Long Journey to be Awardee

timthumb.phpSebelum memulai cerita ini ijinkan aku mengucapkan Alhamdulillahirobbilalamin, begitu besar limpahan rahmat dan kasih sayang Allah terhadapku selaku hambanya yang bergelimang dosa tetapi tetap diberi banyak nikmat olehNya. Ucapan terimakasih saya ucapkan kepada keluarga, teman, dan rekan-rekan yang tak pernah lelah memberikan semangat dan dukungannya bahkan mungkin pada saat yang sama mereka pun butuh semangat dan dukungan. Tulisan ini memang telah saya azzamkan untuk saya tulis jikalau nantinya saya menjadi awardee. Ini semacam efek domino, manfaat yang saya dapatkan dari membaca pengalaman orang di blog mereka akan juga saya lakukan sehingga kebermanfaatannya tak hanya berhenti di saya saja, tetapi akan terus mengalir dan memberikan efek domino juga terhadap lainnya. Bukankah prinsip kebaikan itu adalah sesuatu yang memberikan kebermanfaatan yang luas, ya kan? Iya dong. Yuk mari mulai ceritanya.

            Menjadi mahasiswa tingkat akhir merupakan masa dimana kita dihadapkan pada dua pilihan yang benar-benar membingungkan, atau bahkan tiga pilihan bagi sebagian orang, pilihan itu adalah melanjutkan kuliah, bekerja, atau menikah. Berhubung belum ada yang menjanjikan pilihan yang terakhir, jadilah saya hanya dihadapkan pada dua pilihan, melanjutkan kuliah atau bekerja. Saya telah memantapkan hati kala itu, ingin langsung bekerja setelah kuliah, hitung-hitung mengumpulkan pengalaman dan penghasilan. Jawaban mantap saya utarakan tatkala ketika sidang skripsi seorang dosen bertanya,

“rencana kamu setelah lulus kuliah mau ngapain? Lanjut kuliah apa kerja?” tanya ketua departemen Biokimia.

“saya mau bekerja pak” jawabku tegas.

            Pihanku jatuh pada bekerja maka kesibukanku setelah mendapatkan SKL (surat keterangan lulus) adalah ikut in campus recruitment beberapa perusahaan, apply via email, buat akun CDA (Career and Development Alumni) IPB, buat akun jobstreet, ikutan jobfair baik di dalam maupun di luar kampus, buat akun linked in, intinya semua yang berhubungan dengan pencarian pekerjaan ku ikuti baik dunia nyata maupun di dunia maya. Banyak panggilan dan sebagian besar berakhir di wawancara. Entah apa yang salah denganku. Masa wisuda pun datang dan aku belum mendapatkan pekerjaan, wisuda datang artinya beasiswa berakhir. Ku putuskan akan tetap tinggal di Bogor, dekat kampus, karena link telah terbentuk di sini, aku tak bisa ikut pulang ke kampung halaman walaupun keinginan itu amat sangat membuncah dalam dada. Biarlah ku bertahan sejenak di sini. Impian untuk mengirimi orang tua dengan uang penghasilanku menjadi sebaliknya, orang tuaku lah yang mengirimkan uang bertahan hidup selama aku menjadi pengangguran. Malu? Jelas, but I don’t have choice. Aku benar-benar full pengangguran tanpa penghasilan. Entah sudah berapa kali bolak balik Jakarta untuk melakukan interview, bahkan pernah ke karawang, Bekasi. Kala itu nggak ngenes-ngenes amat sih, soalnya aku nggak sendirian, ada tiga orang lain yang tak lain adalah teman sekamarku yang juga punya nasib serupa denganku. Penderitaan akan benar-benar menjadi penderitaan ketika kita melaluinya sendiri, tapi penderitaan akan berbuah kenangan ketika kita melaluinya bersama-sama. Lagi pula, katanya ‘penderitaan yang tidak menimbulkan kematian sejatinya adalah tahapan dimana kita akan dinaikkan tingkatannya’, and I believe this quote.

