Berjanji

Kenapa harus ada janji kalau memang tak bisa menepati. Seperti itulah, kenapa bisa bilang cinta kalau masih bisa menyakiti. Pas nggak sih analoginya hahaha. Maksa-maksa dikit nggak mama papa lah ya. Pertanyaanku adalah, sudah berapa janji yang tak kau tepati? Tidak ada? Baguslah. Lantas janji denganku apakah kau sudah lupa? Janji untuk membersamaiku hahaha (apaan sih gaje banget). Kali ini aku akan sedikit berbagi pengalaman konyolku terkait janji berjanji. Dulu… dulu sekali, aku sangat gampang mengucapkan janji dan parahnya susah sekali menepati. Ditepati sih… tapi setelah sekian lama. Ini kebiasaa buruk, tapi sekarang nggak lagi kok. Seriusan, seserius aku sama kamu, kamu… iya kamu hahaha (maaf ya banyak becandanya ~.~).

                Janji yang ku ucapkan bukanlah janji pada manusia tetapi pada Allah, biasanya janji seperti ini disebut nadzar. Ingatan tentang nadzar ini masih ada tetapi detailnya sudah agak kabur, samar-samar. Jadi akan ku ceritakan seingatku saja. Banyak sekali keinginan yang ingin sekali ku dapatkan. Tiap kali ku merasa menginginkan sesuatu, maka aku akan memejamkan mata dan berdoa dalam hati, “ya Allah jikalau KAU mengabulakan keinginan hamba, maka hamba akan berpuasa selama 3 hari”. Ya janji (nadzar) seperti itulah yang sering ku panjatkan. Ada beberapa keinginan yang ku janjikan seperti itu dan tiga diantaranya terkabul, alhamdulillah. Apa sajakah itu, kalau tidak salah ya… pertama, keinginanku untuk diterima di SMAku dulu, kedua, keinginanku untuk lolos di sebuah lomba, ketiga, keinginanku untuk ketemu sama kamu (yang ini becanda ya, aku lupa apa yang ketiga). Pokoknya tiga keinginan kalau nggak salah. Setelah keinginanku itu tercapai, apakah gerangan yang ku lakukan? Melupakan janji itu? Tentu tidak. Aku masih ingat, tapi tak kunjung membayarnya hahaha.

                Kelalaianku ini diketahui oleh saudaraku dan nenekku. Beberapa kali mereka mengingatkanku akan janjiku, beberapa kali pula aku mengiyakannya. Tapi lagi-lagi, aku tak kunjung membayarnya. Hingga pada suatu ketika aku kena batunya. Nenekku pernah berpesan, jikalau kita tak segera menepati janji (nadzar) maka kita akan dikejar-kejar ular, katanya. Aku antara percaya tak percaya mendengar perkataan nenekku. Suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah menggunakan motor, tak berapa lama setelah aku berangkat di depanku ada seekor ular yang sangaaaat panjang. Panjangnya hampir selebar jalan yang ku lewati. Aku yang kala itu mengendarai motor dengan cukup kencang tak bisa seketika mengerem jadinya dengan reflek aku membelokkan motorku dan melewati kepala si ular sambil berteriak. Untungnya aku tak melindas kepala si ular karena ku lihat dari spion sepertinya si ular baik-baik saja. Menulis cerita ini pun masih mampu membuat buku kudukku berdiri karena jujur aku fobia ular. Aku sangat shock dengan kejadian ini dan sempat terbesit ‘apa ini gara-gara nadzarku yang belum dibayar ya?’. Ya, tapi lagi-lagi, aku tak menyegerakan melunasinya. Niat bayar sih ada, tapi realisasinya ga nyata.

                Kejadian yang kedua jauh lebi menyeramkan dari yang pertama. Siang itu, aku tidur di depan TV. Karena tak ada acara yang menarik akhirnya ku terlelap. Tanganku ku julurkan di atas kepala. Ketika sudag cukup terlelap, antara sadar dan tidak sadar, seperti ada yang melintasi tanganku. Pikiranku masih belum sepenuhnya sadar, tapi terbesit pertanyaan ‘apakah gerangan yang melintasi tanganku? Ah… ini ular’. Langsung saja aku hempaskan yang melintasi tanganku itu walaupun aku tak 100% yakin kalau yang di tanganku itu ular. Aku bangun dan berteriak karena yang ku lemparkan benar-benar ular. Aku langsung lari terbirit-birit dan berteriak sekencang-kencangnya. Orang rumah langsung heboh dan mendatangiku. Aku langsung menunjukkan letak si ular yang sepertinya lari ke pojokan. Sejak saat itu aku langsung melunasi semua hutang janjiku. Aku tak mau lagi bermain-main dengan janji. Kalau memang sekiranya tak bisa menepati, ya tidak usah berjanji. Aku sudah kapok didatengin ular. Aku juga tak bisa membayangkan seperti apa balasannya kalau ditagihnya di akhirat. Jadi, buatlah janji denganku, in shaa Allah aku (pasti) menepatinya.

                Tetiba saja beberapa malam kemarin aku juga teringat janjiku pada seorang teman pas kuliah dulu yang dapat ku pastikan orang yang bersangkutan pasti telah lupa. Tapi entah kenapa tiba-tiba saja aku mengingatnya. Kebetulan sekali hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya jadi aku punya semacam kalimat ‘basa-bai’ sebelum meminta maaf atas janji yang belum aku tunaikan. Berikut percakapanku dengannya.

wp3

                Aku juga telah berjanji pada teman blogku untuk memosting review blogku tahun 2015, maka aku juga mencantumkannya di sini. Ini dia reviewnya.

wp

Advertisements

14 thoughts on “Berjanji

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s