Maafkan Aku Mencintaimu

011449500_1437534862-22072015-cintaEntah sejak kapan rasa ini hadir, seingatku sih ketika berada di semester-semeter akhir masa kuliah dulu, karena aku masih benar-benar ingat awal-awal kuliah pikiranku masih bersih dari ingatan tentangmu. Ah, buat apa aku mengingat kapan pastinya, bukankah semua orang yang jatuh cinta tak pernah ingat dengan pasti kapan dia mencintai seseorang, tak disangka tak dinyana, tanpa aba-aba sebelumnya tiba-tiba saja ada rasa yang sepertinya berbeda dari biasanya. Aku pun begitu, tak ingat jelas, hanya rentang waktunya saja tiba-tiba aku rasakan hal berbeda. Awalnya kau biasa saja, sama seperti lainnya, tapi semuanya menjadi tak sama ketika aku mulai terjerat rasa cinta. Cinta? Sudahkah aku yakin itu cinta? Mungkin, karena aku tak pernah tahu parameter seseorang dikatakan mencintai seperti apa. Kau punya referensinya? Sini ku punjam sebentar, biar ku tahu bisa ku kategorikan apa rasaku padamu ini.

Jikalau disebut mencinta ketika namamu hadir dalam doa, maka aku mencinta, karena entah sejak kapan kehadiranmu dalam doaku menjadi sebuah keharusan. Jikalau disebut mencinta ketika bayangmu hadir memenuhi lara, maka aku mencinta, karena ku tepis pun bayangmu tetap saja menari-nari di sana. Jikalau disebut mencinta ketika aku selalu mengharap pertemuan atau mungkin mengulang memori pertemuan kita, maka aku mencinta, karena pertemuaan kita yang cuma bisa dihitung dengan jari itu ingin sekali ku putar berulang-ulang tak bosan-bosan. Jikau disebut mencinta ketika ku hanya memendam rasa dan selalu menahan gejolak untuk tak mengungkapkannya, maka aku mencinta, karena telah tak terhitung berapa banyak pertimbangan yang ku cari ketika suatu ketika hati ini bergejolak ingin sekali rasanya menyatakannya padamu. Jikalau disebut mencinta ketika timbul rasa rindu tak terkira dalam dada pada waktu yang tak terduga, maka aku mencinta, karena aku sering mendapat serangan rindu padamu yang aku tak pernah bisa memprediksi kapan datangnya, layaknya serangan jantung, mungkin ku sebut ini serangan rindu. Jikalau disebut mencinta ketika aku telah dengan rela menerima setiap kekurangan dan kelebihan yang kalu punya, maka aku mencinta, karena aku sudah tak peduli dengan apa yang kau punya, aku siap menerima semuanya. Jikalau disebut mencinta ketika aku selalu ingin tahu kabarmu tanpa sepengetahuannmu, maka aku mencinta, karena entah kenapa kabarmu menjadi trending topic pertama berita yang benar-benar ingin ku ketahui setiap harinya. Jikalau disebut mencinta ketika kau menjadi prioritas pertama (di bawah Allah dan orang tua tentunya) yang ingin ku kabari tentang keadaanku dan keberadaanku, maka aku mencinta, karena aku benar-benar ingin mengabarimu semua yang kualami dan kurasakan walaupun aku tak akan dan tak pernah bisa. Masih kurangkah parameter mencintai yang ku sebutkan? Ku sudahi saja karena ku tahu, mungkin kau telah bosan membacanya.