            Wawancara yang benar-benar membekas di benakku hingga saat ini adalah wawancara yang berhasil membelokkan arah haluan hidupku. Wawancaranya kurang lebih seperti ini,

“kamu itu nggak cocok jadi karyawan, kamu cocoknya jadi akademisi, semacam dosen, peneliti, atau sejenisnya” kata seorang psikolog yang diiyakan oleh pewawancara yang lain.

            Sinyal-sinyal tak akan diterima di perusahaan itu benar-benar kuat dan sedikit membuatku down, tapi setelah aku pikir-pikir, sepertinya benar apa yang beliau katakan dan aku pun merubah haluan yang awalnya mengejar pekerjaan akan berubah mengejar kamu beasiswa. Satu orang teman sekamarku yang wisudanya paling terakhir juga tak berniat bekerja, dia ingin melanjutkan kuliah, akhirnya aku memutuskan untuk satu haluan dengannya. Mulailah kita menyusun rencana. Beasiswa yang kita incar adalah LPDP (Lembaga Penglola Dana Pendidikan) dri kementrian keuangan. Persyaratan yang belum kita punya dalah TOEFL, dimana score yang harus kita lewati adalah >500 untuk dalam negeri dan >550 untuk tujuan luar negeri. Kita berdua langsung menyusun rencana belajar TOEFL tapi ternyata tak semudah yang ada di film-film yang selama ini aku tonton, dua orang yang bersemangat belajar, bekerja keras, dan akhirnya mereka berdua bisa meraih apa yang mereka inginkan. Nggak, nggak sama sekali. Kita berdua diterpa rasa malas yang amat sangat, terutama aku. Udah kemampuan Bahasa inggris pas-pasan, belajarnya ala kadarnya, biaya TOEFL minta ke orang tua, dan ya seperti yang kalian bayangkan, score yang aku dapatkan hanyalah 480 dan temanku 510. Kalau tak salah ingat, kita ngambil test itu bulan Februari 2015.

            Pupus sudah harapanku untuk mengikuti seleksi LPDP dan temanku melangkah dengan tujuan dalam negeri. Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti program pendampingan untuk mendapatkan beasiswa LPDP yang diadakan oleh lembaga pendidikan dompet dhuafa, BIPS (bestudi Indonesia preparatory school) dimana program itu akan memberikan pendampingan pelatihan bahasa inggris intensif agar para pesertanya bisa mendapatkan score memadai dan kemampuan untuk menjadi awardee LPDP. Aku sangat tertarik dengan program ini karena setiap pesertanya akan difasilitasi untuk ikut test IELTS gratis. Aku putuskan nekat mendaftar walaupun score TOEFL yang disyaratkan kala itu >525, ini semacam bonek (bondo nekat). Yup, aku tak diterima, gagal di seleksi berkas. Kabar gembiranya, temanku diterima menjadi awardee LPDP dan akan mulai perkuliahan bulan September 2015. Aku senang sekali sekaligus sedih akan nasib diri, tapi temanku ini terus menerus memberikan semangat agar aku tak menyerah sampai di sini. LPDP akhirnya membuka beasiswa jalur afirmasi, dimana beasiswa ini diperuntukkan untuk tiga golongan, untuk daerah 3T (terluar, terdalam, dan tertinggal), alumni bidik misi dengan IPK >3.5, dan mahasiswa berprestasi. Persyaratan TOEFL sangat meringakan, >450 untuk tujuan luar negeri dan >400 untuk tujuan dalam negeri. Tanpa banyak pikir panjang akhirnya ku submit semua pendaftaran, ku pilih tujuan luar negeri. Ada dua orang teman SMA ku yang juga mendaftar beasiswa afirmasi LPDP karena daerah asal kami bertiga sama, Pamekasan, masuk ke dalam kategori daerah tertinggal, entah ini berkah atau musibah, hahaha.

