Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Kaum muslimin bagaikan satu tubuh, dimana ketika satu bagian sakit maka seluruh bagian pun ikut gusar merasakan sakitnya. Saat ini ada bagian dari tubuh kita yang tengah merasakannya, itu artinya kita tidak sedang baik-baik saja. Ada rintih yang nyaris tak terdengar, ada tangis yang tak digubris, ada luka yang mengiris. Tapi kita tak sadar […]

via Kita tidak sedang baik-baik saja. — Musafir Tinta

Advertisements

Pendongeng

danbo-menikahBanyak sekali yang terjadi beberapa minggu ini tapi rasanya berat sekali untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan. Rutin sih ngunjungin blog tapi hanya sekedar lihat-lihat saja sebentar lantas setelah itu close tab. Membaca tulisan blogger yang lain pun amat sangat jarang. Sesekali ku baca beberapa tulisan yang judulnya menarik, memberikan satu dua komentar untuk satu dua tulisan lantas setelah itu sama seperti sebelumnya close tab. Benar-benar tak ada niatan untuk mencurahkan kisah sendiri di blog. Sepertinya kejenuhan ini telah merajai diri. Hari ini memaksakan diri untuk menulis karena rasanya hampa sekali kalau tiap kali buka blog, tulisan teratasnya itu-itu saja. Sama jenuhnya diriku dengan banyaknya postingan foto pernikahan teman-teman yang membanjiri hampir semua media sosial yang ku miliki. Bukan jenuh juga sih lebih tepatnya kepengen hahaha. Cerita tentang cinta dan pernikahan sepertinya memang tak aka nada matinya. Karena cinta dan pernikahan memang tak akan pernah mati selama pelakunya (read: manusia) masih tetap eksis di dunia. Kisah cinta yang lantas berakhir di pernikahan banyak sekali modelnya, ada yang awalnya tak kenal tapi berujung di pernikahan, bahkan mungkin awalnya bermusuhan tapi ujung-ujungnya nikah juga. Kali ini aku akan bercerita kisah cinta menuju pernikahan yang menurutku antimainstream banget.

Mudik lebaran tahun 2015 kemarin

            Kala itu aku mudik sendirian, benar-benar sendirian, tak ada yang menemani, semoga mudik tahun ini nggak sendirian lagi hahaha #ngarep. Bawaanku standar-standar saja, koper ukuran sedang, tas ransel, dan satu plastik berisi makanan dan camilan. Ku langkahkan kaki ke ruang tunggu pemberangkatan para penumpang kereta api di stasiun senen. Ada yang berbeda di ruang tunggu kala itu. Ada segerombolan kakak-kakak yang sepertinya sibuk mempersiapkan seperangkat alat pementasan. Hal ini semakin diperkuat dengan posisi gerombolan kakak-kakak itu tepat di depan jajaran kursi tunggu para penumpang. Di sana juga berserakan balon-balon dan properti pementasan. Benar saja, mereka adalah relawan (aku lupa nama perkulpulan relawan itu) yang tujuannya adalah memberikan hiburan bagi anak-anak yang akan ikut mudik bersama orang tuanya. Tema yang mereka bawa adalah “mudik ramah anak”. Kegiatan itu sepertinya bekerja sama dengan PT. KAI yang dilatarbelakangi keprihatinan mereka akan anak-anak yang banyak terlantar karena orang tua mereka sibuk mengangkat barang-barang yang ingin mereka bawa mudik. Menarik sekali kegiatan para relawan ini, pikirku kala itu. Ketertarikanku pada kegiatan relawan ini semakin menjadi-jadi ketika mereka memulai pertujukan, mereka mendongeng. Duuuh…. Lucu banget bikin ketawa tak henti-henti. Padahal aku udah gede loh, banyak anak kecil yang mulai mendekat ke depan, anak-anak itu juga tertawa renyah. Ketika pertujukan dongeng telah hampir selesai, mereka memperkenalkan diri satu per satu dan aku benar-benar terperangah ketika mereka memperkenalkan ketua dari perkumpulan itu. Seorang mas-mas yang masih sangat muda, paling muda malah di antara para pendongeng yang lain (kalau diliat dari wajahnya ya) dan ada nilai tambahnya lagi, mas-masnya ganteng hehehe. Biasanya kan orang ganteng tuh jaim ya, tapi si mas-masnya keren banget pas ngedongeng, pantesan beliau jadi ketua. Ku fotolah si mas-mas itu dan ku share ke saudara kembarku untuk menceritakan kejadian yang ku alami kala itu. Fotonya sepertinya masih ada di HPku tapi males banget yang mau ngobrak-abrik lagi soalnya udah lama banget. Tapi ini ceritanya benaran kok, jadi no picture belum tentu hoax ya hehe.