Kau telah menjadi sosok sempurna dalam bayangan dan ingatanku walaupun sekali lagi ku tekankan, kekuranganmu pasti ku terima dengan lapang dada. Begitulah, rasa ini menjadi semakin tumbuh walaupun tak pernah ku beri pupuk atau perangsang tumbuh macam auksin. Aku tak pernah berani menceritakan rasa ini pada orang di sekitarku karena aku tak mau kau tahu aku mencintaimu. Mereka mengenalmu dan mengenalku, maka cara teraman adalah diam, karena menceritakan cerita dengan ‘embel-embel’ -jangan bilang siapa-siapa ya- akan menjadi berita yang menyebar ke siapa-siapa. Dan aku takut kau tahu. Maka ketika aku berpindah ke suatu tempat asing dimana di sini tak ada yang mengenalmu, jangankan mengenalmu, mengenalku saja mereka baru di permukaan saja, maka dengan gampangnya ku bilang kalau aku mencintaimu, mencintai dengan caraku, diam. Banyak yang tak setuju dengan caraku, banyak yang mendorongku untuk menyatakannya padamu, bahkan ada yang menawarkan diri untuk menghubungimu, tentu saja aku menolaknya. Jikalau memang mau, sudah sejak lama ku lakukan, ada seorang teman baikku yang juga teman baikmu yang bersedia menjadi perantara aku dengamu walaupun teman ini tak ku ceritakan bahwa orang itu kamu. Dia hanya ingin berniat baik karena dia ingin punya rumah di surga kelak, pahala rumah di surga adalah iming-iming yang menggiurkan baginya, kerena pengajian kemarin pak Ustadz bilang, jikalau kita menjadi peratara (read: mak comblang) di antara dua insan yang ingin bersatu dalam sebuah ikatan suci pernikahan, maka kita juga akan kecipratan pahala yang dilakukan sepasang suami istri ini ketika telah menikah nantinya.

Aku masih tetap kokoh dengan pendirianku, tak akan pernah menyatakan padamu walaupun akhir-akhir ini aku mulai goyah, ingin rasanya ku ambil handphone dan mengetikkan beberapa baris kalimat basa-basi untuk hanya sekedar menanyakan kabarmu, kabar hatimu. Tapi aku takut kemungkinan terburuk lah yang akan ku dapatkan, aku adalah pribadi yang susah move on, aku tak mau berkubang di jurang penyesalan karena pengakuan perasaan. Banyak yang bertanya padaku, bagaimana jikalau kau telah bersama yang lain? Ku jawab lantang, tidak apa-apa, malah akan lebih baik jika kau segera menikah agar aku tak diberatkan oleh beban perasaan macam ini, setidaknya harapan-harapan terhadapmu bisa segera ku musnahkan. Entah ku sebut apa rasa ini, aku mencintaimu, tak ingin kau tahu, aku ingin kau tahu sendiri, ya mana bisa, ya kalau kita berjodoh semuanya pasti bisa. Ku mencintaimu, tapi ku tak masalah jikalau kau segera dengan yang lain agar kau bahagia dan aku segera bangkit dari kubangan harapan. Aku juga tahu kau dulu pernah menyimpan rasa pada orang lain, atau mungkin hingga saat ini, tak taulah, tapi tak masalah bagiku, bukankah sebelum ku mencintaimu aku juga pernah mengisi hatiku dengan nama yang lain, karena bagiku mencintai itu menusiawi, dan jodoh itu takdir ilahi, siapa tau kau suka yang lain pada awalnya, lantas berubah mencintaiku dan berjodoh dengaku, itu mauku.

