Membunuh Berhala

96349-0-663-382-55e8e0cba2afbde1071c4a3e“Kenapa sih kak harus ada olimpiade-olimpiade gitu?” tanya seorang siswa padaku suatu hari karena dia sepertinya sudah jengah dengan semua rutinitas yang dia jalani. Dia anak yang cerdas, tak hanya soal pelajaran tetapi di bidang olahraga pun dia mumpuni. Bahkan di umur yang menurutku sangat dini (read: SMA) dia sudah sangat paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat. Tak hanya tahu, tapi dia juga mengaplikasikannya. Ini menurutku sangat luar biasa, di saat yang sama, ketika teman sebayanya banyak disibukkan dengan urusan hati yang sulit mereka kendalikan atau menjadi remaja hits yang posting foto kesibukan sana sini. Dia malah lebih tertarik untuk mempersiapkan masa depan karier dan kesehatannya di masa depan. Pun aku sangat kagum karena di umur segini pun aku sebenarnya sudah sedikit paham apa itu pola makan yang baik, pengaturan asupan yang baik, pola hidup sehat, tapi bedanya sangat sulit sekali bagiku untuk mengaplikasikannya. Banyak alasan yang ku buat, ah… entar aja deh ngatur pola makannya kan sekarang masih muda, ah… entar aja deh ngaturnya kan sekarang masih hidup sendiri, entar aja ngaturnya kalau udah nikah, ah… entar aja deh kan ini kan itu. Gitu aja terus sampe nggak kerasa tiba-tiba udah tua dan tiba-tiba udah sakit-sakitan, naudzubillah.

Kembali ke pertanyaan yang tadi. Setelah pertanyaan itu terlontar, banyak sekali jawaban yang muncul di kepalaku, aku harus bisa memilih satu jawaban yang tepat, tapi sayangnya aku bukanlah pemberi jawaban ulung, sama sekali tak bisa meyakinkan, sehingga sering sekali pertanyaan-pertanyaan bagus hanya berakhir dengan jawaban yang apa adanya. Ya harus gimana lagi, beginilah adanya aku. Setelah sekian detik berpikir, akhirnya ku jawab dengan jawaban yang bisa ditebak sendiri lah, ngasal dan ada apanya eh apa adanya,

“hm… kenapa ya? Ini yang kamu maksud olimpiade pelajaran apa bidang olahraga?” tanyaku, sengaja ku selipkan pertanyaan agar ada jeda lagi buatku untuk berpikir. Sebetulnya ini retoris, pertanyaan yang tak butuh jawaban. Tanpa bertanya pun sebenarnya aku udah tau jawabannya. Tapi ya hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu hingga jawaban meyakinkan bisa ku dapatkan.

“ya dua-duanya kak, olimpiade pokoknya. Kenapa harus berlomba-lomba. Buat nunjukin bahwa kita yang terhebat gitu atau gimana?” tanyanya makin penasaran. Bahkan ditambah dengan satu pertanyaan lagi padahal pertanyaan sebelumnya belum bisa ku jawab. Yup, time is up, waktunya untuk menjawab pertanyaan, jangan sampai ngulur-ngulur waktu lagi, segera eksekusi, berikan jawaban segera dan kalau bisa meyakinkan.

“olimpiade itu diadakan sebagai tolak ukur, sudah sejauh mana sih kemampuan kita, sudah sejauh mana sih usaha kita, sudah sejauh mana sih posisi kita sekarang. Seandainya tak ada olimpiade maka kita tak akan pernah tahu bahwa masih ada langit di atas langit, kita tak akan pernah tahu posisi kita sebenarnya dimana dan selalu merasa bahwa kita adalah yang terbaik. Padahal mungkin kalau kita berlomba dengan yang lain, kita sebenarnya tak ada apa-apanya. Olimpiade itu ada agar kita bisa membunuh berhala-berhala yang tanpa sadar kita bangun sendiri akibat kekaguman pada diri yang berlebihan. Olimpiade membuat kita sadar bahwa usaha kita, perjuangan kita, pengorbanan kita belum ada apa-apanya” kataku panjang lebar. Entah dari mana jawaban itu muncul. Memberikan jawaban itu membuatku teringat pada diriku dulu. Kalau boleh jujur, aku benar-benar pernah membangun berhala-berhala itu, kagum berlebih pada diri sendiri. Tapi sekarang aku sadar, lebih tepatnya disadarkan, bahwa aku bukan siapa-siapa. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap orang pernah melewati tahapan ini, membangun berhala. Atau mungkin ada yang belum dan berpotensi untuk membangunnya di masa depan. Saranku, bunuh segera berhala-berhala itu.

