Hilangnya Rasa Aman

http://www.parenting.co.id/img/images/x39e8b41fb4f3dbd8397e2d141d9a88b6.jpg.pagespeed.ic.YZFZVM0-C9.jpg

Entah sejak kapan ingin menuliskan banyak hal di sini. Tapi, akhirnya hanya berakhir dengan tak menuliskan apa pun. Benar apa kata tahu bulat ‘mending dadakan, soalnya kalau direncanain suka nggak jadi’. Pertempuran dengan rasa malas situ akhirnya ku menangkan dini hari ini, tepatnya jam 03.19 pagi di akhir bulan Februari tahun 2017, ya 28 Februari. Cerita kali ini tentang kejadian yang baru-baru ini terjadi padaku, bukan hal penting sih, tapi sedikit horror. Sebelumnya aku pernah menuliskan peritiwa pembobolan tetangga kosanku di tulisan ini. Bisa kalian tebak kan, ya… pembobolan itu akhirnya terjadi padaku. Seakan-akan si pencuri ini telah menetapkan targetnya untuk menjadikan kosan ini sebagai sumber mata pencahariannya. Bisa dibilang begitu, sekarang giliranku untuk merasakan pahitnya kehilangan, kehilangan rasa aman.

            Pulang kerja seperti sebelumnya, tak ada yang aneh dan janggal. Setelah membeli makanan untuk mengisi perut, aku putuskan untuk kembali ke kosan. Cukup lama aku berputar-putar hanya untuk membali makanan, maklum anak kosan yang tak masak sendiri pasti merasakannya. Kebosanan akan makanan yang itu-itu saja. Setelah semuanya selesai, kembalilah aku ke kosan. Kebetulan kamarku terletak di lantai dua sehingga dari jarak yang agak begitu jauh pun aku bisa memperhatikan nyala lampu di kamarku. Eh… sebentar, seingatku aku tak pernah menyalakan lampu dan aku ingat betul ketika berangkat tadi pagi aku benar-benar tak menyalakannya. ‘Ah… mungkin lupa’ pikirku menghibur diri. Hari itu aku hanya berdua dengan tetangga kosan karena teman sekamarku sedang pulang ke rumahnya di Bandung. Naiklah kita berdua ke lantai dua, lantas setelah ku perhatikan dari jarak sekitar lima meter ternyata pintu kamarku telah terbuka. Lututku pun langsung lemas seketika. ‘Pintu kamarku’ kataku lemah. Tetangga kamarku mengira aku hanya bercanda, tapi ketika dia mengalihkan pandangannya ke pintu kamarku, dia pun juga terkejut.

            Aku pun langsung bergegas masuk ke kamarku. Layaknya di sinetron-sinetron, barang-barang di kamarku berantakan habis diacak-acak sama si maling. Aku langsung kehilangan selera makan, ku letakkan makanan yang ku beli begitu saja. Ketika akan mengambil HP, ternyata HPku tak tau ada dimana. Aku pun langsung sadar, sepertinya tertinggal di tempat aku beli makanan tadi. Makin menjadi-jadilah detak jantungku. Aku pun meminta tetangga kamarku untuk menjaga kamarku dan aku langsung bergegas mengambil sepeda dan balik ke tempat penjual makanan. Alhamdulillah HP ku masih tergeletak manis di meja untuk pembeli. ‘Mbak saya ambil HP ya, tadi ketinggalan’ kataku, ‘duh… untung belum ada yang beli lagi’ jawab ibunya. Aku langsung bergegas ke kontrakanku untuk mengecek barang-barang apakah yang hilang. Setelah sampai di depan kosan aku berteriak pada temanku di lantai dua, ‘aku ke pak RT dulu ya, mau laporan’ kataku.

