Berhati-hati Di Hari Kedua

hati-hati*cerita ini agak jorok dan menjijikkan, jangan dilanjutkan membaca bagi yang tak suka dan tak siap. Entah apa motovasiku menulis ini. Aku nulis ini hanya buat arsip saja karena menurutku kejadian ini sulit untuk dilupakan.

            Entah sudah yang ke berapa kalinya aku berbagi rasa sakit yang konstan ku rasakan tiap bulannya. Kalau istilah medisnya sih PMS (pra menstruasi) yang dibagi menjadi PMS mayor dan minor. Aku pun kurang mengerti aku sudah sampai di kategori yang mana karena hingga umur yang hampir seperempat abad ini rasa sakitnya tak kunjung hilang. Aku pun tak pernah berniat untuk memeriksakannya ke dokter karena beberapa alasan. Pertama, aku takut, kedua aku takut, ketiga, aku takut hahaha. Dulu pas masih SMA sakitnya bisa sampai 5 hari dan makin ke sini rasa sakitnya berkurang menjadi 3 hari dan akhir-akhir ini menjadi 2 hari. Hari sakitnya berkurang tapi sepertinya intensitas rasa sakitnya masih sama. Jadi bisa dibayangkan, masanya makin pendek tapi intensitasnya sakitnya sama, sehingga rasa sakit yang ku rasakan semakin menjadi-jadi. Kalau dulu hanya sakit perut dan pinggang, sekarang menjadi rasa sakit perut, pinggang, kepala, dan muntah-muntah. Hari pertama tak ada rasa sakit yang terasa, hanya rasa ketar-ketir soalnya udah ketebak banget hari kedua pasti bakalan sakit banget. Banyak yang bilang ini semua salahku karena selalu mensugesti diri kalau hari kedua bakalan sakit. Beneran dah, ini semua bukan karena sugesti, aku pernah kok mensugesti diri kalau aku nggak bakalan ngerasain rasa sakit. Tapi tetep aja tuh sakitnya dateng-dateng aja.

            Dalam rangka untuk membuktikan hipotesis sugesti itu, berangkatlah aku ke Depok untuk membeli baju dari sebuah brand online yang kala itu sedang mengadakan diskon di store offlinenya. Yup, hari itu adalah hari kedua. Paginya udah kerasa nggak enak sih, tapi berhubung udah janjian sama saudaraku (read: kembaranku) buat beli tuh baju jadinya berangkat deh. Niat awalnya mau berangkat jam 07.00 soalnya kalau siang-siang suka gangguan commuternya kalau hari minggu. Eh… malah kesiangan, jadinya baru berangkat sekitar jam setengah sembilan. Sampai di stasiun Depok baru sekitar jam 10an lebih dan nunggu kembaranku yang tak kunjung datang. Sambil nunggu rasanya garing banget kalau nggak sambil makan atau ngemil makanan, maklum memamah biak wkwkwk. Tapi kok rada aneh ya, biasanya hari kedua tuh bakalan sakit, ini kok kayaknya baik-baik saja. Alhamdulillah sih. Aku mencoba untuk menganalisis, akhir-akhir ini aku sering makan daging sih, jangan-jangan selama ini aku kekurangan zat besi makanya jadi sering sakit perut. Karena alasan itulah, aku memutuskan untuk membeli roti maryam rasa daging dan susu rasa coconut delight yang akhir-akhir ini aku sukai dengan pertimbangan biar zat besi di tubuhku makin bertambah (sok iye banget gue analisisnya wkwkwk). Habis makan kedua makanan itu, mbak Dila tak kunjung datang. Aku menunggu sambil ngecas HP di sana. Ketika memperhatikan sekitar, tertujulah mataku pada seseorang yang terasa begitu familiar. Setelah aku timbang-timbang ternyata itu teman sekantorku yang juga punya tujuan sama. Tuh kan, kalau nggak janjian suka ketemu. Alhamdulillah jadi ada temennya. Tak selang beberapa lama, rasa sakit itu tiba-tiba datang tanpa permisi. Rasanya sakit banget, mual, pusing.

            Setelah mbak Dila datang, berangkatlah kita betiga ke tempat baju itu. Kondisiku udah nggak enak banget tapi tetep aja maksain buat ke tempat tujuan, nanggung banget udah sejauh ini. Pas nyampe di tempat tujuan, mereka berdua langsung milih-milih baju. Aku memasrahkan model bajunya pada kembaranku, apa yang dia suka nanti itu yang bakalan aku beli, aku di sana hanya duduk saja menahan rasa sakit. Hal yang paling aku butuhkan kala itu hanyalah bantal, guling, kasur, dan selimut. Setelah cukup lama duduk, aku tiba-tiba mual dan benar-benar tak bisa ditahan. Segeralah mbak Dila memberikan selembar plastik padaku. Aku langsung ambil posisi ke pojokan yang sepi orang di luar toko dan langsung muntah di sana (maaf menjijikkan, huhuhu). Kenapa nggak di kamar mandi? Kata mbak Dila di toko itu mbaknya judes dan galak, mending nggak usah berurusan dengannya. Duuh… pas banget dah momennya, lagi nggak enak badan dan bertandang ke toko orang jutek dan judes. Setelah mengeluarkan semuanya, akhirnya aku berjalan agak jauh banget untuk mencari kamar mandi dan bertemu dengan sebuah kamar mandi di depan indomaret. Alhamdulillah mbak yang jaga tokonya (yang jualan jus) mengijinkanku untuk memakai kamar mandinya (terimakasih mbak, semoga kebaikan mbak dibalas oleh Allah, amiiin).

            Setelah bersih-bersih, kembalilah aku ke toko itu dan mereka belum selesai memilah milih baju. Tak selang berapa lama, aku kembali ke luar toko dan duduk di luar saja karena kondisi badanku kembali tak menentu. Serangan mual kembali datang dan kali ini dengan kekuatan yang lebih besar, ditambah lagi aku tanpa persiapan apa pun untuk menghadapinya. Jadilah aku lari tunggang langgang ke samping toko dan langsung muntah di sana dan ternyata setelah aku kembali sadar, kerudung dan bajuku juga kena (huhuhu, jorok banget). Kita pun langsung memutuskan untuk pulang saja. Mbak Dila nyaranin buat ke stasiun sekalian bersih-bersih dan ganti baju baru yang baru aja di beli. Pas nyampe kamar mandi stasiun, aku pun kembali muntah. Duh… kondisi badanku emang bener-benar lagi nggak enak banget waktu itu. Aku malu banget, bahkan pas nulis ini pun rasa malunya masih kerasa. Aku malu banget sama teman sekantorku itu. Bahkan pas aku nanya mbak Dila, ‘kamu malu nggak kalau jadi aku?’ tanyaku. ‘ya malu banget lah, masak nggak bisa ditahan sih?’ jawabnya enteng. Ya aku bisa apa, itu benar-benar di luar kendali aku. Aku juga nggak mau ini terjadi padaku. Benar-benar harus berhati-hati di hari kedua. Jangan pergi kemana-mana kalau nggak mau kejadian memalukan semacam ini terjadi lagi. Nggak lagi deh keluyuran di hari kedua. Itu juga yang jadi alasan aku nggak mau dijadiin yang kedua eaaaa. Teteup ya, nyambungnya ke sana juga hahaha.

Advertisements