“oh… iya kak, gitu ya” begitulah tanggapan si adek yang tadi bertanya padaku. Entah dia terpuaskan atau tidak dengan jawabanku. Setidaknya tak ada pertanyaan lanjutan yang akan membuatku kembali memutar otak untuk mencari jawaban. Tapi tak disangka, pertanyaan lanjutan justru muncul dari diriku sendiri, seperti ini,

“iya kalau kita mengambil sudut pandang dari orang yang kalah dalam olimpiade itu. Bagaimana ceritanya jika kita menjadi orang yang terbaik di olimpiade itu? Bukankah itu malah akan jadi potensi membangun berhala yang lebih besar dalam diri?” itu pertanyaan lanjutanku. Iya juga sih, tapi mari sedikit merenung. Seorang juara sejati bukanlah orang biasa, mereka adalah orang yang telah mengalami banyak tempaan baik fisik maupun mental. Sehingga dia telah siap dengan mental juara yang telah dia bangun, bukankah padi yang makin berisi akan semakin merunduk? Seorang yang biasa-biasa sajalah atau dengan kemampuan tanggunglah yang akan membangun berhala dalam diri ketika menjadi juara. Seorang juara sejati tak akan melakukan itu semua. Lantas jika kitalah yang menjadi juara, maka itulah cobaan bagi kita, ujian bagi kita, sejauh mana kita tak menjadi jumawa. Karena kenikmatan dan kebahagiaan sebenarnya bisa jadi hadiah, cobaan, bahkan ujian. Yuk bersama-sama sadarkan diri, posisi kita sekarang, jabatan kita sekarang, kepercayaan yang kita punya sekarang, tanggung jawab yang kita emban sekarang, semua itu hanyalah titipan dan tak seharusnya kita membangun berhala dalam diri hanya karena itu semua. Tugas kita sebagai manusia hanyalah beribadah kepada Allah sehingga hanya padaNyalah kita menyembah dan meminta pertolongan. Jika telah terlanjur kau bangun, bunuhlah dan segeralah bertaubat. Jika belum, Alhamdulillah, semoga tak akan pernah. Memang sulit mengendalikan hati, jika mudah tak akan ada surga sebagai balasannya, kerena masuk surga itu bukan perkara mudah.

Rumor yang Menyakitkan

twit2“dug…dug…dug… centraaaang” bunyi benda mengenai dinding, seperti bunyi badan yang dihantamkan ke dinding diikuti bunyi piring yang dibanting. Sukses membangunkanku dari rutinitas tak sehat yang hingga detik ini belum bisa ku tinggalkan, tidur pagi. Ku buka mata langsung melihat ke arah teman sekosanku yang pada saat yang sama juga sedang memandang ke arahku.

