Bapak Pengantar Galon

foto0799Anak kos? Minumnya pake air galon kan? Iya pasti. Orang tuaku di rumah dan hampir semua orang di desaku belum akrab dengan yang namanya air galon. Semuanya meminum air sumur yang sebelumnya telah dimasak. Lain di desa lain pula di kota, orang kota lebih akrab dengan air galon karena memasak air lebih tidak efektif dan lebih boros, boros listrik, boros waktu, dan boros tenaga. Ditambah lagi mereka memang punya uang untuk anggaran air galon. Nah, aku sekarang sedang bermukim di kota dan mau tidak mau harus mengonsumsi air galon. Air galon ini cepat sekali habis karena aku dan teman sekosanku sangat suka sekali minum. Minum air galon baik untuk kesehatan tetapi tidak baik karena memesan galon ini sangat merepotkan karena jadwal kita berdua dengan bapak pengantar galon suka ga sinkron. Jadi suka ketar ketir sendiri ketika air galon suka menipis. Jalan keluarnya kita berinisiatif untuk memesan empat galon sekaligus sehingga tak perlu risau kehabisan air galon. Bapak pengantar galon ini memberikan pelayanan yang baik, selain bapaknya baik beliau juga memberikan keringanan kepada kita untuk hanya sekedar meminjam galon sehingga kita tidak perlu membeli galon sebagai wadah airnya. Jadi kita hanya membeli airnya saja. Baik sekali bukan? Pengalamanku ketika kuliah dulu, aku harus membeli galon beserta isinya dan selanjutnya sistemnya tukar galon yang udah kosong dengan yang sudah ada isinya. Pelayanan yang baik inilah membuat kita tak bisa berpaling ke pengantar galon yang lain. Jadilah kita (aku dan teman kosanku) tetap bertahan berlangganan pada bapak galon walaupun jadwal kita yang sering nggak sinkron. Pesennya kapan dianternya kapan.

            Beberapa hari yang lalu kita sedang dilanda krisis air galon. Kok bisa? Iya permasalahannya karena aku yang suka nunda-nunda buat mesen galon. Jadilah kita berdua kelimpungan karena bapak pengantar galon tak kunjung membalas sms yang teman kosanku kirimkan. Hari pertama, mungkin bapaknya sibuk. Hari kedua kita coba SMS kembali dan lagi-lagi tak ada balasan. Hari ketika kembali kita SMS dan seperti kejadian sebelumnya, tak ada tanda-tanda kalau SMS kita bakalan dibalas. Ketidakjelasan penantian ini membuat kita beralih ke air mineral kemasan 1.5 L tapi diitung-itung kok jatohnya boros ya soalnya kita berdua minumnya suka nggak kontrol. Akhirnya ku putuskan untuk menelpon bapaknya karena SMS sepertinya tak bisa diharapkan. Pas ditelpon eh ‘nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif’ katanya. Kita pun semakin berputus asa, pantesan SMS kita nggak pernah dibalesin, orang HP nya nggak aktif. Keesokan harinya kita putuskan untuk nyamperin tempat bapaknya langsung, agar tak ada dusta di antara kita, hahaha.

            Di hari yang telah kita agendakan, berangkatlah kita berdua ke kediaman bapak penjual galon. Aku yang notabene baru pertama kali ke tempat si bapak tak tahu sama sekali seperti apa penampakan kediaman si Bapak. Tapi menurut teman sekosanku yang dulu pernah ke tempat bapak galon, kok nggak ada tanda-tanda ada tempat bapak si penjual galon. Apa mungkin bapaknya udah nggak jualan ya? Masak sih? Iya kali ya. Kita pun langsung bertanya pada warung yang letaknya bersebelahan dengan tempat si bapak galon,

“Teh… Bapak yang biasa nganterin galon di sini udah nggak jualan ya?” tanyaku pada Teteh penjaga warung

“oh… bapak itu udah meninggal teh, dua apa tiga hari yang lalu gitu ya” jawab si Teteh.

“innalillah….” Jawab kita berdua hampir bersamaan.

“Pantesan kita SMS dan nelpon nggak ada yang ngerespon” lanjutku.

“iya mungkin lagi pada sibuk… soalnya keluarganya kemarin semuanya ke rumah sakit” jawab si Teteh.

“meninggalnya karena sakit Teh? Atau gimana?” tanyaku lagi.

“meninggal karena sakit” jawab si Mbak.

“kemarin nganterin galon ke pelanggannya, kayaknya kena angin duduk, langsung dibawa ke rumah sakit ternyata sudah tak tertolong” jawab seorang bapak-bapak yang sepertinya bapaknya si mbak-mbak.

“Innalillahi wa inna Ilaihi rojiun” jawab kita bersamaan.

            Kita memutuskan untuk kembali ke kosan dengan rasa shock yang tak bisa digambarkan. Masih tergambar jelas wajah bapak pengantar galon yang ramah tiap kali mengantarkan galon ke kosan. Wajahnya yang sepertinya lelah tetapi senyum tetap tersungging karena berhasil memberikan layanan prima pada pelanggannya. Gimana nggak lelah, kosanku berada di lantai dua dengan ukuran tangga yang sempit, perlu usaha keras untuk mengangkat galon ke sana, apalagi jumlahnya empat biji. Tapi dengan raut wajah senang jelas terpancar dari bapaknya ketika galon-galon itu selesai beliau antarkan. Oh… bapak penjual galon, bahkan hingga bapak meninggal pun kami belum tahu nama bapak. Saya selalu kagum dengan orang-orang yang bangga akan pekerjaan halal yang mereka tekuni, termasuk bapak. Semoga bapak meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT. Amin. Kematian benar-benar dekat dengan manusia, kalau tidak mempersiapkan bekal dari sekarang, kapan lagi. Mau terus menunda? Sampai kapan? Kita tak pernah tau kapan ajal akan menjemput kita. Mari sama-sama terus memperbaiki diri dan membekali diri agar ketika sampai waktunya nanti kita telah siap dengan semua perbekalan memasuki dunia akhirat yang kekal abadi. Amin. #SelfReminder

Advertisements