Tapi kemarin entah aba-aba dari mana, aku kembali mengingatmu dan orang yang pernah kau suka. Aku tiba-tiba merasa bukan siapa-siapa dan merasa tak ingin lagi mencintaimu. Aku tersadar bahwa yang ku lakukan selama ini sebuah kesalahan besar. Puncaknya tadi malam, aku benar-benar menyesal, aku dirundung penyesalan yang teramat dalam. Penyesalan akan doa-doa tentangmu, pengharapan tentangmu, bayangan-bayangan tentangmu, yang kesemuanya serba tentangmu, aku merasa benar-benar bersalah dan berdosa. Siapa aku dengan berani menobatkanmu mejadi sesuatu yang paling panting dalam hidupku, lantas apa bedanya aku denga mereka yang mejalin kasih terlarang yang selama ini selalu ku tolak habis-habisan. Pun demikian, siapa kamu dengan begitu mudahnya menjadi hal yang paling banyak mengambil perhatian dalam setiap keseharianku. Maafkan aku mencintaimu, mencintai dengan cara yang sepertinya salah. Aku tak mau lagi terbebani akan ingatan tentangmu karena aku tahu itu sangatlah mengganggu. Mencintaimu juga akan berdampak negative terhadap masa depanku, karena tak ada yang tahu kan jodohku siapa, bisa saja kau bisa saja yang lain. Parahnya setiap kali aku melihat lawan jenis aku akan selalu membanding-bandingkannya denganmu. Jahat sekali bukan? Padahal di saat yang sama aku paling benci dibanding-bandingkan. Aku merasakannya, bagian paling tak menyenangkan menjadi anak kembar adalah pembandingan, dibanding-bandingkan. Aku benar-benar telah bersalah. Di tulisan ini aku hanya ingin meminta maaf padamu akan perbuatanku selama ini yang mungkin jikalau ku ceritakan langsung padamu kau akan bingung dan tak menganggap ku bersalah. Tapi sungguh, aku benar-benar merasa bersalah, bersalah akan rasa yang selama ini terhadapmu. Tulisan-tulisanku selama ini juga banyak yang ku dedikasikan padamu, lihat saja kalimat “kamu… kamu iya kamu…” hampir ada di setiap tulisanku, dan ‘kamu’ di sini tentu saja mengarah padamu, siapa lagi. Maafkan aku, tolong maafkan aku, mulai saat ini aku tak akan lagi begini, aku tak akan lagi mencintaimu.

Advertisements

12 thoughts on “Maafkan Aku Mencintaimu

  1. Maafkan aku mencintaimu, mencintai dengan cara yang sepertinya salah. Aku tak mau lagi terbebani akan ingatan tentangmu karena aku tahu itu sangatlah mengganggu.
    Mengganggu aktivitas menjelang tidurku.

  2. Bila memang ia terlihat siap untuk menikah, pun demikian juga kamu adanya. Maka sampaikan. Bisa minta tolong orangtua, sahabat, atau orang yang bisa dipercaya. Atau juga tidak mengapa, sampaikan langsung pada dirinya. Laki-laki yang baik selalu tahu bagaimana menjaga perasaan perempuan. Ia tidak akan bicara kemana-mana. Dan kamupun akan mendapat kejelasan tentang apa yang bisa dilakukan setelahnya. Percaya, bagi kami laki-laki, tidak masalah bila perempuan yang mengajukan diri. Namun tentu dengan cara yang baik dan sopan. Sama halnya ketika kami mengajukan diri kepada kalian.

  3. “Aku juga tahu kau dulu pernah menyimpan rasa pada orang lain, atau mungkin hingga saat ini, tak taulah, tapi tak masalah bagiku, bukankah sebelum ku mencintaimu aku juga pernah mengisi hatiku dengan nama yang lain, karena bagiku mencintai itu menusiawi, dan jodoh itu takdir ilahi, siapa tau kau suka yang lain pada awalnya, lantas berubah mencintaiku dan berjodoh denganku, itu mauku” aku suka quote ini, dan ini sangat sifat manusia yang selalu melihat manusia dr faktor masa lalu, tapi siapa yg bs mengkhinati hati?…. yah jika antum belum siap 100% untuk menikah, Allah yang lebih tahu waktu yang tepat untuk antum meskipun tidak 100% bahkan bisa 50% (mendadak) maka siapkan mulai sekrang kemungkinannnya 🙂 semoga kita selalu dikarunia cinta yang fillah 🙂

  4. Orang yang mencintai, cenderung akan membandingkan orang itu kepada orang lain kan ya. Entah apa alasannya, mungkin ingin membuktikan bahwa orang yang dicintainya itu yang terbaik? atau ingin orang yang dicintainya lebih baik lagi :’

    • Alhamdulillah ya, walaupun rasa itu telah aku kubur hahaha. iya juga sih, ga enak nolaknya ya. itu juga yang jadi pertimbanganku, aku takut dia ga nyaman dengan pengakuanku hahaha #ngomongApa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s