Terlambat Suka

6c9385d7d4159dc1e759ae41e6a13597(6 Januari 2015) Malam ini kembali terulang, merindukan banyak orang, lagi. Iya salah satunya kamu, iya… kamu. Aku sedang berjuang menghadapi hari tersulit di bulan ini dan Alhamdulillah, ketika menjelang malam, rasa sakitnya berkurang. Aku ingin banyak cerita tapi sepertinya belum saatnya. Nanti saja kalau aku sudah siap. Memang pada akhirnya semua menunggu untuk datangnya kata yang satu ini –siap- dan sepertinya untuk sekarang aku belum. Entah lah. Lantas, apa yang ku lakukan untuk mengobati rasa rindu yang konon katanya tak kan terobati kecuali bertemu? Bagiku mengobati rindu tak harus selalu bertemu, cukup mendengar suaranya saja sudah cukup bagiku untuk sedikit mengikis karang rindu di hati. Penyelesaian ini akan berlaku bagi orang yang memungkinkan untuk ku hubungi, lantas bagaimana dengan orang yang ku rindu tapi tak mungkin ku hubungi? Ku buka saja album biru, penuh debu dan usang hahahaha. Ku buka saja file foto di laptop yang memuat gambarnya, gambarmu, orang yang tak mungkin ku sapa baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Pasti bakalan banyak yang bilang, kenapa tak ku hubungi saja dengan dalih menjaga silaturrahim? Bagiku tak semudah itu, ada dinding harga diri yang mati-matian ku bangun selama ini dan tak akan semudah itu ku robohkan hanya karena persoalan rindu. Lagipula, aku tak sebegitunya merindukannya, hanya sebatas ya rindu wkwkwk. Aku masih punya akal sehat untuk ku fungsikan yang selama akal itu masih sehat maka selama itu pula aku pasti akan bisa untuk tak menindaklanjuti rasa rindu ini. Cukup biarkan, nanti juga hilang.

            Sudah-sudah, malam ini sebenernya aku bingung mau nulis apa tapi lagi pengen nulis. Nah, pas buka-buka folder ‘tulisan-tulisanku’ ternyata ada satu judul file yang menarik perhatian, judulnya ‘terlambat suka’. Karena penasaran dengan isinya, ku buka saja tuh file dengan harapan ingin tau isinya tapi pas dibuka eh ga ada isinya sama sekali. Aku emang terbiasa sih nulis judul tulisan yang bakalan ditulis, (tulisannya berhenti sampai di sini ketika pagi ini -25 Januari 2016- ku buka file ini yang menarik perhatian karena kasus yang sama seperti tempo dulu, pengen nulis tapi bingung mau nulis apa). Tak terasa sudah setahun yang lalu tulisan ini dibuat tapi belum kelar-kelar ceritanya. Aku ingat kala itu tulisan ini dibuat karena aku benar-benar merindukanmu, lantas pagi ini, sudah setahun berlalu dari malam ketika aku merindukanmu, apakah rasa itu masih ada? Alhamdulillah sudah tiada. Bagaimana bisa semudah itu melupakan rasa? Hei… aku tak pernah bilang mudah, melupakan itu bukan perkara mudah, melupakan itu susah, tapi bukan perkara mustahil. Aku hanya ingin memberikan gambaran jikalau mengosongkan hati tak pernah ku bayangkan akan senyaman ini, seringan ini, dan semenyenangkan ini. Bayanganku selama ini, kekosongan hati adalah simbol ketakmampuan kita mencintai seseorang tapi aku salah, mengosongkan hati berarti senantiasa mempersiapkan diri hingga yang seharusnya datang mengisi benar-benar menghampiri. Mengisi hati dengan nama orang yang tak seharusnya semacam memberikan hak bukan pada orang yang seharusnya, sangat tak adil bukan. Bagaimana jikalau sudah terlanjur? Ya lepaskan, lupakan, keluarkan. Emang bisa segampang itu? aku juga dulu berpikir tak kan semudah itu, tapi nyatanya benar-benar semudah itu, cukup lepaskan, lupakan, dan keluarkan.

            Terkait judul di atas –terlambat suka- adalah judul yang tercipta karena pemikiranku kala itu yang merasa menyesal karena terlambat merasakan rasa suka padamu. Kenapa rasa suka ini hadir ketika kita telah tak bisa bersitatap lagi dan intensitas pertemuan tak akan pernah sesering dulu. Tapi malam ini, aku justru bersyukur pernah terlambat suka padamu. Setidaknya rasa suka ini cukup kurasa saja lantas ku lupakan seperti malam ini. Menyukai seseorang selalu menjadi perkara menyenangkan apalagi orang yang kita suka juga menunjukkan gelagat suka yang sama. Tapi untuk apa juga jika rasa suka itu justru akan menjerumuskan kita pada hal-hal yang tak seharusnya. Seiring berjalannya waktu, kedewasaan pemikiran akan muncul dalam diri kita dan kita akan sepenuhnya sadar bahwa rasa suka bukanlah segalanya. Rasa suka hanyalah dorongan dalam jiwa yang tak selamanya harus selalu harus dituruti. Sama seperti rasa lapar, rasa ngantuk, dan rasa yang lainnya. Akan sangat berbahaya bukan ketika setiap muncul rasa lapar lantas kita langsung makan, apa jadinya badan kita. Jangan sampai setiap kita ngantuk harus selalu dibarengi dengan tidur, ada kalanya dorongan rasa tak dibarengi dengan perbuatan untuk menuntaskan dorongan tersebut. Pun demikian dengan rasa, rasa suka yang muncul ketika kita belum dewasa tak ubahnya hanya sekedar dorongan semata, cukup dirasa tanpa harus ada tindakan pemenuhan akan rasa tersebut. Jikalau kamu punya rasa tapi kau merasa belum dewasa, cukup rasakan lantas lupakan. Tapi jikalau kau sudah merasa dewasa, kau suka? Silahkan datangi orang tua bersangkutan yang punya kuasa. Ya beginilah akhir kisah judul terlambat suka yang untuk ketiga kalinya ku buka dan Alhamdulillah bisa ku selesaikan walaupun dengan konten yang agak nggak nyambung dengan perkiraan awal ketika judul tulisan ini diadakan. Tak apalah bukankah memang kadangkala seperti itu, ekspektasi tak selamanya sesuai harapan. Selamat beraktivitas.