Konsisten dan Profesional

konsisten-mengelola-blogBerawal dari kegabutanku di kosan karena ditinggal teman sekamar yang sedang pulang kampung ke Bandung untuk mempersiapkan perhelatan agung dalam hidupnya, yang ikrarnya menggetarkan alam semesta, yang disebut sebagai mitsaqan ghalidza ‘perjanjian yang agung’, yakni pernikahan. Hari pertama aku ditemani teman sekantor yang kosannya tidak terlalu jauh dari kosanku, tapi hari selanjutnya sepertinya tak enak rasanya merepotkan orang lain, jadilah aku nikmati saja kesendirian ini. Kadang sendirian membuat kita bisa memikirkan banyak hal yang mungkin tidak terpikirkan ketika kita bersama orang lain. Jadi, menyendiri sepertinya bisa jadi alternatif untuk menjernihkan pikiran sesekali. Mungkin karena aku kurang terbiasa sendiri, rasanya ingin sekali melakukan suatu hal daripada hanya bengong atau berpikir tak tentu arah. Hal yang biasanya ku lakukan adalah nonton drama, drama korea. Tapi, berhubung drama yang ku suka belum tayang lagi karena drama ini on going, jadilah aku tak melakukan apa-apa kemarin malam. Ditambah dengan kondisi badanku yang sedang benar-benar tidak enak, kepala migrain, pencernaan kurang lancar, dan Bekasi yang sepertinya sedang mencapai suhu terpanasnya. Rasa panasnya bukan main, jangankan di kosan yang tanpa AC, di kantor yang ber-AC pun keringat tak henti-hentinya bercucuran. Mungkin sudah masuk musim kemarau. Tak heran sih banyak meme yang bilang Bekasi punya dua matahari, panasnya benar-benar maksimal, numero uno.

            Rasa pusing yang ku alami tadi malam membuat tidurku makin ku perpanjang, tapi tetap saja sepertinya rasa pusingnya tak mau lepas dari kepala. Aku segera mandi agar kondisiku kembali pulih, yang ada di kepalaku pagi tadi hanyalah beli tolak angin cair atau minum kopi karena biasanya dengan salah satu barang itulah rasa pusingku bisa hilang. Pilihanku jatuh pada minum kopi walaupun ketika minum kopi itu rasa pusingnya sudah mendekati kata sembuh, tapi tetap saja ku beli untuk memaksimalkan proses penyembuhannya. Ketika akan pulang ke kosan, aku ingat aku harus punya tontonan, jadilah aku putuskan untuk mendownload sebuah film yang direkomendasikan seorang temanku di media sosialnya.

            Temanku ini adalah teman yang beberapa tahun belakangan ini aku kagumi. Setiap postingannya, entah itu di IG ataupun wordpress selalu membuat kekagumanku makin bertambah padanya. Selalu saja ada hal baru yang dia posting. Entah karena pengetahuanku yang sempit atau pengetahuan dia yang luas, seakan-akan apa-apa yang dia posting adalah hal baru bagiku dan selalu meninggalkan kesan. Tentunya hal ini membuatku semakin menyukainya. Aku menyukai dia dari penggambaran yang ada di kepalaku karena memang kita sudah tidak bertemu beberapa tahun. Akan ada dua kemungkinan ketika aku kembali bertemu dengannya, aku makin menyukainya atau mungkin malah tidak menyukainya. Apakah dia menyukaiku? Sepertinya tidak karena kemungkinan tidak ada kesan menarik yang ku tinggalkan ketika kita berteman. Kenapa aku begitu yakin? Nggak tau, yakin aja. Pesimis? Nggak juga. Menyukaiku ini bukan dalam taraf aku harus memilikinya, bukan. Aku bukan anak kecil, aku hanya kagum, suka, ya itu saja.

            Postingannya kali ini mengenai sebuah film dokumenter yang berjudul ‘Jiro, The Dreams of Sushi’. Sampai di kalimat ini mungkin akan banyak yang tahu siapa gerangan yang aku kagumi, hehe. Ya dia. Cukup sampai di sini, mari lanjutkan bahasan intinya mengenai film dokumenter ini. Film ini sukses membuatku tertampar, melongo, dan sadar. Film ini juga sukses mambuatku membereskan kamar yang berantakan, melipat baju yang sudah dicuci, kembali punya ‘ghiroh-semangat’ untuk melakukan banyak hal. Dahsyat bukan? Bukan lagi. Aku bisa menjadi sebegitunya ketika menemukan hal yang berhasil menaikkan motivasi. Apa sih isi film ini sampai sebegitu membekasnya di hati? Intinya sih tentang konsistensi dan profesinalitas. Dan semua yang ku tonton di film ini benar-benar berkebalikan dengan apa yang ku lakukan hingga saat ini. Dan aku berniat untuk merubahnya agar hidupku lebih punya arti, ceilah.

