Waktu

waktu-2zl38nq5xm6olz9fvi3668Kali ini aku akan memaparkan analisis dangkalku perihal waktu. Kenapa dangkal? Karena analisis ini hanya berdasar pada pengalaman pribadiku saja tanpa didasari teori-teori lain yang dapat menguatkan. Lagi pula ini bukan karya tulis ilmiah, ini hanyalah sedikit buah pemikiran akan kejadian yang ku alami dalam hidup. Aku sekarang hidup di dua tanah, tanah rantau dan tanah kelahiran. Apa yang membedakan kedua tanah tersebut? Banyak. Di tanah rantau aku harus mengurus semua sendiri, mengatasi semuanya sendiri, dan hidup mandiri. Sedangkan di tanah kelahiran, aku tak sendiri, semuanya serba ditemani. Tak hanya masalah sendiri dan ditemani, ada hal mendasar yang benar-benar membuat kedua tanah itu menjadi sangat berbeda, yakni persoalan waktu. Aku tak tahu apa cuma aku saja yang mengalami atau bagaimana, aku merasa waktu berjalan begitu cepat ketika aku berada di tanah rantau dan menjadi begitu lambat ketika berada di tanah kelahiran. Seringkali ku bergumam, apa ini yang dinamakan keberkahan waktu? Di tanah rantau aku berasa diburu waktu, semuanya seakan-akan kekurangan waktu. Hidup rasanya tak ada ketenangan, yang ada hanyalah ketegangan. Setiap hari selalu dilalui dengan hari yang penuh pekerjaan yang tak ada habisnya dan minus waktu. Berbeda sekali dengan di tanah kelahiran, semuanya serba adem ayem, semuanya pekerjaan terselesaikan dan waktu seakan masih banyak untuk sekedar duduk bersantai-santai. Kesimpulan awalku ada benarnya, ini persoalan keberkahan waktu. Nah pertanyaannya sekarang, apakah yang membuat keberkahan di kedua tanah itu menjadi berbeda? Mari ku lanjutkan dulu ceritanya.

            Perbedaan mendasar di kedua tanah itu adalah waktu dimulainya aktivitas hidup. Di tanah rantau aku bangun sekitar jam 5.00 pagi, sholat subuh lantas kemudian tidur lagi, bangun-bangun udah jam 9.00 bahkan kadang jam 10.00. Bangun di jam segitu menjadi hal biasa bagiku karena pekerjaanku tak mengharuskanku untuk berangkat pagi. Kadangkala terpikat godaan dunia maya, jadilah baru mandi sekitar setengah atau satu jam kemudian. Ketika melihat jam langsunglah tunggang langgang ke kamar mandi, menyiapkan semuanya dengan terburu-buru, berangkat kerja pun dengan terburu-buru. Berbeda sekali dengan di tanah kelahiran. Aktivitas kehidupan telah dimulai sejak dini hari dan tak ada ceritanya tidur lagi atau lebih tepatnya tak ada kesempatan untuk tidur lagi. Nyapu rumah, nyuci baju, bersih-bersih, beres-beres, nganterin ibu ke pasar. Setelah semuanya selesai, perkiraanku pastilah sudah jam 10.00 ternyata ketika dilihat masih jam 8.00 atau bahkan jam 7.00 pagi. Kenyataan ini membuatku tertegun, kenapa waktu menjadi terasa lambat di tanah kelahiran. Semuanya bisa ku selesaikan, tetapi waktu masih tersisa banyak. Dari perbandingan di atas, dapatkan kalian lihat perbedaan di antara keduanya? Aktivitas di tanah rantau dan tanah kelahiran? Yup, bedanya terletak di permulaan aktivitas yang dilakukan. Aku telah membuktikan ketika beberapa hari ini ku ubah pola aktivitas pagiku dan memang benar adanya, keberkahan waktu terletak di pagi hari. Beberapa hari ini aku memutuskan untuk tidur lebih awal. Tidur maksimal jam 23.00 dan bangun jam 03.30 kemudian memulai aktivitas hidup sepagi itu dan semuanya terasa begitu berbeda, waktu terasa berjalan selambat ketika di tanah kelahiran, padahal aku sedang berada di tanah rantau. Semuanya menjadi terorganisir, terselesaikan, tetapi waktu masih tersisa banyak untuk melakukan banyak hal. Tidur pagi juga ku hindari, karena tidur pagi membuat hariku menjadi hari yang malas dan mau tak mau menjadikanku seorang pemalas.

