saja beberapa malam kemarin aku juga teringat janjiku pada seorang teman pas kuliah dulu yang dapat ku pastikan orang yang bersangkutan pasti telah lupa. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja aku mengingatnya. Kebetulan sekali hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya jadi aku punya semacam kalimat ‘basa-bai’ sebelum meminta maaf atas janji yang belum aku tunaikan. Berikut percakapanku dengannya.

wp3

                Aku juga telah berjanji pada teman blogku untuk memosting review blogku tahun 2015, maka aku juga mencantumkannya di sini. Ini dia reviewnya.

wp