            Sesampainya di pak RT ternyata pak RT nya sedang tidak di rumahnya, sedang ada urusan di luar. Aku pun menitipkan pesan pada anaknya bahwa telah terjadi insiden pembobolan di kosanku. Aku pun langsung menuju kosanku. Rasanya pengen nangis, marah, kesel, teriak dalam waktu bersamaan. Seakan-akan privasiku ternodai. Pernahkan kalian merasa ingin mengadu dan meminta perlindungan atas kedzaliman yang terjadi pada kalian tapi seakan-akan tak ada orang yang bisa untuk melakukannya. Bisa saja aku langsung menelpon orang tuaku kala itu tapi apa iya dengan mengadukan semuanya pada mereka akan menyelesaikan masalah ini? Masalah tak terselesaikan, malah hanya memberikan beban-beban baru pada orang tua kita yang mungkin juga sedang banyak sekali masalah. Menuliskan kalimat tadi membuatku merasa sudah benar-benar dewasa sebagai anak hahaha. Aku masuk ke kamar dengan ekspresi wajah campur aduk. ‘aku pengen nangis’ kataku pada tetangga kosanku. Aku mengecek barang-barang di kosanku, melihat dan meniliti kira-kira barang apakah yang maling itu ambil. Barang-barangku tidak ada yang hilang karena laptop selalu aku bawa tiap harinya dan aku memang tidak punya barang berharga lain hahaha #miris.

            Tetangga kosanku menyarankanku untuk memberitahu ibu kosan keesokan harinya. Tapi aku tak setuju dengan idenya, kalau kita lapornya besok, seakan-akan kita pasrah akan kedzoliman ini dan aku tidak bisa membiarkan ini. Selain itu, kalau besok, artinya peristiwa ini menjadi tidak aktual dan terkesan basi. Aku pun langsung kembali mengambil sepeda dan mengayuhnya ke rumah ibu kosan. Beliau kebetulan sedang pergi umroh, jadilah aku menemui bapak kosan. Beliau langsung naik pitam karena hanya selang beberapa minggu, malah terjadi lagi pembobolan di kosannya. Kan nantinya bakalan buruk juga buat image kosannya, jadi branding kosan sering dibobol. Beliau langsung memanggil keluarga dan tetangga di sekitar kosanku. Jadilah kosanku rame banget kala itu. Kayak abis ada hajatan. Aku pun banyak ditanyai ini itu. Aku sedikit terobati dengan banyaknya orang-orang ini, setidaknya rasa sendirian dan tak ada tempat mengadu menjadi tak terasa lagi.

Setelah aku menghubungi teman sekosanku dan mengecek semua barang-barang, taukah kalian apa yang hilang? Maling itu sungguh receh. Mengapa aku bilang demikian? Jadi ceritanya teman sekosanku punya kebiasaan ngumpulin koin seribuan di dompetnya, ada sekitar 30.000an. Yup, barang itu yang diambil, benar-benar receh bukan? Padahal ya, di lemari itu ada dua dompet. Satunya uang receh dan satunya lagi uang kertas yang tentunya nominalnya lebih banyak. Mungkin saking buru-burunya kali ya, mungkin yang ada di pikirannya, daripada nggak dapet sama sekali, receh pun jadi. Antara kesel dan kocak sih ya peristiwa pembobolan di kosan ini. Tapi, ada satu hal penting yang benar-benar hilang, yaitu hilangnya rasa aman. ‘Makanya segera cari seseorang yang bisa memberikan rasa aman’ kata atasanku yang sukses membuatku terdiam dan pegawai lain tertawa ketika aku menceritakan peristiwa pembobolan ini. ‘Ok pak, Noted it!’ kataku, padahal dalam hati mah ‘cariin dong makanya’ eaaa.

Jadilah malam itu aku tidur dengan rasa parno yang luar biasa menghantui. Engsel pintu kosanku rusak dan baru akan diperbaiki keesokan harinya. Kebetulan banget sendirian dengan peristiwa sehoror ini, komplit horornya. Aku takut malingnya kembali. Jadilah aku memutuskan untuk mengganjal pintuku dengan galon yang kebetulan baru aku beli sehingga isinya masih penuh. Aku pun tidur di dekat galon itu, ya aku tidur di dekat pintu dengan pertimbangan kalau ada orang yang mau masuk aku bisa langsung merasakannya dan bisa langsung terbangun. Benar-benar kejadian yang tak kan pernah terlupakan dan tak kan pernah pula mau diulang. Buat kalian yang baca tulisan ini, berhati-hatilah, karena kejahatan tidak hanya terjadi karena niat pelakunya tetapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah… Waspadalah (bang napi banget, wkwkwkwk).

Advertisements

12 thoughts on “Hilangnya Rasa Aman

    • iya sih… tapi nggak bisa dibenarkan juga mengambil hak orang lain karena merasa terdzolimi akan kemiskinan yang meraja lela. banyak kok orang miskin yang masih memilih untuk mencari nafkah halal daripada nyuri. sifat maling itu bawaan deh kayaknya, suka ngambil punya orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s