            Film menceritakan seorang pemilik restoran sushi di Jepang yang hingga umur 85 tahun masih bersemangat untuk bekerja membuat sushi, namanya Jiro Ono. Di awal film ini beliau berkata bahwa seseorang harus mencintai dan professional dalam pekerjaannya untuk menjadi orang yang sukses di bidangnya. Beliau begitu konsisten membuat sushi bahkan disebutkan di film itu beliau berangkat kerja menaiki kereta dengan posisi yang sama tiap harinya, saking konsistennya. Karena kecintaannya yang sangat besar pada pekerjaannya, beliau sampai tidak suka hari libur dan menurutnya hari libur itu terasa sangat lama, sampai sebegitunya loh. Emang ada orang jaman sekarang yang merasa kalau hari libur itu adalah hari yang tidak menyenangkan? Ada kali ya, tapi aku belum pernah ketemu orang seperti itu. Bahkan ketika beliau tidur pun, beliau bisa membuat sushi dalam mimpinya dan terbangun dengan ide-ide baru tentang sushi. Restoran yang beliau punya sangat kecil tetapi popularitasnya benar-benar telah mendunia. Dianugerahi penghargaan Michelin sebagai restoran bintang 3 (aku nggak tau ini penghargaannya sebergengsi apa tapi dari ceritanya sepertinya penghargaan ini bergengsi banget, mungkin sekelas Nobel kali ya, tapi di bidang kuliner), masuk guiness book world of records, dan berpredikat restoran termahal di dunia. Kalau mau buat reservasi harus dua bulan sebelumnya dan harga sushi per buahnya mulai dari ¥30.000 (kurs rupiah ke yen, 1¥ = 119.11, berarti ¥30.000 setara dengan Rp 3.573.300). What??? Mihil bingit? Aku baru konversi harganya pas nulis ini dan ternyata emang muahaaaaallll bangeeeet. Kalau harganya mulai dari ¥30.000, artinya itu harga termurah kan ya? Pantesan dibilang restoran termahal di dunia. Jangan bayangkan porsi yang besar dengan harga semahal itu, porsinya keciiiil banget sushinya, nggak nyangka semahal itu. Dan jangan bayangkan pula restorannya mentereng dan mewah khas restoran eropa, nggak, nggak sama sekali. Restorannya itu kecil, sempit, hanya berisi 8 kursi kayak warung gitu, benar-benar kecil untuk mendapatkan predikat restoran termahal di dunia. Lantas apa yang membuat restoran dan Jiro ini menjadi begitu tenar dan spesial? Coba nonton deh, kalian bakalan mengerti kenapa bisa sebegitunya. Aku akan sedikit bercerita, tapi mungkin nggak bakalan terlalu menggambarkan kehebatan kakek Jiro ini.

            Jiro telah terkenal sebagai master of sushi, tidak ada yang bisa menyamai kualitasnya selama dia masih hidup, bahkan anak tertuanya pun tidak akan bisa. Ini pendapat seorang penulis buku resep yang telah berulang kali makan di restoran Jiro. Jiro dilahirkan dari seorang Bapak yang mempunyai banyak uang dari usaha kapal angkutan miliknya. Akan tetapi bisnisnya bangkrut dan hidup keluarganya berantakan, bapaknya menjadi peminum dan tidak peduli pada keluarga. Menjadi anak yang tidak terurus membuatnya hidup disiplin dan selalu bekerja keras karena tanpa kerja keras dia tidak akan bisa makan. Jiro bekerja sebagai pegawai di sebuah rumah makan dan sangat konsisten di pekerjaannya, bahkan tetap bertahan walaupun dimarahi dan ditampar ketika melakukan kesalahan (gileee…. Kalau aku kayaknya bakalan langsung ngacir). Sikap disiplinnya inilah beliau tularkan pada anak-anaknya. Ketika anak keduanya akan membuka restoran sushi, pesannya beliau adalah ‘ketika kau pergi (untuk memulai usaha maksudnya), tidak akanada jalan kembali’. Jadi menurut Jiro, ketika orang tua memberikan nasehat kepada anaknya seperti ini ‘berusahalah, pintu rumah akan selalu terbuka ketika kau gagal’ justru akan mengantarkan seorang anak untuk gagal. Banyak pegawai dan pengamat yang berpendapat bahwa Jiro sangat perfeksionis dan sangat keras pada dirinya sendiri. Bahkan ada yang berpendapat ‘harusnya dia tidak menyesali hidupnya karena dia telah berusaha sangat keras, aneh saja kalau dia masih menyesal’. Perumpamaan bekerja pada Jiro adalah ‘kau tidak bisa merasakan kakimu ketika akan tidur’, mungkin saking lamanya berdiri kali ya. Saking jarangnya pulang, ketika anak-anaknya masih kecil, mereka berlari mencari ibu mereka dan berkata ‘bu… ada orang asing tidur di rumah kita’, padahal itu bapaknya sendiri, hahaha.

