Menjanjikan Janji

broken_promises_by_herrfousMari sejenak introspeksi diri, kira-kira sudah berapa janji yang telah kita buat tapi tak kita tepati? Ku menyebutnya, menjanjikan janji. Hal apakah yang kau lakukan tatkala janji itu tak sempat atau bahkan tak bisa kau tepati? Pastilah kata maaf yang terucap tak henti-henti. Baiklah, taruhlah saja mulut menerima ucapan maaf itu, lantas bagaimana dengan hati? Aku tak bisa menyanggupi, karena kadang hati berbeda sekali dengan yang tampak pada diri. Kau harus tahu itu, ketika kau berjanji, maka sesungguhnya bagian yang paling tersentuh dan berharap adalah hati, jikalau janji tak tertepati maka kepada hatilah seharusnya kau meminta maaf berkali-kali. Tapi masalahnya kadang hati telah terlampau berekspektasi tinggi, maka luka hati tak kan semudah itu terobati.

            Malam kemarin terasa begitu panjang, karena aku sedang tak enak badan dan teman satu kosanku pun juga begitu, sedang tak enak juga, tapi dia lebih parah, dia sedang tak enak hati. Aku merasa bingung harus bagaimana karena aku belum pernah merasakan rasa sakit yang satu ini (semoga saja tidak akan). Jadi ku memutuskan untuk menjauhkan diri, ku biarkan dia bertemankan kesenduan dalam diri karena aku tahu, solusi bukanlah sesuatu yang diperlukan dalam hal ini. Air matanya terus mengalir tiada henti mengingat janji-janji manis pujaan hati yang hanya sekedar menjanjikan janji.

            Ceritanya begini, aku pakai nama Rangga dan Cinta ya karena dua nama itulah yang tiba-tiba terbesit ketika ku ingin mencari nama samaran bagi mereka berdua. Lagi pula, apalah arti sebuah nama. Rangga dan Cinta bersekolah di sekolah yang sama ketika SMA. Mereka berdua bersahabat baik, bahkan mereka terlibat di organisasi OSIS di sekolah mereka, Rangga sekertaris dan Cinta bendaharanya. Cinta adalah siswi yang selalu mendapatkan juara kelas dan pekerja keras sehingga tak mengherankan banyak yang menaruh hati padanya, tak terkecuali Rangga. Rangga hanya menyimpan perasaannya dangkal-dangkal karena ia telah berniat akan menyatakan perasaannya pada Cinta ketika dia telah putus dengan pacarnya kala itu yang merupakan kakak kelas mereka berdua. Benarlah adanya firasat si Rangga, Cinta benar-benar putus dengan pacarnya, tanpa babibu Rangga menyatakan perasaannya pada Cinta. Jawabannya? Ya bisa ditebak sendiri lah, orang baru putus kok malah ditembak, ya pasti ditolak lah. Tapi Rangga tak menyerah, dia tetap berhubungan baik dengan Cinta, berinteraksi seperti sebelumnya, dan ketika suasana dirasa tepat, dia kembali menyatakan perasaanya pada Cinta. Jawabannya? Diterima, mereka pun jadian. Sama seperti sepasang sahabat yang lantas jadian pada umumnya, hubungan mereka menjadi lebih kaku, garing, dan nggak seasyik ketika hubungan mereka terikat oleh tali persahabatan. Cintalah yang paling merasakan perbedaannya kalau Rangga sih asyik-asyik saja karena memang dia lah yang menginginkan hubungan mereka ter-upgrade menjadi jalinan kasih. Bukankah hubungan tanpa rasa nyaman akan sangat merepotkan. Setelah pemikiran panjang, akhirnya Cinta memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka yang baru berjalan tiga bulan. Rangga tentu tak terima tapi akhirnya dia mengikuti saja keinginan si Cinta. Benarlah, hubungan mereka menjadi lebih baik setelah peristiwa pemutusan itu. Hari demi hari berjalan seperti biasanya hingga suatu ketika, Rangga meminta untuk kembali menjalin kasih dengan Cinta. Merasa telah nyaman dengan Rangga akhirnya mereka pun kembali jadian. Percakapan mereka terekam jelas dari surat yang mereka tulis di sebuah buku, yang mereka tulis secara bergantian. Kala itu mereka sudah di penghujung masa SMA, masa dimana bayangan melanjutkan ke perguruan tinggi sudah di depan mata.