            Sebagai seorang muslim seharusnya aku lebih paham akan keberkahan waktu ini, bagaiama tidak? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mendoakan waktu pagi sebagai waktu yang penuh keberkahan.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا

Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” (HR. Abu Daud no. 2606, Ibnu Majah no. 2236 dan Tirmidzi no. 1212. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

            Mari bersama-sama raih keberkahan waktu di pagi hari, hindari tidur lagi, dan mulailah aktivitas hidup pada dini hari. Aku sudah membuktikan dan merasakan manfaatnya, nggak lagi deh diburu waktu, sekarang giliran kamu, kamu… iya kamu.

Pada Hari Senin di Stasiun Senen

seninMari ku ceritakan senin kemarin yang ku alami, tepatnya tanggal 7 Maret 2016. Pulang kampung yang tak aku agendakan sebelumnya. Tetiba saja mengharuskan diri ini untuk pulang karena keadaan yang benar-benar di luar dugaan dan prediksi. Bapakku sakit, sudah cukup sampai di situ saja, bukan perihal inilah yang mau aku ceritakan panjang lebar di sini. Ku siapkan diri untuk berangkat dari kosan menuju stasiun Bekasi jam 6 pagi. Terlalu pagi memang untuk ukuran jam keberangkatan kereta jam 12 siang. Tapi tak apalah, aku sudah cukup sekali saja merasakan nelangsanya ketinggalan kereta. Tak apa menunggu lama asal yang ditunggu sudah pasti kedatangannya. Sampai di stasiun Bekasi sekitar jam set.7 pagi dan ku lihat gerombolan orang yang berjalan cepat menuju sumber yang sama, stasiun Bekasi. Aku menelan ludah pelan, sudah terbayang dengan jelas bagaimana sesaknya comuter nanti. Tak apalah, hidup kan memang perjuangan, kali ini perjuangannya berdesak-desakan di comuter. Pas tap di pintu masuk menuju comuter aku memilih kereta yang berangkatnya belakangan, nggak buru-buru ini. Ku pilih gerbong khusus perempuan di gerbong paling ujung, biasanya sih masih ada tempat duduk. Pengorbanan tak sia-sia, ternyata benar ada kursi kosong dengan sedikit meminta penumpang lain untuk menggeser tempat duduk mereka. Masih ada sekitar 10 menit sebelum kereta diberangkatkan dan kereta tiba-tiba menjadi begitu sesak hingga ke ujung gerbong yang aku tempati. Ada seorang ibu-ibu yang sudah agak berumur memasuki gerbong, aku pun langsung mempersilahkan si ibu duduk karena memang itu hak beliau. Iya kan? Suka gemes sendiri liat mbak-mbak yang masih muda dengan acuhnya ngebiarin ibu-ibu atau nenek-nenek yang berdiri sedangkan yang bersangkutan duduk, apa nggak kebayang sama ibu atau nenek mereka di rumah ya, tak taulah.

            Berdiri bukan masalah tapi semuanya berubah horror ketika kereta berhenti di stasiun Kranji, satu stasiun setelah stasiun Bekasi. Segerombolan pekerja meringsek masuk, aku berpegangan pada besi penyangga kursi dengan sekuat tenaga biar tak terbawa arus. Berhenti di stasiun berikutnya penumpang makin banyak, tekanan dari sana-sini mulai mengganas. Aku harus bertahan dengan semua tekanan itu. Aku sampai tergencet hingga besi di depanku benar-benar terasa mengenai badan. Sesampainya di stasiun jatinegara aku berusaha sekuat tenaga untuk turun dengan bawaan yang cukup bikin ribet. Satu tas ransel yang isinya cukup bikin pegel, satu tas jinjing yang tak bisa dibilang ringan, dan satu plastik yang isinya snack untuk menemani perjalananku menuju Surabaya nanti. Pas mau keluar tas ku nyangkut, dengan sekuat tenaga ku tarik dan aku agak terpelanting ketika tas yang nyangkut tadi berhasil menemukan celah untuk keluar, untung pegangannya nggak putus. Langsung saja ku edarkan pandangan dan melihat comuter manakah yang bisa mengantarkanku ke tujuan, stasiun senen. Setelah yakin, masuklah diriku ke dalam comuter yang jauh lebih manusiawi dengan tempat duduk. Ku duduk dengan nyaman dan turun ketika telah sampai di stasiun senen, masih cukup lengang, maklum masih pagi, jam 08.30 masih ada tiga setengah jam lagi untuk jam keberangkatan kereta. Mbak Dila juga tak ada tanda-tanda akan cepat sampai di stasiun senen. Pada hari senin di hari senen, entah kebetulan atau gimana, hari dan stasiunnya kebetulan sama. Apa spesialnya? Ya nggak spesial-spesial amat sih, lucu aja, bisa pas gitu ya. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang. Di sana banyak sekali orang-orang yang menunggu jam keberangkatan kereta jarak jauh yang ingin mereka tumpangi. Aku memulih kursi yang paling depan, dekat dengan pintu masuk, dekat dengan TV yang sedang menyala dan dekat dengan mesin penjual minuman otomatis yang sering ku lihat di drama-drama itu. Cukup masukkan uang, tekan minuman yang diinginkan, dan secara otomatis minuman akan keluar. Bukan kali pertama aku melihat mesin ini tapi kali ini menjadi lebih spesial karena cerita yang akan aku ceritakan setelah ini.