            Kesan yang didapatkan ketika makan sushi di restoran Jiro katanya selalu enak luar biasa. Ada kepuasan yang tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata dan digambarkan dengan permisalan. Kombinasi rasanya luar biasa enak dan mengagumkan. Nggak kebayang seenak apa tuh sushi. Aku aja yang nonton sampe ngiler-ngiler gitu walaupun aku nggak suka sushi tapi kayaknya wenaaaak banget. Pas liat harganya jadi nelen ludah sendiri tapi wkwkwk, iya sih, ada harga ada rasa, tapi kan nggak harus semahal itu juga kaleee. Harganya sebanding sih menurutku karena bahan-bahan yang mereka ambil juga bahan-bahan dari orang yang memang sudah professional dan konsisten di bidangnya. Misalnya kayak ikan tuna, si Jiro udah punya langganan dari penjual tuna yang memang sudah konsisten dan professional di bidang per-tuna-an, udangnya juga gitu, guritanya juga gitu, berasnya pun juga gitu, berasal dari orang-orang yang memang sudah lama di bidang itu, konsisten dan professional. Bahkan bapak-bapak si penjual berasnya sampe bilang, beras jenis itu hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah. Pernah mau dibeli sama hotel Grand Hyatt tapi nggak dikasih karena menurut dia hanya Jiro dan karyawannya yang bisa ngolah, bakalan dijual kalau Jiro ngijinin buat dijual. Ampe segitunya lo. Semacam udah nge-link gitu satu sama lain, tidak terpisahkan. Bahkan si penjual bahan-bahan itu kalau ada barang bagus selalu mikir ‘wah… bagus nih barang buat Jiro’. Aku nggak ngerti lagi kenapa bisa sebegitunya ya membangun kepercayaan, ya itulah kekuatan konsistensi dan profesinalisme. Mereka selalu bilang tidak peduli dengan uang padahal kan bisnis ya tapi bagi mereka yang terpenting adalah kualitas.

            Tidak ada bumbu rahasia kayak ayam K*C, tekniknya juga tidak dirahasiakan, hanya saja mereka melakukan itu berulang-ulang kali hingga bisa professional di bidang itu. Dan yang paling penting Jiro tidak pernah merasa puas dengan teknik dan resep yang dia buat, jadi terus menanjaklah kemampuan dan kepiawaiannya membuat sushi. Dia bilang nggak akan berhenti berinovasi karena dia nggak tau puncaknya dimana, bahkan ada pesan bagus dari penjual gurita ‘ketika kau merasa ahli di suatu bidang berarti kau telah membohongi diri sendiri bahwa sesungguhnya kau tak tahu apa-apa’. Kata si penulis resep, untuk menjadi ahli membuat sushi, kita harus belajar dari Jiro selama setidaknya 10 tahun. What? Belajar 10 tahun? Lama banget. Entah orang dulu emang penyabar dan aku generasi sekarang yang katanya tidak bisa sabar dan maunya instant. Menurut mereka generasi muda lebih suka hal yang cepat tanpa memikirkan keahlian dan kualitas dan suka sekali waktu santai (ini aku banget). Iya juga sih…. Aku tipe yang tidak bisa menetap pada satu bidang yang sama, konsisten, melakukan hal yang sama tiap hari. Beda banget sama Jiro atau mungkin orang Jepang yang lain yang begitu konsisten dan prosefional di bidang mereka masing-masing. Mungkin karena aku belum pertemu passionku (ah… excuse lagi… excuse lagi). Intinya sih aku nggak habis pikir bagaimana caranya orang jepang itu menanamkan rasa cinta dan bangga akan profesi mereka masing-masing sehingga mereka bisa terus konsisten di bidang yang sama hingga berpuluh-puluh tahun. Di Indonesia tercinta ini kebanggaan justru muncul ketika kita bekerja di bidang yang dianggap prestisius di masyarakat dan menjadi minder ketika bekerja di bidang yang dianggap ecek-ecek. Ini juga yang terjadi padaku sekarang. Aku tuh ya, pas awal kerja, tiap hari mengutuki diri sendiri, kenapa aku di sini? Kenapa aku kerja cuma segini doang? Kenapa nggak di perusahaan gede? Kenapa hanya jadi guru? Guru les? Kenapa nggak kayak yang lain? Bener-bener minder dan nggak percaya diri. Kenapa? Ya karena doktrin yang berkembang di masyarakat seperti itu. Kebanggaan hanya ada pada pekerjaan dan posisi-posisi tertentu saja.