            Pas aku udah kirim tuh foto ternyata tanggapan saudara kembarku bikin aku tuh ngerasa dunia sempit banget.

“ih… itu kan mas Ojan” katanya.

“seriusan kamu kenal? Iya sih tadi pas perkenalan dia bilang namanya kak Fauzan” jawabku.

             Benar-benar dunia sempit kan. Ternyata kakaknya itu satu kantor sama kembaran aku. Beruntung banget dia sekantor sama kakak yang berbakat dan ganteng macam kak Ojan. Lantas semuanya berakhir begitu saja. Cerita tentang kak Ojan kembali berlanjut ternyata.

Di kosan kembaranku kemarin, Desember 2016

            Entah virus atau wabah dari mana, banyak orang-orang di sekitarku yang sedang sangat digandrungi sinetron india Mohabbattein yang pemeran utamanya kalau nggak salah Ishita dan Raman. Tak hanya perempuan (read: emak-emak) tapi juga ternyata laki-laki pun sama. Aku telah berkali-kali mencoba untuk ikut nimbrung nonton tapi ya nggak suka-suka, biasa aja. Emang pada dasarnya aku kurang suka nonton TV sih. Pas kebetulan lagi main ke kosan kembaranku kemarin, semuanya lagi pada nonton TV, aku iseng-iseng ikut aja daripada nggak ada kerjaan. Tetiba saja aku terlibat obrolan perihal pernikahan dengan teman-teman kosan mbak Dila yang lagi nonton TV itu. Teman sekosannya kembaranku bercerita tentang temannya yang Alhamdulillah telah hamil setelah menunggu selama 10 tahun lebih menikah. Wah… sangat membahagiakan sekali karena apa yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Hal yang membuatku semakin terperangah adalah karena 10 tahun lebih itu dijalani dengan orang yang berbeda, maksudnya? ceritanya gini.

            Teman sekosan kembaranku ini punya temen. Nah temannya ini telah menikah 10 tahun lamanya tetapi belum juga dikaruniai keturunan. Entah karena masalah apa akhinya mereka memutuskan untuk bercerai. Nah… selang beberapa tahun, si mbak ini dilamar sama rekan satu kerjanya yang umurnya 10 tahun di bawah dia dan dia belum pernah menikah sebelumnya. Lebih mencengangkannya lagi, setelah enam bulan menikah akhirnya si mbak ini hamil, Alhamdulillah. Luar biasa sekali bukan. Berkat kesabaran akhirnya si mbak ini dikaruniai keturunan. Bukanlah waktu yang sebentar menunggu lebih dari 10 tahun. Aku tak henti-hentinya berkata ‘wah… keren banget ya mereka’. Karena penasaran, akhirnya aku memutuskan untuk melihat seperti apa pasangan yang sedang berbahagia itu. Pas aku lihat, ternyata mereka pasangan yang serasi, si laki-laki ganteng dan si perempuan cantik, tak terlihat perbedaan umur yang cukup jauh di antara mereka berdua. Aku merasa tak asing dengan wajah si laki-laki, berasa pernah lihat dimana gitu ya. Pas lihat foto yang kedua akhirnya aku sadar siapa si laki-laki itu,

“lah… ini kan mas ojan yang dulu dongeng di stasiu bukan?” tanyaku antara percaya dan tidak.

“iya… itu mas ojan yang sekantor sama aku. Kata Dila (read: kembaranku) kamu pernah cerita mas Ojan yang dongeng di stasiun kan ya” jawab teman sekosan mbak Dila.

            Tuh kan dunia benar-benar sempit, ternyata pendongeng yang pernah ku kagumi itu telah menikah dengan cerita pernikahan yang tidak biasa. Terlihat jelas bagaimana rona kebahagiaan terpancar dari pasangan itu. Barokallah mas Ojan dan istri, walaupun kalian tak mengenalku tetatpi kisah kalian berdua benar-benar mengispirasiku, bukan untuk ku tiru tapi untuk ku ambil hikmah dari jalan cerita yang telah kalian torehkan. Bahwa kesabaran akan selalu berbuah manis pada kahirnya walaupun pahitnya seringkali mewarnai awalnya. Semoga kelak anak yang dinanti-nantikan ini menjadi anak yang sholeh/ah, berbakti kepada kedua orng tua, mengharumkan nama agama, bangsa, serta berguna bagi orang-orang di sekitarnya. Amiiin.