            Karena bosan dan tak tahu harus ngapain, ku buka snack yang ku bawa, ku makan sediki demi sedikit. Lama kelamaan kok rasanya haus ya dan kebetulan di depanku ada mesin penjual minuman otomatis itu. Pengen sih beli tapi kok ya males yang mau beranjak ditambah lagi tas yang ku bawa berat banget, akhirnya ku urungkan, biarlah nanti kan bisa minum kalau mbak Dila udah dateng. Entah sudah yang keberapa kalinya di sebelahku berganti orang hingga sebuah keluarga datang dan duduk di sampingku. Keluarga kecil, bapak yang bersahaja, ibu yang penyabar tetapi tegas, dan anak yang ceria. Anak ini rajin sekali meminta uang pada orang tuanya untuk membeli jajanan. Ibunya tidak terlalu menghiraukannya tapi si bapak sepertinya sangat memanjakan si anak. Setelah mendapatkan uang dari si Bapak, si anak pun dengan riangnya keluar menuju supermarket terdekat. Sekembalinya dia akan menjelaskan rincian barang yang dibeli berikut harganya. Tak berapa lama si anak seperti merengek pada si bapak untuk membeli minuman di mesin otomatis, si bapak pun mengiyakan. Berjalanlah mereka berdua kea rah mesin, membaca instruksinya, dan memilih minuman yang diinginkan, setelah itu kembali duduk. Ketika akan berniat meminum minuman yang baru dibeli, si anak dengan polosnya bertanya pada si bapak,

Anak: yah, itu bacanya gimana ya? (tanyanya sambil menunjuk mesin penjual minuman otomatis. Di sana tertera tulisan for earth, for life)

3VFbbOAP

Bapak: itu bacaannya, for…for… (jawab si ayah ragu, bisa ku tebak si bapak ini sepertinya tak bisa berbahas inggris)

Anak: for… for… apa yah? (tanya si anak makin penasaran)

Bapak: itu bacanya for… for… earet… eaaareeeet

Anak: earet? Eaaareeet…. (si anak menirukan cara pengucapan si ayah)

Anak dan bapak: eaaareeeet…eaaareeeet (mereka berdua melafalkan itu bersama-sama lantas tertawa bersama-sama)

            Benar-benar kejadian lucu sekaligus hangat bukan? Aku terharu sekali melihatnya. Betapa polosnya si anak dan betapa apa adanya si bapak. Bapak yang selalu ingin merasa bisa di depan anaknya. Kesalahan dan keasalan yang mereka lakukan menjadi begitu manis untuk dikenang bahkan bagiku yang hanya berperan sebagai pengamat di sini. Mungkin bagi mereka ini hal biasa dan kecil tetapi tidak bagiku yang kala itu sendirian, bosan, dan butuh hiburan. Pada hari senin di stasiun senen. Terimakasih dek, terimakasih pak, tingkah pola kalian benar-benar melekat diingatan, sayang sekali jika hanya saya yang merasakan. Ku tuliskan saja agar yang lain juga merasakan kehangatan yang sama. Ini foto yang ku ambil dengan sengaja layaknya paparazzi artis gitu, foto tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, candid gitu ceritanya hehe.

20160319194802