Tumpuk Menumpuk

ZenRocksEntah sudah berapa kali ku buka laptop dan kembali menutupnya karena entah kenapa pikiranku sedang benar-benar kosong ide, kosong cerita, kosong inspirasi, padahal ya hidupku masih terus berjalan tapi seakan-akan tak ada cerita menarik yang layak ku ceritakan. Sekarang kembali buka laptop sembari ku ingat-ingat kira-kira cerita apa yang kali ini ingin ku angkat. Aku sebenarnya punya cerita yang ingin sekali ku ceritakan, tapi nanti saja setelah ‘cerita’ itu sudah berada pada tahap layak ku ceritakan. Kalau sekarang sepertinya belum cukup layak, aku perlu menunggu satu tahapan lagi, semoga happy ending, amin.

            Lalu mau cerita apa kali ini? Hm… apa ya? Itu tuh judul tulisannya, tumpuk menumpuk. Baiklah kita mulai. Begini ceritanya, setelah ku perhatikan ternyata segala sesuatu itu akan terasa berat ketika ditumpuk, ya tumpuk menumpuk. Sejak jaman kuliah dulu, ketika satu tahun tinggal di asrama aku memutuskan untuk mencuci baju sendiri dan aku adalah orang yang paling malas mencuci baju. Jadwalku nyuci baju adalah satu kali seminggu yaitu pada hari minggu karena hari yang lain rasanya padet banget. Tapi nggak juga sih, orang temenku yang lain aja suka nyuci tiap hari, berarti masalah sepenuhnya terletak padaku yang tak bisa mengatur waktu. Dampaknya adalah baju kotorku menjadi sangat menumpuk dan aku harus menjemur cucianku ke lantai 6 sedangkan kamarku di lantai 3. Benar-benar melelahkan tapi aku terus bertahan dengan kelelahan-kelelahan itu. Kejadian itu mengajarkanku bahwa menumpuk cucian itu benar-benar memberatkan, melelahkan, dan membebani pikiran. Beneran. Setiap minggunya bukan malah merasa senang karena hari libur tapi malah merasa terbebani karena harus mencuci.

            Kejadian tumpuk menumpuk yang selanjutnya adalah menumpuk laporan praktikum. Ketika kuliah dulu dalam satu minggunya bisa ada 3 sampai 4 laporan praktikum. Idealnya, setelah praktikum selesai aku harus segera membuat laporannya agar tak merepotkan diri sendiri atau bahkan orang lain. Tapi, hidup kan kadang tak seideal teori yang ada, ya aku termasuk yang tak ideal. Aku tumpuk saja laporan itu dan panik tunggang langgang ketika laporan itu telah memasuki deadline. Pembenaran yang ku buat kala itu adalah, aku akan merasa lebih produktif dan kreatif ketika berada di bawah tekanan, bahasa jawanya sih ‘under pressure’. Padahal aslinya aku benar-benar tersiksa dengan pola deadliner seperti itu. Biasanya aku akan merasa menyesal tetapi kejadian itu akan berulang-ulang laksana lingkaran setan yang tak ada ujungnya. Tumpuk menumpuk laporan sungguh tak bisa dibenarkan karena itu membuat kita menulis laporan tanpa analisis yang dalam dan terkesan apa adanya, asal-asalan yang penting selesai. Selain itu, rasa panik dan deg-degannya itu lo tak bisa digambarkan. Jujur tumpuk menumpuk laporan itu sungguh memberatkan. Aku benar-benar tak mengeti dan tak habis pikir bagaimana seorang aku bisa seperti itu saat kuliah dulu.

            Kejadian yang ketiga yang sepertinya akan menjadi contoh terakhir adalah menumpuk rasa, tumpuk menumpuk perasaan. Menyimpan rasa bukan hal yang mudah karena setiap harinya kita akan menumpuk rasa itu yang kian hari kian bertambah banyak, bertambah berat. Itulah sebabnya move on itu terasa begitu susah meyusahkan dan berat meberatkan karena tumpukan rasa yang terakumulasi tiap harinya. Aku merasakan sendiri sehingga aku berani untuk menceritakannya. Menyukai memang manusiawi tetapi rasa suka yang terus terakumulasi akan membebani diri sendiri. Tumpuk menumpuk rasa adalah yang paling berat di antara kejadian tumpuk menumpuk yang lainnya.

            Lantas happy ending dari semua kejadian yang ku ceritakan di atas adalah perubahan diri ke arah yang lebih baik (in shaa Allah). Aku sekarang telah sadar dan menyadarkan diri sendiri bahwa tumpuk menumpuk sesuatu adalah hal yang berat dan memberatkan. Ibaratnya, membawa sebuah batu akan terasa sangat ringan tetapi menjadi sangat berat ketika batu itu terus ditumpuk. Sekarang sudah tak ada lagi ceritanya cucian menumpuk karena telah ku jadwalkan ketika pulang kerja aku langsung mencuci setiap dua hari sekali. Sudah tak ada ceritanya ku tumpuk laporan (sekarang: kerjaan) karena apa yang harus ku selesaikan hari ini akan ku selesaikan hari ini, ya walaupun kadang-kadang masih ku selesaikan keesokan harinya tapi setidaknya tak sampai menumpuk. Dan yang terakhir, menumpuk rasa, sudahkan aku bisa melepaskan diri dari kebiasaan ini? Sepertinya aku telah cukup berhasil. Aku telah menemukan alasan kuat kenapa aku harus berhenti menumpuk rasa padamu, kamu… iya kamu. Alasan itu membuatku sakit pada awalnya tapi terasa ringan setelahnya karena aku telah terbebas dari tumpukan rasa yang selama ini ku akumulasi. Kalau kamu merasa hidupmu terasa berat bisa saja itu dikarenakan banyaknya hal yang kau tumpuk, entah itu pekerjaan, cucian, atau mungkin perasaan. Kurangi tumpukan itu, hindari tumpuk menumpuk sesuatu karena sungguh itu hanya akan memberatkan dan membebanimu.

Advertisements