            “bunyi apaan mbak?” tanya kita berdua hampir bersamaan. Kita sama-sama bertanya dan sama-sama menggeleng karena memang sama-sama bingung dan tak tahu apa yang terjadi. Kita pun langsung bergegas ke jendela untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ketika membuka jendela, tak hanya suara hantaman benda yang terdengar tetapi juga diikuti teriakan dan perdebatan layaknya orang yang sedang berselisih pendapat. Suaranya terasa sangat dekat. Awalnya kami berdua mengira di lantai bawahlah peristiwa perdebatan yang cukup layak disebut ‘pertengkaran’ itu terjadi. Bukan tanpa alasan perkiraan ini muncul karena memang di lantai bawahlah cukup sering terjadi perdebatan yang beberapa kali berhasil menarik perhatian kami berdua. Setelah menfokuskan pendengaran dan didukung dengan intonasi suara yang semakin menguat maka dapat kami simpulkan bahwa sumber suara berasal dari kamar di sebelah kamar kami. Entah apa yang mereka perdebatkan. Apapun itu semoga semuanya akan baik-baik saja dan semuanya memang akhirnya semakin mereda dan suara nyaring tadi perlahan-lahan menghilang. Tapi, rasa shock yang kami berdua rasakan tak semudah itu menghilang. Bahkan sudah umur segini pun, kencangnya suara akibat pertengkaran benar-benar sukses membuat kami trauma, entah setrauma apa jikalau anak kecil polos yang mendengarkannya. Hikmah yang bisa diambil dari kejadian ini, janganlah pernah bertengkar di depan anak-anak, kalian tak pernah tau kan bagaimana berantakannya neuron-neuron otak mereka dan jejak-jejak trauma itu akan menjadi beban untuk mereka pikul entah sampai kapan. Kembali ke peristiwa pertengkaran tadi, siapakah gerangan penghuni kamar sebelah? Merekalah subjek utama yang akan aku ceritakan di cerita ini. Bukan bermaksud untuk membuka aib orang, sungguh aku tak bermaksud begitu, aku hanya ingin berbagi kisah yang lantas bersama-sama bisa kita ambil hikmahnya.

            Mereka adalah sepasang suami istri yang baru seumur jagung menikah, tak berlebihan jikalau ku bilang pasangan pengantin baru. Kami berdua diundang ketika mereka berdua menikah tapi sayangnya kami tak bisa datang karena satu dan lain hal. Pertetanggaan dimulai ketika si teteh belum menikah kala itu. Hubungan baik kita jalin sehingga tak jarang kami sering diberi makanan sama si teteh. Pernah suatu ketika, pas bulan Ramadhan, aku ingat sekali, kala itu aku sendirian di kosan dan sedang benar-benar tak enak badan. Ku beli makanan seadanya untuk berbuka puasa, benar-benar sedih rasanya, sakit sendirian di kosan di bulan Ramadhan. Ketika adzan berkumandang ada yang mengetuk pintu kamar kosan, dengan langkah berat ku langkahkan kaki ke pintu dan ketika ku buka pintu ternyata teteh sebelah menenteng sebuah plastik yang cukup besar,

“ini teh buat buka puasa” katanya padaku. Aku pun langsung menerimanya dengan kesadaran yang tak sepenuhnya penuh.

“terimakasih banyak teh” kataku berterimakasih. Ketika ku buka, di dalamnya ada dua kotak nasi bebek favoritku dan dua bungkus kurma. Mungkin si teteh mengira mbak kosanku ada, padahal kala itu dia sedang pulang ke rumahnya.

            Itulah sedikit gambaran bagaimana baiknya si teteh tetangga kosanku. Setelah menikah, si teteh tinggal bersama suaminya, di sebelah kamarku. Itu kami ketahui ketika kami memberikan kado sebagai hadiah pernikahan pada mereka berdua. Kala itu terlihat jelas seperti apa raut bahagia pasangan baru itu, si teteh dan suaminya. Itulah mengapa kami begitu shock ketika mendengar hingar bingar di sebelah, antara percaya dan tidak. Aku sedih dan menyayangkan, kenapa harus berdebat pendapat hingga sekeras itu, jikalau memang ada yang tak disuka atau kurang pas kenapa tak dibicarakan baik-baik. Gampang sih menjadi komentator sepertiku, pengamat sepertiku, dan tak ada jaminan pula aku tak akan bersikap yang sama jika berada di posisi mereka. Aku berdoa semoga aku kelak bisa berpikir jernih ketika sedang marah sehingga apa yang ku dengarkan pagi itu tak akan aku lakukan, amin. Tapi tetap saja aku sedih karena aku tau suara itu cukup keras untuk didengar oleh tetangga yang lain.