            Cinta memutuskan untuk menunda studinya dan memilih untuk ikut orang tuanya tinggal di Bandung, sedangkan Rangga memutuskan untuk melanjutkan studinya di Solo. Mereka pun berkomitmen untuk menjalin hubungan jarak jauh. Cinta telah begitu nyaman dengan Rangga, Rangga pun juga begitu. Tetapi, Rangga mulai sadar akan hubungan mereka yang tak seharusnya. Rangga akhirnya memutuskan untuk mengakhir hubungan mereka. Cinta yang kala itu telah menyimpan rasa yang cukup dalam pada Rangga benar-benar terpukul. Dia pun langsung membakar semua barang-barang yang ada kaitannya dengan Rangga, mulai dari foto-foto, hadiah, termasuk buku yang berisi surat menyurat yang mereka lakukan. Mereka pun menjalani kehidupan masing-masing di kota yang berbeda, Cinta di Bandung dan Rangga di Solo. Cinta akhirnya kuliah satu tahun kemudian di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung. Rasa pada Rangga masih ada bahkan mungkin makin dalam. Hari berganti hari hingga tak terasa Cinta akan menjalani sidang akhir kuliahnya. Tak dinyana ternyata Rangga kembali muncul dengan segala perhatiannya, menyemangati untuk kelancaran sidang, menanyakan rencana karir setelahnya, dan perhatian-perhatian lainnya. Sebenarnya entah sudah berapa kali Rangga datang dengan perhatiannya tapi ya selalu begitu, kembali menghilang tanpa jejak setelahnya. Tapi Cinta tetap senang walaupun cuma disinggahi sementara. Dia tetap yakin Rangga akan kembali lagi dan menetap suatu saat nanti.

            Setelah kuliah Cinta bekerja di sebuah instansi pendidikan dan Rangga di sebuah Bank di Solo. Rangga tiba-tiba menghubungi Cinta karena dia akan liburan ke Bandung bersama teman-temannya dan meminta Cinta untuk menjadi guide selama mereka di sana. Cinta senang bukan main. Dia berharap ini akan menjadi stimulus untuk pemersatu hubungan mereka. Benar saja, ketika Rangga di Bandung, Cinta masih merasakan kalau Rangga masih ada rasa terhadap dirinya. Hubungan mereka menjadi lebih intens setelah liburan di Bandung itu. Komunikasi lewat BBM dan whatsapp menjadi lebih sering. Hingga suatu ketika, Rangga mengutarakan niatnya pada Cinta,

“Dek, nanti bulan April aku mau pulang ke rumah di Wonogiri, mau ngenalin kamu ke ibu. Mau minta restu beliau, setuju apa enggak kalau aku sama adek” ungkap Rangga.

“Iya mas, nanti kasih kabar ya kalau udah tanya ke ibu” jawab Cinta.

            Cinta benar-benar berbunga-bunga hari itu. Bagaimana tidak, orang yang selama ini benar-benar dia harapkan akan mengenalkannya pada ibunya. Itu artinya Rangga benar-benar serius dengannya. Dia memberitahukan kabar itu pada ibunya dan saudara perempuannya yang memang telah mengenal Rangga dengan baik. Mereka pun juga ikut bahagia karenanya. Banyak percakapan terkait masa depan yang mereka diskusikan lewat chtting. Mulai dari tabungan nikah, pendapat tentang hubungan dalam sebuah pernikahan, dan percakapan yang kesemuanya mengarah ke masa depan.

Bulan April pun datang, dan satu hari setelah tanggal yang dijanjikan Rangga untuk pulang, Cinta langsung menghubungi Rangga karena Rangga tak kunjung menghubunginya,

“Mas kamu pulang kemarin?” tanya Cinta berbasa basi, dia berharap Rangga langsung mengerti kemana arah pertanyaan itu.

“Iya pulang, kenapa dek?” jawab Rangga singkat, benar-benar bukan jawaban yang Cinta inginkan. Ada perasaan tidak enak yang menyertai ketika pesan itu Cinta baca.

“Oh… nggak papa aku cuma nanya aja” balas Cinta seadanya, karena dia bingung harus berkata apa. Cinta terus menghibur dirinya, mungkin Rangga sibuk dan lupa tentang janji yang dia janjikan dulu. Janji untuk mengenalkannya pada ibunya dan niat baiknya. Selang beberapa jam dari percakapan itu, Rangga mengirimkan teks yang cukup panjang pada cinta,

“Assalamualaikum Wr. Wb. Dek maaf, maaf sebelumnya. Dulu aku janji setelah pulang mau kasih kepastian kan ya. Jadi gini, mulai sekarang kamu boleh membuka hari buat yang lain. Sebaiknya jangan nunggu aku ya dikarenakan ada beberapa alasan dari ibuku dan dari aku pribadi juga. Aku pengen kamu mendapat jodoh yang lebih baik dari aku. Pertama, aku belum boleh nikah dalam waktu dekat. Kedua, ibuku menghendaki istriku usianya di bawahku dua atau tiga tahun. Terus ada beberapa alasan yang tidak bisa disampaikan. Aku juga masih ada keraguan, beberapa kali sholat terus jawabannya belum jelas. Jadi aku nggak mau menjanjikan. Alangkah baiknya, kamu mulai membuka hati buat orang lain. Aku banyak kekurangan, maaf kalau sejauh ini menyakiti atau ada hal yang tidak berkenan. Tapi, jika suatu saat nanti ternyata berjodoh, ya aku nggak tau. Kalau perasaanku ke kamu masih ada. Tapi aku pengennya sama-sama menjaga hati dulu. tapi kamu boleh membuka hati buat orang lain. Aku manut kata ibuku, karena restu beliau itu yang utama. Yang jelas aku merasa tidak pantas kamu mendapatkanku. Aku banyak kekurangan, banyak banget. kamu bisa mendapatkan imam yang lebih. Sekarang ini aku fokus sama keponakan yang SMA dan adikku. Terserah kamu mau gimana, yang jelas aku nggak mau mengikat kamu dengan menjanjijikan hal yang belum pasti dan memberikan kebebasan. Soalnya kamu perempuan, jangan lama-lama nikahnya. Maaf ya sekali lagi.” Tulis Rangga panjang lebar.