            Aku dari dulu sudah mengagumi Jepang di banyak lini dan nonton film ini makin menambah kekagumanku. Mungkin akan banyak yang mengira hidup konsisten dan professional itu kan kaku, nggak menarik, dan nggak bahagia. Hey… itu juga pendapatku sebelumnya tapi coba deh nonton film ini dan lihat betapa bahagianya si Jiro menceritakan pekerjaan yang amat sangat dia cintai, lihat bagaimana bahagianya dia ketika mengunjungi teman-teman sekolahnya dulu di kampung halamannya. Mereka sudah sama-sama kakek nenek dan terlihat sangat bahagia. Aku sampe mikir, orang jepang tuh hidup sehat banget ya kok bisa sampe setua itu tapi terlihat masih segar dan bugar. Aku kagum seada-adanya sama profesioanalisme dan konsistensi orang Jepang. Kayak gimana ya pola pendidikan yang mereka tanamkan sehingga bisa sedisiplin itu dan konsisten bahkan pada diri sendiri. Berkaca pada diri sendiri, sepertinya aku terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk bersantai dan hal tidak produktif lainnya. Mungkin malam ini aku sadar tapi bisa jadi hari-hari barikutnya aku akan kembali ke pola hidup santai kayak di pantai, sellow kayak di pulow. Nah ini yang aku maksud, bagaimana caranya menanamkan konsistensi dan profesinalisme serta bisa istiqomah menjalankannya. Hanya satu sih kurangnya orang jepang tuh, kurang baca syahadat, hahaha.

Ketemu Fans

danbo-1870361_1280Judulnya sok iye banget ya, wkwkwk. Cuma judul itu yang terpikirkan pas ada niatan buat nulis cerita ini. Nggak mama (papa) lah sekali kali narsis dikit, jarang-jarang ini kan. Kalau boleh jujur, narsis itu bukan aku banget, aku tipe orang yang bisa dibilang kurang percaya diri, kurang mengapresiasi diri sendiri, susah bangga akan hal yang dimiliki (bukan nggak bersyukur ya, tapi gimana ya ngejelasinnya, intinya aku nggak pernah menganggap wow apa yang aku punya, entah itu barang atau pencapaian, menurutku semua yang ada padaku adalah hal biasa, it’s so common). Karena perasaan biasa dan minim apresiasi inilah aku menjadi pribadi yang agak minder (walaupun nggak segitunya) dan agak kurang percaya diri. Kalau sekarang sih udah berkurang rasa minder dan kurang percaya diri itu, kalau dulu beuuuuh… iya banget, mau ngelakuin apa bawaannya takut, minder, takut salah, takut diomongin orang. Tapi sekarang aku sudah banyak berubah, mulai tak terlalu peduli dengan semua, yang penting aku berjalan dan melakukan sesuatu on the right way, walaupun kalau jalan aku selalu in the left side sih wkwkwk #ApaSih.