            Pada saat yang sama aku aku telah menandatangani kontrak menjadi seorang guru kontrak di sebuah lembaga bimbingan belajar, menjadi guru kontrak kimia. Pertimbanganku kala itu, aku hanya sebentar berkarir di tempat ini sampai pengumuman LPDP keluar, penghasilan yang ditawarkan lumayan untuk bertahan hidup, penalti yang harus ku keluarkan jika berhenti di tengah jalan tak terlalu besar, dan yang paling penting aku bisa mengasah kemampuanku menjadi seorang pengajar karena rencana pasca studi setelah lulus S2 nanti memang ingin menjadi seorang dosen. Tempat kerjaku memberikan lebih dari yang aku inginkan, pengembangan diri baik kemampuan mengajar dan pengetahuan islami, selain itu lingkungan kerjanya juga sangat menyenangkan, bersama orang-orang yang orientasinya tak melulu soal dunia tapi juga akhirat. Ternyata ada seorang rekan kerja yang juga mendaftar beasiswa LPDP afirmasi sepertiku.

            Hari yang dinantikan pun datang, hari pengumuman kelulusan berkas, pagi-pagi aku ditelpon oleh teman SMA ku. Dia memintaku untuk melihat pengumuman di website LPDP dan ternyata aku tidak lulus seleksi berkas. Sedih bukan main tapi ternyata dua orang temanku juga tak lulus. Aku pun langsung menghubungi rekan satu kerjaku, ternyata dia lulus. Usut punya usut ternyata daerah asalku (Pamekasan) telah keluar dari daftar daerah tertinggal sejak tahun 2015 dan yang aku lihat ketika mendaftar kemarin adalah daftar daerah 3T tahun 2014. Entah ini berkah atau musibah. Aku benar-benar sedih kala itu karena semua rencana masa depanku langsung berantakan hanya gara-gara satu pengumuman. Kebiasaanku terlalu percaya diri memang membahayakan, membuatku tak terbiasa membuat rencana cadangan.

            Hari-hariku ku isi dengan mengutuki diri sendiri, aku benar-benar merasa tak punya harapan dan masa depan. Agak berlebihan sih, tapi itu yang aku rasakan. Rekan kerjaku terus melaju ke seleksi berikutnya dan akhirnya dia berhasil menjadi awardee LPDP. Betapa inginnya aku di posisinya kala itu tapi aku yakin pasti ada rencana Allah yang lebih indah di balik semua kejadian ini. Rekan kerjaku yang satu ini selalu menceritakan kegiatannya sebagai seorang awardee yang sedikit membuatku semakin mengutuki diri sendiri dan semakin ingin berada di posisinya. Tapi, ya sudahlah mungkin ini yang terbaik buatku. Ku putuskan untuk kembali mengikuti test TOEFL untuk yang kedua kalinya dengan harapan aku bisa melampui score yang disyaratkan LPDP. Aku merasa sedikit lebih banyak belajar dari sebelumnya tapi ternyata scoreku hanya naik 10 poit, dari 480 menjadi 490. Bagaimana mau daftar tujuan luar negeri, untuk tujuan dalam negeri pun aku belum memenuhi kualifikasi. Program pendampingan dari dompet dhuafa kembali dibuka dan aku berniat untuk kembali mengikutinya, tapi aku tak mau seperti sebelumnya, aku harus mempersiapkan semuanya lebih baik. Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti test TOEFL lagi tapi yang prediction karena harganya lebih murah dibandingkan yang ETS. Aku berhasil mendapatkan score di atas yang disyaratkan yaitu 537. Aku sedikit punya rasa percaya diri kala itu karena semua persyaratan telah ku penuhi. Hasilnya? Aku kembali tidak lulus untuk yang kedua kalinya. Rasa kecewanya tak sebesar yang sebelumnya sih karena mungkin aku sudah kebal dengan semua kegagalan-kegagalan yang ku alami. Karena tak mau berkubang dalam penyesalan, akhirnya ku putuskan untuk kembali mengikuti test TOEFL dari ETS karena LPDP tidak menerima TOEFL prediction. Kali ini aku lebih banyak belajar dari sebelumnya. Aku mengikuti saran seorang blogger untuk belajar buku longman, ku ikuti sarannya dan memang lebih terarah menggunakan buku longman. Alhamdulillah aku mendapatkan score 517, artinya aku bisa mendaftar LPDP tetapi berubah tujuan, dari luar negeri ke dalam negeri. Aku sempat ragu pada awalnya, mengubur keinginan yang telah lama diinginkan itu bukan perkara mudah, akhirnya setelah pertimbangan dan masukan sana sini ku putuskan untuk mengambil tujuan dalam negeri, ku pilih Institut Teknologi Bandung.

