Pada Hari Senin di Stasiun Senen

seninMari ku ceritakan senin kemarin yang ku alami, tepatnya tanggal 7 Maret 2016. Pulang kampung yang tak aku agendakan sebelumnya. Tetiba saja mengharuskan diri ini untuk pulang karena keadaan yang benar-benar di luar dugaan dan prediksi. Bapakku sakit, sudah cukup sampai di situ saja, bukan perihal inilah yang mau aku ceritakan panjang lebar di sini. Ku siapkan diri untuk berangkat dari kosan menuju stasiun Bekasi jam 6 pagi. Terlalu pagi memang untuk ukuran jam keberangkatan kereta jam 12 siang. Tapi tak apalah, aku sudah cukup sekali saja merasakan nelangsanya ketinggalan kereta. Tak apa menunggu lama asal yang ditunggu sudah pasti kedatangannya. Sampai di stasiun Bekasi sekitar jam set.7 pagi dan ku lihat gerombolan orang yang berjalan cepat menuju sumber yang sama, stasiun Bekasi. Aku menelan ludah pelan, sudah terbayang dengan jelas bagaimana sesaknya comuter nanti. Tak apalah, hidup kan memang perjuangan, kali ini perjuangannya berdesak-desakan di comuter. Pas tap di pintu masuk menuju comuter aku memilih kereta yang berangkatnya belakangan, nggak buru-buru ini. Ku pilih gerbong khusus perempuan di gerbong paling ujung, biasanya sih masih ada tempat duduk. Pengorbanan tak sia-sia, ternyata benar ada kursi kosong dengan sedikit meminta penumpang lain untuk menggeser tempat duduk mereka. Masih ada sekitar 10 menit sebelum kereta diberangkatkan dan kereta tiba-tiba menjadi begitu sesak hingga ke ujung gerbong yang aku tempati. Ada seorang ibu-ibu yang sudah agak berumur memasuki gerbong, aku pun langsung mempersilahkan si ibu duduk karena memang itu hak beliau. Iya kan? Suka gemes sendiri liat mbak-mbak yang masih muda dengan acuhnya ngebiarin ibu-ibu atau nenek-nenek yang berdiri sedangkan yang bersangkutan duduk, apa nggak kebayang sama ibu atau nenek mereka di rumah ya, tak taulah.

            Berdiri bukan masalah tapi semuanya berubah horror ketika kereta berhenti di stasiun Kranji, satu stasiun setelah stasiun Bekasi. Segerombolan pekerja meringsek masuk, aku berpegangan pada besi penyangga kursi dengan sekuat tenaga biar tak terbawa arus. Berhenti di stasiun berikutnya penumpang makin banyak, tekanan dari sana-sini mulai mengganas. Aku harus bertahan dengan semua tekanan itu. Aku sampai tergencet hingga besi di depanku benar-benar terasa mengenai badan. Sesampainya di stasiun jatinegara aku berusaha sekuat tenaga untuk turun dengan bawaan yang cukup bikin ribet. Satu tas ransel yang isinya cukup bikin pegel, satu tas jinjing yang tak bisa dibilang ringan, dan satu plastik yang isinya snack untuk menemani perjalananku menuju Surabaya nanti. Pas mau keluar tas ku nyangkut, dengan sekuat tenaga ku tarik dan aku agak terpelanting ketika tas yang nyangkut tadi berhasil menemukan celah untuk keluar, untung pegangannya nggak putus. Langsung saja ku edarkan pandangan dan melihat comuter manakah yang bisa mengantarkanku ke tujuan, stasiun senen. Setelah yakin, masuklah diriku ke dalam comuter yang jauh lebih manusiawi dengan tempat duduk. Ku duduk dengan nyaman dan turun ketika telah sampai di stasiun senen, masih cukup lengang, maklum masih pagi, jam 08.30 masih ada tiga setengah jam lagi untuk jam keberangkatan kereta. Mbak Dila juga tak ada tanda-tanda akan cepat sampai di stasiun senen. Pada hari senin di hari senen, entah kebetulan atau gimana, hari dan stasiunnya kebetulan sama. Apa spesialnya? Ya nggak spesial-spesial amat sih, lucu aja, bisa pas gitu ya. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu di ruang tunggu penumpang. Di sana banyak sekali orang-orang yang menunggu jam keberangkatan kereta jarak jauh yang ingin mereka tumpangi. Aku memulih kursi yang paling depan, dekat dengan pintu masuk, dekat dengan TV yang sedang menyala dan dekat dengan mesin penjual minuman otomatis yang sering ku lihat di drama-drama itu. Cukup masukkan uang, tekan minuman yang diinginkan, dan secara otomatis minuman akan keluar. Bukan kali pertama aku melihat mesin ini tapi kali ini menjadi lebih spesial karena cerita yang akan aku ceritakan setelah ini.

