Bukan Kesebelasan Biasa

20160220195352Judul Buku         : Kesebelasan Gen Halilintar

Penulis               : Lenggogeni Faruk

Editor                 : Sohwa Halilintar

Penerbit            : PT. Suqma Corpora Indonesia, GenH Media

Jumlah halaman      : 349 halaman

            Baiklah, saatnya curhat about a book that I have been read. Sebenarnya udah lama denger nih cerita keluarga yang luar biasa, kesebelasan gen halilintar dan baru ketemu bukunya di kosan kembaranku, punya teman kosannya katanya. Langsung deh tanpa ba bi bu nyomot nih buku soalnya pengen tahu lebih jauh apa sih atau lebih tepatnya seperti apa sih kesebelasan gen halilintar ini. Selentingan yang pernah ku denger sih katanya nih keluarga hebat banget, sepasang suami istri yang punya 11 orang anak, melakukan keliling dunia sambil ngasuh anak, dan lebih wow nya lagi nggak pake asisten rumah tangga, kece banget kan. Yuk ah… mari lihat lebih jauh apa isi buku ini.

            Buku ini bercerita tentang seorang mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia bernama Halilintar Asmid di tahun ke-4 masa kuliahnya dengan kebulatan tekad melamar seorang perempuan yang dia yakini akan menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anaknya kelak bernama Lenggogeni Faruk yang saat itu juga berkuliah di UI Fakultas Ekonomi tetapi masih berada di tahun ke-2. Mereka sebenarnya sudah saling kenal karena mereka berasal dari daerah yang sama dan tinggal di satu kompleks perumahan yang sama, kompleks perumahan Caltex Indonesia – sekarang bernama Chevron Indonesia, Distrik Rumbai dan Dumai. Membaca sampai di sini saja aku udah angkat tangan tinggi-tinggi buat mereka berdua. Bayangin dong, keduanya masih kuliah dan tahu sendiri kan anak kuliahan itu belum punya penghasilan, tapi mereka udah berani banget untuk membina sebuah rumah tangga. Alasan yang disebutkan di buku ini karena mereka tidak mau berkubang di hubungan yang tak diperbolehkan agama, kalau memang cocok dan nyaman, ya langsung nikah aja. Keren nggak sih prinsipnya. Ibu Lenggogeni juga ku acungi dua jempol ketika mas kawin yang dia minta hanyalah ‘seperangkat alat shalat dan bacaan surat Al-Ikhlas tiga kali’. Di halaman awal saja buku ini telah sukses membuatku terkagum-kagum dan tak berhenti mengangguk setuju dengan keputusan-keputusan yang mereka ambil, yang menurutku antimainstream banget, seriusan.

            Mendapatkan buah hati adalah kesenangan yang luar biasa tak tergambarkan bagi semua pasangan suami istri apalagi yang baru menikah, tak terkecuali pasangan ini. Ketika ibu Lenggogeni akan diwisuda, beliau sudah memiliki dua buah hati, satu digendong dan satunya digandeng. Seinget aku pas aku kuliah dulu, banter-banternya nih ya, paling cuma gendong anak, nah ini ibunya udah punya anak dua. Standing ovation banget nih sama pasangan ini. Anak pertama diberi nama Atta Halilintar (laki-laki) dan yang kedua Sohwa Halilintar (perempuan). Ibu Lenggogeni menikah pada umur 20 tahun dan mempunyai 11 anak ketika umurnya 40 tahunan, jadi bisa dikatakan beliau melahirkan setiap tahun. Proses kelahiran dari masing-masing anak diceritakan cukup detail di sini, kapan mereka lahir, seperti apa rasa sakitnya (bikin deg-degan baca bagian ini), dimana mereka dilahirkan, dan cerita yang mengiringi proses kelahiran mereka. Setiap proses kelahiran masing-masing anak mempunyai cerita yang menarik tersendiri. Nama dari kesebelasan itu adalah (tambahin halilintar ya di belakang namanya) Atta, Sohwa, Sajidah, Thariq, Abqariyyah, Saaih, Fatim, Fateh, Muntaz, Saleha, dan Qahtan, dengan rincian enam laki-laki dan lima perempuan.