            Alhamdulillah aku lulus seleksi berkas, tinggal mengikuti seleksi substansif yang terdiri dari 3 jenis seleksi yaitu, wawancara, LGD (Leaderless Group Discussion), dan nulis essay on the spot. Ku ikuti setiap seleksinya dan aku merasa kacau balau di wawancara dan perasaan akan gagal itu kembali ada. Benar saja, aku tidak lulus seleksi sunstansi. Aku kembali mengutuki diri sendiri dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri. Bukan perkara mudah bangkit dari kegagalan-kegagalan yang ku alami. Kegagalan-kegagalan ini terjadi karena gagalnya diri ini dalam menyusun rencana masa depan. Setiap harinya ku isi dengan menyalahkan diri sendiri, mangapa begini mengapa begitu. Tapi, aku masih punya satu kesempatan lagi sekaligus kesempatan terakhir untuk mengikuti seleksi LPDP. Aku tak punya pilihan untuk tak kembali ikut walaupun dengan perasaan yang benar-benar kalut. Ku pelajari semua yang harus ku pelajari, ku ingat-ingat kembali proses wawancara yang ku alami, LGD yang aku lalui, essay yang ku ikuti, ku analisis dimana poin yang menguatkanku dan dimana poin yang melemahkanku. Ku berlatih habis-habisan untuk mengikuti seleksi ini yang kedua kalinya. Setelah lulus seleksi berkas, ku persiapkan semuanya dengan matang, ku tulis poin-poin pertanyaan yang sekiranya akan ditanyakan, ku tulis jawaban terbaik yang meyakinkan, ku perbaiki hubunganku dengan Allah karena bisa jadi kegagalan-kegagalan yang ku alami selama ini karena gagalnya diriku mejalin hubungan baik dengan sang pencipta. Meminta doa restu orang tua dan meminta doa pada teman-teman.

            Kembali ku ikuti seleksi substansi, masih jelas dalam bayangan gagalnya aku di seleksi sebelumnya. Semuanya serba sama, ku menginap di kosan teman yang sebelumnya ku inapi, ku mengikuti seleksi di gedung yang sama seperti yang dulu ku ikuti, bayang-bayang kembali gagal terlihat jelas, tapi aku tepis semuanya, aku tak mau gagal untuk yang kedua kalinya karena dua alasan, ini kesempatan terakhirku dan aku bukan keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali. Entah kenapa, semuanya serba dimudahkan untuk seleksi yang kedua ini, aku merasa lega dan tak begitu khawatir degan hasilnya. Mungkin ini yang disebut berusaha maksimal dan lulus itu bonusnya. Pengumuman yang dinanti-nanti pun datang, kala itu bulan puasa, aku sedang berkumpul dengan teman-teman sekantorku untuk berbuka puasa. Pengumumannya belum keluar hingga menuju saat berbuka, entah sudah berapa kali ku buka email. Saat adzan berkumandang, pengumuman datang dan Alhamdulillah wa syukurillah, aku dinyatakan lulus seleksi substansi yang artinya aku telah menjadi awardee LPDP. Benar-benar indah rencana Allah, rasa senangnya membuat aku lupa akan kegagalan-kegagalan yang aku alami, mungkin inilah yang disebut berhasil setelah putaran ke tujuh. Pesanku buat teman-teman, jangan pernah menyerah karena kegagalan-kegagalan yang datang, lalui saja walaupun harus mengutuki diri setiap hari, tapi intinya jangan berhenti berjuang. Gampang emang ngomongnya tapi susah aplikasinya, susah bukan berarti nggak bisa kan. Ada banyak rahasia indah Allah kenapa aku baru diberi kelulusan tahun ini, tepatnya tanggal 10 Juni 2016 padahal aku menginginkannya tahun 2015. Salah satu alasannya mungkin kalau aku lulus tahun 2015 aku tak akan dipertemukan dengan teman-temanku dan kamu, hehe. Ada banyak kisah indah selama masa penantianku, mungkin suatu saat akan ku bagi di sini, tapi tidak sekarang.