            Jadi ceritanya gini, beberapa minggu yang lalu aku dan saudara kembaranku berniat untuk membelikan ibuk dan mbahku baju. Baju ini rencananya akan beliau gunakan untuk nikahan sepupuku yang umurnya lebih muda dua tahun dari aku (lah aku kapan? Ya tunggu aja, bentar lagi #TalktoTheMirror). Akhirnya kami berdua sepakat untuk membeli baju itu di tanah abang biar banyak pilihan. Padahal aku lebih suka belanja online sih, tapi agak susah mencari baju untuk orang tua kalau online shop. Nggak mama (papa) lah itung-itung jalan-jalan ke tanah abang. Karena kami berdua terpisah tempat tinggal, aku di Bekasi dan mbak Dila di Bogor, akhirnya kita berdua sepakat untuk bertemu di tengah perlintasan commuter yaitu stasiun Manggarai. Berhubung jarak stasiun Bekasi ke stasiun Manggarai lebih dekat, kami sepakat untuk berangkat di jam yang berbeda, mbak Dila akan berangkat lebih cepat daripada aku. Setelah sampai pada waktu yang disepakati, aku pun langsung meluncur ke stasiun Bekasi dan tanpa halangan berarti akhirnya sampai di stasiun Manggarai. Tapi ternyata, mbak Dila belum sampai di sana karena ternyata ada gangguan di jalur Bogor-Manggarai karena ada rel yang anjlok aku lupa di stasiun mana tepatnya. Ya mau gimana lagi, aku udah kadung sampai di Manggarai, akhirnya ku putuskan untuk membeli makanan karena pas berangkat tadi memang belum sempat sarapan.

            Setelah melihat-lihat sesaat, akhirnya ku putuskan untuk masuk ke circleK yang ada di sana. Aku berjalan ke deretan minuman yang dijual, ada minuman rasa coklat dan alpukat. Cup yang disediakan ada yang ukurannya sedang dan besar, setelah bertanya pada mas-mas yang jaga akhirnya aku ambil cup yang besar. Pas mau ngambil minuman, ada mas-mas yang mempersilahkan aku ngambil menuman duluan, mungkin si masnya tau kalau aku tadi yang pertama mau ngambil minuman di situ, tapi karena nanyain harga dulu jadinya aku nggak bisa duluan. ‘untung mas nya baik’ pikirku kala itu, jadi aku nggak usah ngantre lagi buat ngambil minumannya, ‘terimakasih mas –ganteng’ kataku, lagi-lagi di dalam hati. Setelah mengambil minuman, aku langsung keluar dan duduk di peron yang terbuat dari besi yang di sana juga ramai orang-orang duduk buat nunggu, ya nunggu kereta, nunggu temen, atau mungkin nunggu jodoh eh nunggu orang kayak aku. Nikmat banget minum sambil main HP di tempat seramai itu, berasa santai sejenak. Tempat dudukku nggak terlalu jauh dari circleK sehingga aku masih bisa melihat orang-orang yang keluar masuk toko itu. Tak lama dari aku duduk, aku melihat mas-mas yang tadi mempersilahkan aku buat ngambil minuman duluan. ‘oh mas-masnya baru keluar’ pikirku dan ternyata mas nya juga duduk di peron tak jauh dari tempat dudukku. Aku pun melanjutkan kegiatan santaiku sambil menikmati minuman yang ternyata jauh dari prediksiku, hm… gimana ya, nggak enak dan unluckily aku ngambil yang ukuran besar, berhubung prinsipku ‘anak pertanian pantang buang makanan’ jadi bisa ku pastikan minuman itu akan aku habiskan hingga tetes terakhir.

            Pas lagi enak-enaknya minum, eh mas mas yang duduk di deketku (ini mas yang sama dengan yang di circleK) menanyakan sesuatu,

Mas: mbak mau tanya, kalau peron yang ke stasiun Bekasi jalur berapa ya?

Aku: jalur 2 sama jalur 4 mas, jalur 4 apa 5 gitu ya

Mas: kalau mbaknya mau kemana?

Aku: oh… saya? (agak sedikit kaget karena nggak nyangka bakalan dapet pertanyaan tambahan) saya mau ke tanah abang

Mas: mau belanja ya mbak?

Aku: iya mas, hehe (kataku agak aneh karena nggak biasa-biasanya diajakin ngobrol sama orang asing, apalagi di stasiun)

Mas: mbak, saya boleh kenal nggak?

Aku: apa mas? (makin kaget dengan pertanyaan unpredict dari si masnya)

Mas: boleh kenalan nggak?

Aku: oh… boleh-boleh aja (makin merasa ada yang tidak beres di sini)

Mas: mbaknya dari mana?