            Beberapa hari setelah itu, tepatnya hari selasa kemarin, sepulang dari tempat kerja, kudapati banyak orang berkumpul di depan kosanku, lebih tepatnya di depan kamar si teteh dan suaminya. Aku kaget bukan kepalang, jangan-jangan mereka bertengkar lagi, pikirku kala itu. Aku pun mendekat ke kerumunan orang itu dan bertanya, ternyata telah terjadi pencurian di kamar si teteh dan suaminya. Orang-orang di sana menyarankanku untuk mengecek kamarku takutnya ada barang yang hilang. Aku tak terlalu khawatir karena memang tak ada barang berharga di kamarku dan memang benar tak ada posisi barang di kamarku yang berubah ketika terakhir kali ku tinggalkan. Aku sedih sekali atas apa yang menimpa si teteh dan suaminya. Barang-barang yang hilang adalah 3 buah laptop dan sebuah TV plasma 29 inc. Hal yang janggal adalah pintu kamar si teteh dan suaminya benar-benar tak rusak sama sekali, seakan-akan dibuka menggunakan kunci duplikat. Aku benar-benar tak habis pikir sama si pencuri, bagaimana dia bisa sehebat itu, membuka tanpa merusak pintu sama sekali. Si teteh berniat untuk membuat laporan ke polisi dengan tujuan agar si pencuri ditangkap dan jera sehingga tak meresahkan masyarakat yang lain, masalah barang katanya sudah dia ikhlaskan. Kalau tak salah pak polisi datang sekitar jam 11.an malam, aku sudah mau tidur kala itu sehingga tak keluar kamar. Banyak perkiraan yang muncul dan ada satu rumor yang membuatku benar-benar kaget, tak percaya, dan sedikit menyakitkan jikalau si teteh dan suaminya kelak mendengarnya.

            Rumor yang menyakitkan itu adalah banyak yang berpikir bahwa yang menjadi otak pencurian itu adalah suami si teteh sendiri. What the food? Kok bisa mereka berpikiran seperti itu? Aku yang mendengarnya saja kesel bukan kepalang entah bagaimana jikalau suaminya si teteh yang mendengarnya. Mereka berpikir seperti itu bukan tanpa dasar katanya. Menurut mereka, hal itu bisa saja terjadi karena pintu kamar mereka benar-benar tak rusak sama sekali, mereka berdua sering ribut, dan suaminya si teteh yang terlihat seperti ‘tak bekerja’. Ya Allah, tega banget ya mereka, bukannya si suaminya teteh juga diambil laptopnya, nggak mungkin dong dia ngambil punya dia sendiri. Lagian buat apa juga, bukannya kalau sudah suami istri maka semua barang yang ada adalah milik bersama? Terus kalau masalah ‘tak bekerja’, lah… bukannya jaman sekarang bekerja itu tak harus keluar rumah? Bisa aja si suaminya teteh kerjanya di depan computer yang notabene itu tak harus keluar rumah. Hal ini juga didukung dengan background pendidikan beliau yang ku tahu berhubungan dengan computer. Hanya satu yang tak bisa ku elak, yaitu pertengkaran yang kerap mereka lakukan. Seharusnya mereka tak harus berdebat pendapat hingga sampai terdengar orang lain, hingga terdegar ke tetangga sehingga melahirkan rumor-rumor yang menyakitkan seperti itu. Ya Allah lindungilah hamba, keluarga hamba, teman-teman hamba, dan orang-orang yang membaca tulisan ini dari rasa marah yang tak terarah, emosi yang tak terkendali, dan rasa kesal yang menghujam diri yang bisa membuat kita lupa akan hakekat dan kondisi diri dan sekitar, sehingga kami masih bisa berpikir jernih ketika emosi mendidih, bersikap wajar walau rasa marah sedang menajalar, dan menahan lisan untuk senantiasa berkata baik walaupun kondisi diri sedang tak baik. Amin.