            Aku berencana untuk intake kuliah di ITB januari 2017 tapi ternyata jurusan yang ku tuju tidak membuka pendaftaran di semester genap sehingga aku harus menunggu hingga agustus 2017, terasa lama memang, lama banget malah, tapi tak apalah, aku percaya akan banyak kisah-kisah menarik dan indah yang akan terjadi selama penantianku hingga masa kuliahku dimulai nanti. Sekali lagi ku tekankan, jangan pernah menyerah karena gagal karena berusaha itu jauh lebih indah dari pada tak pernah gagal karena tak pernah mencoba, karena ‘penderitaan yang tidak menimbulkan kematian sejatinya adalah tahapan dimana kita akan dinaikkan tingkatannya’. Bukan berarti aku merasa telah naik tingkat tapi setidaknya aku telah benar-benar berusaha memperjuangkan apa yang benar-benar aku inginkan.

Advertisements

39 thoughts on “Long Journey to be Awardee

  1. selamat dita…
    alhamdulillah,. inspiring banget pengalamannya,. sepakat banget yang tentang perjuangan, gagal karena berusaha itu jauh lebih indah daripada tak pernah gagal karena tak pernah mencoba..

    selamat bakal jadi mahasiswa lagi 😀

  2. Keren perjuangannya. Beda banget sama karakter saya yang mengalir saja tanpa perjuangan apapun. Tapi saya belum pernah mwngalami kegagalan sebanyak yang Anda alami. Luar biasa. Bisa jadi motivasi buat yang lain.

    • Semua yang hidup pasti berjuang kok mas. Mungkin tak terasa berjuang karena mas nya melakukannya dengan enjoy. Amin… semoga mengispirasi yang lain bahwa sejatinya kegagalan itu adalah kepingan-kepingan yang harus dikumpulkan yang nantinya akan menjadi keberhasilan ketika disatukan

  3. “tapi setidaknya aku telah benar-benar berusaha memperjuangkan apa yang benar-benar aku inginkan.” seneng banget sama kata-kata ini mbak. terima kasih turut menularkan semangaat ^_^

    oiya, selamaattt

  4. Waahh..saya merasa sedang menyaksikan perjuangan mba dita. Hehe.. baca tulisannya bikin saya deg degan dan sedih juga pas mba nya gagal trus akhirnya seneng karena lolos lpdp juga. Jadi penyemangat buat saya juga. Soalnya saya sudah menyerah untuk daftar lpdp karena udah capek dengan prosess nya yang bikin saya takut gagal lagi. Ternyata saya belum sekuat dan se tahan banting seperti mba :”

    Oiya mba, saya baca kalo mba dita udah daftar lpdp lebih dr 2 kali ya? Bukannya kalo dftar 2 kali dan gagal nama kita di blacklist ya mb?

    Salam kenal mba. Maaf saya banyak nanya
    Ikrim

    • Ayo jangan menyerah… coba lagi selagi masih ada kesempatan. Lpdp itu kan kesempatamnya dua kali… tp dua kali itu itungannya klo ga lolos wawancara… jd kesempatan kita cm dua kali wawancara. Kalo gagal di seleksi berkas bisa berapa aja. Aku kan gagal seleksi berkas sekali, wawancara sekali, jd masih ada kesempatam daftar lagi buat wawancara sekali lagi. Semangat ya kamu… jangan nyerah

  5. Pingback: Long Journey to be Awardee – PK87

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s