Aku: saya dari Bekasi, kalau mas nya dari mana? (mencoba untuk bertanya balik, karena sepertinya pertanyaannya daritadi hanya satu arah saja)

Mas: saya dari Bekasi juga, Bekasi mana mbak?

Aku: (akum akin panik, ternyata sama-sama Bekasi. Kalau bukan Bekasi kan enak bisa selesai sampai di situ aja pertanyaannya) di tambun mas, grand wisata

Mas: masih kuliah apa udah kerja?

Aku: saya udah kerja mas (hehe… plis plis… hentikan percakapan menakutkan ini ya Allah. Saking paniknya aku sampe menumpahkan minuman yang tadi aku beli. Untung tutupnya kenceng jadi nggak luber kamana-mana. Aku gagal seada-adanya untuk bersikap santai dan rileks)

Mas: mbaknya masih single apa udah nikah?

Aku: belum nikah mas (hehe… makin takut)

Mas: mbaknya udah daftar buat nonton ustadz Zakir naik nggak ntar?

Aku: hah? Ustadz Zakir Naik? (jawabku bertanya balik karena aku makin panik)

Mas: tau ustadz Zakir Naik kan?

Aku: iya mas tau, belum mas saya belum daftar

Mas: udah tau kan link buat daftarnya?

Aku: iya mas saya udah tau (aku sih sebenernya belum tau linknya tapi kayaknya kalau aku bilang belum tau si masnya bakalan minta no. Hp aku buat ngirim linknya, suudzan banget ya aku. Tapi kemungkinan besar sih gitu soalnya si masnya megang-megang HP gitu, maap GeEr)

            Aku baru kali itu dapet pengalaman aneh semacam itu. Tak henti-hentinya clingak-clinguk sana sini buat mastiin nggak ada kamera tersembunyi di sana karena kan aku sering liat tuh di FB yang suka bikin social project. Tapi di sana sepertinya tak ada kamera tersembunyi.

Mas: mbak dulu kuliahnya di UNJ ya mbak?

Aku: nggak mas saya nggak kuliah di sana. Emangnya saya mirip sama temen mas ya? (aku pun memberanikan diri bertanya, udah gregetan banget soalnya. Malah sebenernya pengen nanya, ‘mas di sini nggak ada kamera tersembunyi kan?’ wkwkwkw)

Mas: iya mbak mirip sama temen saya (jawabnya sambil tersenyum)

            Aku benar-benar sudah tidak tahan, akhirnya aku kembali minum dan menghubungi orang-orang biar seakan-akan aku sibuk dan cara ini berhasil. Mbak Dila juga nggak dateng-dateng, kayaknya gangguan di relnya serius banget. plis… dateng dong. Akhirnya si mas-masnya sepertinya mulai enggan untuk bertanya dan kebetulan kereta menuju Bekasi diinfokan sudah datang. Si mas-masnya langsung beranjak berdiri dari tempat duduknya ‘saya duluan ya mbak’ katanya. ‘iya mas silahkan’ kataku. Fiuuuh… aku lega banget. Sebenernya aku penasaran banget kenapa si masnya begitu kepo padaku, kita kan baru kali itu bertemu. Apa masnya fall in love for the first sight? Ah… kayaknya nggak mungkin banget. secara penampilanku waktu itu berantakan banget, mana lagi jerawatan sejadi-jadinya wkwkwkw, intinya mah nggak karuan banget. Jadi kemungkinan yang ini nggak banget. Apa masnya orang nggak waras? Ya kaleee… masnya bersih kok, kayak mahasiswa gitu dan lumayan ganteng wkwkwk. Apa ini penipuan jenis baru? Bisa jadi, aku bersyukur tidak melanjutkan percakapan kami, setidaknya jika niatnya benar-benar penipuan, aku sudah terhindar dari niat jahat seseorang. Apa dia fans? Hahaha…. sesuai judul tadi, aku menganggap masnya fans, makanya judulnya ‘bertemu fans’, kemungkinan ini yang sementara aku percaya wkwkwk. Kalau kamu mengalami hal yang serupa denganku pasti bakalan ngelakuin hal yang sama kan? Karena bertemu orang yang baru dikenal dan nanya banyak hal adalah hal yang sangat-sangat aneh menurutku apalagi di jaman yang penuh dengan tipu daya seperti sekarang. Karena kata bang Napi, ‘kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah… waspadalah’. Sungguh pengalaman yang lucu-menakutkan-aneh gimana gitu. Sayang banget kalau disimpen dalam kenangan, makanya aku share ke sini, hehe.