“Waalaikumsalam, iya. Mudah-mudahan kejadian seperti ini cukup terjadi sama aku, jangan sama wanita lain. Kalau gitu kamu harus bilang ke mama dan mbakku atas keputusanmu soalnya aku udah cerita ke mereka” balas Cinta yang sangat shock membaca pesan dari Rangga. Dia membalasnya sambil berurai air mata.

“Loh… udah bilang gimana? Kan aku bilangnya nunggu aku pulang ke ibuku. Aku dulu bilang seperti itu. Kalau ke mbakmu nggak papa aku akan SMS beliau. Tapi kalau ke mamamu aku nggak berani karena aku memang belum bilang ke beliau juga.” Jawab Rangga lagi.

“Iya silahkan. Mas nanti kalau misalkan kamu ketemu wanita lain, lebih baik bilang dulu ke ibumu, baru bilang ke wanita lain supaya kejadiannya nggak kayak gini. Sedih dan kecewa itu pasti. Tapi aku nggak bisa memaksakan perasaan seseorang. Nggak perlu bicara kekurangan mas, semua orang punya kekurangan, termasuk aku pun punya banyak kekurangan. Ya udah, aku yang salah.” Jawab Cinta yang masih merasa ini hanyalah mimpi.

“Ya aku sedih juga bilang kayak gini. Aku salah juga. Aku nggak bisa memaksakan dek. Demi Allah, kamu bisa dapat yang lebih. Aku banyak kekurangan, aku nggak mau kamu dapat yang seperti aku. Aku berminggu-minggu mencari jawaban dan ini jawabannya.” Tulis Rangga lagi.

“Kayaknya aku yang nggak pantas buat kamu makanya jadi kayak gini.” Balas Cinta singkat.

“Ya perbanyaklah berdoa karena aku belum memikirkan menikah. Fokusku untuk perbaikan diriku dan sekolah adik-adikku. Jujur, memang keluarga kami ada masalah yang cukup rumit dan aku nggak bisa egois memaksakan sesuatu. Jadi mohon pengertiannya ya dek. Maafkan sekali lagi.” Tulis Rangga yang lagi-lagi mengucapkan kata maaf.

“Kalau kamu meminta aku menunggu aku nggak papa mas.” Jawab Cinta merendahkan diri karena perasaannya telah terlalu dalam pada Rangga.

“Masalahnya, aku nggak mau menjanjikan. Nggak baik menjanjikan hal yang belum pasti. Sama aja kayak pacaran apa bedanya.” Tulis Rangga lagi.

“Ya udah terserah kamu aja mas.” Jawab Cinta berputus asa.

“Belum apa-apa aja aku udah menyakitimu. Jadi ini nggak baik untuk kedepannya. Kamu bisa dapat yang lebih. J” Tulis Rangga mengakhiri percakapan panjang mereka sore itu.

            Benar-benar percakapan yang panjang bukan? Bisa kalian bayangkan kan bagaimana hancurnya perasaan Cinta hari itu. Aku yang kala itu ada di tempat kejadian perkara benar-benar tak tahu harus berbuat apa, I do nothing. Ku biarkan saja teman sekosanku itu menangis sejadi-jadinya. Tangisannya berlanjut hingga malam hari sampai dia bawa tidur bahkan hingga pagi hari dan berlanjut hingga beberapa hari setelahnya. Aku memutuskan untuk menjauh, aku tak tahu dan memang benar-benar tak tahu harus ngapain, jadi ya gitu, aku tidur juga. Dari percakapan itu aku bisa membaca jelas bagaimana egoisnya si Rangga. Kalau memang dia benar-benar tak yakin, lantas kenapa dia harus datang dan memberikan harapan. Dia yang berkomitmen untuk tidak pacaran masih saja tiap hari menghubungi Cinta untuk sekedar menanyakan atau memberi kabar. Dengan beraninya dia datang membawa janji manis yang ternyata hanya janji palsu yang benar-benar pahit. Pesanku untuk semua para laki-laki, perempuan itu menanggapi sesuatu menggunakan hati dan perasaan, ketika kau datang membawa janji, maka janji itu akan dia simpan dalam hati yang kalau tak kau tepati akan benar-benar membekas tak mudah untuk diobati. Berjanjilah jikalau kau memang sudah yakin kau mampu untuk menepatinya jangan datang hanya sekedar membawa janji yang hanya janji, datang menjanjikan janji yang nantinya tak mampu kau tepati karena itu hanya akan melukai hati yang sakitnya tak terperi.