            Karena bosan dan tak tahu harus ngapain, ku buka snack yang ku bawa, ku makan sediki demi sedikit. Lama kelamaan kok rasanya haus ya dan kebetulan di depanku ada mesin penjual minuman otomatis itu. Pengen sih beli tapi kok ya males yang mau beranjak ditambah lagi tas yang ku bawa berat banget, akhirnya ku urungkan, biarlah nanti kan bisa minum kalau mbak Dila udah dateng. Entah sudah yang keberapa kalinya di sebelahku berganti orang hingga sebuah keluarga datang dan duduk di sampingku. Keluarga kecil, bapak yang bersahaja, ibu yang penyabar tetapi tegas, dan anak yang ceria. Anak ini rajin sekali meminta uang pada orang tuanya untuk membeli jajanan. Ibunya tidak terlalu menghiraukannya tapi si bapak sepertinya sangat memanjakan si anak. Setelah mendapatkan uang dari si Bapak, si anak pun dengan riangnya keluar menuju supermarket terdekat. Sekembalinya dia akan menjelaskan rincian barang yang dibeli berikut harganya. Tak berapa lama si anak seperti merengek pada si bapak untuk membeli minuman di mesin otomatis, si bapak pun mengiyakan. Berjalanlah mereka berdua kea rah mesin, membaca instruksinya, dan memilih minuman yang diinginkan, setelah itu kembali duduk. Ketika akan berniat meminum minuman yang baru dibeli, si anak dengan polosnya bertanya pada si bapak,

Anak: yah, itu bacanya gimana ya? (tanyanya sambil menunjuk mesin penjual minuman otomatis. Di sana tertera tulisan for earth, for life)

3VFbbOAP

Bapak: itu bacaannya, for…for… (jawab si ayah ragu, bisa ku tebak si bapak ini sepertinya tak bisa berbahas inggris)

Anak: for… for… apa yah? (tanya si anak makin penasaran)

Bapak: itu bacanya for… for… earet… eaaareeeet

Anak: earet? Eaaareeet…. (si anak menirukan cara pengucapan si ayah)

Anak dan bapak: eaaareeeet…eaaareeeet (mereka berdua melafalkan itu bersama-sama lantas tertawa bersama-sama)

            Benar-benar kejadian lucu sekaligus hangat bukan? Aku terharu sekali melihatnya. Betapa polosnya si anak dan betapa apa adanya si bapak. Bapak yang selalu ingin merasa bisa di depan anaknya. Kesalahan dan keasalan yang mereka lakukan menjadi begitu manis untuk dikenang bahkan bagiku yang hanya berperan sebagai pengamat di sini. Mungkin bagi mereka ini hal biasa dan kecil tetapi tidak bagiku yang kala itu sendirian, bosan, dan butuh hiburan. Pada hari senin di stasiun senen. Terimakasih dek, terimakasih pak, tingkah pola kalian benar-benar melekat diingatan, sayang sekali jika hanya saya yang merasakan. Ku tuliskan saja agar yang lain juga merasakan kehangatan yang sama. Ini foto yang ku ambil dengan sengaja layaknya paparazzi artis gitu, foto tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, candid gitu ceritanya hehe.

20160319194802

Advertisements

28 thoughts on “Pada Hari Senin di Stasiun Senen

  1. Kayaknya saya mesti belajar mengamati sekitar dengan mata yang lebih lebar supaya bisa menangkap kejadian-kejadian seperti ini, nih :hehe. Soalnya kalau berangkat ya berangkat aja, paling naik kereta terus tidur :hihi. Mana sempat perhatikan sekitar. Oke next time naik kereta jangan tidur kecuali naik kereta malam!
    Mereka berdua lucu yah haha. Bapaknya kocak dan anaknya kepo :hehe.

    • Iya gara coba deh sejenak perhatikan sekitar, banyak hal2 kecil yang menarik dan mengusik perhatian. Aku suka ngamatin sekitar entah itu di angkot, bis, mobil, jalan, atau dimanapun. Mengamati sekitar sambil bergumam dalam hati ‘ternyata banyak hal yang terjadi di dunia ini’. Kalau sekiranya menarik ya bisa jd inspirasi buat nulis

      • Sip gara… i’ll wait. Tapi sekarang tulisan kamu kok ga muncul di laman blogs i follow ya… munculnya malah komen orang buat tukisan kamu. Kan aneh. Jadinya harus buka blog kamu dulu kalau mau tau tulisan kamu. Nggak tau deh udah aku apain kok bisa jadi kayak gitu

      • Kesalahan bukan pada Mbak kok… tapi pada saya… sejak beberapa bulan ini blog saya error di feed-nya padahal saya tak pernah mengubah setting apa-apa. Sekarang bingung sendiri harus bertanya ke mana buat mbetulinnya. Huhu. Mohon maaf ya Mbak atas ketidaknyamanannya.

      • Wah… bisa gitu ya. Pantesan kok cuma blogmu doang yang kayak gitu. Coba diperbaiki ya biar bisa tetap keep in touch gitu. Kamu nulisnya rajin dan terperinci soalnya. Jadi bisa dapet banyak ilmu baru 😀

    • Iya… kocak banget emang… aku aja yang dengerin pengen ketawa tapi ditahan soalnya duduknya pas di samping mereka. Kalau ketawa takut dikira meremehkan padahal sebenernya kocak banget

    • Iya spertinya, aku pengamat. Dan tau nggak hal paling menyakitkan menjadi seorang pengamat? Sedih ketika mengamati penderitaan orang lain karena kita tak bisa berbuat apa2 dan canggung ketika melihat kebahagiaan orang lain karena tak bisa terlibat di dalamnya. Ya mau gimana lagi… namanya juga pengamat

  2. kadang kesendirian itu bisa menghidupkn karna hiburan dari tingkah laku, kelucuan dan kepolosan orang sekitar yang membuat diri ini lega & merasa bersyukur bs ikut terhibur karena mereka….bagusnya lagi kalau kita bisa terjun kedalam komunikasi mereka, tapi mungkin momentnya tdk pas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s