Kematian

Berapa banyak manusia yang hidup dalam kelalaian sedangkan kain kafannya sednag ditenun? –Imam Syafii-

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan muncul seiring bertambahnya usia, sepertinya aku benar-benar mulai dewasa. Tua itu pasti, dewasa itu pilihan dan sepertinya aku sudah memilih pilihan itu walaupun aku sendiri pun tak pernah menyadari kapan tepatnya aku memilihnya. Ya… sepertinya aku memang benar-benar telah dewasa. Bukankah orang baik tak pernah mengakui bahwa dirinya baik, lantas apakah aku benar-benar dewasa hanya dengan pengakuan dari diri sendiri bahwa aku telah dewasa? Tak taulah, aku sungguh tak terlalu peduli aku telah dewasa atau tidak, setidaknya ada banyak pertanyaan yang sepertinya mengindikasikan bahwa aku benar-benar telah dewasa. Pertanyaan yang begitu bergejolak adalah pertanyaan tentang kematian. Sebenarnya banyak sekali pertanyaan yang muncul, tapi hanya satu pertanyaan inilah yang sepertinya butuh jawaban dan semakin aku mencarinya justru aku merasa semakin takut untuk mengalaminya. Walaupun aku tau betul bahwa kematian adalah kewajiban bagi setiap insan yang bernyawa.

            Bicara tentang mati, kematian, meninggal, dan orang meninggal bukanlah hal yang asing bagiku. Di sekolah, di madrasah, di ceramah, bahkan di sinetron sering sekali bahasan tentang kematian ini dibahas. Bahkan ada satu lagu daerah ‘madura’ yang bercerita tentang kematian yang setiap kali ku mendengarkannya atau melantunkannya serasa ada yang tersekat di tenggorokan, menohok relung hati, dan memaksa air mata untuk keluar. Tapi ya hanya sebatas itu, aku masih merasa kematian itu jauh, kematian itu teori, kematian itu menyedihkan. Intinya aku merasa kematian itu masih amat sangat jauh dariku. Pun ketika kakekku meninggal, aku masih belum merasa bahwa kematian itu sangatlah dekat. Mungkin karena waktu itu aku masih sangat kecil untuk mengerti arti kehilangan dan kematian. Seiring berjalannya waktu, aku memasuki setiap fase dalam hidup TK, SMP, SMA, kuliah, lulus kuliah, dan kerja semuanya ku lalui dengan lancar, selamat dari kematian. Ketika lulus kuliah aku mulai memasuki masa dimana aku mulai banyak berpikir tentang lingkungan sekitar apalagi ketika pulang kampung. Melihat aku yang telah banyak berubah dan lingkungan sekitar masih begitu-begitu saja. Banyak mimpi yang ku bangun, tapi tiap aku pulang selalu ada saja tetangga yang berkurang karena telah meninggal. Aku merasa ‘masaku’ telah tiba, masa untuk menggantikan generasi tua padahal aku belum benar-benar siap. Tiap kali ada telepon dari orang rumah selalu saja ada saja tetangga yang katanya meninggal dan aku semakin merasa bahwa kematian itu dekat tapi belum benar-benar dekat.

            Kematian yang terasa amat sangat dekat itu ketika dia datang pada orang yang sangat dekat denganku. Memang benar kata orang, kita akan merasa benar-benar merasakan suatu peristiwa ketika kejadian itu terjadi pada kita atau paling tidak pada orang yang benar-benar dekat dengan kita. Siapakah orang itu? Beliau adalah bapakku. Sepeninggal bapakku aku benar-benar tidak percaya bahwa beliau telah benar-benar tiada bahkan sampai tulisan ini dibuat, aku belum benar-benar percaya bahwa beliau telah satu tahun yang lalu meninggal. Aku tidak sempat melihat beliau menghembuskan nafas terakhir, aku tidak sempat melihat beliau dimandikan, aku tidak sempat melihat beliau dikafankan, dan aku tidak sempat melihat beliau dikuburkan. Aku pulang ketika beliau akan melakukan operasi jantung dan aku kembali lagi ke tanah rantau ketika melihat kondisi beliau yang baik-baik saja setelah operasi. Sama sekali tidak ada perasaan bahwa itu adalah pertemuan terakhir kami. Memang benar, jangan terlalu mengandalkan perasaan karena banyak sekali perasaan yang ternyata salah haluan. Aku sedih tapi aku sungguh tak peduli dengan rasa sedih ini, abaikan saja perasaanku, yang terpenting adalah aku selalu berdoa semoga beliau meninggal dalam keadaan khusnol khotimah, digugurkan semua dosanya, diterima semua amal ibadahnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah, amiiin. Setelah bapak meninggal aku merasa kematian sangatlah dekat. Pernah suatu ketika bapakku terbangun di rumah sakit dan bercerita pada ibu kalau dalam mimpi itu beliau meninggal dan dibawa pulang ke rumah. Di sana beliau telah disiapkan tempat untuk pemandian jenazah, beliau begitu takut menceritakan mempinya dan ibuku pun menghibur ‘kalau masih mimpi mati dan takut mati berarti ga bakalan mati’ dan semua orang di sana pun tertawa termasuk aku. Kalimat ibuku benar-benar mayakinkanku bahwa bapak akan sembuh dan tidak akan mati. Tapi buktinya? Beliau meninggal, itu artinya kematian akan tetap terjadi pada orang yang takut atau berani akan kedatangannya.