            Lebih mencengangkannya lagi, semuanya dilahirkan dengan proses yang normal dan mendapatkan asi eksklusif, serta pengasuhan tanpa keterlibatan asisten rumah tangga sedikit pun. Kebayang nggak sih, di saat banyak pasangan yang punya anak satu atau dua repotnya udah kayak gimana, ini 11 orang lo 11. Setiap dari mereka juga akan diikutkan ketika orang tua mereka melakukan perjalanan ke luar negeri, jadi kesebelas anak mereka bisa dibilang sudag pernah keliling dunia mengikuti kedua orang tua mereka yang berbisnis. Sempat beberapa kali pindah tempat tinggal, di Jakarta, Malaysia, Autralia, Eropa, hingga Amerika. Tetapi di Jakarta dan Malaysia lah mereka paling lama bermukim. Mobilitas yang tinggi membuat kesebelasan gen halilintar tidak sekolah di sekolah formal tetapi homeshooling dimana pendidikannya diatur oleh kedua orang tua mereka. Tak mengecap pendidikan formal bukan berarti mereka tak berprestasi, justru mereka tumbuh menjadi anak-anak yang outstanding. Mempunyai bisnis skala besar di umur yang masih belia, sebut saja bisnis alat elektronik, café, fashion, graphic design, travel, bahkan buku ini adalah hasil dari percetakan yang mereka punya. Nggak ada abisnya deh kalau mau ngomongin hebatnya nih keluarga. Jadi nggak salah kalau mereka ini ku sebut bukan kesebelasan biasa. Hal yang terpenting, pengetahuan agama dan dunia berjalan beriiringan di keluarga ini. Pengetahuan agama telah dengan baik mereka aplikasikan, jadi tak hanya sekedar teori yang hanya diketahui tetapi juga diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Semisal, larangan pacaran bagi kesebalasan halilintar, hijab yang mereka gunakan, dan hubungan antar manusia yang kesemuanya menurutku mereka sudah sampai pada tahap being bukan knowing. Buku ini juga dilengkapi banyak dokumentasi foto-foto keluarga kesebelasan gen halilintar yang bikin mata seger jadi nggak cepet bosen bacanya.

            Perasaan dari tadi ngomongin kelebihan, lantas apa kekurangan buku ini? hm… apa ya, kalau dari konten sih nih buku oke banget, penggambarannya gamblang, rinci, dan sukses bikin pengen cepet nikah wkwkwkw. Kurangnya paling dari segi penulisan kali ya, bahasa tulisannya berasa kaku dan kurang gimana gitu ya, mungkin karena Ibu Lenggogeni emang bukan penulis kali ya. Tapi kekurangan ini sangat tertutupi dengan kisah yang diceritakan di buku ini, bukan fiktif, nyata banget, dan keren banget menurutku. Membina keluarga tuh nggak gampang tapi buku ini telah sukses membuang rasa takut berumah tangga karena sepertinya sangat menyenangkan membina keluarga besar. Jadi intinya, yuk… kapan abang lamar adek bang wkwkwk. Nice book sih, kesebelasan gen halilintar ini juga menyampaikan pesan tersirat bahwa mempunyai anak banyak akan meminimalisir keinginan mendua atau selingkuh. Ya kali masih sempet mikirin selingkuh, hidup mereka sudah sangat rame dan bahagia untuk melakukan hal yang tak penting dan berdosa seperti itu. Perselingkuhan kan terjadi karena kejenuhan dan kesepian yang melanda dalam rumah tangga. Iya nggak sih? Di film-film sih gitu. Itu aja sih resensinya. Sebenernya bukan resensi sih, lebih tepatnya pendapat pribadiku tentang buku yang ku baca. Semoga akan terus berlanjut karena ada banyak buku yang mengantri untuk ku baca dan artinya banyak pula review yang harus aku tulis.

Advertisements

6 thoughts on “Bukan Kesebelasan Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s