            Satu tahun setelah kematian beliau, Om ku yang begitu dekat denganku juga meninggal, dan aku merasa orang-orang terdekatku satu per satu mulai pergi dan tidak menutup kemungkinan aku pun akan segera mati. Aku benar-benar merasakan kematian amat sangat begitu dekat ketika bapak meninggal. Pernah suatu malam aku terbangun dan kemudian sholat dan aku merasakan kalau kematian seakan-akan memanggilku. Satu per satu ku pegang anggota badanku hingga berakhir dan dada, dan ku bayangkan bahwa aku bisa mati tiba-tiba hanya dengan berheninya detak jantungku. Benar-benar rapuh manusia itu ya. aku benar-benar takut membayangkan kematian. Hari dimana bapak meninggal aku langsung memesan tiket pesawat untuk pulang kampung dan sepeti biasa fobia naik pesawat itu kembali datang. Ketika pesawat akan take off aku benar takut tapi aku membayangkan bahwa bapakku telah mengalami hal yang jauh lebih menakutkan dari sekedar take off pesawat yaitu kematian. Bukankah hal yang paling menyakitkan adalah terlepasnya nyawa dari raga? Katanya rasa sakitnya tak ada yang menandingi. Memabayangkan itu semua membuat aku semakin takut. Oleh karena itu aku tidak pernah mau menjadi penyebab hilangnya nyawa makhluk hidup semisal semut, kecoa, atau bahkan tomcat yang sering menggigit dan meninggalkan bekas merah gatal di kuliatku. Aku benar-benar tidak tega menjadi perantara peristiwa yang sangat menyakirkan itu, yaitu kematian. Hewan-hewan kecil juga punya nyawa kan? Itu artinya mereka juga akan merasakan rasa sakit ketika sakaratul maut dan aku tidak mau mereka mati gara-gara aku karena aku tau itu menyakitkan.

            Aku selalu bertanya-tanya, kapan kiranya kematian akan mendatangiku, seperti apa akhir hayatku nanti, seperti apa proses terlepasnya nyawa dari raga ini, dan membuat aku semakin takut. Aku selalu bertanya-tanya kenapa orang-orang begitu semangat mengejar dunia sedangkan akhirnya mereka semua akan mati dan dunia itu akan mereka tinggalkan. Bahkan pertanyaan paling ekstrem, kenapa aku harus lahir ke dunia jika akhirnya akan mati dan mengalami proses kematian yang menyakitkan itu? Tapi aku sangat bersyukur dilahirkan ke dunia sehingga aku bisa bertemu dengan orang tuaku, saudara-saudaraku, teman-teman, dan orang-orang yang hadir dan mewarnai hidupku. Akan tetapi rasa takut akan datangnya kematian tak kunjung hilang dan bahkan ketakutan itu semakin bertambah seiring bertambahnya usiaku. Hingga akhirnya aku menemukan sebuah video yang menjawab semua pertanyaan-pertanyaanku tentang kematian, apa sejatinya kematian itu, apa yang harus kita lakukan untuk menyambutnya, dan apa yang harus disiapkan untuk menghadapinya. Video ini membuatku semakin mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Semoga imamku nanti adalah orang yang juga mencintai Allah, Nabi Muhammad, dan Al-Quran lebih dari apa pun. Amiiin.